Artikel

Sosok Ibu di Mata Penyair

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

Dengan lirih Penyair Saut Situmorang (Penyair yang dikriminalisasi atas tuduhan pencemaran nama baik ‘seorang lonte tua yang tak laku-laku’) menegaskan bahwa sosok omak ibu pada sajak “Andung-andung Petualang (1999)” dalam buku kumpulan sajak “Perahu Mabuk”-nya merupakan sosok perempuan yang kesepian, perindu, tak sudi ditinggal merantau oleh sang anak lelaki. Meski begitu sang anak lelaki terus saja melanjutkan perjalanan, “bus tua meninggalkan kota, aspal jalanan melarikannya selamanya”. Rupanya dalam kepala sang anak lelaki menjadi seorang petualang adalah hal yang dinantikan setiap anak yang didongengkan cerita-cerita petualangan dari mulut ke mulut, buku, atau televisi.

Pada jiwa semua manusia di bumi ini sosok ibu mempunyai tempat yang berbeda, tetapi di mata Saut sosok ibu berada jauh lebih dalam dan tinggi daripada sosok ayah (yang seorang tentara), sanak-saudara, kekasih, dan tanah kelahiran. Sekali lagi, sejak awal bait ”kalau kau pergi, anakku, siapa lagi kan menghibur hati ibu?” berhasil membuat orang yang membaca teringat akan sosok ibu di rumah atau di makam. Sial!

anak lelaki dekat jendela
lagu petualang jadi hidup di darahnya

Pada potongan bait kedua di atas Saut cukup menjelaskan bahwa sang anak lelaki, di balik kecamuk perasaannya, di bawah matahari panas, di dalam angin berhembus panas, dan bus tua, menyukai sebuah petualangan yang menantang.

kampung menjelma kota
gunung gunung kembali rumah rumah
begitulah berhari bermalam
makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam

”kalau kau pergi, anakku
siapa lagi kan menghibur hati ibu?”

menyebrang laut menyebrang pulau
beribu gunung kota terlampau
di negeri sebrang di negeri baru
anak melangkah masuk hidup perantau

Ada sebuah penghayatan yang dalam tentang perjalanan jauh pada bait di atas; kampung menjelma kota, gunung gunung kembali rumah-rumah, begitulah berhari bermalam, makin jauh anak dalam perjalanan tenggelam. Bait ini pula, jika dikaitkan dengan keadaan waktu itu (tahun 1999: setahun pasca runtuhnya Rezim Soeharto, setahun euforia reformasi) merupakan sebuah kritik terhadap pembangunan tanpa perasaan. Dimana pembangunan merabah luas; menyulap kampung menjadi kota, meruntuhkan gunung-gunung menjadi perumahan (vila) para elit, tanpa henti-henti, dan menggusur tempat petualangan anak-anak (hutan, sungai, dan goa). Kemudian terbayarlah keinginan Saut menjadi seorang petualang ketika “anak melangkah masuk hidup perantau”.

o hidup bebas seorang petualang
siang sekolah malam di pasar kembang
suara ibu cuma wesel surat surat bulanan
sampai kartu natal bawa berita kematian

Dapat dirasakan bahwasanya menjadi seorang petualang bukanlah sebuah pilihan yang mudah dan berjalan mulus. Perpisahan, penyatuan diri dengan keadaan (ketimpangan, ketidakadilan, serta penindasan), bahkan berujung kematian. Bukankah segala pilihan punya resiko masing-masing? Untuk pilihan ini kematian sosok ibu lah yang musti diterima Saut. Dan kesedihan pun mulai mencoba menguasai Saut dan sang anak lelaki alias petualang ketika kartu natal bawa berita kematian:

sang anak terpukul matanya kabur
lonceng gereja jadi koor tanah kubur
cerita kristus pembawa keselamatan
jadi cerita ibu andung andung petualangan

 pergulatan tentang apa yang dicari, yang diimpikan membuat Saut dan sang anak lelaki petualang bersikeras meneruskan petualangan, hingga pada satu titik keduanya beristirahat sejenak untuk menghela napas dan, lagi-lagi, mengajak kita untuk mengingat sosok ibu di rumah atau di makam:

jogja kota manis romantis
di jantungmu seorang lelaki menangis
kematian pertama yang menggores wajah
suara ibu dicarinya kini dalam kelana tak sudah

DI MATA Saut dan sang anak lelaki petualang  sosok ibu adalah tuhan dari segala tuhan.[]

About Author

Murai, 18 Agustus 1994. Lahir di sebuah kampung yang jauh dan mulai hancur. Penulis harian untuk kepentingan menyampaikan realitas yang terjadi di tanah kelahirannya