GagasanSosial

Industri Integral: Arah Co-produksi Ruang Sejak Covid-19

Industri Integral Arah co-produksi ruang sejak Coivd-19

Oleh Bosman Batubara

Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan: model industrialisasi seperti apakah yang dapat disodorkan untuk memancing percakapan dalam usaha merumuskan industri, kota, dan kehidupan sejak masa pandemi Covid-19 ke depan? Saya melihat industrialisasi sebagai proses produksi ruang. Dalam proses produksi ruang di bawah kapitalisme, keputusan tentang ruang seperti apa yang akan diproduksi sepenuhnya didikte oleh kepentingan kapitalis. Istilah “co-produksi” mengacu pada proses bagaimana ruang diproduksi bukan dengan mengabdi pada kepentingan kapitalis, tapi pada kepentingan semua. Bagian pertama tulisan ini berusaha “merekontekstualisasikan” pertanyaan tersebut. Benar bahwa buruh dieksploitasi dan non-buruh diapropriasi dalam model industri kapitalis, atau model yang eksis dan dominan sekarang. Momen Covid-19 membuka ruang untuk rekontekstualisasi persoalan-persoalan industri menjadi lebih vital. Bagian kedua menjawab pertanyaan itu dengan menampilkan satu model hipotetis bernama “industri integral”.

Sebagai penulis, saya mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepada ASM yang melalui sebuah obrolan beberapa tahun lalu, dengan dia sadari atau tidak, telah membantu pertanyaan tersebut mengambil bentuk dalam kepala saya. Selanjutnya, beberapa orang kawan di Koalisi Rakyat Bantu Rakyat (KOBAR) di mana saya bergulat di Zaman Covid-19, serta detil-detil perubahan ritme kehidupan yang terekam dalam platform on-line KOBAR, dan juga beberapa webinar yang saya ikuti belakangan ini, sangat membantu saya secara pelan-pelan mengasah ketajaman pemikiran ini. Secara on-line, substansi tulisan ini pertama kali dipercakapkan dalam acara “Diskusi Hari Bumi dengan tajuk ‘Bumi, Perubahan Iklim dan Krisis Ruang Hidup di Tengah Pandemi’” yang diorganisir oleh Simpul Advokasi Rakyat, Kalimantan Timur. Jujur, saya merasa gamang menulis tema ini. Ini bukan sebuah tema yang saya benar-benar geluti. Menganyam tulisan ini juga sekaligus proses belajar bagi saya. Karena itu, saya melihat model hipotetis ini lebih pada sebagai upaya menghidupkan/memulai/memancing percakapan, bukanlah sebuah proposal final.

Pandemi Covid-19 menyingkap secara tanpa ampun kelemahan kota yang dibangun dengan dikendalikan oleh hukum-hukum yang bekerja secara dialektis di bawah kapitalisme,  yaitu: konsentrasi dan ekstensi spasial. Hukum konsentrasi dan ekstensi spasial adalah sepasang hukum besi dalam pembangunan ruang di bawah kapitalisme. Georagfer kadang-kadang memakai metafora yang dipinjam dari fisika nuklir, implosion/explosion (ledakan ke dalam/ledakan ke luar), untuk menjelaskan konsentrasi dan ekstensi spasial.

Baca Juga: Revolusi Covid-19

Saya melihat Jakarta adalah sebuah contoh yang sangat sahih dari bagaimana hukum-hukum ini bekerja. Logikanya berasal dari logika pabrik. Bahwa untuk menghemat biaya produksi, sebuah pabrik yang terdiri dari berbagai peralatan dan buruh dikonsentrasikan dalam suatu ruang geografi tertentu. Di sisi lain, secara dialektis bekerja pula apa yang saya sebut sebagai ekstensi spasial. Ekstensi spasial muncul dalam bentuk skema fleksibilitas yang memungkinkan pabrik melakukan produksi secara terpisah. Misalnya komponen A dari suatu produk diproduksi di negara X, komponen B di negara Y, dan A dan B dirakit di negara Z menjadi totalitas sebuah komoditas. Sebuah contoh paling mutakhir yang menduduki kepala saya adalah produksi masker untuk kebutuhan mencegah terjadinya pembiakan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. Sebuah pabrik di Jakarta memesan masker dari penjahit di satu desa di Urutsewu, Kebumen, bagian selatan Provinsi Jawa Tengah. Di sini, pabrik masker yang berbasis di Jakarta melakukan ekstensi spasial, ruang produksi ditarik hingga molor sampai ke Urutsewu.

Hukum-hukum konsentrasi dan ekstensi spasial, meski terlihat kontradiktif, pada dasarnya bekerja saling melengkapi atau dialektis. Susah untuk berbicara mengenai konsentrasi spasial tanpa pula berbicara mengenai ekstensi spasial. Dan sebaliknya. Pada dasarnya tujuannya tunggal: menekan ongkos produksi atau meningkatkan keuntungan bagi kapitalis.

Kota Jakarta secara masif berkembang menjadi aglomerasi perkotaan terutama sejak Orde Baru. Kawasan Tangerang dan Bekasi, terutama, adalah kawasan-kawasan di mana terdapat pabrik-pabrik, kota-kota yang merancang sistem sendiri yang muncul dalam bentuk-bentuk perumahan mewah, dan juga berbagai kompleks perkantoran. Semuanya itu adalah model kota yang dikendalikan oleh hukum besi konsentrasi spasial, di mana berbagai bangunan/infrastruktur dipusatkan.

Logika konsentrasi spasial dapat digunakan untuk memahami konstruksi aglomerasi perkotaan semacam itu, di mana uang-kapital, orang, dan alat produksi dikumpulkan. Perencana kota yang kritis menyebut model seperti ini sebagai pembangunan yang didikte oleh sektor swasta. Atau lebih tepat sebenarnya adalah pembangunan yang didikte oleh kepentingan kapitalis. Tujannya, tentu saja, untuk melancarkan proses dan menurunkan ongkos produksi kapitalis. Titik akhir dari model seperti itu adalah keuntungan bagi kapitalis.

Susunan ruang Jabodetabek di mana di dalamnya ada pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, adalah salah satu alasan mengapa kawasan Jabodetabek berkembang menjadi aglomerasi perkotaan dengan total populasi mencapai hampir 30 juta orang. Infrastruktur ini penting, terutama kalau komoditas yang diproduksi adalah komoditas yang tidak dikonsumsi di sekitar Jabodetabek tapi di Pulau lain seperti Sumatra dan Kalimantan, atau juga untuk eksport.

Di sisi lain ekstensi spasial juga bekerja secara simultan. Momen Covid-19 membantu kita untuk memahami cara kerja ekstensi spasial karena ia menyingkapnya lebih  jelas, terutama dalam konteks aglomerasi perkotaan bernama Jabodetabek. Ketangguhan Jabodetabek seperti dites oleh Covid-19. Begitu Covid-19 mulai mewabah di Jabodetabek maka pabrik-pabrik yang ada di sana mau tak mau harus menghentikan proses produksinya. Di media, pada 19 April 2020, Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziyah, terlihat menyebutkan bahwa sebanyak 449.545 buruh di-PHK dan dirumahkan di Provinsi DKI Jakarta. Di-PHK artinya dipecat dari pekerjaan. Dirumahkan adalah istilah yang sering dipakai di dunia perburuhan untuk menyatakan  bagaimana seorang buruh diberhentikan bekerja dengan statusnya masih sebagai buruh pada perusahaan terkait. Di atas kertas hak-haknya sebagai buruh harus tetap dipenuhi, tapi tampaknya kenyataan yang terjadi lebih sering bukan begitu.

Bagian dari ujian ini adalah munculnya aliran masif orang keluar dari Jakarta, atau secara lebih umum, Jabodetabek. Rilis KOBAR Jawa Tengah periode 11-13 April 2020 menyebutkan bahwa sejak 26 Maret hingga dengan 14 April 2020, desa-desa di Jawa Tengah mencatat jumlah kedatangan sebanyak lebih dari 600 ribu orang. Rilis tersebut mencoba mengidentifikasi siapa orang-orang ini, dan sampai pada satu titik bahwa mayoritas pendatang ini adalah para pengungsi dari Jabodetabek yang mengevakuasi diri baik dari wabah Covid-19 maupun dari permasalahan ekonomi yang mereka tanggungkan.

Mereka diidentifikasi mayoritas berasal dari dua sektor. Pertama, sektor yang selama ini disebut dalam diskursus publik sebagai “sektor informal,” atau sebenarnya secara lebih lugas, sektor-sektor yang bidang usahanya tidak memiliki izin dan tidak membayar pajak pada pemerintah. Karena itu bahasa kekuasaan menyebutnya sebagai “informal,” di mana tujuan yang secara inheren menggelayut di dalamnya adalah proses menuju “formal,” atau proses mendisiplinkan agar mengurus izin dan kemudian membayar pajak.

Kedua, mereka yang bekerja sebagai buruh pabrik dan terkena dampak di-PHK dan/atau dirumahkan karena perusahaannya tidak beroperasi karena wabah Covid-19. Orang-orang yang mengungsi ini pada dasarnya, demikian rilis itu membangun dugaan, memiliki asal dari Jawa Tengah, baik itu merupakan generasi pertama orang pedesaan Jawa Tengah yang pindah ke Jabodetabek, maupun generasi kedua.

Arti dari semua itu, untuk menghidupkan konsentrasi spasial, dibutuhkan juga ekstensi, yaitu memanjangkan ruang produksi ke pedesaan Jawa Tengah untuk menopang kelangsungan hidup aglomerasi Jabodetabek. Dalam diskusi di atas terlihat bagaimana ekstensi spasial dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, baik itu memindahkan proses produksi ke Urutsewu, Kebumen, maupun dengan mengaktivasi mesin penghisap raksasa bernama Jabodetabek guna menyedot orang-orang desa seperti para pengungsi Covid-19 yang sekarang kembali ke Jawa Tengah untuk masuk dan menjadi bagian dari dirinya. Jadi kota atau aglomerasi perkotaan yang dikendalikan oleh hukum konsentrasi dan ekstensi spasial pada dasarnya adalah satu varian dalam moda produksi kapitalisme darimana surplus diekstrak.

Sampai pada titik wabah Covid-19 secara tanpa ampun meluluh-lantakkan konsep kota yang dikendalikan oleh hukum konsentrasi dan ekstensi spasial ini, di mana segala kelemahan Jabodetabek seperti infrastruktur dan pelayanan kesehatan yang buruk, jurang ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin yang begitu dalam, hingga tata kelola pemerintahan antara unit-unit kepengurusan pemerintahan di Jakarta dengan berbagai kota di sekelilingnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, disingkap tanpa menyisakan ruang untuk berkelit/bersembunyi. Tak banyak pilihan yang disisakan oleh wabah Covid-19. Fakta tentang kematian, PHK dan/atau perumahan buruh, dan mengungsi massal adalah bukti konkret.

Dengan demikian, secara otomatis pilihan-pilihan pembangunan kota-kota industri gaya Jababeka di mana pabrik-pabrik ditumpuk dalam satu ruang menjadi tidak relevan lagi. Contoh seperti ini yang sedang digarap adalah Kawasan Industri Kendal, di mana sekitar 2.200 hektar lahan sedang diubah menjadi kawasan industri untuk mengkonsentrasikan pabrik-pabrik. Model-model seperti ini adalah tiruan saja dari model Jabodetabek. Saya tidak melihat ia bekerja di luar hukum konsentrasi dan ekstensi spasial. Hanya lokasinya saja yang dipindah ke Kendal. Alasan utamanya adalah upah buruh yang murah di Jawa Tengah.

Tumbangnya aglomerasi perkotaan gaya Jabodetabek oleh Covid-19 dan tidak relevannya lagi mendiskusikan kawasan/kota industri gaya Jababeka, dengan demikian, secara otomatis, seharusnya juga membuat kita untuk menghapus semua percakapan tentang proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Karena pada dasarnya IKN yang dibayangkan masih bergerak dalam kerangka relasi dialektis antara hukum konsentrasi dan ekstensi spasial. Ini, sekaligus membuka ruang sangat lebar bagi pertanyaan tentang model industri yang relevan; pertanyaan itu menemukan tanah yang gembur untuk tumbuh.

Namun, apa itu industri? Saya memahaminya melalui pendekatan kapital-industri dalam corak produksi kapitalis, di mana ia melibatkan sirkulasi uang-kapital, kapital-produktif, dan kapital-komoditas. Uang-kapital adalah uang yang dimasukkan ke dalam sirkuit produksi untuk mencetak nilai-lebih. Metamorfosis dari uang-kapital terus berlanjut ke kapital-komoditas. Kalau ia terhenti, maka ia bukan kapital-industri. Atau dengan kata lain, uang-kapital bertransformasi menjadi kapital-produktif. Jadi, kapital-produktif adalah adalah uang-kapital yang dipakai habis untuk membiayai produksi dalam industri. Dalam pabrik, kapital-produktif dapat menyediakan alat produksi (bahan-bahan mentah, mesin-mesin, dan berbagai alat produksi yang lain) dan untuk membayar gaji buruh. Kapital-komoditas adalah barang produksi yang bisa direalisasikan nilai-tukarnya dalam bentuk uang ketika dijual. Industrialisasi adalah adalah proses yang membentuk industri. Suatu proses yang darinya industri tercipta.

Industri integral adalah suatu industri yang sebisa/sejauh mungkin keluar dari logika hukum konsentrasi dan ekstensi spasial, serta menyatu dengan konteks politik, ekonomi/kepemilikan, reproduksi sosio-alamiah, lokasi geografis, demografi, ekologi, ekualisasi spasial, dan teknologi. Dalam bagian-bagian tertentu model integrasi yang dipaparkan berikut, diperlihatkan bagaimana model hipotetis industri integral dapat keluar dari logika konsentrasi dan ekstensi spasial.

Integrasi yang pertama adalah penyatuan antara produktivitas dan kesadaran politik. Di titik ini, industri integral harus mengambil prinsip-prinsip manajerial seperti efektivitas dan efisiensi dari industri kapitalistik untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi, tapi tanpa menegasikan kesadaran politik. Hal yang paling menyolok dari industri kapitalis adalah usaha depolitisasi yang terus-menerus dilakukan dengan berbagai cara dengan tujuan akhir agar secara politik sistem tidak digoyang oleh kesadaran politik kelas pekerja (buruh, petani, nelayan, dan lain-lain).

Kontradiksi di sini adalah bahwa di satu sisi manajemen kapitalis membutuhkan suatu kondisi kepatuhan yang terpimpin untuk menggerakkan produksi, sementara di sisi lain kesadaran politik membutuhkan suatu spontanitas atau kreativitas personal yang membebaskan. Menemukan titik keseimbangan dari kontradiksi ini, dalam hemat saya, adalah tantangan yang tidak mudah.

Integrasi yang kedua adalah dalam hal ekonomi/kepemilikan. Dalam industri kapitalis, buruh adalah orang upahan yang menyamakkan tenaganya di pabrik. Tenaga adalah komoditas (satu-satunya) yang dia punya. Sehingga untuk makan, dijualnyalah tenaganya kepada pemilik pabrik. Di hampir semua pabrik kapitalis, buruh tidak mengkonsumsi barang yang dia produksi. Tapi untuk orang lain. Karena itu, salah satu saja, dia disebut terasing/teralinesi dari komoditas yang dia produksi.

Industrialisasi integral, sebisa mungkin mengintegrasikan buruh sebagai juga pemilik pabrik. Misalnya dalam bentuk kooperasi, di mana buruh sebagai anggota kooperasi ikut memiliki pabrik, dan mendapatkan hak-haknya dalam dua bentuk. Hak pembagian sisa hasil usaha sebagai anggota kooperasi, dan hak atas jam kerjanya di pabrik. Ini sekaligus sebagai cara untuk membangun anti-tesis terhadap logika akumulasi yang menjadi elemen mendasar dalam kapitalisme. Kalau sampai pada titik buruh memproduksi barang yang akan dia konsumsi, maka ini akan meminimalisir tingkat alienasi.

Integrasi yang ketiga adalah memasukkan reproduksi sosio-alamiah ke dalam neraca perhitungan industri integral. Kapitalisme bekerja dengan sangat cerdik. Faktor-faktor seperti biaya yang muncul dari kerusakan lingkungan, segala tenaga yang dicurahkan untuk merawat dalam membesarkan buruh, maupun aktivitas di sektor yang disebut sebagai “sektor informal perkotaan” yang pada dasarnya menyumbang sangat besar untuk aktivitas di sektor “formal,” semuanya tidak dimasukkan ke dalam neraca ekonomi kapitalisme. Semuanya saya sebut sebagai “sosio-alamiah” karena dasaranya ketiganya adalah perpaduan antara manusia (sosio) dan non-manusia (alamiah). Kalau reproduksi sosio-alamiah dimasukkan ke dalam neraca ekonomi kapitalisme, niscaya kapitalis akan rugi. Sebagai contoh, biaya kerusakan lingkungan yang hampir pasti tidak dapat diukur dengan ukuran moneter, selalu saja lebih besar daripada semua keuntungan yang diperoleh dalam proses produksi di satu sirkuit komoditas di bawah kapitalisme. Reproduksi sosio-alamiah sangat mungkin dimasukkan ke dalam neraca ekonomi industri integral karena orientasi utamanya bukanlah mencari untung, tapi emansipasi.

Integrasi yang keempat adalah dalam hal lokasi geografis. Dalam pabrik kapitalis, buruh-buruh di Jawa memproduksi barang-barang komoditas untuk orang-orang di negara-negara kaya. Maka, jangan heran bila Anda membeli sepatu Nike di Amsterdam, misalnya, tertulis: made in Indonesia, made in Vietnam, ataupun made in Bangladesh. Ini namanya global supply chain sebagai imperialisme. Negara-negara miskin di mana upah minimum regional (UMR) murah, dijajah melalui rantai pasok komoditas global.

Dalam industri integral, ketiga elemen industri: uang-kapital, kapital-produktif, dan kapital-komoditas sebisa/sejauh mungkin integral dengan ruang geografis. Misalnya, pabrik di Grobogan. Buruhnya orang Grobogan. Jadi, model hipotetis ini tidak perlu terlalu tunduk pada hukum besi konsentrasi spasial dengan berusaha menyedot buruh dari kawasan lain. Didirikan dengan uang-kapital dari/orang Grobogan. Produksinya untuk orang Grobogan atau pabrik tersebut memproduksi terutama apa yang dibutuhkan oleh orang Grobogan. Sehingga Grobogan tidak menjadi koloni dari, misalnya, Beijing atau Amsterdam. Elemen-elemen terakhir ini membuat model hipotetis ini lebih mampu menghindari paksaan dari hukum ekstensi spasial.

Poin integral dengan ruang geografi, membawa kita mau tak mau harus juga berfikir mengenai integrasi demografi. Industri integral dibangun dengan mempertimbangkan persebaran populasi, kepercayaan, keterampilan,  komposisi gender, usia, dan juga ritme kerja manusia dalam satu ruang geografi tertentu. Sebagai contoh, Pulau Jawa yang padat penduduknya diarahkan untuk mengembangkan industri yang mampu menyerap pekerja dalam jumlah besar.

Integrasi yang keenam adalah dalam hal ekologi. Pabrik-pabrik kapitalis mengandalkan bahan bakar fosil seperti batubara. Karena itu Pulau Kalimantan dikeruk untuk menyuplai kebutuhan industri di Jawa atau China atau India. Industri integral, dalam hal bahan bakar atau energi, mengandalkan bahan bakar yang tersedia di tingkat lokal. Yang paling melimpah di Indonesia adalah adalah energi nirpolusi, misalnya energi matahari, angin, atau gelombang laut. Intinya, industri diintegrasikan dengan sumber bahan bakar berdasarkan situasi ekologi sekitar.

Integrasi tentang ekualisasi spasial menarget penghilangan secara pelan-pelan perbedaan ruang di desa dengan di kota. Poin ini mempertimbangkan kritik yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi geografer feminis. Bahwa, relasi desa dengan kota ini timpang. Perkotaan dominatif dan pedesaan tersubordinasi. Dominasi terjadi karena antara lain desa atau non-kota seringkali dianggap sebagai ruang “domestik”. Rekahan atau sobekan metabolisme yang maskulin berpilin dengan bagaimana pembangunan kapitalistik memproduksi ruang. Pola umumnya adalah aktor perkotaan mengekstrak surplus dalam relasinya dengan pedesaan. Ekstraski ini dimediasi, misalnya, oleh pertukaran barang atau orang/buruh/tenaga kerja. Barang dan/atau buruh dari desa hanya diambil begitu saja, tanpa memperhitungkan energi yang telah menubuh dalam diri mereka sehingga siap untuk diambil begitu saja. Model ini sangat selaras dengan dalil metabolisme-sobek kapitalisme yang melihat desa sebagai situs produksi dan/atau ekstraksi (bahan dan orang) dan kota sebagai pusat konsumsi dan/atau aglomerasi.

Integrasi ekualisasi spasial mau menghilangkan itu. Dengan kata lain, keluar dari metabolisme-sobek kapitalisme (metabolical rift) dengan jalan mengubah cara pandang (epistemological shift). Desa dan kota tidak dilihat sebagai dualitas sistem metabolisme yang berbeda/terpisah/sobek dan berelasi secara timpang. Bahwa kota juga bisa menjadi situs produksi dengan berbagai skema pertanian perkotaan. Sebaliknya desa bisa menjadi pusat industri produk tertentu.

Sedikit lebih kendor dalam melihat proyek ekualisasi spasial ini adalah dengan cara mendorong interaksi langsung antara situs produksi pangan klasik seperti desa, dengan situs konsumsi klasik seperti kawasan perkotaan. Melalui interaksi langsung diharapkan kedua ontologi sosio-spasial ini akan lebih memahami dan menghormati satu sama lain. Selain itu, dalam interaksi langsung, relasi yang timpang dapat sedikit ditekan karena hilangnya fungsi distributor yang mengekstrak surplus dalam relasi produsen-konsumen. Asumsinya, hilangnya distributor yang mengekstrak surplus, di satu sisi dapat membuat produsen mendapatkan insentif yang lebih baik dalam sebuah transaksi, dan di sisi lain, konsumen mendapatkan penurunan harga/nilai beli.

Industri integral menggunakan teknologi yang menyatu dengan konteks sosialnya. Salah satu diskusi/debat panjang dalam pembangunan kapitalistik adalah pasal “transfer teknologi”. Negara-bangsa macam indonesia dibayangkan belajar teknologi modern sebagai buah dari Modernitas (ini nama zaman, bukan berarti maju) dari negara kaya yang akan “mentransfer” teknologinya. Dalam industri integral, teknologi yang dikembangkan adalah teknologi tepat guna yang berakar dalam tradisi. Misalnya, cangkul tidak perlu diimpor tapi cukup diproduksi dengan mengembangkan pandai besi.

Kedelapan poin integral atau kemenyatuan di atas, secara keseluruhan diintegrasikan lagi menjadi satu cara untuk memandang dunia, terutama dalam hal jalan industrialisasi atau co-produksi ruang seperti apa yang akan ditempuh. Sebuah konsepsi akan co-produksi ruang; integrasi kesembilan: sebuah totalitas industri integral.

Comment here