oleh: Habibi Hidayat

Karya sastra, dalam hal ini novel bergenre sejarah, merupakan sebuah rekonstruksi dari suatu peristiwa sejarah. Terlepas dari keakuratan atau ketidakakuratannya, novel bergenre sejarah berusaha mengungkapkan sesuatu yang terlintas dari catatan-catatan sejarah atau analisis sejarah yang sudah seharusnya bersumber dari data-data yang valid. Novel bergenre sejarah, dalam hal ini, bisa dikatakan sebagai hasil pikiran sang pengarang dalam merekonstruksi peristiwa sejarah.

Sebagai suatu hasil pikiran, novel bergenre sejarah tak akan kalah menarik untuk dibahas ketimbang sejarah itu sendiri. Dengan ketekunan sang pengarang dalam mengkaji berbagai macam peristiwa sejarah, akan lahirlah suatu novel yang begitu kaya akan penggambaran masa lampau. Dua novel bergenre sejarah yang bisa dikatakan telah menjadi klasik dalam Sastra Indonesia adalah ‘Arus Balik’ karya Pramoedya Ananta Toer dan ‘Roro Mendut’ karya Y.B. Mangunwijaya. Tulisan ini akan berusaha menelisik aspek sejarah dari dua novel tersebut.

***

arus balik pramoedya ananta toerArus Balik karya Pramoedya Ananta Toer berusaha merekonstruksi suatu usaha kerajaan-kerajaan di Jawa dalam melawan dominasi bangsa Eropa Iberia (Portugal dan Spanyol) yang berdasarkan Perjanjian Tordesillas (1494) telah membagi bumi menjadi dua sekaligus mengklaim kepemilikannya (separuh untuk Portugis, separuh lagi untuk Spanyol) lantas berani mengarungi lautan demi menemukan pulau-pulau eksotik penuh akan rempah dan segala kekayaan alam lainnya yang sebelum itu hanya hidup dalam benak imajinasi mereka.

Dipimpin oleh Albuquerque, meski sempat gagal pada usaha pertamanya, Portugis lantas menjumpai kesuksesannya dengan menguasai Malaka pada tahun 1511. Dikuasainya Malaka oleh Portugis mengusik jalur perdagangan Nusantara yang telah ada dan saling terhubung sejak abad-abad sebelumnya.

Sejumlah kerajaan dan komunitas dagang pun mulai terganggu karena jelas kalau Portugis berambisi memonopoli perdagangan rempah di perairan Nusantara. Sejumlah kerajaan hingga komunitas Cina di Nusantara pun mulai tergerak untuk membendung dominasi itu.

Dalam novel, Demak sebagai satu kerajaan yang tengah berjaya, berusaha berdiplomasi dengan Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta yang wilayahnya masih merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit yang sebetulnya sudah melemah. Tujuannya adalah menghimpun kekuatan bersama demi menggempur Portugis di Malaka. Kesepakatan pun dicapai, tapi pada waktu yang telah ditetapkan, Adipati Tuban karena perhitungan piciknya, malah ingkar dengan menunda-nunda keberangkatan Armada Tuban yang dipimpin anaknya sendiri dan sebetulnya telah siap untuk menyusul Armada Demak. Akibatnya, Armada Demak kalah telak. Pemimpinnya, Laksamana Unus atau Pangeran Sabrang Lor, harus pulang dengan luka parah yang membuatnya cacat hingga akhir usianya.

Setelah ekspedisi pertama gagal, Arus Balik lantas mengenalkan lebih jauh sesosok lelaki Jawa bernama Wiranggaleng yang sebelumnya telah diperkenalkan sebagai seorang juara gulat dari sebuah desa bernama Awis Krambil. Sebelumnya, Wiranggaleng pun termasuk dalam armada laut Tuban yang sengaja diberangkatkan terlambat oleh Adipati Tuban. Keikutsertaannya dalam ekspedisi gagal itu, memberi kesan yang mendalam bagi dirinya. Betapa ia kecewa pada kelicikan Adipati Tuban sekaligus bersedih dengan segala hal yang harus ditanggung Laksamana Unus karena kegagalan itu. Ia percaya, kalau saja Tuban dan Demak bisa kompak melawan Portugis, mungkin ekspedisi itu bisa membuahkan hasil.

Babak selanjutnya dari novel itu menceritakan persaingan politik yang terjadi di Tuban. Kehadiran orang luar yang mengaku sebagai pemuka agama membuat persaingan politik semakin sengit. Dua tokoh yang merupakan pendatang yang saling berseteru satu sama lain adalah Sayid Almasawa – seorang ‘pelarian’ dari Malaka, dan Rangga Iskak yang sebelumnya sudah menjadi syahbandar bagi Kadipaten Tuban. Segala intrik politik di antara kedua orang tersebut yang saling berlomba menanamkan pengaruh pada Adipati, membuat Wiranggaleng kerepotan. Ia mau tak mau harus terlibat dalam perseteruan itu dan harus bertindak ketika Rangga Iskak yang kemudian menamai dirinya sebagai Sunan Rajeg melakukan pemberontakan.

Di tempat lain, yaitu Demak, pergolakan politik juga tak bisa dihindari. Setelah wafatnya Raden Patah sebagai penguasa Demak pertama, Pati Unus yang menderita cacat akibat ekspedisi gagal sebelumnya, naik menggantikan posisi itu. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Adiknya, Trenggono, diceritakan membunuh Pati Unus untuk merebut takhta kerajaan. Jatuhnya kekuasaan di tangan Trenggono membuat banyak perubahan pada Demak sebagai sebuah kerajaan.

Di bawah kekuasaan Trenggono, Demak mulai mengabaikan kekuatan laut yang sebelumnya telah dirintis oleh Pati Unus. Galangan kapal mulai terbengkalai, perdagangan di pantai-pantai pesisir Jawa dibiarkan sepi. Trenggono lebih memilih untuk memperbesar angkatan daratnya sebagai persiapan untuk ekspansi ke daerah-daerah yang sebelumnya menjadi daerah-daerah pecahan Majapahit. Tuban lantas menjadi salah satu sasaran ekspansi Trenggono.

Di tengah keadaan itu, ambisi untuk membendung dominasi Portugis masih bersisa pada sebagian orang di lingkungan Kerajaan Demak. Adalah Ratu Aisyah, ibunda dari Trenggono, yang masih menjaga ambisi itu. Wanita itu telah mendengar seorang anak desa yang begitu piawai dalam memimpin dan ia menghendaki Wiranggaleng untuk memimpin suatu ekspedisi lanjutan demi mengusir Portugis dari perairan Nusantara. Tapi tekanan dari Trenggono yang benar-benar tidak suka dengan ide membendung Portugis, membuat ekspedisi itu seolah gagal sejak awal. Trenggono justru menekan ibundanya sendiri, dan ia juga membunuh salah seorang dari Komunitas Cina yang menghendaki ekpedisi pengusiran Portugis. Tapi dengan persiapan seadanya, Wiranggaleng tetap berangkat hanya dengan sejumlah tiga puluh jung. Bisa dipastikan bagaimana hasilnya, ekspedisi itu gagal seperti sebelumnya.

Di saat Wiranggaleng berusaha menekan Portugis di Malaka, Tuban diserang habis-habisan oleh Demak pimpinan Trenggono. Adipati Tuban meninggal saat Demak mengepung kadipatennya. Tuban pun habis dijarah.

Tidak hanya Tuban, dengan bantuan seorang syahbandar baru dari Pasai bernama Fathilah, Banten dan Sunda Kelapa pun berhasil dikuasai. Sementara Trenggono melanjutkan ekspansinya ke bagian Timur Jawa.

Dengan sisa pasukan yang ada, seorang Patih Tuban bernama Kala Cuwil, berusaha mengusir pasukan Demak yang mulai terlena dalam perayaan kemenangan. Usaha itu berhasil, tapi tak lama berselang, Portugis mendarat di Tuban dan menguasai kadipaten itu dengan mudah.

Berita jatuhnya Tuban ke tangan Portugis terdengar oleh Wiranggaleng yang justru masih bertahan di Malaka demi misi mengusir Portugis. Berita itu selanjutnya membuatnya harus pulang dengan kekecewaan yang besar.  

Sekembalinya ke Jawa, Wiranggaleng segera menghimpun kekuatan-kekuatan yang masih bersisa. Kepulangannya menumbuhkan kembali harapan pada rakyat yang telah terlunta-lunta akibat perang melawan Demak hingga Portugis. Ia dengan mudah menghimpun segenap kekuatan yang bersisa untuk menggempur Portugis yang kini telah menguasai benteng pertahanan Tuban.

Dengan strategi yang tepat dan terukur, Wiranggaleng pun berhasil menumpas Portugis dan menguasai kembali Kadipaten Tuban. Tapi keberhasilan itu tidak serta-merta membuatnya bangga dan puas, bahkan ia semakin yakin akan adanya kekalahan demi kekalahan yang seterusnya akan menimpa kerajaan-kerajaan di Jawa yang hanya melahirkan raja-raja berjiwa kecil.

Raja terkuat yang saat itu berkuasa, yakni Sultan Trenggono, benar-benar tak bisa diharapkan olehnya. Dihimpunnya suatu angkatan darat besar semata-mata hanya untuk menguasai Jawa, dan tak ada sedikit pun keinginan untuk menghimpun kekuatan bersama demi keselamatan perairan Nusantara dari bangsa asing yang semakin bernafsu menguasai. Trenggono terus merangsek ke Timur Jawa, yaitu Blambangan, lantas tewas terbunuh di sana. Arus balik itu pun semakin tak terbendung!

Demak dalam catatan sejarah

Pada “Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa”, De Graaf dan Pigeaud dengan sangat telaten dan hati-hati menjelaskan asal-usul dan kronologis Demak sebagai sebuah kerajaan berdasarkan beberapa sumber, seperti Serat Kandha, Hikayat Banten, hingga berita luar seperti Suma Oriental yang ditulis oleh Tome Pires. Riwayat tentang Demak dari sumber-sumber itu ternyata berbeda-beda, tapi perbedaan itu disatukan oleh tiga fase besar dari ketiga penguasanya secara berturut-turut. Novel “Arus Balik” menggunakan Serat Kandha (ditulis pada masa Kerajaan Mataram) yang merinci tiga penguasa Demak dari Raden Patah, Pangeran Sabrang-Lor, hingga Trenggono.

Dalam catatan Tome Pires di Suma Oriental, terdapat perbedaan yang mencolok dari penguasa Demak kedua yang disebutnya sebagai Pate Rodin. Sr dengan penguasa Demak ketiga yang disebutnya sebagai Pate Rodin. Jr. Perbedaan itu terletak pada jumlah armada laut yang dimiliki keduanya. Jika Pate Rodin. Sr mempunyai armada laut sebanyak empat puluh jung, sebaliknya Pate Rodin. Jr hanya memiliki armada laut sebanyak sepuluh jung! Bila hal ini disesuaikan dengan novel “Arus Balik” (tentu saja sebagai sebuah rekonstruksi) akan terdapat suatu kecocokan. Sebagai penguasa Demak kedua, Pangeran Sabrang-Lor atau Pati Unus jelas mempunyai kepedulian yang amat mendalam terhadap kondisi perairan Nusantara dan wajar jika ia digambarkan sebagai raja yang sadar akan pentingnya membangun kekuatan laut. Sementara penguasa Demak ketiga, Trenggono, rupanya mengabaikan saja hal itu. Ia lebih berambisi pada penaklukan Jawa. Dengan pasukan daratnya ia merangsek ke pedalaman Jawa bagian Timur demi memerangi saudaranya sendiri yang tak lain merupakan sisa-sisa dari imperium kuno Majapahit.

Berdasarkan laporan musafir Portugis bernama Mendez Pinto, Trenggono tewas dalam pertempuran di Blambangan sekitar tahun 1546, Kerajaan Demak lantas diwariskan pada Sultan Prawata. Tapi keadaan kacau-balau akibat ekspansi dengan kekerasan yang dilakukan Trenggono, membuat posisi Prawata tidak aman. Beberapa pihak mengklaim sebagai pewaris syah dari takhta yang ditinggalkan Trenggono. Dendam dan nafsu berkuasa selanjutnya menjadi bahan bakar pertikaian di tanah Jawa. Setelah Prawata terbunuh oleh Aria Penangsang dari Jipang, Demak berangsur-angsur runtuh sebagai sebuah kerajaan digantikan oleh kerajaan pedalaman seperti Pajang yang sayangnya tak berumur panjang, lantas Mataram yang semakin jauh masuk ke pedalaman.

mataram islam
Sumber: Harian Merapi

Seperti yang dikatakan tokoh Wiranggaleng dalam novel “Arus Balik”, bahwa tak akan lahir lagi raja-raja besar yang kebijakannya menyeluruh demi kesalamatan Nusantara.

“Ingatkah kalian pada sejarah lahirnya armada Jepara-Demak? Beberapa kerajaan di Jawa dan seberang telah bersumbang untuk pembangunan itu. Akhirnya armada megah itu digunakan Trenggono bukan untuk kepentingan Nusantara, hanya untuk menguasai Jawa. Sejak itu tak akan ada lagi raja yang bisa diajak bersekutu dan bergabung kekuatan. Nasib Jawa dan Nusantara telah ditentukan.”

Roro Mendut: perempuan boyongan dari tanah pesisir

Roro Mendut karya Y.B. Mangunwijaya merupakan novel tiga seri yang menceritakan suatu masa ketika Kerajaan Mataram sedang mencapai masa puncaknya di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Politik ekspansi yang dilakukan penguasa Mataram itu kurang lebih mirip dengan apa yang dilakukan Trenggono ketika berkuasa di Demak. Hal itu dilakukan seolah ingin mengukuhkan bahwa Mataram sebagai kerajaan terkuat di Jawa bagian tengah dan timur, merupakan satu-satunya pewaris syah dari Kerajaan Majapahit yang sudah lama runtuh, dan kerajaan-kerajaan pesisir bekas daerah Demak atau Pajang harus tunduk kepadanya. Silsilah raja-raja Mataram dalam babadnya diungkapkan sebagai keturunan raja terakhir Majapahit bernama Brawijaya. 

Dalam novelnya, Y.B. Mangunwijaya menceritakan kembali kisah klasik Roro Mendut dengan kepiawaian dan gaya khasnya, sehingga kisah lama itu hadir dalam bentuk yang lebih bisa dinikmati.

Secara singkat, novel Roro Mendut berkisah tentang seorang gadis boyongan (rampasan) perang bernama Roro Mendut yang dipaksa menikah dengan seorang perwira Mataram tua bernama Tumenggung Wiroguno. Ketimbang menikmati hidup tenang dengan gelimang harta perwira Mataram itu, Roro Mendut lebih memilih hidup dengan seorang pemuda bernama Pronocitro yang merupakan anak dari seorang wanita saudagar yang terkenal dengan nama Singobarong. Meski anak saudagar kaya, Pronocitro mendatangi Mataram untuk memulai sendiri kegiatan bisnisnya, karena itu ia dianggap tak lebih dari rakyat biasa di mata orang Mataram. Akibat pilihannya, Roro Mendut dan Pronocitro tewas di tangan Wiroguno.

Di samping kisah cinta yang mengharu-biru itu, aspek sejarah dalam novel ini begitu amat kuat sehingga pembaca bisa membayangkan bagaimana kehidupan rakyat kecil (kawulo alit) yang terlunta-lunta di antara perpolitikan di tanah Jawa yang tak bisa berhenti bergejolak. Ketika raja adalah manusia setengah dewa, rakyat kecil tak bisa berbuat apa-apa. Segala apa yang dimiliki rakyat, bisa terenggut kalau itu maunya raja.

Pada babak awal novel itu, diceritakanlah Roro Mendut sebagai seorang gadis pesisir yang seumpama bunga, sedang berada pada masa mekar-mekarnya. Karena hal itu, Adipati Kadipaten Pati bernama Pragola, ingin mengangkatnya sebagai selir.

Di saat Roro Mendut sebagai seorang gadis sedang menikmati kebebasan masa muda yang digunakannya untuk ikut mencari ikan dengan paman tuanya, beberapa utusan Adipati Pragola malah datang, lantas membawanya ke puri istana Pati.

Pada saat yang sama itu pula, Adipati Pragola tengah memimpin pasukannya melawan pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Karena hal itu, ia menunda untuk menikahi Mendut sebagai selir.

Ada beberapa hal yang dianggap sebagai pemicu pertikaian antara Mataram dan Pati, salah satunya adalah kabar bahwa Pati tak mau mendukung Mataram ketika hendak menyusun kekuatan melawan Kompeni di Batavia. Karena hal itu, Pati dianggap memberontak oleh Raden Mas Rangsang (nama lain Sultan Agung) dan penguasa Mataram itu merasa perlu untuk mempimpin sendiri pasukannya demi menumpas Pati.        

Dari perang itu, Mataram lantas keluar sebagai pemenang. Adipati Pragola tewas, istana dan bentengnya dikepung habis-habisan, harta-pusakanya pun dijarah, semua keluarganya ditumpas sampai habis. Beruntung bagi Mendut, karena ia belum sempat diangkat menjadi selir sehingga tidak dieksekusi mati seperti seluruh keluarga Adipati Pragola. Mendut sempat berusaha lari, tapi gagal karena sudah sedemikian terkepung oleh pasukan Mataram. Mendut bersama Ni Semongko dan Genduk Duku, lantas menjadi tiga di antara wanita rampasan yang diboyong Wiroguno menuju pusat kota Mataram.

Seolah belum puas dengan semua hasil perang itu, Wiroguno juga membakar habis istana dan benteng Kadipaten Pati sebelum meninggalkannya. Hal ini menunjukkan betapa Mataram tak pernah punya keinginan untuk memajukan daerah taklukannya yang berada di derah pesisir demi membangun pertahanan sekaligus kekuatan laut. Daerah taklukan biasanya dibiarkan terbengkalai begitu saja dan bagi mereka mungkin lebih baik begitu. Apa yang dibutuhkan Mataram dari daerah taklukan itu hanyalah ketundukan atau kepatuhan mengirim upeti, tanpa mempedulikan kemajuannya sebagai sebuah kantong ekonomi. Bahkan rakyat yang sebelumnya mendiami daerah taklukan itu, kalau tidak dibantai, ya diboyong ke Ibukota untuk dijadikan budak. Hal inilah yang terjadi pada Roro Mendut dan orang-orang di sekitarnya, mereka tercerabut dari daerah asalnya, lantas tak bisa menentukan sendiri nasibnya masing-masing.

Pada kasus Roro Mendut, perjuangan untuk menentukan sendiri nasib atau jalan hidup merupakan satu hal yang menentukan bagaimana ia hidup sebagai perempuan boyongan.

Aspek sejarah novel “Roro Mendut”

Dalam buku “Puncak Kekuasan Mataram”, H.J. De Graaf menggambarkan perseteruan dengan Pati di tahun 1627 sebagai satu masalah yang paling merepotkan bagi Mataram pimpinan Sultan Agung. Dijelaskan dalam buku itu bahwa akar permasalahan Pati dengan Mataram adalah karena Adipati Pragola telah bertindak seolah-olah ia bukanlah raja bawahan dari Kerajaan Mataram. Ia bertindak seolah-olah ia raja yang setara dengan Sultan Agung sendiri.

Keberhasilan misi menumpas pemberontakan di Pati memberi Mataram kepercayaan diri dan mereka semakin bersiap untuk mengepung Kompeni di Batavia. Tapi sayangnya, dua ekspedisi Mataram melawan Kompeni di Batavia (1628-1629) gagal semua. Penyebabnya adalah karena Mataram sebagai kerajaan pedalaman sama sekali tidak memiliki minat untuk membangun kekuatan laut.

Dalam “Nusantara”, Vlekke mengungkapkan kekalahan Mataram saat mengepung Batavia lebih karena kesulitan mengirimkan suplai beras lewat jalan darat. Beratnya medan jalan, ditambah lagi jarak tempuh yang begitu jauh membuat semua itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Sementara lewat jalan laut yang menyisir pantai utara Jawa malah jauh lebih riskan lagi, tapi tak ada jalan lain selain ini.

Gubernur Jendral VOC di Batavia, Jan Pieterszoon Coen, dapat membaca kelemahan ini. Akibatnya, sekitar dua ratus kapal berisi beras yang dikirim untuk balatentara Mataram lewat jalur pesisir utara Jawa dengan mudah dihancurkan olehnya. Keadaan itu selanjutnya membuat balatentara Mataram yang berstrategi membendung Sungai Ciliwung, kelaparan. Pada akhirnya balatentara yang sedemikian besar itu pun mundur. Di sepanjang jalan yang dilalui pasukan yang pulang itu, keadaan begitu amat menyedihkan, mayat dimana-mana teronggok karena kelaparan, sejumlah bangkai hewan, kereta, senjata, dan segala perkakas berserakan di mana-mana.   

Apa yang terjadi pada Mataram itu seolah sesuai dengan apa yang diramalkan Wiranggaleng dalam novel “Arus Balik”.

“…Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke atas angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya – semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan, dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.”

Vlekke dalam “Nusantara” menutup satu bab berjudul “Indonesia di Zaman Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen” dengan sebuah kesimpulan yang kurang lebih senada dengan apa yang diramalkan tokoh rekaan Wiranggaleng.

“Jelas, penguasa-penguasa Indonesia itu tidak melihat kemenangan Belanda sebagai hasil dari pergulatan keras untuk penguasaan laut. Mereka hanya samar-samar menyadari keberadaan benua-benua besar dan negara-negara mahakuat di luar Asia Timur dan Selatan, dan karena itu, cenderung menafsirkan peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam bab ini dengan cara mereka yang khas. Babad besar raja-raja Mataram memecahkan persoalan ini dengan memuaskan penguasa-penguasa itu.”

Dua novel lanjutan “Roro Mendut” yang berjudul “Genduk Duku” dan “Lusi Lindri” mengisahkan lebih jauh masa-masa kemunduran Mataram sebagai sebuah kerajaan. Ketika Sultan Agung wafat dan digantikan putranya yang terkenal sebagai Amangkurat I, resistensi Mataram terhadap keberadaan Kompeni di tanah Jawa cenderung melemah. Bahkan Amangkurat I terkesan begitu amat dekat dengan Kompeni. Sejumlah kasus-kasus kekerasan pun terjadi pada masanya, seperti pembantaian kaum ulama yang sebelumnya telah setia mengabdi untuk Sultan Agung, mewabahnya penggunaan opium, hingga pembantaian karena kasus Rara Oyi. Pada akhirnya, segala kekecewaan pada penguasa Mataram itu mengangkat seorang keturunan Madura bernama Trunojoyo sebagai pemberontak. Amangkurat I lantas turun takhta dan wafat dalam pelariannya di Tegal. Raja-raja penerusnya, hanya bisa meneruskan legitimasi sebagai penguasa Mataram dengan campur tangan Kompeni.

 

Daftar Pustaka

Graaf, H.J de dan TH. Pigeaud (1985). Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Grafiti Pers.

Graaf, H.J de (1985). Awal Kebangkitan Mataram. Jakarta: Grafiti Pers.

Graaf, H.J de (1985). Puncak Kekuasaan Mataram. Jakarta: Grafiti Pres.

Vlekke, Bernard H.M. (2019). Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Mangunwijaya, Y.B. (1983). Roro Mendut. Jakarta: Gramedia.

Mangunwijaya, Y.B. (1987). Genduk Duku. Jakarta: Gramedia.

Mangunwijaya, Y.B. (1987). Lusi Lindri. Jakarta: Gramedia.

Toer, Pramoedya Ananta (1995). Arus Balik. Jakarta: Hasta Mitra.     

 

===========

 *Habibi Hidayat adalah penikmat sastra. Tinggal di Cirebon