AnalisisEsei

Mem-Parasit-kan Kemiskinan Ala Bong Joon-ho

Oleh: Saut Situmorang

***

Belum pernah ada film asing yang menimbulkan lalulintas komentar dan caci maki pro-dan-kontra seintens film Korea Parasite (2019) di media sosial Indonesia. Mayoritas memuji-muji karya terakhir sutradara Bong Joon-ho ini setinggi langit setelah Parasite berhasil memenangkan 4 Kategori penghargaan dalam Oscar 2020, setelah tahun sebelumnya dianugerahi penghargaan paling bergengsi dalam dunia film Palme d’Or Cannes 2019.

Isu utama yang jadi topik hangat segala komentar dan caci maki itu adalah judul dari film itu sendiri. Siapakah yang dimaksud sebagai “parasit” dalam film tersebut? Dan bingkai “teoritis” yang dipakai untuk menjawab pertanyaan ini, percaya atau tidak, adalah pandangan kaum Kiri tentang kapitalisme, terutama “Marxisme”. Media sosial Indonesia tiba-tiba berubah menjadi forum Kritik Film Marxis di mana semua yang ikut ambil bagian menjadi Pakar Marxisme dan isme sosialis lainnya!

Komentar-komentar seperti “Parasite merupakan contoh bagus kritik terhadap kapitalisme”, “Bong Joon-ho ngomongin ketimpangan kelas”, “Emang kita baunya beda, cuy. Dan justru masalah “bau” ini nunjukin yang sangat jelas kelas menengah atas tuh ngehe [sic]”, “Bong memaparkan realitas yang kejam dan kemudian merevolusi cara pandang yang didominasi kelas penguasa”, “Parasit di fiom Bong bukan orang miskin. Parasitnya justru kaum kaya yang ongkang-ongkang. Kaum miskin justru digambarkan cerdik. Mereka memanfaatkan kebodohan orang kaya untuk bertahan hidup [sic]”, “Dalam Parasite kaum miskin ini digambarkan cerdik tapi sial, orang kaya digambarkan arogan dan tolol, gampang ditipu oleh penampilan”, membuat saya heran apa mereka ini memang menonton film berjudul Parasite (2019) karya sutradara Korea Bong Joon-ho?!

Bahkan resensi film ini di media online mainstream pun tidak lepas dari bau Marxis-marxisan seperti di media sosial.

Windu Jusuf dalam IndoProgress, 14 Juli 2019, mendongeng panjang lebar tentang “bau” dan “parfum” tapi lupa menganalisis jalan cerita film yang konon sedang dia bicarakan. Dia menulis “Film yang diganjar Palme d’Or di Cannes 2019 itu mempertentangkan kelas apak dan kelas wangi; kelompok manusia yang tinggal di rumah semi-basement dan bunker, serta kelompok lainnya yang hidup di dalam bangunan megah nan steril; keluarga majikan dan keluarga pesuruh.” Tapi tak sekalipun dia menunjukkan di mana dalam film “pertentangan kelas” yang diklaimnya itu. Dia justru seperti yang saya katakan di atas terlalu asyik bercerita tentang “bau” dan “parfum”.

Adegan penikaman Tuan Park oleh Ki-taek ditafsirnya sebagai “Solidaritas kelas memang bisa muncul dari hal-hal tak terduga dan terwujud dalam perilaku yang tak selalu nampak politis. Bela rasa sesama kaum jelata di Parasite terjalin berkat bau yang katanya mirip lobak basi itu.” Tapi dia tidak menyebutkan bagaimana liciknya Keluarga Kim dalam usaha mereka mengenyahkan pembantu rumah tangga asli Keluarga Park yaitu Moon-gwang yang merupakan istri dari Geun-sae yang tiba-tiba muncul di acara pesta ulangtahun anak Keluarga Park di mana penikaman tersebut terjadi. Kemunculan mendadak suami Moon-gwang itu sendiri adalah untuk menghabisi Keluarga Kim yang telah mencelakai istrinya sebelumnya di ruang bawah tanah rumah Keluarga Park! Sebuah solidaritas kelas with our post?!

Klimaks dari fetishisme atas Parasite ini adalah film tersebut “akan ditayangkan di saluran tvN Movies di paket Nomat Transvision, Sabtu 15 Februari 2020”! Belum pernah ada film Indonesia yang langsung ditayangkan stasiun televisi lokal seperti ini dalam sejarah perfilman di negeri ini!

***

Ada tiga keluarga yang jadi tokoh utama cerita dalam Parasite dan dua orang tokoh minor. Ketiga keluarga tersebut adalah Keluarga Kim yaitu ayah Ki-taek, ibu Chung-sook, putri Ki-jung dan putra Ki-woo, Keluarga Park (ayah Dong-ik, ibu Yeon-gyo, putri Da-hye, dan putra  Da-song) dan Keluarga Pembantu Keluarga Park (istri Moon-gwang dan suaminya Geun-sae). Kedua tokoh minor adalah Min-hyuk teman Ki-woo dan Yoon supir Keluarga Park.

Sebagian besar plot cerita berlangsung di rumah Keluarga Park dengan beberapa adegan terjadi di apartemen semi ruang bawah tanah Keluarga Kim.

Siapakah sebenarnya yang dimaksud sebagai “parasit” dalam film tersebut?

Menurut kamus Merriam-Webster Online, parasit adalah:

“1: a person who exploits the hospitality of the rich and earns welcome by flattery

2: an organism living in, with, or on another organism in parasitism”.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online memberikan definisi:

“parasit/pa·ra·sit/ n 1 benalu; pasilan; 2 organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya; 3 ki orang yang hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain”.

Menurut Encyclopaedia Britannica, parasitisme adalah “relationship between two species of plants or animals in which one benefits at the expense of the other, sometimes without killing the host organism” sementara menurut Wikipedia “In evolutionary biology, parasitism is a symbiotic relationship between species, where one organism, the parasite, lives on or in another organism, the host, causing it some harm, and is adapted structurally to this way of life.”

Seorang pengamat film Korea Selatan Seo Hee Im menulis tentang film Parasite di Los Angeles Review of Books, 18 September 2019:

“The parasites in question are a family of four who insinuate their way into an affluent family’s mansion as English tutor, art therapist, driver, and housekeeper, a scheme that requires ousting those already in the positions. Bong not only has the family variously crawling, slithering, and scuttling around on all fours or on stomachs; three of the family members — Ki-taek (Song Kang-ho), Ki-woo (Choi Woo-shik), and Ki-jung (Park So-dam) — share the first syllable of their names with Gisaengchung, or parasite in Korean.”

Bahkan ketiga nama tokoh Keluarga Kim yang miskin itu yaitu Ki-taek, Ki-woo, dan Ki-jung memiliki silabel-pertama yang sama dengan kata “Gisaengchung” alias parasit dalam bahasa Korea!

Sekarang mari kita perhatikan bagaimana tingkah laku Keluarga Kim digambarkan dalam film itu sendiri.

Sejak dari adegan pertama di apartemen Keluarga Kim kita ditunjukkan kelakuan parasit Keluarga Kim yang mencuri-pakai koneksi internet tetangganya dan bagaimana mereka berusaha memaksa agar pesanan kotak kardus pizza yang mereka kerjakan dibayar penuh walau “satu dari empat” kardus tersebut rusak tak dapat dipakai.

Puncak dari aksi parasit mereka ini adalah ketika mereka sekeluarga berhasil dengan segala tipu daya menjadi tutor bahasa Inggris, therapis seni, supir dan pembantu rumah tangga Keluarga Park.

Bahkan Ki-woo menghianati sahabatnya sendiri Min-hyuk yang telah memberinya pekerjaan sebagai tutor bahasa Inggris yang berpesan agar dia menjaga Da-hye selama Min-hyuk sekolah di luar negeri. Min-hyuk jatuh hati pada Da-hye dan bermaksud akan mulai dating dengannya setelah Da-hye tamat sekolah menengah. Min-hyuk memilih Ki-woo untuk menggantikannya sebagai tutor bahasa Inggris Da-hye karena dia mempercayai sahabatnya itu dibanding kawan-kawan kuliahnya yang juga naksir Da-hye. Tanpa sepengetahuan Keluarga Park tapi diketahui oleh keluarganya sendiri, dan mereka restui tentu saja, Ki-woo memacari Da-hye putri Keluarga Park yang masih di bawah umur itu!

Sikap Yeon-gyo, ibu Keluarga Park, waktu pertama kali menerima Ki-woo sebagai tutor bahasa Inggris putrinya pun tidak angkuh atau tinggi hati layaknya stereotipe ibu rumah tangga keluarga kaya raya. Setelah Ki-woo “lulus tes” hari pertama memberikan tutor kepada Da-hye di bawah pengawasan langsung Yeon-gyo, Yeon-gyo malah menaikkan upahnya lebih tinggi daripada yang diberikan kepada tutor sebelumnya Min-hyuk. (Soal kenaikan upah ini, bukan Ki-woo saja yang mengalaminya tapi kemudian juga dialami Ki-taek untuk kerja lembur dan Ki-jung untuk datang ke pesta ulangtahun Da-song di bagian akhir film) Bahkan sikap ramah tamah Yeon-gyo kepada Ki-woo itu ditunjukkan dengan menyatakan kepada Ki-woo untuk meminta apa saja yang dibutuhkannya kepada Moon-gwang pembantu rumah tangga Park!

Betapa kontras sikap ibu rumah tangga Keluarga Park yang kaya raya ini dengan sikap ibu Ki-woo sendiri di awal film waktu sahabatnya Min-hyuk datang berkunjung ke apartemen mereka. Sebelum masuk ke dalam apartemen Keluarga Kim, Min-hyuk malah sempat mengusir seorang pemabuk yang ingin kencing di dekat jendela apartemen mereka. Min-hyuk membawa sebuah hadiah kepada Ki-woo yaitu sebuah karya seni dari batu alam yang disebut suseok (scholar’s rock) buatan kakeknya yang diyakini bisa membawa kekayaan material kepada pemiliknya. Tapi apa reaksi ibu Ki-woo? Ketimbang mengucapkan terima kasih, dia malah menyelutuk bahwa (membawa) makanan jauh lebih baik! Ironisnya lagi, kedatangan Min-hyuk ke apartemen Keluarga Kim itu justru ingin memberikan pekerjaan kepada Ki-woo yang pengangguran!

Yang mengherankan adalah klaim bahwa Keluarga Park yang kaya raya itulah yang “parasit” karena mereka memberikan pekerjaan kepada Keluarga Kim yang miskin! Bahkan ada yang menyatakan bahwa Keluarga Park hidupnya cuma “ongkang-ongkang kaki” saja! Ajaib betul ada keluarga yang kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki saja tapi bisa kaya raya! Padahal jelas ditunjukkan dalam film bahwa Dong-ik kepala Keluarga Park bekerja dan Ki-taek menyupirinya ke kantor!

Kalau memang benar bahwa Parasite adalah sebuah “kritik atas kapitalisme”, seperti yang diklaim kebanyakan komentator Indonesia baik di media sosial maupun media online, mengapa tidak pernah sekalipun kapitalisme itu dinampakkan sosoknya? Mengapa kemiskinan Keluarga Kim tidak dijelaskan penyebabnya? Justru apa yang kita lihat digambarkan dengan sangat baik dan detil adalah betapa tidak bermoral dan tidak beretikanya Orang Miskin itu hingga mereka akan melakukan apa saja cuma demi untuk mengubah kondisi hidupnya, untuk menaikkan status kelas sosialnya!

Bagaimana mungkin sebuah film yang dengan sangat detil menggambarkan betapa licik dan jahatnya sebuah Keluarga Miskin dalam usahanya untuk bisa bekerja di rumah sebuah Keluarga Kaya –sementara si Keluarga Kaya yang jadi korban kelicikan dan kejahatan tersebut digambarkan lugu dan “baik” dan tidak pernah sekalipun dijelaskan bagaimana mereka bisa jadi begitu kaya raya– tidak bisa disebut sebagai film yang Menghina Orang Miskin dan Kemiskinan?! Saya bahkan diserang dengan sengit di media sosial karena berani menyatakan hal tersebut! Mungkin saya, seperti Keluarga Kim dalam film, telah “melampai batas” dari apa yang mesti dikatakan dan tidak boleh dikatakan tentang film tersebut!

Apakah mereka yang menganggap film Parasite bukan film yang Menghina Orang Miskin dan Kemiskinan menonton film yang berbeda tapi berjudul sama?!

Dari awal sampai akhir film, Orang Miskin digambarkan sebagai Parasit, bukan cuma sekadar parasit yang merugikan tapi yang juga membunuh sesama Orang Miskin demi bisa hidup! Malah Orang Kaya pun jadi korban pembunuhan Orang Miskin cuma karena Orang Kaya itu terlalu jujur dengan penciumannya atas Bau tubuh si Orang Miskin. Padahal, ironisnya, Orang Kaya itu dianggap “orang baik” oleh si Orang Miskin! Kalau film ini dianggap cuma sebuah Satire Sosial maka inilah satire sosial bikinan kaum Borjuis yang paling buruk dalam sejarah film!

Tentang “realitas Korea” atau Hell Chosun yang diklaim direpresentasikan dalam film, seorang penulis Korea lain Hahna Yoon menulis begini di The Guardian, 5 Februari 2020:

“South Korea’s millennials are some of the most educated in the world – with 70% aged 24 to 35 having some form of tertiary education. (In real life, could Ki-woo have scored so poorly on the exam that he was not accepted into any university whatsoever? Unlikely.) Bong is praised for highlighting Hell Chosun – a term to describe the socioeconomic conditions that make it a nightmare to get a job even after receiving a degree but, ironically, this term barely applies to the Kims. Without degrees, it is more likely they would look for work in a sector with a huge labour shortage – such as factory production … or housework.”

Seandainyapun kedua anak Keluarga Kim (Ki-woo dan Ki- jeong) tidak memiliki gelar sarjana, sebenarnya bisa saja mereka mencari pekerjaan di sektor yang masih sangat membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti di pabrik atau pembantu rumah.

Jadi masalahnya bukan ketidakadaan pekerjaan tapi kemalasan. Kemalasan yang diperparah dengan kerakusan. Sudah malas mencari pekerjaan yang sesuai dan tersedia, mereka juga rakus ingin memiliki kemewahan hidup seperti pada keluarga berada, dalam hal ini Keluarga Park yang kaya raya.

Bong Joon-ho bermain dengan stereotipe kelas-pekerja tapi dia gagal menganalisis sistem yang menciptakan Keluarga Kaya dan Keluarga Miskin dalam filmnya itu. Alih-alih jadi kritik atas kapitalisme, Parasite malah jadi peringatan atas bahaya kalau mempercayai kelas pekerja!

Ketimbang membela Orang Miskin, film Parasite justru mendikte mereka. Orang Miskin jadi miskin karena mereka malas dan secara moral tidak bisa dipercaya. Orang Miskin cuma jadi objek rasa kasihan atau lelucon yang menghibur. Sederhananya: Orang Kaya dan Orang Miskin tidak mungkin berintegrasi, tidak mungkin berubah walau dengan kekerasan sekalipun. Keduanya dikutuk untuk menjadi Orang Kaya dan Orang Miskin. Kalau “batas kelas” ini dilewati maka hanya kekerasan dan pembunuhan yang akan terjadi seperti yang dengan sangat detil digambarkan dalam film tapi realitas kelas sosial itu sendiri, keberadaan Orang Kaya dan Orang Miskin, tidak akan berubah.

Satu hal yang mengherankan tentang reaksi atas film Parasite adalah waktu film tersebut memenangkan Palme d’Or di Cannes 2019 perbincangan tentangnya di media sosial Indonesia bisa dikatakan nyaris tidak ada sama sekali, tapi begitu film tersebut memenangkan 4 kategori penghargaan Oscar tiba-tiba saja media sosial Indonesia penuh dengan perbincangan atasnya yang rata-rata merupakan puja-puji setinggi langit yang belum pernah diterima film manapun selama ini. Pertanyaannya sekarang: Apakah publik penonton film Indonesia begitu terbius oleh segala pencitraan glamour Oscar di media massa hingga memenangkan penghargaan di Oscar dianggap segalanya dan mengharamkan kritik atasnya apalagi kalau yang menang itu adalah sebuah film “Asia”?!

Comments (3)

  1. 🤣Dari judulnya aja udah jelas “Parasite”, udah jelas bercerita tentang sifat parasite manusia.
    Kalau film nya bertujuan untuk menyatakan kemiskinan adalah parasite kenapa hanya cerita 1 keluarga saja yg soroti sifat parasite nya? Kenapa gk beberapa keluarga? Kenapa keluarga miskin lainnya yg ditampilkan dalam film ini justru tidak di soroti/tampilkan kelakuan parasite nya? Cuma ditampilkan jadi “KORBAN”.

    Parasite adalah aifat yg bisa saja dimiliki oleh manusia pada umumnya, berbagai alasan atau penyebab menjadi bersifat parasite.

    Dalam film ini di tampilakan 1 keluarga yang berambisi ingin hidup bergaya orang kaya raya yang bisa mendapat apa saja kemewahan dan kemudahan dalam dunia modren, menampilkan 1 keluarga yang berfikiran bahwa kebahagiaan hidup dan tujuan hidup adalah menjadi kaya raya meski dengan segala cara, menampilkan 1 keluarga yang berambisi mempertahankan apa yang telah didapat dengan segala cara juga, menampilakn bahwa 1 keluarga ini berfikiran memperlakukan cara mereka meraih dan bertahan menjadi sebuah kewajaran bahkan keharusan demi kelangsungan hidup dalam kemewahan.

    Tapi..apakah kemewahan itu tujuan hidup manusia? Apakah kemewahan hidup adalah sebuah kebahagiaan yang sebenarnya dalam hidup manusia? Atau hanya sifat kecanduan manusia terhadap kemewahan saja?

    Dikasi judul Parasite ya semestinya juga lah menampilkan karakter parasite dalam alur cerita film nya, berhubung arah sifat parasite yang ingin di tampilkan sutradara atau pengarang cerita adalah mengenai KEMEWAHAN ya sebuah kewajaran lah alur cerita di ambil dari sudup pandang orang yang tidak berpunya namun berambisi ingin mendapatkan dengan segala cara.
    Masak menggambarkan orang yang sudah kaya raya ditampilkan menjadi parasite untuk mendapatkan kekayaan lagi? Malah lucu dan ngawur ceritanya.

  2. Saya termasuk dari beberapa orang yang memonton parasite krena bombastis nya puja-puji film ini.

    Saya pun termasuk yg awalnya gagal memahami makna sederhana bahwa film ini secara eksplisit membuat orang cenderung untuk tidak mempercayai orang miskin karena malas dan culas.

    Terimakasih bang, telah menyadarkan saya dari sesuatu yg (padahal) sangat jelas tergambar di film tersebut.

    Suwun.

  3. Sangat sepakat dengan paragraf terakhir. Penghargaan bergengsi di dunia film bukan hanya Oscar. Yeah, membicarakan secara luas film-film pemenang berbagai penghargaan dunia belum menjadi budaya di Indonesia.

Comment here