Cerpen

Bencana Pertambangan New York

Oleh: Haruki Murakami

Seorang temanku punya satu kebiasaan berkunjung ke kebun binatang kapan pun saat terjadi badai topan. Ia sudah melakukannya selama sepuluh tahun. Pada saat kebanyakan orang menutup kerai-kerai rumahnya, atau berhamburan keluar untuk menimbun air mineral, atau mengecek apakah radio dan lampu senter bisa menyala, temanku malah membungkus dirinya dengan poncho surplus Perang Vietnam, memasukkan beberapa kaleng bir ke kantongnya, lantas berangkat. Ia hidup sekitar lima belas menit dari kebun binatang.

Sial baginya ketika kebun bintang itu tutup “dikarenakan cuaca buruk”, dan pintu gerbangnya terkunci. Ketika yang seperti ini terjadi, temanku duduk di patung batu tupai di samping pintu masuk, meminum birnya yang hangat, lantas pulang.

Tapi ketika ia berhasil sampai tepat waktu, ia membayar tiket masuk, menyalakan rokoknya yang lembab, lantas mensurvei hewan-hewan, satu demi satu. Kebanyakan hewan itu telah masuk ke kandangnya. Beberapa menatap kosong pada hujan. Beberapa yang lain tak mau diam, meloncat-loncat meningkahi angin yang bertiup kencang. Beberapa terlihat ketakutan dengan hawa udara yang mendadak turun; yang lainnya terlihat ganas.

Temanku lalu memutuskan untuk meminum kaleng bir pertamanya di depan kandang macan Bengal. (Macan Bengal selalu bertingkah ganas pada saat badai.) Setelah itu ia meminum bir keduanya di luar kandang gorilla. Biasanya gorilla sedikit pun tak terganggu oleh badai topan. Gorilla-gorilla itu malah menatap temanku dengan tenang sementara ia duduk layaknya duyung di atas lantai sembari menyesap birnya, dan kalian akan tahu gorilla-gorilla itu sebetulnya kasihan padanya.

“Rasanya seperti berada di dalam lift ketika lift itu rusak dan kau terperangkap di dalamnya dengan orang asing,” kata temanku.

Terlepas dari badai topan, temanku sebetulnya tak ada bedanya dari orang lain. Ia bekerja di sebuah perusahaan ekspor, mengatur investasi luar negeri. Perusahaannya bukan perusahaan yang bisa kau bandingkan lebih bagus, tapi beroperasi cukup baik. Ia hidup sendirian di sebuah apartemen sempit yang rapi dan punya pacar baru setiap enam bulan sekali. Alasannya ingin punya pacar setiap enam bulan (dan selalu tepat enam bulan) sekali tidak pernah bisa aku mengerti. Semua pacarnya terlihat mirip, masing-masing seolah kloningan sempurna satu sama lain. Aku tak bisa membeda-bedakan mereka.

Temanku punya mobil bekas yang bagus, koleksi karya Balzac, sebuah jas hitam, dasi hitam, dan sepatu hitam yang cocok sekali untuk dipakai di acara pemakaman. Setiap kali ada orang meninggal, aku menghubunginya dan memintanya untuk meminjamkan barang-barang itu, meskipun sepatunya lebih besar satu nomer untukku.

“Maaf sudah merepotkanmu lagi,” kataku terakhir kali aku menelpon. “Ada acara pemakaman lagi nih.”

“Tenang saja. Kamu pasti buru-buru,” balasnya. “Kenapa kamu tak datang kemari sekarang saja?”

Ketika aku sampai, jas dan dasi sudah diletakkan di meja, sudah tersetrika rapi, sepatunya juga mengkilap, dan kulkasnya penuh akan bir impor. Orang seperti inilah temanku.

“Tempo hari aku lihat seekor kucing di kebun binatang,” katanya seraya membuka satu kaleng bir.

“Kucing?”

“Iya, dua minggu yang lalu. Aku pergi ke Hokkaido untuk keperluan bisnis dan mampir ke kebun binatang dekat hotel. Ada seekor kucing sedang tidur di sebuah kandang dengan penanda yang bilang itu ‘Kucing’”

“Kucing apa?”

“Cuma kucing biasa. Dengan garis-garis cokelat, ekornya pendek. Dia juga sangat gemuk. Tiba-tiba saja ia tercelepuk dan berbaring di sana.”

“Mungkin kucing sangat jarang di Hokkaido.”

“Ah, bercanda kamu?” katanya, tercengang. “Pasti ada lah kucing di Hokkaido. Mereka tak mungkin seaneh itu.”

“Coba kamu lihat dari sisi lain: kenapa seharusnya tak ada kucing di kebun binatang?” kataku. “Kucing kan hewan juga?”

“Kucing dan anjing adalah jenis hewan yang ada di sekitarmu. Tak ada seorang pun yang mau bayar hanya untuk melihat mereka,” katanya. “Coba lihat sekitarmu – mereka ada di mana-mana. Sama seperti manusia.”

Saat kami selesai dengan sekardus bir, aku masukkan jas, dasi, dan sepatu itu ke sebuah kantong kertas yang besar.

“Maaf sudah berkali-kali merepotkanmu,” kataku. “Aku tahu aku seharusnya membeli jas sendiri, tapi rupanya aku tak pernah punya niat untuk itu. Aku merasa jika aku membeli setelan untuk pemakaman aku seperti mengatakan ‘tidak apa-apa’ jika seseorang meninggal.”

“Tak masalah,” katanya. “Aku tak menggunakannya juga. Lebih baik ada orang yang memakainya ketimbang hanya menggantung di lemari, ya kan?”

Memang ada benarnya bahwa selama tiga tahun sejak ia membeli jas itu, ia benar-benar tak pernah menggunakannya.

“Sebetulnya ini aneh, tapi sejak awal aku membeli jas itu, tak seorang pun yang aku kenal meninggal,” jelasnya.

“Memang begitulah hidup.”

“Ya, memang begitulah hidup,” balasnya.

*

Bagiku malah sebaiknya, tahun itu adalah Tahun Pemakaman. Teman dan bekas teman meninggal satu demi satu, mirip tongkol jagung yang memucat di musim kering. Umurku dua delapan saat itu. Teman-temanku rata-rata berumur sama – dua tujuh, dua delapan, dua sembilan. Bukan umur yang tepat untuk meninggal.

Seorang penyair mungkin meninggal umur dua satu, seorang revolusionis atau bintang rock mungkin meninggal umur dua empat. Tapi setelah semua itu kau berasumsi semuanya akan baik-baik saja. Kau telah berhasil melewati Tikungan Maut dan kau keluar dari Lorong, melaju lurus menuju tujuanmu di antara enam jalur jalan tol – tak peduli kau menginginkannya ataukah tidak. Kau mencukur rambutmu; setiap pagi kau mencukur kumis dan jenggotmu. Kau bukan lagi seorang penyair, atau seorang revolusionis, atau pun seorang bintang rock. Kau tidak pingsan karena mabuk di dalam bilik telepon atau menyetel lagu the Doors kencang-kencang pada jam empat pagi. Ketimbang itu semua, kau malah membeli asuransi hidup dari perusahaan temanmu, minum-minum di bar hotel, lantas mengumpulkan tagihan-tagihan gigi semata-mata untuk pengurangan pajak. Di umur dua delapan, semua itu biasa.

Tapi mulai saat itulah pembantaian tak terduga itu terjadi. Rasanya seperti serangan kejutan di suatu hari yang malas di musim semi – seolah-olah ada orang, di atas bukit metafisis tengah memegang senapan metafisis, lantas menghaburkan peluru-pelurunya pada kami. Satu menit kami sedang berganti pakaian, di menit berikutnya pakaian itu tidak pas lagi: lengan bagian dalamnya malah di luar, dan kami memasukkan satu kaki ke satu celana, dan kaki lainnya ke celana yang lain. Kekacauan yang sempurna.

Tapi memang seperti itulah kematian. Kelinci adalah seekor kelinci tak peduli ia muncul dari sebuah topi atau lading gandum. Oven panas ya oven panas, dan asap hitam dari cerobong asap ya tentu saja – tetap asap hitam dari cerobong asap.

Orang pertama yang berada di antara keadaan nyata dan tak nyata (atau yang tak nyata dan nyata) adalah seorang teman dari kampusku yang mengajar bahasa Inggris di sebuah SMP. Ia sudah menikah selama tiga tahun, dan istrinya pulang ke rumah orangtuanya di Shikoku untuk melahirkan.

Pada suatu hari Minggu yang hangat dan tak biasa di bulan Januari, ia pergi ke sebuah department store dan membeli dua kaleng krim cukur dan pisau besar buatan Jerman yang cukup besar untuk mengiris putus telinga seekor gajah. Ia pulang ke rumah dan bersiap untuk mandi. Ia mengambil beberapa bongkah es dari kulkas, menggenanginya dengan sebotol Scotch, naik ke bak mandi, dan mengiris pergelangan tangannya. Ibunya menemukan mayatnya dua hari kemudian. Polisi lalu datang dan mengambil banyak sekali foto. Darah telah mewarnai bak mandi itu dengan warna jus tomat. Polisi mengatakan kasus itu sebagai kasus bunuh diri. Kenyataannya memang, pintu-pintu rumah itu telah terkunci, dan tentu saja, mendiang temanku itu membeli sendiri pisau itu. Tapi alasan kenapa ia membeli dua kaleng krim cukur yang tak ia rencanakan untuk digunakan? Tak seorang pun yang tahu.

Mungkin belum terlintas di benak temanku saat ia masih di department store bahwa beberapa jam kemudian ia akan mati. Atau mungkin ia khawatir petugas kasir mengira ia hendak bunuh diri.

Ia tidak meninggalkan wasiat atau pun catatan perpisahan. Di meja dapur hanya ada gelas, botol whiski yang kosong, mangkok es, dan dua kaleng krim cukur. Sementara ia menunggu bak mandinya penuh, ia menenggak gelas demi gelas wiski Haig dengan batu-batu es itu, ia mesti menatapi dua kaleng krim cukur itu dan memikirkan kalimat di kaleng itu yang berbunyi ‘aku tak bakal perlu untuk cukur lagi’.

Kematian seseorang di umur dua puluh delapan sama menyedihkannya dengan hujan di musim dingin.

*

Selama dua belas bulan berikutnya, empat orang lagi meninggal.

Pertama, meninggal di bulan Maret karena kecelakaan di ladang minyak di Saudi Arabia atau Kuwait, dan dua lainnya meninggal di bulan Juni – serangan jantung dan kecelakaan lalu-lintas. Dari Juli hingga November damai bersemayam, tapi di bulan Desember seorang teman meninggal lagi, juga karena kecelakaan lalu-lintas.

Tidak seperti temanku yang pertama meninggal karena bunuh diri, teman-temanku yang ini tak sempat berpikir kalau mereka sebentar lagi mati. Kematian bagi mereka seperti menaiki tangga yang sudah mereka naiki jutaan kali sebelumnya dan mendadak mendapati satu anak tangga yang hilang.

“Bisakah kau siapkan tempat tidur untukku?” pinta temanku yang meninggal karena serangan jantung pada istrinya. Ia seorang desainer perabotan. Saat itu jam sebelas menjelang siang. Ia sudah bangun sejak jam sembilan pagi, bekerja sebentar di ruang kerjanya, lantas mengatakan kalau ia mengantuk. Ia pergi ke dapur, membuat kopi, dan meminumnya. Tapi kopi itu tidak menolongnya. “Aku ingin tidur sebentar dulu,” katanya. “Aku dengar suara mendenging di belakang kepalaku.” Itulah kata-kata terakhirnya. Ia meringkuk di tempat tidur, lantas terlelap, dan tak pernah bangun lagi.

Temanku yang meninggal di bulan Desember adalah yang termuda, dan satu-satunya wanita. Saat itu ia berumur dua puluh empat tahun, layaknya seorang revolusionis atau bintang rock. Di suatu malam yang dingin dan hujan sebelum Natal, ia terkapar di tempat yang tragis sekaligus biasa di antara truk pengirim bir dan tiang telepon.

*

Beberapa hari setelah pemakaman terakhir, aku pergi ke apartemen temanku untuk mengembalikan jasnya yang aku ambil dari tempat laundry, sekaligus memberinya sebotol wiski sebagai ungkapan terima kasih untuknya.

“Terimakasih sekali. Aku benar-benar tertolong karenamu,” kataku.

Seperti biasa, kulkasnya penuh akan bir dingin, dan sofa miliknya yang empuk itu memantulkan cahaya pucat dari sinar matahari. Di meja kopi, ada asbak bersih dan bunga natal Poinsettia.

Ia mengambil jas yang terbungkus plastik itu dariku, gerakannya begitu menyenangkan – layaknya gerakan beruang yang baru keluar dari hibernasi – dan dengan kalem menaruhnya jauh-jauh.

“Aku harap jasnya tidak bau seperti pemakaman,” kataku.

“Pakaian itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang ada di dalamnya.”

“Um,” gumamku.

“Pemakaman lagi, pemakaman lagi ya untukmu tahun ini,” katanya seraya terduduk di sofa dan menuangkan bir ke dalam gelas. “Berapa pemakaman semuanya?”

“Lima,” jawabku, meregangkan kelima jari dari tangan kiriku. “Tapi aku pikir itu sudah semuanya.”

“Apa kau yakin?”

“Sudah cukup orang yang mati.”

“Seperti kutukan dari Piramida saja,” katanya. “Aku pernah baca tentang itu. Kutukan akan berlangsung sampai ada cukup orang yang mati. Atau kalau tidak, bintang merah akan muncul di langit dan bayangan bulan menutupi matahari.”

Setelah kami menghabiskan sekardus bir, kami teruskan dengan meminum wiski. Cahaya matahari musim dingin menyelinap lembut ke dalam ruangan.

“Kau terlihat murung akhir-akhir ini,” katanya.

“Memangnya iya, ya?” kataku.

“Kamu pasti terlalu banyak memikirkan banyak hal di tengah malam,” katanya. “Aku sudah berhenti memikirkan banyak hal di malam hari.”

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Ketika aku depresi, aku mulai bersih-bersih. Tak peduli jam dua atau tiga dini hari. Aku cuci piring, mengelap kompor, mengelap lantai, mencuci serbet, dan menata rak piringku, menyetrika baju yang ada,” katanya seraya mengaduk minumannya dengan jari. “Aku melakukan itu semua sampai aku lelah, lalu aku minum dan tidur. Di pagi hari, aku bangun dan saat tengah memakai kaos kakiku aku sedikit pun tak ingat apa yang aku pikirkan malam itu.”

Aku melihat ke sekeliling. Seperti biasa, ruangannya selalu bersih dan tertata rapi.

“Orang berpikir macam-macam di jam tiga pagi. Kita semua begitu. Karena itulah kita mesti mencari cara bagaimana cara mengatasinya.”

“Bisa jadi kau benar,” kataku.

“Bahkan hewan pun berpikir macam-macam di jam tiga pagi,” katanya, seolah mengingat sesuatu. “Pernahkah kau mengunjungi kebun binatang pada jam tiga pagi?”

“Belum pernah,” jawabku ragu. “Tentu saja belum.”

“Aku pernah melakukannya sekali. Seorang temanku bekerja di sebuah kebun binatang, dan aku memintanya agar aku bisa masuk saat shift malam. Kamu jangan sekali-kali melakukannya, sungguh,” ia menggoyang-goyang gelasnya. “Benar-benar pengalaman yang aneh. Aku tak bisa menjelaskannya, tapi aku merasa seolah-olah bumi diam-diam membelah terbuka dan sesuatu merangkak naik dari dalamnya. Dan ada sesuatu yang tak terlihat sedang mengamuk dalam kegelapan. Seolah malam yang dingin itu telah membeku. Aku tak bisa melihatnya, tapi aku merasakannya, dan hewan-hewan pun merasakannya juga. Ini membuatku berpikir tentang kenyataan kalau bumi yang kita pijak bergerak menuju inti bumi, dan tiba-tiba aku sadar inti bumi itu telah menyerap waktu yang luar biasa besar.”

Aku tak berkata apa-apa.

“Ya begitu, aku tak pernah mau lagi – pergi ke kebun binatang di tengah malah begitu.”

“Kau lebih memilih badai topan?”

“Yah,” katanya. “Beri aku topan kapan saja.”

*

Telepon lalu berdering dan ia beranjak menuju kamarnya untuk mengangkat telepon. Ternyata itu kloningan pacarnya, dengan kloningan panggilan telepon yang tak berkesudahan. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku ingin pamit pulang, tapi ia bicara di telepon lama sekali. Aku menyerah untuk terus menunggu, lantas aku nyalakan televisi. Televisi miliknya berwarna dan berukuran dua puluh tujuh inci, dilengkapi dengan remote control yang tak perlu susah-susah dipencet untuk mengganti saluran. Televisi miliknya juga memiliki tujuh speaker dan suaranya bagus. Aku tak pernah lihat televisi sebagus itu.

Aku membuat dua putaran mengganti semua saluran sebelum menetapkan pada sebuah program berita. Perang di garis perbatasan, kebakaran, nilai kurs yang naik turun, pembatasan mobil impor, pertemuan renang outdoor di musim dingin, kasus bunuh diri satu keluarga. Semua potongan-potongan berita ini tampak terhubung satu sama lain, seperti orang-orang dalam sebuah foto kelulusan dari suatu sekolah.

“Ada berita yang menarik?” tanya temanku seraya ia kembali ke ruangan.

“Tak terlalu,” jawabku.

“Apa kau sering lihat TV?”

Aku gelengkah kepala. “Aku tak punya TV.”

“Setidaknya ada satu hal yang bagus tentang TV,” katanya setelah agak lama. “Kau bisa mematikannya kapan pun kau mau. Dan tak seorang pun yang protes.”

Ia menekan tombol Off pada remote. Seketika layar televisi itu mati. Ruangan begitu tenang. Di luar jendela, lampu-lampu dari bangunan yang lain mulai menyala.

Kami duduk selama lima menit, meminum wiski, tanpa bicara tentang apa pun. Telepon berdering lagi, tapi ia pura-pura tidak mendengarnya. Saat telepon berhenti berdering, ia tekan lagi tombol On. Gambar di televisi pun kembali seketika, dan seorang komentator berdiri di depan sebuah grafik, mengarahkan dengan penunjuk untuk menjelaskan perubahan pada harga minyak.

“Kau lihat kan? Dia bahkan tidak sadar kalau kita mematikannya selama lima menit.”

“Betul sekali,” kataku.

“Kenapa begitu, ya?”

Bagiku memikirkan hal itu sangatlah merepotkan, jadi aku cuma menggelengkan kepala.

“Ketika kau mematikannya, satu sisi berhenti ada. Itu dia atau kita. Kau hanya tekan tombolnya dan terjadilah komunikasi yang terputus. Gampang, kan.”

“Ya, itu salah satu cara pandang untuk melihat hal itu,” kataku.

“Ada jutaan cara pandang sebetulnya. Di India, mereka menanam pohon kelapa. Di Argentina, mereka melemparkan tahanan politik dari helicopter.” Ia matikan televisinya sekali lagi. “Aku tak mau bicara tentang orang lain,” katanya. “tapi coba pikirkan kenyataan bahwa ada cara-cara untuk mati yang tidak berakhir di pemakaman. Tipe-tipe kematian yang tidak bisa kamu baui.”

Aku mengangguk diam-diam. Aku merasa aku tahu apa yang dimaksudnya. Di waktu yang bersamaan, aku juga merasa aku tak mengerti apa yang dimaksudnya. Aku lelah dan sedikit bingung. Aku duduk di sana, memainkan bunga poinsettia dengan jariku.

“Aku punya champagne,” katanya bersemangat. “Aku membelinya dari Perancis sewaktu aku ada dinas ke sana belum lama ini. Aku tidak terlalu tahu tentang champagne, tapi aku tebak pasti ini enak sekali. Apa kau mau? Champagne mungkin minuman yang tepat setelah serangkaian pemakaman.”

Ia lalu mengeluarkan champagne dingin itu dan dua gelas bersih, lantas menaruhnya dengan tenang di meja, dan ia tersenyum malu-malu. “Champagne benar-benar tak berguna,” katanya. “Yang menarik darinya hanya saat kamu membuka tutupnya.”

“Aku tak bisa berdebat soal itu denganmu,” kataku.

Kami membuka tutupnya, dan bicara sebentar tentang kebun binatang di Paris dan hewan-hewan yang hidup di sana. Champagne-nya benar-benar enak.

*

Di penghujung tahun itu ada sebuah pesta malam tahun baru di sebuah bar di Roponggi yang sudah disewa untuk acara itu. Sebuah grup trio piano tengah pentas, dan banyak makanan dan minuman enak. Ketika aku bertemu seseorang yang aku kenal, aku bicara sebentar. Pekerjaanku menuntutku untuk hadir setiap tahun. Pesta bukanlah hal yang sebenarnya aku suka, tapi yang satu ini cukup mudah bagiku. Aku tak punya hal lain yang bisa aku lakukan di malam tahun baru dan aku cuma bisa berdiri di pojokan sendirian, menikmati minuman, dan menikmati musik. Tak ada orang yang menyebalkan, tak perlu juga diperkenalkan pada orang asing dan mendengarkan bacotan mereka selama satu jam tentang bagaimana diet vegetarian bisa menyembuhkan kanker.

Tapi pada malam itu, seseorang mengenalkanku pada seorang wanita. Setelah basa-basi sebentar, aku ingin kembali ke pojokan lagi. Tapi wanita itu malah mengikutiku hingga ke tempat dudukku sembari memegang gelas wiski di tangannya.

“Aku yang meminta diperkenalkan padamu,” katanya sopan.

Ia sepertinya bukan tipe wanita yang suka cari perhatian, meski ia sebetulnya menarik. Ia mengenakan gaun sutra hijau yang mahal. Aku tebak umurnya tiga puluh dua. Ia bisa saja membuat dirinya tampak lebih muda, tapi tampaknya dia tak mempermasalahkan hal itu. Tiga cincin menghiasi jari-jarinya, dan senyum tipis bermain-main di bibirnya.

“Kau terlihat begitu mirip dengan seseorang yang aku kenal,” katanya. “Bentuk wajahmu, punggungmu, dan caramu bicara, dan seluruh ekspresimu – benar-benar kemiripan yang luar biasa. Aku sudah melihatmu sejak kamu masuk.”

“Jika dia begitu mirip denganku, aku ingin bertemu dengannya,” kataku. Tak terpikir hal lain yang bisa aku katakan.

“Kamu mau?”

“Aku ingin tahu rasanya bertemu dengan seseorang yang benar-benar mirip denganku.”

Senyumnya semakin lebar dalam sesaat, lalu melembut. “Tapi itu tak mungkin,” katanya. “Ia meninggal lima tahun lalu. Saat ia berumur sama sepertimu sekarang.”

“Apa benar begitu?” kataku.

“Aku membunuhnya.”

Grup trio itu baru saja menyelesaikan lagu keduanya, dan terdengar tepukan tangan yang setengah hati.

“Apa kau suka musik?” tanyanya.

“Aku suka jika itu musik yang baik di dunia yang baik,” kataku.

“Di dunia yang baik tak ada musik yang baik,” katanya, seolah mengungkapkan rahasia yang dalam. “Di dunia yang baik udara tidak bergetar.”

“Aku mengerti,” katanya, tak tahu bagaimana harus merespon.

“Apa kau pernah lihat film di mana Warren Beatty memainkan piano di sebuah klub malam?”

“Belum, aku belum pernah.”

“Elizabeth Taylor adalah salah satu pelanggan di klub malam itu, dan dia tampak begitu malang dan menyedihkan.”

“Hmm.”

“Jadi Warren Beatty bertanya pada Elizabeth Taylor apakah ia mau request lagu.”

“Apa dia mau?”

“Aku lupa. Filmnya sudah lama sekali.” Cincinnya berkilauan saat ia meminum wiskinya. “Aku benci request. Cuma bikin aku tak senang saja. Rasanya seperti ketika aku pinjam buku dari perpustakaan. Sesaat setelah aku mulai membacanya, yang aku bisa aku pikirkan adalah kapan aku akan mengakhirinya.”

Ia menaruh sebatang rokok di antara bibirnya. Aku nyalakan korek dan menyodorkan api padanya.

“Ngomong-ngomong,” katanya. “Kita tadi bicara tentang seseorang yang mirip denganmu.”

“Bagaimana kau membunuhnya?”

“Aku mendorongnya ke sarang lebah.”

“Kau bercanda kan?”

“Ya,” jawabnya.

Daripada menghela napas, aku memilih menyesap wiskiku. Esnya sudah cair dan sudah tak berasa wiski lagi.

“Tentu saja secara legal aku bukan seorang pembunuh,” katanya. “Secara moral pun bukan.”

“Secara legal dan moral bukan seorang pembunuh,” aku tak ingin, tapi mengulangi poin yang sudah dibuatnya. “Tapi kau sebetulnya membunuh seseorang.”

“Benar,” katanya mengangguk dengan senang. “Seseorang yang mirip sekali denganmu.”

Di seberang ruangan, seorang lelaki tertawa terbahak-bahak. Dan orang di sekitarnya pun tertawa. Gelas berdentingan. Terdengar begitu amat jauh tapi begitu amat jelas. Aku tak tahu kenapa, tapi jantungku berdebar-debar, seolah membesar atau melonjak naik dan turun. Aku merasa seolah berjalan di pijakan yang mengapung di atas air.

Kami diam cukup lama. Dia menghabiskan waktunya menikmati kediaman ini.

“Apa kau pernah berpikir tentang kebebasan?” tanyanya.

“Kadang-kadang,” kataku. “Kenapa tanya itu?”

“Kau bisa menggambar bunga aster?”

“Aku pikir aku bisa. Apa ini test kepribadian?”

“Sepertinya,” ia tertawa.

“Jadi, apa aku lulus?”

“Ya,” jawabnya. “Kau akan baik-baik saja. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Intuisi berkata padaku kau akan hidup baik begitu lama.”

“Terimakasih,” kataku.

Grup musik itu lalu mulai memainkan ‘Auld Lang Syne’.

“Jam sebelas lebih empat puluh lima,” katanya, seraya melirik jam emas di kalungnya. “Aku suka sekali ‘Auld Lang Syne’. Apa kamu juga suka?”

“Aku lebih suka ‘Home on the Range, All those deer, dan antelope.”

Ia tersenyum. “Kamu pasti suka hewan ya?”

“Ya, aku suka,” jawabku. Dan langsung berpikir tentang temanku yang suka kebun binatang, dan jas pemakamannya.

“Aku suka bicara denganmu. Selamat tinggal.”

“Selamat tinggal,” balasku.

*

Mereka mematikan lampu untuk menghemat udara, dan kegelapan mengurung mereka. Tak seorang pun bicara. Yang bisa mereka dengar di kegelapan adalah suara air yang menetes dari langit-langit setiap lima detik sekali.

“Oke, semuanya, usahakan untuk tidak bernafas terlalu banyak. Kita tak punya banyak udara sekarang,” kata seorang penambang tua. Ia menahan suara dalam bisikan, tapi meski begitu balok-balok kayu di langit-langit lorong berkeriyut pelan. Dalam gelap, para penambang itu membungkuk bersama, berusaha keras mendengar satu suara. Suara kampak. Suara kehidupan.

Mereka menunggu selama berjam-jam. Kenyataan seolah meleleh dalam kegelapan. Semua hal mulai terasa seolah terjadi begitu amat lama, di dunia yang begitu jauh. Atau apakah semua terjadi di masa depan, di dunia yang jauh berbeda?

Di luar, orang-orang menggali lubang, berusaha mencari mereka. Semua terlihat seperti film.

 

==========

*Diterjemahkan dari versi bahasa Inggris berjudul “New York Mining Disaster” oleh Jay Rubin

**Penerjemah Ke Bahasa Indonesia: Habibi Hidayat

Comment here