Please follow and like us:

Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik menggunakan latar belakang keruntuhan Kerajaan Demak sebagai tanda runtuhnya jalur maritim di Nusantara. Adipati Unus pulang membawa luka fisik yang cukup parah. Luka memar bagi arus perdagangan laut Nusantara.

Cetbang yang menjadi senjata andalan sejak kejayaan Majapahit tidak mampu menghalau meriam milik Portugis. Meriam Portugis memiliki daya jangkau yang lebih jauh dari cetbang. Ledakan meriam telah menjadi teror bagi kapal-kapal dagang yang ingin membawa barang dagangannya masuk ke laut Nusantara. Bermodal meriam, Portugis menguasai Selat Malaka dan menjarah kapal dagang yang melalui perairan tersebut.

Selat Malaka yang menjadi pusat jalur keluar masuknya perdagangan jalur laut di Nusantara telah jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Pelabuhan dagang di Tuban, Demak, Sunda Kelapa, dan beberapa tempat lain di Pulau Jawa menjadi sepi karena kapal-kapal dagang enggan masuk pulau Jawa. Meriam telah menenggelamkan ratusan kapal yang berpapasan dengan Portugis. Kapal armada Portugis telah menjadi hantu di lautan. Kabar jatuhnya Selat Malaka ke Portugis membuat kapal dagang manapun tak ingin berpapasan dengan kapal Portugis.

Portugis dan meriamnya telah menjadi hantu di lautan. Tak satu kapalpun ingin berpapasan. Kapal laut manapun tak ingin lambung kapalnya menjadi sasaran ledak meriam Portugis. Mereka tak ingin berakhir di dasar laut.

Segala macam hal yang berbau Portugis dan meriamnya menjadi buah bibir di seantero Nusantara. Kerajaan-kerajaan seperti Tuban dan Demak yang menggantungkan ekonominya pada perdagangan laut merasakan dampaknya.

Tuban merasakan langsung dampak ekonominya. Pelabuhan Tuban menjadi sangat sepi. Penduduk Tuban yang sebelumnya tinggal di kota dan menggantungkan hidupnya pada jalur perdagangan laut memilih kembali hidup di hutan dan kembali menggantungkan hidup dengan hasil-hasil dari hutan.

Rakyat Tuban merasakan dampaknya langsung. Tapi, hal tersebut tidak begitu diacuhkan oleh Adipati Tuban yang tetap dapat hidup dari upeti-upeti rakyatnya dan dari upeti kapal dagang yang singgah di pelabuhan Tuban. Tuban dan Demak adalah dua kerajaan yang sama-sama memiliki armada perang kuat. Tuban kuat dengan pasukan gajah dan Demak kuat dengan armada lautnya.

Tuban dan Demak menjadi dua sisi gambaran yang berbeda. Tuban dengan Adipati yang berorientasi hanya pada ekonomi dan perdagangan laut untuk keuntungan sendiri. Sementara Demak digambarkan sebagai sebuah kerajaan yang terus ingin menguasai Jawa dari sudut pandang Tuban.

Adipati Unus meninggal dunia membawa luka bakar hasil ledakan meriam Portugis. Raja kedua Demak tersebut merupakan orang pertama yang tak ingin hidup dalam belenggu penjajahan. keberaniannya harus dibayar mahal dengan nyawanya dan armada laut yang porak poranda.

Adipati Unus kembali ke pelabuhan Demak dengan sebuah kapal yang lambung kapalnya sudah pecah. Di dalamnya bersarang peluru-peluru meriam. Kuatnya kapal membuat kapal perang tersebut sampai di pelabuhan Demak. Tiang layar telah patah tersambar meriam. Bagian-bagian kapal telah bolong pada banyak dinding kapal. Layar bergambar “kupu tarung” simbol kerajaan Demak telah sobek di beberapa bagian. Adipati Unus melarang kapal tersebut untuk diperbaiki. Dia menitahkan agar kapal tersebut diikat di dermaga Demak. Adipati Unus ingin kapal tersebut menjadi simbol keberanian Demak dalam melawan Portugis. Adipati Unus adalah raja pertama yang berani melawan mitos ledakan meriam milik Portugis.

Kematian Adipati Unus dalam medan perang di Selat Malaka telah terdengar ke penjuru negeri. Hal ini membuat awal pendaratan Portugis di Tuban tak tenang. Armada Portugis disambut dengan cacimaki dan ludahan-ludahan rakyat Tuban dan Demak.

Pramoedya Ananta Toer mengantarkan pembaca Arus Balik masuk ke gerbang sejarah silam. Pembaca seperti sedang membaca buku sejarah dengan cerita yang mengalir. “Arus Balik” adalah novel yang memiliki syarat-syarat sebagai karya prosa fiksi.

Jika dibedah menggunakan strukturalisme, Arus Balik memiliki tema, latar, tokoh, dan, alur cerita. Novel yang membawa pembaca pada masa setelah keruntuhan Majapahit. Era kemunduran dunia maritim yang terkubur bersama cerita-cerita kebesaran Majapahit. Rama Cluring adalah salah satu tokoh yang digambarkan Pram sebagai saksi dari masa kejayaan dunia maritim Majapahit.

Setelah kematian Adipati Unus, Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono yang tidak lagi mewarisi kebesaran maritim Demak. Trenggono memilih pasukan kuda untuk Demak dan merebut wilayah-wilayah kerajaan lain di Pulau Jawa. Pertempuran demi pertempuran darat terjadi. Demak dengan pasukan kudanya melibas apapun yang ada di depannya. Tuban dengan pasukan Gajahnya masih belum tumbang terhadap pasukan kuda Demak. Pasukan kuda Trenggono membabat persatuan yang telah dibangun Adipati Unus. Kapal besar yang dibangun Adipati Unus sebelum meninggal mangkrak di Dermaga. Hingga akhirnya keserakahan Sultan Trenggono berakhir diinjak Gajah-Gajah kerajaan Tuban dibawah panglima perang Tuban, Wiranggaleng.

Seperti halnya, Demak. Tuban yang dipimpin Adipati Wilwaktikta hanya mencari aman. Adipati Tuban tidak ingin ikut campur dalam perang. Tetapi, Adipati telah salah memperhitungkan. Perdamaian yang diidamkannya juga harus luluh lantak bersama kerajaannya. Tuban diserang dari berbagai arah. Pemberontakan dari dalam hutan Tuban oleh kelompok-kelompok yang ingin melakukan kudeta terhadap Adipati. Dari arah lain, pasukan kuda Demak telah masuk ke kota ingin menguasai Tuban kota. Sementara dari laut, Portugis menghancurkan pelabuhan Tuban dengan meriam yang tak sanggup dihalau cetbang.

Sebagai pembaca, saya diantarkan pada rasa sinis Pramoedya terhadap kerakusan raja-raja Jawa. Pramoedya  membawa intrik-intrik yang terjadi dalam tubuh kerajaan. Kerakusan raja-raja Jawa memiliki banyak porsi dalam Arus Balik. Kebesaran Adipati Unus dalam menyatukan Nusantara hanya seperti angin lalu dalam novel tersebut. Sebelum membaca “Arus Balik” ada baiknya jika calon pembaca tidak berharap pada akhir yang bahagia. []

Please follow and like us: