Artikel

Menulis Adalah Menaklukan Bayangan

Untuk waktu yang cukup lama saya terjebak dalam kabut tebal pikiran saya sendiri. Kabut tebal tersebut menciptakan jarak antara saya dan realitas. Saya mengalami keabstainan penghayatan hidup yang lebih jauh dan lebih dalam, sehingga membuat saya menjadi seorang yang sangat emosional dan arogan ketika menginterpretasikan realitas. Saya juga mengalami semacam ortodoxi problematika tatanan kehidupan, tatanan pendidikan, dan tatanan pemerintahan yang kacau. Fase ini semakin diperparah ketika perguruan tinggi tempat saya menyandang label sebagai “terpelajar Sastra” menerapkan sistem belajar yang sangat ketat dan tidak demokratis—menyoal kualitas para pendidik di perguruan tinggi itu, jujur saja, saya mengalami kerugian.

Perlu waktu yang cukup lama untuk saya merumuskan cara bagaimana saya bisa bebas dari kabut tebal pikitan saya sendiri ini, hingga saya berkenalan dengan beberapa orang penulis Sastra yang mengkotbahi saya tentang Ilmu Pengetahuan Sastra. Dari kotbah mereka, saya mendapatkan petunjuk menuju jalan keluar, yaitu, membaca dan menulis. Mulanya, kotbah tersebut membantu saya. Akan tetapi, dalam perjalanannya, kabut tebal pikiran saya sendiri itu semakin menebal dan membuat saya tidak mampu melihat apa yang ada di hadapan. Saya merasa sendirian dan dihantui bayangan diri saya “yang lain” yang jahat dan tidak humanis, selanjutnya saya memutuskan untuk menenggak banyak alkohol, kemudian membaca dan menulis.

Namun alkohol pun tidak membantu saya untuk terbebas dari kabut tebal pikiran saya sendiri ini—tapi setidaknya, kabut tebal pikiran saya menipis. Sementara itu, bayangan saya “yang lain” semakin menjadi-jadi; ia mengejek dan menghardik saya yang seorang “terpelajar Sastra” ini. Bahkan saya sempat berpikir untuk berhenti membaca dan menulis Sastra. Ya, hari-hari selanjutnya saya berhenti membaca dan menulis Sastra. Ketika itu, saya berpikir, bahwa membaca dan menulis Sastra merupakan kesia-siaan—ini diluar anggapan orang kebanyakan yang menganggap bahwa Sastra merupakan hal yang remeh-temeh.

Namun semakin saya bersikeras untuk tidak membaca dan menulis Sastra, semakin saya merasa bahwa fungsi saya sebagai seorang manusia dan sebagai seorang “terpelajar Sastra” tidak ada gunanya, lalu untuk apa saya hidup di Bumi ini? Rasa ini pulalah yang membentak bayangan diri saya “yang lain” yang jahat dan tidak humanis itu. Saya pun mencoba “kembali” membaca dan menulis Sastra kemudian hari. Susah tapi saya hadapi. Sakit tapi saya nikmati—paling tidak ada kopi dan tembakau sebagai penawar.

Dalam fase ini saya benar-benar bertarung dengan diri saya “yang lain”pertaruhannya ialah fungsi saya sebagai manusia dan saya sebagai “terpelajar Sastra”. Jika saya kalah, saya akan menepati kata-kata saya untuk berhenti membaca dan menulis Sastra. Jika saya menang, saya akan menahbiskan diri saya untuk menghasilkan karya-karya yang berguna dan bermanfaat untuk peradaban manusia di mana pun mereka hidup. Dan saya memenangkan pertarungan itu. Saya bebas dari kabut tebal—meski kabut tebal berikutnya sedia menunggu, saya berhasil menaklukan bayangan diri saya “yang lain” yang jahat dan tidak humanis, dan saya akan menulis tentang apa yang mampu saya tulis.[]

About Author

Murai, 18 Agustus 1994. Lahir di sebuah kampung yang jauh dan mulai hancur. Penulis harian untuk kepentingan menyampaikan realitas yang terjadi di tanah kelahirannya