Opini

Bagaimana Seorang Pemula Membebaskan Dirinya?

Saya sadar bahwa saya bukanlah penulis karya Sastra yang “baik” dan “nyaman” dibaca apalagi dijadikan objek untuk sebuah penelitian karya Sastra seperti guru-guru saya maupun buku-buku babon karya Sastra yang sedang atau sudah saya baca. Terlambatnya perkenalan dengan Sastra Indonesia tentu saja merupakan masalah utama dalam proses tulis-menulis—meskipun tanpa saya sadari bahwa selama masa hidup saya ini, saya bersinggungan dengan Sastra (Sastra lisan) yang berkembang di tanah kelahiran saya, Pulau Kalimantan bagian Tengah. Akan tetapi, itu saja tidak cukup untuk saya menulis sebuah karya Sastra. Cerita pendek, misalnya. Untuk menulis sebuah cerita pendek, saya mesti membaca cerita pendek. Menurut saya, akan menjadi “salah” ketika saya menulis cerita pendek tapi membaca novel atau mengingat kembali karya Sastra (lisan) yang kerap diceritakan oleh Mama dan tetua kampung di tanah kelahiran saya.

Pasca mengikuti sebuah kelas menulis di Yogyakarta lima tahun lalu, saya mendapatkan benang merah untuk memahami dan menghayati apa yang sedang terjadi; ketimpangan kebijakan, kekacauan ekonomi-politik, kekerasan pembangunan, dan seterusnya sebelum mulai menulis. (Mungkin anda berbeda dengan saya) Saya merasa dengan melakukan metode tersebut, saya merasa terbantu, terutama dalam membuat narasi dan dialog dalam cerita pendek-cerita pendek saya. Namun, jujur saja, meskipun (telah) menggunakan metode tersebut kadang-kadang saya masih mengalami kesusahan. Untuk selamat dari belenggu kesusahan tersebut, saya melakukan pemetaan pikiran—kadang sembari memaki diri sendiri—tentang apa yang saya tulis.

Kesalahan saya berikutnya ialah menganggap remeh masalah membebaskan diri dari belenggu kesusahan tersebut. Ternyata untuk “membebaskan diri” tidaklah semudah yang saya bayangkan. Sebelumnya, saya membayangkan masalah “membebaskan diri” tersebut seperti mencuci tangan setelah makan. Tidak. Tidak seperti itu. Perlu waktu yang lama bagi saya untuk “membebaskan diri” dan mendapatkan intensitas tulis-menulis, hingga kemudian saya merombak metode menulis saya dengan menghilangkan ke-gegabahan dan ke-terburu-buru-an yang saya idap sejak awal. Ya, saya harus menggantinya dengan “kepala dingin” dan “pandangan kritis” tanpa mengindahkan sisi-sisi emosional dan ironitas gagasan atau ide yang akan saya tulis sebagai cerita pendek.

Katakanlah saya berhasil “membebaskan diri” dari belenggu kesusahan tulis-menulis karya Sastra, kemudian saya disuguhkan dengan sebuah pertanyaan: bagaimana kau mempertanggung-jawabkan karya-karyamu? Pertanyaan ini tentu saja menuntut saya untuk menjelaskan sisi politis penciptaan karya-karya saya. Untuk menjawab pertanyaan ini saya mencoba menyuguhkan ungkapan seorang penulis tersohor George Orwell dalam Bagaimana Si Miskin Mati: “Hal yang paling sulit adalah menulis dengan jujur dan apa adanya.” Dua kata kunci “jujur” dan “apa adanya” saya pikir merupakan jawaban pertanyaan tadi. Perkara apakah ada unsur kebohongan dan tipu-tipu di dalamnya, tentu ada konsekuensi yang akan diterima—bisa saja itu sebuah kutukan.[]

Comment here