Musashi adalah salah satu pemain pedang yang hingga hari ini masih menjadi semangat sejarah Jepang. Hidup di era keshogunan Tokugawa. Musashi adalah pemain pedang yang dikenal karena permainan pedangnya. Dirinya menciptakan tehnik bermain dua pedang. Setelah mengalahkan salah satu pemain pedang besar lainnya, Kojiro pemain pedang gaya Ganryu, Musashi hilang. Lalu dia menulis sebuah buku berjudul “Kitab Lima Cincin”. Konon, buku tersebut merupakan buku yang berisi tentang tehnik-tehnik bermain pedang serta tehnik-tehnik mengalahkan lawannya. Buku tersebut hingga hari ini masih digunakan dan dibaca oleh banyak orang. Aku sendiri belum pernah membaca buku tersebut. aku hanya membaca beberapa ulasan tentang buku yang ditulis oleh Musashi. Aku mengetahui perjalanan hidup Musashi sebagai ahli pedang atau yang biasa disebut sebagai samurai ketika membaca buku karangan Eiji Yosikhawa dengan judul “Musashi”.

Eiji Yoshikawa merupakan penulis Jepang yang banyak menulis tentang sejarah-sejarah Jepang. Sebelum membaca “Musashi”, terlebih dahulu aku membaca novel Yosikhawa yang lain yaitu “Taiko”. “Taiko” berkisah tentang perjalanan tiga pemimpin besar Jepang yang menyelamatkan Jepang dari perang bersaudara yang tidak berkesudahan. Dari beberapa sumber refrensi di internet yang kubaca zaman tersebut disebut dengan zaman Sengoku atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai zaman berperang. Jepang menjadi medan laga pertarungan besar antar klan yang tidak berkesudahan. Zaman Sengoku dimulai ketika keshogunan Ashikaga runtuh. Keruntuhan keshogunan Ashikaga membawa Jepang menjadi medan perang raksasa. Hingga muncul salah satu pemimpin baru dari klan Oda, yaitu Oda Nobunaga.

Oda Nobunaga mempunyai cita-cita untuk menyatukan Jepang. Era pemerintahan Nobunaga tidak berjalan lama. Ketika hampir berhasil menyatukan Jepang, Nobunaga dikhianati oleh tangan kanannya yaitu Mitsuhide. Hingga akhirnya Nobunaga harus melakukan sepupuku di kuil Hongonji. Nobunaga meninggal dunia bersama anak sulungnya, Nobutada. Meski tidak memimpin dalam waktu yang lama tetapi Nobunaga merupakan salah satu tokoh yang cukup dikenal oleh orang-orang Jepang hingga hari ini. Pada awal novel “Taiko” Eiji Yoshikawa menulis sajak pendek, yang menurut Yoshikawa diketahui oleh semua anak sekolah di Jepang:

Bagaimana jika ada burung yang tidak mau berkicau:

Nobunaga akan menjawab “Bunuh saja”
Hideyosi menjawab “Buat burung itu ingin berkicau”
Leyasu menjawab “Tunggu”

Di sini aku hanya ingin menjelaskan secara singkat tentang titik temu dua novel epic tersebut. Jika kita membaca secara terpisah sebenarnya tidak ada masalah. Tetapi jika dibaca bersamaan buku tersebut saling berkaitan. Tiga tokoh yaitu Nobunaga, Hideyosi, dan Leyasu ada pada novel berjudul “Taiko”. Sementara cerita petualangan Musashi untuk menempuh jalan pedang ada pada buku lain berjudul “Musashi”. Novel tersebut sebenarnya saling terpisah tetapi dua novel tersebut tetap berkesinambungan. Adapun yang membuat dua novel tersebut saling berkaitan adalah Sejarah. Gambaran besar sejarah Jepang jauh sebelum restorasi Meiji yang menghilangkan budaya samurai dalam sejarah militerisme Jepang. Dalam sejarah militernya, siapa yang tidak mengenal Jepang sebagai salah satu negara yang mampu menantang amerika dalam Perang Dunia kedua.

Ketika membaca novel tersebut tidak terasa apa yang aku baca ternyata merupakan sejarah yang pernah terjadi di Jepang. Secara tidak langsung berarti aku telah belajar tentang sejarah tentang Jepang. Pertemuan sejarah pada kedua buku ini ada pada awal novel “Musashi”, di mana saat itu Musashi adalah salah satu prajurit dalam perang Sekigahara. Perang yang dimenangkan oleh Tokugawa Leyasu yang membawanya memimpin Jepang. Keshogunan Tokugawa memimpin Jepang selama 250 tahun. Sementara saat itu Musashi adalah prajurit dipihak yang kalah, keluarganya merupakan pendukung dari Hideyori anak dari Hideyoshi yang sebelumnya merupakan pemimpin besar Jepang menggantikan Oda Nobunaga. Hingga hari ini Jepang mengenal Hideyoshi sebagai Taiko.

Selain belajar tentang sejarah Jepang, pembaca akan merasakan bagaimana intrik-intrik politik yang terjadi di masa kekaisaran Jepang pada tahun 1500-an. Sementara pada Musashi kita akan belajar bagaimana menempuh cita-cita (apa yang disebut Musashi sebagai “Jalan Pedang”) tidaklah mudah. Dua novel yang sebenarnya jika digabungkan akan membuat kita belajar tentang bagaimana cara melakukan lobi, strategi politik (Taiko) dan bagaimana cara menempa diri menjadi seorang individu yang kuat, cerdas, dan merdeka (Musashi). mungkin ungkapan yang aku paparkan terlalu naif atau terlalu menggebu-gebu sehingga aku tidak bisa mencari kritik atas dua novel tersebut. Di sini aku hanya ingin berbagi pengalaman ketika membaca dua novel tersebut. Aku tidak yakin apakah kedua cerita tersebut masuk dalam genre cerita silat. Karena, meskipun bercerita tentang perjalanan pendekar pedang, cerita yang disajikan Yosikawa jauh dari fantasi-fantasi tentang kesaktian-kesaktian seorang pendekar.  

Aku ingin bercerita sedikit tentang pengalamanku membaca dua novel tersebut, di atas aku telah bercerita tentang isi dalam kedua novel dan pengetahuan yang sedikit aku serap ketika membaca novel tersebut. Di bagian ini aku akan bercerita kelimbunganku ketika membaca dua novel tersebut. Aku lebih suka menyebutnya dengan cerita silat. Sebelumnya aku menganggap bahwa dua novel tersebut merupakan cerita silat. Karena terdapat beberapa peperangan, adu jurus, dan beberapa peristiwa yang mirip dengan cerita-cerita silat lain yang pernah kubaca. Meskipun adegan pertarungan antar tokohnya tidak sekental milik Chin Yung, Khoo Ping Ho, atau, Gu Long. Beberapa nama penulis cerita silat (cersil) yang aku baca. Sebenarnya itu hanya penyebutan saja. Jika ada kesempatan aku akan menulis di lain hari terkait apa itu cersil dan segala tetek bengeknya, karena kebetulan aku adalah orang yang kecanduan cerita silat.

Sementara dalam tulisan ini aku ingin bercerita tentang perjalananku membaca dua novel tersebut. sekedar berbagai terkait pengalaman membaca novel saja, tidak lebih. Kembali pada pokok pembicaraan awal, terkait pengalaman membaca novel tersebut, seperti apa yang aku paparkan di atas bahwa aku sempat limbung ketika muncul pikiran “sebenarnya apa manfaat yang aku dapatkan ketika membaca cerita-cerita semacam ini?” kegelisahan tersebut muncul ketika aku merasa bahwa aku sudah tercebur terlalu dalam fantasi dunia Kangouw.

Aku bisa menghabiskan berjam-jam membaca ribuan halaman cerita silat. Sementara teman-teman yang lain telah menghabiskan banyak buku-buku wacana yang dalam benakku dapat menambah wawasan. Cerita silat hanya menampilkan fantasi-fantasi tentang pergulatan para tokoh-tokoh pendekar. Agak mending Musashi dan Taiko yang menampilkan sejarah tentang Jepang. Ada ilmu yang dapat diambil. Tetapi bagaimana dengan bacaan lainnya. Dalam diriku aku merasa dilematis, apakah selama ini aku hanya menghabiskan waktu saja? Tetapi bagaimana cerita silat adalah salah satu caraku lari dari kehidupan yang tidak kalah fananya dengan pertarungan dan jurus-jurus dalam cerita silat. Di dalam cerita silat aku bebas berfantasi membentuk tokoh cantik seperti Ren Yingying. Apabila aku tidak menemukan sosok Gong Li dalam Zhuyu’s Train di dunia nyata yang katanya fana ini, setidaknya aku dapat mengandaikan diri seperti Ling Hu Chong.

Kebimbanganku terkumpul menjadi sebuah gunung es Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada salah satu teman. Seorang penulis yang baru saja menyelesaikan novel dan setelah itu menikah. Dia juga merupakan penggemar cerita silat. Sebut saja namanya, Tan (untuk orang-orang terdekatku yang membaca tulisan ini tentu sudah tahu siapa orang yang aku maksud). Menurut cerita dari Tan, dia menghabiskan semua serial Bu Kek Siansu karya Asmarama S. Khoo Ping Ho, pada saat duduk di bangku sekolah dasar. Kalau aku tidak salah ingat hal tersebut diungkapkannya pula pada novelnya. Dia membaca Khoo Ping Ho karena saat kecil dirinya adalah orang yang tidak memiliki banyak teman. Dia menghabiskan waktunya untuk membaca serial cerita silat Khoo Ping Ho.

Jika bercerita tentang ini, aku merasa bahwa seperti ada bagian yang hilang pada masa kanak-kanakku. Aku harus menebusnya sekarang, yaitu membaca cerita silat. Kebetulan Tan adalah kawan sekontrakanku, saat itu entah setan apa yang menggerayangi otaknya hampir dua minggu dirinya tidak kemana-mana. Hanya bermalas-malasan di kasur sembari memantengi laptopnya. Dari ceritanya saat itu dia tengah membaca kembali serial “Bu Kek Siansu” tapi aku lupa serial mana yang tengah dibacanya saat itu. Karena memang saat itu aku belum membaca cerita silat. Aku baru benar-benar fokus membaca cerita silat saat semester lima. Tujuan awalku adalah mencari bahan untuk penelitian skripsi, hingga akhirnya aku benar-benar tersesat dalam belantara dunia Kangouw. Ditambah dengan akses yang semakin mudah. bermodal kuota beberap puluh Mega Byte (MB). Aku bisa mendapat cerita silat yang aku mau dengan mendownload melalui duniakang-ouw.blogspot.com. Dua novel karya Eiji Yoshikawa itu juga kudapatkan dari blog tersebut.

Pada saat itu aku baru saja menyelesaikan “Taiko” aku membutuhkan waktu yang lama untuk membaca “Taiko” karena halamannya yang cukup tebal aku juga sengaja menghentikan bacaanku itu. Aku pikir aku harus menyelesaikan tanggungjawabku membaca buku-buku lain, belajar menulis, belajar bahasa Inggris, berdiskusi dengan kawan-kawan, dan mengerjakan tugas-tugas kampusku. Aku baru sadar tidak hanya game dan agama yang candu. Cerita silatpun juga dapat menyebabkan candu, kalau tidak percaya silakan sidang pembaca mencoba sendiri. Aku usulkan membaca cerita silat berjudul “Pendekar Hina Kelana” karya Chin Yung untuk memulainya. Atau serial Bu Kek Siansu karya Asmarama S. Khoo Ping Ho. Ketika selesai dengan “Taiko” atas rekomendasi teman lain, yang juga penggila cerita silat. Aku direkomendasikan membaca “Musashi”. sebenarnya kala itu aku hanya ingin membaca “Musashi” tetapi kawanku yang satu itu, merekomendasikan terlebih dulu membaca “Taiko” dan hasilnya aku benar-benar membaca Taiko. Kala itu pertanyaanku “Manfaat membaca cerita silat” muncul ketika aku mendapat setengah bagian dari “Musashi”. aku bertanya dengan Tan, apa manfaatku membaca ini dan kitapun mengobrol kesan kemari.

“Kau bisa belajar tentang jalan pedang Musashi, untuk semakin mengasah kemampuanmu menulis” nasihatnya kepadaku.

Aku mengumpat dalam hati, aku merasa seperti anak kecil yang sedang dikasih wejangan oleh bapakku. Tetapi di sisi lain aku membenarkan omongannya,. Aku hanya mengiyakan saja. Tetapi di akhir nasihatnya, Tan mengatakan bahwa sepertinya aku harus berhenti membaca cerita silat. “Setelah selesai membaca Musashi, mending fokus mengerjakan skripsi dahulu”, lalu obrolan kami ke sana ke mari seperti biasanya.

Apakah setelah itu aku benar-benar berhenti membaca cerita silat? Aku sudah bertekad untuk segera menyelesaikan “Musashi” dan berhenti membaca cerita silat untuk sementara waktu. Tetapi di waktu yang lain, sebut saja Mugageni, orang yang kuceritakan di atas, adalah kawanku yang memberikan referensi Taiko dan bacaan cerita silat lainnya. Pada suatu ketika tiba-tiba membicarakan cerita silat berjudul “Kaki Tiga Menjangan”, karya Chin Yung. Kebetulan aku belum membaca cerita silat tersebut, tetapi aku telah membaca sedikit ulasan tentang “Kaki Tiga Menjangan” yang menceritakan seorang bocah cilik, cerdik, anak seorang pelacur. Berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya. Biasanya tokoh utama Chin Yung adalah seorang pemuda yang dalam petualangannya belajar tentang jurus-jurus sakti yang membawanya menjadi seorang pendekar kenamaan dalam dunia Kangouw. Tokoh ini berbeda dari tokoh lain, dia cerdik, nakal, dan sedikit cabul. Aku berusaha untuk tidak membacanya hingga akhirnya mulut Mugageni mengucapkan “Kau harus baca!”. Dan sampailah aku pada halaman seribu lebih. Ternyata aku benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari belantara dunia Kangouw. Sekarang, aku masih mencari manfaat dari membaca cerita silat. Sembari menghabiskan lembar demi lembar petualangan, Siaw Po. Sekarang aku baru percaya peringatan yang baru ditulis oleh pemilik dunia-kangouw.blogspot.co.id di bagian atas blognya: Membaca cerita silat dapat membuat kecanduan.[]