Opini

Angka Nol Sebagai Kritik Atas Rasionalitas Sains

Angka Nol Sebagai Kritik Atas Rasionalitas Sains

Perlu diingat bahwa setiap angka yang kita kenal saat ini merupakan sebuah symbol dari sesuatu nominal. Penemuan angka 0 (Nol) harusnya tidak hanya sebagai sebuah kebanggaan dalam pengklaiman bahwa nol ditemukan oleh seorang ilmuwan islam; Al-Khawarizm. Dan kita yang mengaku sebagai penerus sains islam hari ini hanya membanggakan Al-Khawarizm sebagai seorang Penemu Muslim tetapi tidak mencari tahu apa sebab-sebab yang mendasarinya. Apa landasan dari sebuah angka tanpa nominal ini agar bisa diterima sebagai satu angka eksakta dan bagaimana prosedur-prosedur ilmiahnya adalah salah satu pertanyaan penting yang harus mendapat perhatian kita.

Nol mewakili konsep tidak adanya kuantitas, mampu menjawab persamaan linear yang rumit dengan cara yang jauh lebih mudah dan cepat. Dalam matematika, angka nol berperan sebagai identitas tambahan bagi bilangan bulat, bilangan real, dan struktur aljabar lainnya. Serta digunakan untuk tempat dalam sistem nilai tempat. Atas jasanya inilah istilah “algoritma” yang berasal dari latinisasi nama Al-Khawarizm, sebagaimana tercantum pada terjemahan karyanya dalam bahasa Latin pada abad ke-12, yakni algorithmi de numero Indorum, Awalnya, kata “algorisma” adalah sitilah yang merujuk pada aturan-aturan aritmetis untuk menyelesaikan persoalan menggunakan bilangan numerik. Kemudian, pada abad ke-18, istilah ini berkembang menjadi algortima yang mencakup semua prosedur atau urutan langkah yang jelas dan diperlukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Sebelum masehi, para penulis Yunani kuno mengunakan symbol space sebagai penanda sistem desimal untuk puluhan, ratusan dan seterusnya. Sedangkan pada bangsa India, sistem desimal ditandai dengan sistem abakus (tidak baku) yang menggunakan symbol titik. Titik-titik itu disebut sebagai sunya atau kosong, hampa, angkasa. Dan kaum rasionalitas tidak mungkin menggunakan space atau titik yang hanya akan menunjukan kalau peradaban mereka adalah peradaban serapan. Dari Bait Al-Hikmah di Baghdad, Al-Khawarizmi mulai berpikir untuk menemukan solusi mensintesis aritmatika India dan menunjukkan bahwa nol berfungsi dalam persamaan aljabar sekaligus merupakan bentuk kritiknya sebagai ilmuwan islam terhadap para ilmuwan barat yang menitikberatkan sesuatu hanya pada sains. Diskursus keilmuwan yang terus saja membicarakan keadaan alam dan hal yang nyata saja, tetapi ia menghilangkan sebuah ketiadaan. Sains hanya berkutat pada sesuatu yang eksistensial namun mengabaikan segala yang bersifat esensi (hakikat). Sains seolah tidak mau mengakui sesuatu hal yang bersifat ilahiah. Dunia dan seisinya menurut ilmu sains hanya berorientasi pada apa yang dirasakan oleh panca indera kita. Tidak dapat melihat adanya alam yang lain selain alam dunia ini.

Angka nol mulai merambah benua Eropa sejak abad ke 13 semenjak popularitas Leonardo da Pisa. Ia menelurkan teori Fibonacci yang kemudian membantu pedagang dalam menyusun pembukuan. Sayangnya, di tanah Eropa sempat muncul tentangan soal angka nol. Angka yang dipopulerkan Khawarizmi dianggap sebagai angka setan. Penolakan juga datang dari pemerintah  Italia yang begitu anti dengan numerik asal India-Arab ini. Para pemimpin mencurigai arti kata sifr atau kosong dalam bahasa Arab. Mereka mengira nol sebagai kode yang membahayakan negara. Pelarangan membuat para pedagang mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi menerapkan angka nol dalam perhitungan. Penggunaan angka nol di Eropa baru diterima secara luas dan bebas pada tahun 1600-an, ketika Rene Descartes mempresentasikan tentang sistem koordinat Cartesian dan kalkulus (Kusumaningtyas, 2018).

Victor F. Weisskopf, seorang ahli nuklir, mengatakan bahwa “sains telah berhasil mempertajam pengetahuan kita mengenai peristiwa-peristiwa tertentu. Tetapi justru sains cenderung membuat pengetahuan kita mengenai yang lain semakin gelap. Sehingga kita harus bergerak meraba-raba dalam kegelapan sains. Sains sama sekali tidak memperjelas makna pengalaman-pengalaman manusiawi yang justru merupakan dasar dari eksistensinya”. (Nataatmadja, 1982: hal 3).

Jika sains yang ditawarkan sebagai sebuah kebenaran logis yang bersifat eksak, pasti, nyata dan universal dengan adanya pembuktian melalui angka tertentu maka sains sebagai ilmu akan mempan dan anti terhadap kritik seolah tidak akan menemui kesalahannya lagi. Hal-hal yang berada di luar pengalaman empiris manusia, apalagi yang bertentangan dengan sains, semuanya dianggap tidak pasti. Akibatnya, manusia tidak hanya kehilangan dirinya sebagai hamba tetapi juga tersingkir dari kebenaran ilahiyah yang bersumber pada wahyu. Lebih dari itu, kebenaran agama yang bersumber pada wahyu akan dipandang sebagai suatu konsep yang bersifat individual saja. Mukjizat-mukjizat para nabi akan dianggap cerita-cerita kebohongan semata.

Atas dasar itulah Larry Laudan, seorang filosof sains menyampaikan kritiknya bahwa: “Ciri khas pengetahuan adalah dapat dibuktikan salah. Artinya, ciri khas pengetahuan ilmiah bukan apakah pengetahuan tersebut dapat dipertahankan atau tidak, tetapi apakah dapat dibuktikan salah atau tidak

Sumber kelahiran pengetahuan sains adalah filsafat, dan panutan kemunculan sains yaitu para filosof alam. Sejak awal mereka hanya menaruh perhatian pada alam dan proses-prosesnya: ingin memastikan penyebab-penyebab perubahan alam semesta dan apa yang menjadi bahan dasar pembentukan suatu unsur, bahan apa yang menyebabkan perubahan fisik pada makhluk. Dimulai dari pertanyaan “dari mana datangnya segala sesuatu?”. Lalu banyak dari para filosof ini mulai membayangkan bahwa; “pada suatu waktu, sesuatu pasti berasal dari ketiadaan”. Dan ketiadaan ini pun berupa segala sesuatu, yang sebenarnya memiliki wujud. Ketiadaan yang mempunyai bentuk material yang belum ditemukan.

Munculah seorang yang bernama Thales, ia menganggap bahwa segala yang ada berasal dari air. Karena airlah, dalam pandangan Thales yang penuh takjub, ikan-ikan hidup, katak-katak meloncat. “Air adalah sumber kehidupan”. Pemikiran Thales ikut mempengaruhi Leucippus yang mengatakan “Materi tersusun dari butiran-butiran”. Dari sinilah muncul Democritus (murid Leucippus) mengatakan bahwa materi bersifat diskontinu. Artinya, bila materi dibelah terus menerus, maka akan diperoleh bagian terkecil dari materi yang masih memiliki sifat materi, namun tidak dapat dibelah lagi. Dan yang tidak dapat dibelah lagi itulah yang disebut dengan ATOM. Democritus menyebut bagian dari belahan batu yang paling kecil itu dengan istilah atomos (A= tidak, Tomos= dipotong-potong), yang artinya “invisible” (tidak terlihat). Berdasarkan teori Democritus, atom yang menyusun setiap zat berbeda satu sama lain. Dalam pelajaran ilmu sains, ini adalah periode teori Atom Klasik

Selain itu seorang ahli Kimia, Matematika, Arsitek, serta Filsuf yang bernam Robert Hooke melalui pengamatannya, mengemukakan bahwa “materi yang paling kecil yang hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup adalah cellulae (baca; Sel)”.

Tetapi mereka melupakan apa yang mereka sebut Dewa, pemegang kuasa yang mereka yakini sebagai pemilik hujan dan pengatur siklus atas keadaan alam. Mereka lupa bahwa masih ada Tuhan yang menciptakan segalanya. Di sinilah Khawarizmi muncul menawarkan sebuah gagasan filosofis dalam bentuk angka saintifik itu.

Kemampuan rasionalitas yang digunakan oleh para ilmuwan sains untuk proses berfikir adalah sifat yang inheren dengan struktur objektif otak. Otak sebagai alat penerima dan pengelola segala macam informasi dari dunia objektif. Alat yang diciptakan oleh Allah agar manusia dapat berhubungan dengan dunia objektif. Kita tidak bisa menggunakan jalur pendekatan rasional untuk mengenal ilmu subyektif. Karena kalbu mencerminkan mekanisme spritual yang menghubungkan ruh dengan Al-Khaliq dan mustahil hubungan itu berlangsung melalui jalur komunikasi rasional. Justru mekanisme kalbu akan lebih nyata kalau aktifitas otak bisa ditekan mendekati zero (nol) (Nataatmadja, 1982: hal. 27).

Rasionalitas tidak akan mampu menyentuh hakekat kebenaran, karena itu rasionalitas cenderung membawa fikiran manusia pada permukaan pengalaman yang paling dangkal, pengalaman praktis tanpa menghiraukan landasan kebenaran di kedalaman agamawi pengalaman spritual. Dengan sikap yang terungkap dalam pernyataan tersebut manusia justru terperangkap dalam relativisme dunia empiris. Tidak mampu menyelam mengalami hakekat yang ada.

Dengan uraian tersebut tidak heran jika Hediki Yukawa (fisikawan Jepang) menghimbau supaya manusia modern kembali ke pemikiran intuitif dan mengurangi pemikiran digital yang menurut Yukawa menghambat kreativitas. Tidak heran pula Einstin mengatakan bahwa “lokus/ sumber kreativitas adalah titik pusat gravitasi kesadaran emosional, yang menurut orang Islam disebut qalbu”. Einstin dan Yukawa melihat bahwa otak bukan lokus/ sumber intelegensi (Nataatmadja, 1982: hal. 27).

Angka Nol dalam hubungan Keislaman

Angka nol adalah angka yang dalam ilmu saintifik bukan hal yang luar biasa. Meskipun di tingkatan sekolah dasar kita, angka ini tidak terlalu penting dalam hafalan karena kita memulainya dari angka satu (1) dan seterusnya sampai tak terhingga, selain hafalan abjad A sampa Z.

Dalam eksakta fisika dan matematik, Angka 0 (Nol) menjadi simbol pada titik koordinat, menjadi penentu awal untuk sebuah lintasan linear (garis), dan titik sentral untuk pengamat membayangkan sebuah dimensi atau ruang. Angka yang tidak hanya menjadi solusi atas sistem penomoran bilangan desimal yang sebelumnya menggunakan sistem abakus (sistem perhitungan india untuk menandai kelipatan puluhan, ratusan, ribuan dst), solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Namun kelahiran angka 0 (Nol) tidak terlepas dari proyek kepentingan sang penemunya. Nol bukan sebagai angka yang netral. Dalam ilmu Al-Kimia, ada yang bersifat Asam-Netral-Basah, angka 7 sebagai penunjuk netral dalam teori ini.

Dalam sebuah teori fisika yang diperkenalkan Isac Newton lewat pemahamannya terkait gerakan benda, mengatakan bahwa: “segala sesuatu yang bergerak dari tempat atau titik semula, berputar dan berjalan jalan kemanapun, ketika benda tersebut kembali ke keadaan awal maka usaha yang dikelurkan sama dengan Nol”. Yang dikatakan Newton adalah ”sama dengan” yang tidak hanya merujuk pada bentuk angka nol atau secara nominal, berjumlah nol. Artinya gerakan segala materi yang dikatakan Newton sama dengan apa yang ada pada angka nol baik berupa bentuk yang bulat atau pun berupa nominal ketiadaan.

Hal tersebut menggambarkan siklus asal muasal kehidupan yang berasal dari ilahi dan akan kembali kepada ilahi. Jalur perjalanan hidup tidak seperti sebuah garis linear yang memiliki titik awal keberangkatan dan titik akhir yang berujung. Ia bagaikan angka Nol yang berasal dari ketiadan dan akan kembali kepada ketiadaan pula. Jika dipahami lebih jauh maka: ada alam lain selain alam nyata ini, ada dimensi lain dari tiga dimensi yang kita ketahui saat ini, ada Zat lain dari tiga macam zat yang kita kenal saat ini.

Pendapat Newton ini sesuai dengan ajaran islam yang tertulis dalam Nash al-Qur’an surah al-baqarah ayat 156. Ayat ini juga yang mengilhami Al-Khawarizm untuk menemukan sekaligus menawarkan penemuan angka 0 (Nol) sebagai kritik atas angka-angka lainnya yang hanya membahas soal ke-ada-an segala sesuatu.

إنّا لله وإنّا إليه راجعون

Terjemahan: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali (QS Al-baqoroh 156)

Segala yang menjadi kepunyaan Allah dan yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Jika teori Newton tentang gerakan benda yang datang dari titik A dan kembali kepada titik A maka hasil dari usaha yang dikeluarkan benda adalah sama dengan Nol. Ketika ditarik kepada Ayat ini maka hasil dari perjalanan kehidupan segala sesuatu akan kembali kepada sang Khalik. Proses perjalanan setiap makhluk tidak bersifat linear yang memiliki titik awal dan titik akhir, sehingga berujung seperti garis lurus. Namun siklus perjalanan dari kehidupan inilah digambarkan oleh Al-Khawarizm sebagai siklus angka 0 (Nol), yang tidak berujung dan tidak diukur secara nominal atau bersifat eksakta.

Inilah sejarah islam yang ikut mempengaruhi perkembangan sains barat yang tidak mengenal adanya batiniyah. Segala sesuatu yang dirasakan oleh panca indera saat ini sebenarnya ia berasal dari ketiadaan. Tiga unsur zat (padat, gas, cair) yang kita kenal saat ini juga berasal dari sebuah zat ketiadaan.

Larry Laudan mengatakan; “dapat terjadi bahwa para ilmuwan sepakat dan menerima berlakunya sebuah eksplanasi ilmiah, sementara pada saat yang sama mereka berbeda pendapat (disensus) mengenai apakah sebuah teori tertentu sesuai dengan kriteria tertentu yang membentuk eksplanasi ilmiah tersebut, atau ketidaksepakatan mengenai metode yang paling tepat dalam memajukan pencapaian eksplanasi ilmiah yang baik. Bagi Laudan, orang dapat saja tidak sepakat mengenai tujuan-tujuan dari disiplin mereka (misalnya kebenaran versus keandalan konseptual, kesederhanaan versus keindahan, dan sebagainya), sementara pada saat bersamaan mereka menerima metodologi dan teori ilmiah yang sama. Dan ini terjadi jika metode-metode dalam perdebatan dapat memajukan tujuan-tujuan yang mau dicapai. Demikian pula, teori yang sama dapat dirujuk oleh dua metodologi yang berbeda dan bahkan saling berkonflik”.

Dari pendapat Laudan sebenarnya yang dapat kita petik hikmanya adalah bahwa; meski dalam diskursus sains yang berbasis rasionalitas dan eksakta itu para ilmuwan sains boleh saja tidak sepakat dengan disiplin keilmuan berbasis keislaman, atau sebaliknya, para ulama islam boleh saja tidak bersepakat terhadap basis keilmuwan sains yang tidak mengenal esensi kehidupan. Namun dengan adanya penemuan angka 0 (Nol), pada saat bersamaan sebenarnya setiap disiplin keilmuan sedang saling mengakui satu sama lain. Dan pengakuan ini terjadi atas metode-metode dan cara-cara tersendiri dari para penemunya untuk ditawarkan sebagai sebuah kolaborasi kesepakatan mengenai keilmuan.

Dalam arti itu sebetulnya ilmuwan bukanlah para pahlawan pencari kebenaran, tetapi para pemecah teka-teki alam berdasarkan model tertentu yang sudah disepakati bersama.

========

Daftar Pustaka

Kusumaningtyas, Shela. Sejarah Nol yang Sempat Disangka Angka Setan dan Peran Ilmuan Muslim. Diterbitkan oleh Kompas 20 Mei 2018

Nataatmadja, Hidajat. 1982. Krisis Global Ilmu Pengetahuan Sosial dan Penyembuhan. Bandung: Penerbit Iqra

Comment here