Ulasan Buku

Apakah Cinta Pertama Melahirkan Salah Asuhan?

Oleh: Fair Naza

Judul: : Cinta Pertama
Penulis : Maxim Gorky
Penerjemah : Ladinata
Penerbit : Pataba Press
Cetakan : Pertama, Maret 2017
Tebal : xx + 104 hlm

Setidaknya ada satu hal elementer pada novel pendek Cinta Pertama (2017) karya Maxim Gorky yang memikat saya, yaitu kemampuan Gorky dalam merangkum ketegangan-ketegangan politik dan kultural dua negara besar (Rusia dan Prancis) dalam sebuah novel pendek yang romantis dan penuh melankolia. Dengan keterampilan menulisnya yang piawai, dua peradaban yang kompleks dan penuh sejarah panjang tersebut ia olah sedemikian rupa menjadi sebuah cerita yang utuh dan kuat justru dengan mengelaborasi tema (cinta) yang seolah-olah jauh dari anasir-anasir politik, pornfree.cc.

Kisah ini dimulai dari pertemuan seorang lelaki Rusia dengan seorang perempuan Prancis di suatu rumah milik kawan si perempuan Prancis. Bagi tokoh si laki-laki (Aku Cerita), kisah pertemuannya dengan perempuan Prancis itu merupakan peristiwa yang sangat mengesankan. Kecerdasan dan aura kecantikan perempuan itu menyeret jiwa si-Aku Cerita dalam gairah asmara, mengharu-biru dirinya saat ia sedang sendirian, dan kemudian membakar semangatnya untuk memulai petualangan cinta pertamanya. Namun seiring berjalannya waktu, gairah asmara si-Aku Cerita bukan hanya menerbitkan semangat untuk menjalani petualangan asmara yang mengesankan. Gairah itu, tanpa ia kehendaki, juga melahirkan nestapa dan duka-lara yang meremukkan jiwa. Seolah ingin mendorong si-Aku Cerita ke titik nadir hidupnya, gairah itu secara kontradiktif mendorong si-Aku cerita ke situasi nestapa ala Chairil Anwar di salah satu baris puisi Senja di Pelabuhan Kecil: “ini kali tidak ada yang mencari cinta”. Hubungan percintaannya kandas dengan cara yang menyakitkan, dia mesti berpisah dengan kekasihnya, dan gairah untuk memulai petualangan asmara sirnah entah ke mana.

Membaca Cinta Pertama, saya merasa novel pendek karya Gorky ini bisa menjadi salah satu sumber yang layak apabila kita hendak melihat dan menilai antropologi orang-orang Rusia dan Prancis. Watak-watak yang secara khas dimiliki oleh orang Rusia dan Prancis digambarkan dalam novel ini dengan cara yang unik meski hanya diwakili oleh dialog-dialog pendek tokoh-tokohnya. Saking berkarakternya semua dialog tersebut membuat kesan-kesan tipikal orang Rusia dan Prancis ini tergambar begitu nyata di kepala pembaca.
Simak salah satu perkataan yang diujarkan satu tokoh cerita bernama Olga Kaminskaya di bawah ini:

“…Orang Rusia yang sedang jatuh cinta biasanya agak banyak kata dan merasakan lara, dan tidaklah jarang malah menantang kefasihan ujaran. Hanya orang Prancis yang memiliki kemampuan mencintai dengan indah. Bagi mereka, cinta hampir seperti religi…”.

Kalimat di atas ini diucapkan oleh Olga ketika sedang bersitegang dengan kekasihnya (Aku-Cerita). Lewat potongan dialog ini Gorky menunjukan watak orang Rusia yang cenderung kurang “estetik” dalam bercinta dibandingkan orang Prancis hanya dalam satu kalimat Olga di atas. Pernyataan Olga tentang cara pandang orang Prancis terhadap cinta memang menjadi kebanggaan masyarakat Prancis.

Cara pandang orang Prancis terhadap cinta itu kemudian menjadi standar penilaian masyarakatnya atas masyarakat negara lain, Rusia misalnya. Pada saat yang sama, pernyataan penuh percaya diri Olga bahwa “bagi orang Prancis, cinta hampir seperti religi” dijadikan sebagai strategi literer bagi Gorky untuk mengantarkan interprestasi pembacanya (di Rusia atau di negara belahan dunia mana pun) bahwa Prancis memanglah pusat seni di Eropa.

Gorky tidak hanya menunjukkan perbedaan orang Rusia dan orang Prancis dalam soal asmara. Dengan piawai ia menunjukkan perbedaan sikap, cara berpikir, dan tindakan yang lahir dari latarbelakang sosial-budaya yang membentuk mereka. Olga adalah seorang Bohemian yang lahir dari keluarga kaya dan elitis namun tidak banyak peduli pada ketimpangan sosial. Dia lebih suka membaca karya-karya Heine, penyair yang menderita tapi tertawa. Sementara itu, Aku-Cerita adalah seorang Rusia yang sangat sinis terhadap kehidupan dan cenderung anti elitis. Dia lebih menyukai puisi-puisi liris dan seringkali menunjukan rasa gelisahnya terhadap ketimpangan sosial di Rusia, suatu kesukaan yang sangat mungkin terpantik karena dia lahir dan besar di lingkungan marjinal.

Dari novel Cinta Pertama inilah kita tidak saja menemukan kesan percintaan yang romantis-melankolis dari dua pasangan yang saling mencintai tetapi harus berpisah. Melalui personifikasi Olga (Prancis) vis a vis dengan Aku-Cerita (Rusia), Gorky berhasil menyuguhkan sentimen dan prasangka yang berlaku baik dari orang Rusia terhadap orang Prancis maupun sebaliknya. Detail-detail peristiwa berikut kesan-kesan atas peristiwa yang mengikat Aku-Cerita dan Olga tersebut mampu merangsang pembaca agar dapat merasakan bagaimana sentimen dan prasangka antar dua peradaban tersebut mewarnai seluruh cerita ini dari awal hingga akhir.

Di akhir cerita kita bisa melihat betapa kisah ini pada akhirnya bukan semata-mata persoalan individual. Lebih dari itu, kenyataan sejarah yang melibatkan pergulatan Prancis dan Rusia dalam bidang politik dan ekonomi selama berabad-abad juga menjadi determinan yang mencolok. Maka, seolah ingin melegitimasi pergulatan Prancis dan Rusia dalam bidang ekonomi dan politik tersebut, kedua pasangan itu akhirnya berpisah bukan saja karena alasan personal, namun karena latar belakang di antara mereka yang berbeda.

***

Ada temuan menarik berkenaan denngan novel ini. Apabila pembaca mau melakukan pembandingan antara novel Cinta Pertama (2017) dengan novel klasik Indonesia berjudul Salah Asuhan (1928) karangan Abdoel Moeis, ada beberapa kemiripan yang sangat mencolok dari keduanya. Yang pertama adalah kemiripan pembangunan watak tokoh-tokohnya, dan yang kedua adalah kemiripan dalam konsep plot ceritanya.

Pertama, deskripsi watak tokoh perempuan yang dalam novel Cinta Pertama diwakili oleh Olga dan dalam novel Salah Asuhan diwakili oleh Corrie—yang secara kebetulan keduanya adalah sama-sama perempuan keturunan Prancis. Keduanya memilki daya tarik dan kepribadian yang sangat mirip.

Sebagai perbandingan mari kita lihat kutipan-kutipan dari kedua novel yang menggambarkan watak dari kedua tokoh perempuan ini. Maxim Gorki memberi gambaran bahwa Olga merupakan orang yang rupawan, selalu bersemangat dan mudah sekali memikat lawan jenisnya:

“Dia, seorang perempuan riang, tajam pikirannya dan mudah bergaul, mengorbankan kegembiraan yang berisik di sekitar dirinya dan membangkitkan emosi yang kualitasnya tidak seberapa tinggi.

Bagi lelaki berbincang-bincang dengannya cukup hanya beberapa menit saja dan kedua kuping lelaki itu akan memerah, lantas warnanya pun berubah menjadi ungu. Kemudian kedua mata dari lelaki tersebut, yang dengan tanpa semangat jadi berair, memandangi Parisian saya dengan tatapan seperti tatapan dari seekor kambing yang melihat kebun kubis”.

Narasi yang dibangun Gorky di atas juga tidak jauh berbeda dengan abstraksi tokoh Corrie dalam novel Salah Asuhan.

Perhatikan cara Abdoel Moeis dalam membangun narasi tentang Corrie di bawah ini:

“Corrie yang berumur Sembilan belas tahun sudah berasa menjadi nona besar. Apalagi kecantikan parasnya sudah menyebabkan ia dikelilingi oleh sekalian laki-laki, tua dan muda, yang berkenalan dengan dia, dengan rupa-rupa pujian dan sanjungan.”

Kemiripan watak Olga dan Corrie sudah sangat kasat mata dalam deskripsi di atas. Kalau Olga bisa dengan mudah memikat laki-laki karena perangainya yang sangat menarik, hal itu dilakukan pula oleh Corrie. Corrie, misalnya, meneguhkan posisi dirinya dengan bukti bahwa di dalam sebuah kotak peninggalan ibunya begitu banyak tumpukan surat-surat cinta dari banyak lelaki yang meminta dirinya untuk mau diperisteri. Bahkan ada beberapa permintaan dengan ancaman yang ekstrim dan di atas normal apabila Corrie menolak permintaan itu: bunuh diri, melompat dari jembatan. Jelasnya, keduanya memilki kemampuan untuk memikat dengan daya tarik yang sama yang berasal dari perilaku dan pesona mereka sebagai perempuan.

Kedua, tokoh laki-laki yang menjadi pasangan dari dua tokoh perempuan di atas juga memiliki kemiripan dalam beberapa hal. Kita bisa membayangkan alur sederhana yang dijalani oleh kedua tokoh laki-laki tersebut melalui konsep plot seperti ini:

Seorang lelaki mencintai seorang perempuan dengan sangat dalam. Begitu pula sebaliknya dengan perasaan perempuan terhadap lelaki. Kendalanya adalah mereka dihadapkan pada kenyataan yang membuat mereka tak bisa menyatu. Akhirnya mereka harus berpisah dahulu untuk sementara waktu. Namun, hal itu tidaklah menjadi soal, lelaki ini punya gairah yang sangat kuat terhadap perempuannya. Maka, dipaksakanlah penyatuan itu setelah jeda perpisahan oleh lelaki dengan konsekuensi yang sebenarnya sudah dapat ditebak ujungnya (perceraian). Setelah penyatuan itu, muncullah banyak sekali hambatan. Lelaki ini menjadi sangat pencemburu dan rasa cemburu itu memilki tendensi yang sangat labil terhadap perempuannya. Sikap laki-laki tersebut membuat si perempuan menjadi sangat jenuh. Hubungan itu terus berlanjut juga, sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk berpisah karena satu hal yang sangat klasik: perbedaan dan jarak di antara keduanya yang sudah tidak dapat lagi dijembatani. Namun, meskipun perpisahan terjadi, lelaki ini tidak pernah kehilangan rasa cintanya terhadap “cinta pertama”nya itu. Mungkin sampai ia mati.

Kemiripan-kemiripan mencolok di antara kedua novel tersebut tentu saja meletupkan pertanyaan. Apakah kemiripan tersebut hanyalah kebetulan saja? Atau memang kedua novel ini sebenarnya memiliki hubungan secara historis?

Sebagai catatan, naskah novel Salah Asuhan terbitan Balai Pustaka (BP) sebenarnya bukan naskah asli yang ditulis oleh Abdoel Moeis. Di dalam naskah asli, Corrie sebenarnya merupakan tokoh pelacur dan kisah-kisah di dalamnya sangat berbeda dengan naskah yang terbitkan oleh BP. Begitu naskah asli dari Abdoel Moeis berada di tangan Balai Pustaka, perubahan terhadap naskah asli novel ini sangatlah radikal. Tidak kurang dari 90% isi novel digeranyangi dan dirombak habis-habisan oleh petugas BP sehingga menghasilkan naskah yang ceritanya seperti ada pada terbitan BP di atas. Abdoel Moeis memang sempat mendapat surat dari BP yang berisi permintaan untuk merubah novelnya. Namun Moeis tidak pernah membalas surat itu. Ketika novel tersebut diterbitkan dan sampai padanya, baru ia terkejut karena cerita di dalamnya telah berubah tanpa sepengetahuan dan persetujuannya (lih. Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia hal. 77).

Fakta-fakta sejarah di atas ini menyisakan satu hal yang perlu digali secara teliti. Pertanyaan yang bisa muncul misalnya, kalau memang novel tersebut dirombak secara radikal, lantas darimana dan (apa) kira-kira referensi tekstual petugas BP untuk membuat novel Salah Asuhan yang berlainan dengan naskah aslinya tersebut? Mungkinkah referensinya adalah Cinta Pertama? Kalau memang yang terjadi demikian adanya, maka bukankah petugas BP yang mengedit naskah ini sebenarnya hanya meniru saja ide novel Cinta Pertama Gorky karena tidak ada satupun pembaharuan konseptual yang dilakukannya?

Kita bisa lebih menguatkan kecurigaan ini dengan melihat jarak periode terbitnya dua karya ini. Salah Asuhan terbit tahun 1928, lima tahun setelah Cinta Pertama yang terbit tahun 1922. Tentu tidak menutup kemungkinan bahwa novel Rusia tersebut telah terbaca di Indonesia melalui BP yang memang badan milik Belanda yang notabene berasal dari Eropa itu. Kalau begini ceritanya, maka tentu kita harus mempertanyakan lagi kekeramatan dan kehebatan BP sebagai penerbit awal yang dianggap berjasa bagi sejarah sastra Indonesia modern. Bahkan konon, ada anggapan bahwa sastra Indonesia modern lahir karena adanya penerbit BP tersebut.

Nah!

Comment here