Analisis

Analisis Geopolitik, Ekonomi dan Sosial Budaya Dampak dari Persebaran Pendemi Virus Corona

Revolusi COVID-19

Oleh : Andre Soaduon[1]

Virus Corona (COVID-19) 

Virus Corona (COVID-19)  sudah berdampak tidak hanya pada sektor kesehatan, namun ekonomi makro-mikro, hingga sosial budaya. Media terus membanjiri lini masa dengan informasi yang berbagai macam presepsi, namun bila ditarik pandangan secara umum, seluruh informasi yang bisa dibaca dan dicerna menjadi satu muara yaitu wabah krisis.  Mengulas sedikit perihal COVID-19, ia merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus baru bernama SARS-CoV-2. Gejala paling umum penyakitnya adalah demam, batuk, dan sesak napas. Kebanyakan orang dengan COVID-19 akan memiliki penyakit ringan tetapi beberapa orang akan sakit dan mungkin perlu dirawat di rumah sakit.[2] Paling tidak kepopuleran virus ini mulai diperbincangkan sejak penghujung tahun 2019 selama invesitigasi di Wuhan, China.[3] Virus yang menyebabkan COVID-19 mungkin muncul dari hewan, tetapi sekarang menyebar dari orang ke orang. Virus ini diperkirakan menyebar terutama di antara orang-orang yang berada dalam kontak dekat satu sama lain (dalam jarak sekitar 6 kaki) melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan saat terinfeksi orang batuk atau bersin. Seseorang bisa mendapatkan COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang dimilikinya virus di atasnya dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mungkin mata mereka, tetapi ini tidak dianggap sebagai yang utama cara penyebaran virus.[4] Virus ini bisa berkomplikasi dengan teridentifikasi Pneumonia di kedua paru-paru, kegagalan multi organ hingga kematian.[5] Total kasus positif Virus Corona di Indonesia sampai dengan 28 Maret 2020 ada 1.155 Kasus, 59 orang Sembuh, 102 orang Meninggal.[6] Bila dilihat secara statistik lonjakan angka positif yang terkena Virus Corona terus bertambah banyak setiap harinya, secara sadar kepanikan, rasa takut dan cemas menjadi kumpulan ekspresi masyarakat, ditengah perhatian negara yang menangani masalah ini cenderung lambat.

Geopolitik: Kebijakan Negara secara Umum atas Persebaran COVID-19

Hampir seluruh negara di dunia punya sikap untuk menyatakan perang melawan Virus Corona. Seluruh negara didesak untuk mengambil sikap mengkarantina warganya. Cina menjadi pelopor untuk menghentikan seluruh aktivitas warganya di luar rumah dengan menutup akses masuk dan keluar yang disebut sebagai lockdown. Lebih dari 160.000 kasus dan sedikitnya 6.400 kematian di 146 negara dan wilayah, pandemi ini merupakan ancaman besar yang dihadapi umat manusia. Ketika virus itu memulai ditemukan  di kota Wuhan, Provinsi Hubei, orang Cina terkejut dengan kecepatan infeksi. Setelah upaya awal untuk menahan virus gagal, Cina secara agresif melakukan penguncian di Hubei. Puluhan juta orang tidak diizinkan meninggalkan kota, namun dalam enam minggu, gerakan radikal Cina terbayar ketika kasus mulai berkurang. Keberhasilan Cina mendorong Italia untuk menegakkan tindakan yang serupa untuk memerangi penyebaran virus itu. Pada tanggal 9 Maret, Perdana Menteri Giuseppe Conte memberlakukan karantina nasional, membatasi pergerakan masyarakat kecuali untuk keadaan darurat dan berkaitan dengan pekerjaan, bahkan hanya restoran dan kafe buka hanya dari jam 06.00 pagi hingga 06.00 sore.[7]

Eropa menjadi benua yang juga disasar oleh Virus Corona, banyak negara-negara di Eropa menutup perbatasan dan menutup bisnis. Sehari setelah menyatakan keadaan darurat, Spanyol memberlakukan penguncian nasional, menempatkan batasan ketat pada pergerakan orang dan meminta semua orang untuk tetap di dalam ruangan. Jerman, Polandia, Republik Ceko, dan Slovakia juga ikut menutup perbatasan mereka. Kuwait dan Qatar sama-sama mengunci dengan menghentikan penerbangan masuk dan keluar dari negara itu.[8] Di Timur Tengah, Iran menjadi sorotan atas penyebaran wabah Virus Corona, bahkan menjadi negara keempat tertinggi sebelum Cina, Italia dan Korea Selatan, kemudian penyebaran virus tersebut sampai ke Afganistan, Bahrain, Kuwait dan Irak.[9] Persebaran virus ini menjadi sebegitu masif karena banyaknya pelancong/turis yang berpergian. Amerika Serikat (AS) melakukan penangguhan maskapai penerbangannya dari dan ke Cina, maskapai Rusia juga memberlakukan kebijakan yang sama. Pemerintah Indonesia menghimbau untuk melakukan social distancing demi mencegah persebaran Virus Corona dengan membuat Satuan Tugas (SATGAS) serta akan melakukan Tes Massal. Bila ditarik secara garis keumuman, krisis pendemi ini membuat seluruh negara melakukan perhatian khusus karena rentetan wabah ini bisa menjadi jurang penghancur umat manusia. Berkaitan dari segi medis, upaya uji coba vaksin terus diupayakan, namun serangkaian uji laboratorium membutuhkan waktu, Anthony Fauci, MD, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan belum ada model yang bisa digunakan untuk mengobati Virus Corona, berikut kutipannya:

“researchers will be able to make better guesses about how to help people when they can try drugs in animals. “We don’t have an animal model yet of the new coronavirus. When we do get an animal model, that will be a big boon to drugs because then, you can clearly test them in a physiological way, whether they work”.[10]

Namun Pandemi tersebut telah mengkanalisasi pengembangan vaksin Virus Corona baru di seluruh industri biotek, baik oleh perusahaan farmasi dan organisasi penelitian seperti National Institutes of Health (NIH), AS. Vaksin COVID-19 pertama di Cina diharapkan siap untuk uji klinis pada akhir April, menurut Xu Nanping, wakil menteri ilmu pengetahuan dan teknologi China. Inovio Pharmaceuticals berencana untuk memulai uji klinis pada vaksin Virus Corona pada bulan April tahun ini. Pejabat kesehatan dari WHO telah mencatat bahwa Remdesivir Gilead telah menunjukkan kemanjuran dalam mengobati infeksi Virus Corona. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pada 19 Maret bahwa klorokuin (hydroxychloroquine / Plaquenil), obat yang digunakan untuk mengobati malaria dan radang sendi, telah disetujui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) untuk diuji sebagai pengobatan untuk COVID-19. Chloroquine sedang diuji dalam berbagai uji klinis yang dilakukan oleh lembaga pemerintah dan lembaga akademik.[11] Administrasi Produk Medis Nasional China telah menyetujui penggunaan Favilavir, obat anti-virus, sebagai pengobatan untuk Virus Corona. Obat tersebut dilaporkan telah menunjukkan kemanjuran dalam mengobati penyakit dengan efek samping minimal dalam uji klinis yang melibatkan 70 pasien. Uji klinis sedang dilakukan di Shenzhen, provinsi Guangdong.[12] Lebih lengkapnya untuk mengetahui Vaksin Corona diberbagai tahap perkembangan diseluruh dunia, Anda dapat membaca analisis Praveen Duddu yang berjudul “Coronavirus treatment: Vaccines/drugs in the pipeline for COVID-19”.

Studi Ekonomi: Resesi Besar akan Terjadi

Wabah Virus Corona sudah berdampak pada ekonomi dan bisnis, pengaruhnya mulai dari pariwisata, penyediaan suku cadang hingga industri otomotif dan teknologi. Pasar saham telah bergejolak, diketahui ekonomi Cina merupakan seperenam dari ekonomi global.[13] Sejumlah pembatasan penerbangan, penghentian produksi Pesawat A320 bahkan Toyota, General Motors, Volkswagen juga harus menghentikan produksinya di Cina.[14] Rantai Pasokan menjadi bermasalah, output manufaktur seperti produsen mobil Korea Selatan (Hyundai) juga menghentikan jalur produksinya. Seperti yang dikatakan Menteri ekonomi Jepang, Yasutoshi Nishimura

“Production and company profits could take a hit from the virus. Honda has three plants in Wuhan, the city at the centre of the epidemic”.(Produksi pabrik dan keuntungan perusahaan dapat terkena virus itu. Honda memiliki tiga pabrik di Wuhan, kota di pusat epidemi).[15]

Sekitar 20 % Produk Domestik Bruto Cina bergantung pada ekspor, kemudian pelanggan  tunggal terbesarnya adalah AS. Sebagaimana akibat dari Corona Virus ini, pemerintah AS memberlakukan tarif yang sangat signifikan, Ketakutan otoritas Cina terkait adanya kerusuhan apabila ada masalah ekonomi maka segera dilakukan peningkatan keamanan, yang mana sebelumnya sempat terjadi kerusuhan Hong Kong, dipicu oleh undang-undang yang memberi wewenang kepada Cina untuk mengekstradisi penduduk Hong Kong.[16] Investor khawatir penyebaran Virus Corona akan menghancurkan pertumbuhan ekonomi dan pemerintah mungkin tidak mampu mengatasi hal tersebut. Sebagai tanggapan, Bank Sentral di banyak negara, termasuk Inggris, telah memangkas suku bunga, secara teori, membuat pinjaman lebih murah dan mendorong pengeluaran untuk mendorong perekonomian.[17] Setidaknya sampai kurun waktu yang tidak bisa ditentukan hampir di setiap negara mengalami tren penururnan, khususnya kegiatan perjalanan, pariwisata dan hiburan.

Kapitalisme Menjadi Aktor di Balik Layar

Virus Corona menimbulkan ganguan kesehatan hingga kematian, namun jika anda rajin mencuci tangan, tidak berpergian, mencukupi nutrisi harian, mungkin akan baik-baik saja. Tetapi jika Anda sudah tua, memiliki banyak masalah kesehatan dan hidup dalam kondisi buruk, kemudian  masih harus bepergian atau bekerja demi keberlangsungan hidup, maka anda berada pada risiko yang jauh lebih besar yaitu terinfeksi dan kematian ada di depan anda. Para ahli stategi modal dan ekonom yang expert hanya peduli dengan kerusakan pasar saham, keuntungan, dan ekonomi kapitalis. Kita mengetahui mereka yang tua, sudah tidak lagi produktif dan hanya bisa menjadi seorang pensiunan saja lebih baik mati, sedangkan mereka yang muda dan produktif harus bertahan. Begitu solusi klasik Malthus awal abad ke-19 untuk setiap krisis dalam kapitalisme.[18] Resesi besar bisa saja terulang kembali, sebagaimana pernah terjadi di tahun 2008-2009. Bagaimana tidak, ekonomi kapitalis dunia telah melambat hingga mendekati ‘kecepatan kios sekitar 2,5% per tahun. AS tumbuh hanya 2% per tahun, Eropa dan Jepang hanya 1% dan apa yang disebut sebagai negara berkembang terutama di Brazil, Meksiko, Turki, Argentina, Afrika Selatan dan Rusia cenderung statis. Ekonomi besar India dan Cina juga telah melambat secara signifikan pada tahun lalu. Sekarang penutupan dari COVID-19 telah mendorong ekonomi Tiongkok ke jurang.[19] Pemerintah Indonesia yang sudah menargetkan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan formula Omnibus Law ternyata harus pupus karena disikat habis oleh Virus Corona. Jennifer McKeown, kepala penelitian ekonomi di Capital Economics, memperingatkan bahwa jika wabah menjadi pandemi global, efeknya “bisa sama buruknya dengan 2009, ketika PDB dunia turun 0,5 persen”.[20]

Federal Reserve AS melangkah untuk memangkas suku bunga. IMF dan Bank Dunia menyediakan sekitar $ 50 miliar melalui fasilitas pembiayaan darurat yang cepat dicairkan untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan negara-negara berkembang yang berpotensi mencari dukungan. Dari jumlah ini, $ 10 miliar tersedia tanpa bunga bagi anggota termiskin melalui Rapid Credit Facility. Mungkin ini memiliki dampak, namun pemotongan suku bunga dan kredit murah hanya digunakan untuk pasar saham, masalahnya resesi ini bukan disebabkan oleh ‘kurangnya permintaan’, seperti yang dikemukan teori Keynesian, tetapi hilangnya rantai produksi, investasi dan perdagangan. Solusi Keynesian/monetaris tidak akan berhasil, karena suku bunga sudah mendekati nol dan konsumen belum berhenti belanja.[21] Supermarket dan layanan pengiriman online telah melaporkan pertumbuhan besar dalam permintaan karena pelanggan menimbun barang-barang seperti kertas toilet, beras dan jus jeruk ketika pandemi meningkat. Seperti dikatakan oleh ekonom Marxist Inggris, Chris Dillow:

“epidemic is really just an extra factor keeping the major capitalist economies dysfunctional and stagnating. He identifies ‘three big facts’: the slowdown in productivity growth; the vulnerability to crisis; and low-grade jobs. And as he says, Of course, all these trends have long been discussed by Marxists: a falling rate of profit; monopoly leading to stagnation; proneness to crisis; and worse living conditions for many people. And there is plenty of evidence for them”.

Kita sadar bahwa ekonomi mengalami level stagnan dan bahkan penurunan. Sektor produksi mengalami perlambatan bahkan ada yang berhenti. Aktivitas pekerjaan menjadi rendah, tingkat keuntungan para kapitalis jatuh sehingga jurang krisis ada di depan mata. Maka resep yang bisa disodorkan adalah hutang. Marx mengakui bahwa produksi ekonomi difasilitasi dan dikembangkan oleh sains, tetapi bahwa distribusi ekonomi selalu ditentukan oleh hubungan sosial antara manusia, dengan kata lain, hubungan produksi. Di bawah kapitalisme, hubungan produksi termasuk kepemilikan alat dan teknologi masyarakat oleh perusahaan swasta sebagai milik pribadi. Mereka tidak dapat mengizinkan distribusi produk sosial secara gratis dan masih menghasilkan keuntungan pribadi.

Krisis Kemanusiaan dan Lalainya Negara       

Isu rasis anti orang Asia di AS kini mulai terdengar, orang-orang Asia dituduh sebagai penyebab pendemi ini kian meluas sampai kedaratan Eropa. Persekusi bahkan aksi kekerasan fisik kerap dilakukan, bila anda tidak percaya silahkan ketik saja di mesin pencari, atau gunakan sosial media untuk mengetahui informasi lebih lanjut.[22] Berselancar kedarataran Asia Tenggara tepatnya di Negara India, pemerintahnya menerapkan darurat sipil demi social control yang massif untuk mengurangi dampak Virus Corona. Melakukan serangkaian kekerasan kepada rakyat sipil bahkan sampai merenggut nyawa, bagi mereka  yang masih berada diluar rumah. Padahal bila diperhatikan secara seksama, hal ini terjadi karena negara tidak hadir saat rakyatnya membutuhkan. Makanan dan minuman sehat seharusnya jadi tanggung jawab di tengah wabah yang berkepanjangan ini, mayoritas kelas menengah-bawah hidup harus bekerja di luar rumah, lantas bila mereka harus tetap hidup di rumah, mungkin akan sedikit resiko terkena Virus Corona namun perlahan mereka akan mati karena kelaparan. Indonesia juga sebentar lagi akan menerapkan hal yang serupa. Darurat sipil memperbolehkan aparat untuk masuk dan mengacak-ngacak rumah-MU. Seharusnya yang dilakukan negara adalah menerapkan karantina, lalu menjamin hak-hak rakyat, seperti akses kesehatan dan makanan yang bernutrisi, hal ini bisa dilakukan dengan membangun shelter (posko-posko) dapur rakyat disetiap blok, saya rasa itu hal yang mampu dilakukan negara.

Lini masa juga ramai membicarakan penolakan mayat yang terjangkit Virus Corona, masyarakat terlihat sangat miskin edukasi, di beberapa daerah ada penolakan penguburan warga yang terkena Virus Corona, bagaimana mereka tidak menolak, informasi yang beredar mengenai Virus Corona sebegitu mengerikan, alur birokrasi juga tidak berjalan dengan baik, pemerintah tidak berkoordinasi dengan warga sekitar perihal penguburan, sehingga terjadi amukan besar dari warga. Seharusnya masalah ini bisa dibendung karena negara punya kapasitas itu semua.

Pendemi ini Menjadi Ajang Bangkitnya Solidaritas Internasional

Secara global pemerintah AS (Kapitalis Monopoli) sedang mempersulit upaya untuk mengobati Virus Corona di seluruh dunia dengan memangkas anggaran Center for Disease Control untuk meningkatkan tekanan pada negara-negara yang telah berjuang di bawah sanksi AS, termasuk Iran, Suriah, dan Venezuela.[23] Namun tidak untuk negara Kuba, mereka membuat obat antivirus bernama Interferon Alpha 2b. Obat itu, menurut spesialis bioteknologi Kuba dr. Luis Herrera Martinez: “dapat mencegah kondisi buruk dan komplikasi pada pasien, bahkan menghindari kematian.” Ini telah diproduksi di Cina sejak 2003 dalam kemitraan dengan industri farmasi milik negara Kuba. Dalam sejarah, Kuba telah mengirim “pasukan jubah putih” ke lokasi bencana di seluruh dunia terutama di negara-negara miskin sejak revolusi tahun 1959.[24] Para dokternya berada di garis depan dalam perang melawan kolera di Haiti dan melawan ebola di Afrika Barat pada 2010-an, namun ini pertama kalinya Kuba mengirim kontingen darurat ke Italia, salah satu negara terkaya di dunia, sebagai bentuk diplomasi medisnya.[25] Kuba memiliki salah satu rasio dokter per kapita tertinggi di dunia, mereka berprinsip bahwa pekerjaan dokter adalah pekerjaan revolusioner, ujar Leonardo Fernandez, seorang spesialis perawatan intensif dari Cuba.[26] Secara sadar di tengah wabah krisis ini, solidaritas kemanusiaan adalah satu tolak ukur membangun perjuangan internasional. Kuba menjadi wujud nyata pelopor kemanusiaan. Vietnam juga menyelenggarakan dapur umum, dengan memberikan makanan yang sehat dan gratis bagi orang-orang miskin yang terkarantina. Kelas Pekerja menjadi sektor yang paling terdampak dan terkena imbasnya, di beberapa negara, kelas pekerja masih masuk dan tetap melakukan aktivitas industri, mereka harus tetap kerja demi provit income perusahaan, jika tidak bekerja maka tidak akan mendapatkan gaji (no work no pay). Di saat-saat seperti ini, resesi ekonomi mungkin saja akan memuncak, maka serikat-serikat pekerja harus mampu mengambil kemudi, pristiwanya sudah siap tinggal kesadaran revolusioner yang harus digerakan, pemuda mahasiswa dan aktivis massa perlu memaksimalkan dengan terus melakukan pengorganisiran. Sosial media harus diisi dengan propaganda kritis lewat berbagai macam metode agar juga menggerakan kelas menengah. Krisis kapitalisme tidak bisa lagi ditutupi, karena lukanya kian membengkak.

 

Referensi

Release https://www.doh.wa.gov/Portals/1/Documents/1600/coronavirus/COVIDexposed.pdf, “What to do if you were potentially exposed to someone with confirmed coronavirus disease (COVID-19) “,

Release, https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/downloads/2019-ncov-factsheet.pdf, “Coronavirus disease 2019 (COVID-19) and you”, Maret 15, 2020

M Rosseno Aji, Berita  https://nasional.tempo.co/read/1325027/update-corona-28-maret-1-155-kasus-59-sembuh-102-meninggal  akses Maret 29, 2020

Shyam A. Krishna,  Coronavirus: What is a lockdown? Are we heading for a global one now? https://gulfnews.com/opinion/op-eds/coronavirus-what-is-a-lockdown-are-we-heading-for-a-global-one-now-1.1584366369214

Article, Coronavirus: Iran denies cover-up as six deaths reported in Italy https://www.theguardian.com/world/2020/feb/24/coronavirus-dead-in-iranian-city-of-qom

Brenda Goodman, MA, Doctors Look to Existing Drugs in Coronavirus Fight, https://www.webmd.com/lung/news/20200218/doctors-look-to-existing-drugs-in-coronavirus-fight

Analysis, Praveen Duddu,  Coronavirus treatment: Vaccines/drugs in the pipeline for COVID-19 https://www.pharmaceutical-technology.com/analysis/coronavirus-mers-cov-drugs/

How coronavirus is affecting the global economy, https://www.theguardian.com/world/2020/feb/05/coronavirus-global-economy

George Friedman, Article, The Geopolitics of the Novel Coronavirus, Geopoilitical Features

Lora Jones, David Brown & Daniele Palumbo, Coronavirus: A visual guide to the economic impact, BBC News,  https://www.bbc.com/news/business-51706225

Michael Roberts,  on the implications for the world economy of the Coronavirus epidemic, Public Reading Rooms, https://prruk.org/coronavirus-and-capitalism/

https://news.sky.com/story/coronavirus-uk-sees-rise-in-racism-targeting-asian-people-after-outbreak-in-china-11927470

Alan Macleod, “How Cuba is Leading the World in the Fight Against Coronavirus”, Mintpress News, https://www.mintpressnews.com/cuba-leading-world-fight-against-coronavirus/265771/

Nelson Acosta, Cuban doctors head to Italy to battle coronavirus, https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-cuba-idUSKBN219051

[1] Penulis adalah seorang pengamat amatir isu-isu global maupun lokal yang sedang tren, memiliki ketertarikan pada hal yang bersifat sains dan studi ekonomi politik

[2] Release https://www.doh.wa.gov/Portals/1/Documents/1600/coronavirus/COVIDexposed.pdf, “What to do if you were potentially exposed to someone with confirmed coronavirus disease (COVID-19) “, Maret 15, 2020

[3]  Release, https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/downloads/2019-ncov-factsheet.pdf, “Coronavirus disease 2019 (COVID-19) and you”, Maret 15, 2020

[4]  Ibid, “Coronavirus disease 2019 (COVID-19) and you”

[5]  Ibid, “Coronavirus disease 2019 (COVID-19) and you”

[6] https://nasional.tempo.co/read/1325027/update-corona-28-maret-1-155-kasus-59-sembuh-102-meninggal  akses Maret 29, 2020

[7] Shyam A. Krishna,  Coronavirus: What is a lockdown? Are we heading for a global one now? https://gulfnews.com/opinion/op-eds/coronavirus-what-is-a-lockdown-are-we-heading-for-a-global-one-now-1.1584366369214, Maret 30, 2020

[8] Ibid, Shyam A. Krishna,  Coronavirus: What is a lockdown? Are we heading for a global one now?

[9] Article, Coronavirus: Iran denies cover-up as six deaths reported in Italy https://www.theguardian.com/world/2020/feb/24/coronavirus-dead-in-iranian-city-of-qom

[10] Brenda Goodman, MA, Doctors Look to Existing Drugs in Coronavirus Fight, https://www.webmd.com/lung/news/20200218/doctors-look-to-existing-drugs-in-coronavirus-fight

[11] Analysis, Praveen Duddu,  Coronavirus treatment: Vaccines/drugs in the pipeline for COVID-19 https://www.pharmaceutical-technology.com/analysis/coronavirus-mers-cov-drugs/

[12] Ibid, Praveen Duddu,  Coronavirus treatment: Vaccines/drugs in the pipeline for COVID-19

[13] How coronavirus is affecting the global economy, https://www.theguardian.com/world/2020/feb/05/coronavirus-global-economy

[14] Ibid, How coronavirus is affecting the global economy

[15] Ibid, How coronavirus is affecting the global economy

[16] George Friedman, Article, The Geopolitics of the Novel Coronavirus, Geopoilitical Features, Februari 4, 2020

[17]  Lora Jones, David Brown & Daniele Palumbo, Coronavirus: A visual guide to the economic impact, BBC News,  https://www.bbc.com/news/business-51706225

[18] Michael Roberts,  on the implications for the world economy of the Coronavirus epidemic, Public Reading Rooms, https://prruk.org/coronavirus-and-capitalism/

[19] Ibid, Michael Roberts,  on the implications for the world economy of the Coronavirus epidemic

[20] Ibid, Michael Roberts,  on the implications for the world economy of the Coronavirus epidemic

[21] Ibid, Michael Roberts,  on the implications for the world economy of the Coronavirus epidemic

[22] Lebih lanjut bisa baca https://news.sky.com/story/coronavirus-uk-sees-rise-in-racism-targeting-asian-people-after-outbreak-in-china-11927470

[23] Alan Macleod, “How Cuba is Leading the World in the Fight Against Coronavirus”, Mintpress News, https://www.mintpressnews.com/cuba-leading-world-fight-against-coronavirus/265771/

[24] Nelson Acosta, Cuban doctors head to Italy to battle coronavirus, https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-cuba-idUSKBN219051

[25] Ibid, Nelson Acosta, Cuban doctors head to Italy to battle coronavirus

[26] Ibid, Nelson Acosta, Cuban doctors head to Italy to battle coronavirus

Comment here