Opini

Inspirasi Dilahirkan, Bukan Dicari!

Bukankah inspirasi itu ada di dalam diri kita? Bukankah inspirasi itu ada di sepasang mata kita? Kenapa mesti digawat-gawatkan seperti layaknya Sapardi Djoko Damono menggawat-gawatkan tentang kisah bercinta?

Adalah paradox yang tidak mendasar ketika orang kebanyakan—terutama orang-orang yang memanfaatkan kecanggihan teknologi yang oleh orang kebanyakan pula diungkap tim inovasi welland sebagai “kemajuan bangsa”—ketika menganggap bahwa salah satu fase dilematis yang kerap dialami oleh penulis Sastra ialah ketidakmampuan mereka mendapatkan inspirasi. Kemudian fase dilematis tersebut, secara massif, memproduksi kebiasaan non-produktif tapi digandrungi penulis “baru” Sastra abad 21 ini, yaitu, jika kita ingin mendapatkan inspirasi kita mesti duduk sembari ngopi, ngisap rokok, dan menghayati “senja”.

“Ada empat faktor yang harus dimiliki seorang seniman untuk menuangkan ide-idenya, yaitu, (a) dengan menggunakan tokoh, (b) dengan menjadi tokoh, (c) dengan tetap sebagai dirinya sendiri tanpa ada perubahan sedikit pun, dan (d) dengan merepresentasikan siapa pun dalam bentuk lakuan atau kegiatan.”

Pernyataan Aristoteles di atas, menurut saya, secara saintifik telah membantah paradox tidak mendasar dan menelanjangi kebiasaan non-produktif yang terus menerus dirawat dan ditradisikan oleh penulis “baru” Sastra di negeri ini. Kata kunci yang dapat kita ambil dari pernyataan tersebut ialah “representasi”. Semestinya seorang penulis Sastra memiliki kemampuan representasi yang kritis dan konkret melalui apa yang dirasakannya dan apa yang dilihatnya. Tidak kemudian “menjadi asing” atau “memberi jarak” antara dirinya dengan realitas. Akan tetapi, usulan ini terkesan cukup arogan untuk para penulis “baru” Sastra. Tidak perlu gusar. Saya akan menawarkan dua alternatif untuk melahirkan inspirasi.

Pertama, mempelajari apa itu Metode Pulau Buru. Metode Pulau Buru, menurut definisi Gerakan Literasi Indonesia (GLI), merupakan metode menceritakan tema yang akan kita jadikan sebagai karya Sastra kepada tiga orang atau lebih. Secara fungsional, Metode Pulau Buru memberikan kesempatan kepada orang lain—tiga orang atau lebih tadi—untuk mendengar, menghayati, dan mengkritisi tema yang akan kita jadikan sebagai karya Sastra. Selain itu, Metode Pulau Buru mengajak kita untuk melakukan pembacaan ulang tema yang akan kita jadikan karya Sastra secara sosio-historis.

Kedua, membuat Pemetaan Pikran (Mind Mapping). Pemetaan Pikiran, menurut saya, cara kerjanya nyaris mirip dengan Metode Pulau Buru. Yang membedakan adalah Pemetaan Pikiran mengharuskan kita untuk berpikir dan bekerja dua kali. Berpikir untuk menjelaskan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik tema yang akan kita jadikan karya Sastra dan bekerja menjelaskan secara detil kepada tiga orang atau lebih. Tujuan Pemetaan Pikiran ini ialah membantu kita dalam menulis dan memilih tex atau diksi yang pas dan dirasa mewakili kegelisahan, kepedihan, kesedihan, dan segala tetek-bengek yang ada di diri kita.[]

Comment here