AnalisisSosial

Mengintip Ruang-Ruang Tak Kasat Mata Instagram

Mengintip Ruang-Ruang Tak Kasat Mata Instagram

*Oleh: Sengon Karta

Adanya kemajuan teknologi hari ini berdampak mengubah bentuk ruang menjadi sesuatu yang lebih abstrak. Tak ada lagi batasan ruang sebagai bentuk riil maupun ruang-ruang virtual. Internet sebagai entitas yang mampu mengubah bentuk tersebut, dan memindahkan kenyataan ruang dan membuat nyata ruang menjadi semakin berlapis. Ruang ini disebut sebagai dunia maya, ruang yang pada kenyataannya tak memiliki batas dengan ruang di dunia nyata.

Meskipun sebagai ruang tak tampak, aktivitas manusia juga terjadi di dunia maya. Salah satunya instagram, sebuah aplikasi yang dapat membagikan foto dan video secara luas. Pengguna dapat membagikan segala kejadian dalam format foto maupun video, begitupula sebaliknya dapat melihat peristiwa pengguna lain ketika membagikan. Namun selain hanya membagikan, di dalam aplikasi tersebut dapat digunakan untuk aktivitas lain seperti berkomunikasi dalam komentar atau pesan langsung. Fenomena lain selain membagikan kejadian atau peristiwa dalam kacamata Focault disebut sebagai Heterotopia.

Konsep Heterotopia terjadi sebagai bentuk kritik Michel Foucault terhadap deskripsi ruang Rene Descartes. Rene Descartes menyebutkan ruang dibagi menjadi dua yaitu; materialistik-objektif dan spirititualistik-subjektif (Damajani, 2008). Pembagian dimensi ruang memisahkan antara yang ide dengan fisik sebuah ruang. Pada kenyataannya menurut Foucault sebuah ruang memiliki hubungan dengan ruang lainnya dan struktur sosial pada masyarakat. Ia tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada ruang lain yang dapat dibaca ketika melakukan sebuah pembacaan ruang. Foucault menjabarkan ruang tersebut menjadi tiga, ruang nyata (dystopia), utopia, dan heterotopia (Monita, 2010).

Dystopia merupakan ruang nyata atau bisa juga disebut bentuk nyata adanya ruang. Sebuah representasi akan realita sebagai wujud kebutuhan manusia, Instagram merupakan realita manusia menaruh segala hal eksistensinya yang bertautan pada kegiatan-kegiatan sehari-hari. Utopia merupakan bayangan atau kehendak si pencipta Instagram, bisa saja dalam bentuk gagasan ataupun ide dibalik penciptaan Instagram. Ruang tidak nyata yang memiliki relasi umum secara langsung ataupun bisa saja berkebalikan dengan ruang nyatanya. Heterotopia merupakan campuran keduanya antara dystopia dan utopia, menampilkan bentuk nyata dari utopia itu sendiri.

Gambar 1. Imagining Digital Space as subset of Real Space (Akmal & Coulton, 2018)

Cara melihat ruang virtual dapat dilakukan dengan membagi ruang aktual yang di dalamnya terdapat dua realitas. Namun sebenarnya realitas ini masih berada pada satu kesatuan. Menurut perspektif Tuan  membagi tempat ruang secara luas berisikan sense of inside dan an outside (Tuan, 1977). Ruang nyata merupakan ruang di luar ruang digital, sedangkan ruang digital merupakan ruang di dalam ruang nyata yang masih bersinggungan dengan ruang nyata. Gawai merupakan ruang nyata, di lain hal Instagram merupakan ruang digital namun tetap bersinggungan pada realitas di ruang nyata sebagai bentuk interaksi.

Teknologi semakin berkembang menambah kompleksitas interaksi manusia di dalam ruang. Pada ruang nyata dan ruang digital manusia peristiwa sosial dapat dibelah menjadi peristiwa sosial publik dan private. Perspektif ruangnya dapat dibagi menjadi ruang nyata publik, ruang nyata private, ruang digital publik, dan ruang digital private. Ruangnya tetap satu dan memiliki utopia di ruangn nyatanya. Setiap persinggungan antara ruang nyata dan ruang digital menghasilkan Heterotopia. Instagram menjadi ruang nyata ketika sudah didownload sebagai aplikasi di gawai, namun dapat masih menjadi ruang digital saat masih berbentuk aplikasi yang belum didownload.

Gambar 2. Philosophical Model for Inter-Spatial Interactivity (Akmal & Coulton, 2018)

Agar lebih mudah menganalisis dan menjelaskan ruang lain atau heterotopia. Foucault memberikan enam prinsip mengenai heterotopia. Dunia maya pun dapat dianalisis menggunakan konsep heterotopia, sebab menurut Foucault ruang tidak dibatasi oleh batasan-batasan geografis (Foucault, 2008). Foucault tidak menjelaskan secara detail mengenai ini, namun tidak ada adanya batasan geografis dalam pengertian ini selama masih ada ruang analisis heterotopia Foucault dapat digunakan. Salah satunya mengenai heterotopia dalam sebuah makanan. Di dalam sebuah makanan terdapat praktek usaha berkesinambungan dan positif. Tentu memiliki dampak struktur kekuasaan yang disediakan oleh penyedia makanan, yaitu kebudayaan, kesehatan, dan kandungan nutrisinya (Castro, Tvedebrink, & Albeniz, 2018).

Awal mula calon pengguna Instagram sebagai subjek di dalam heteropia perlu untuk mendaftarkan dirinya. Cara tersebut digunakan untuk mendapatkan representasi atas dirinya pada ruang nyata. Setelah itu barulah subjek menjadi bagian dari komunitas di dalam ruang nyata. Subjek dapat menjalankan aktivitas di ruang nyata dengan cara berbagi foto dan video. Namun subjek tidak pernah melihat Instagram sebagai ruang utopia ataupun heterotopia.

Instagram sebagai ruang nyata tentunya dibalik itu semua memiliki ruang utopia. Ruang utopia Instagram bukan hanya dijadikan sebagai tempatnya menaruh foto dan video, namun juga dapat digunakan arena pertarungan wacana melalui foto dan video yang ditaruh pada halaman pengguna. Ruang utopia dan ruang nyata ini bercampur menjadi satu seolah ruang utopia tidak tampak. Ada wacana yang bergulat sepanjang Instagram masih tetap ada, wacana ini berada pada ruang-ruang tidak riil. Utopia dan dystopia yang telah bercampur di Instagram ini adalah ruang heterotopia menurut konsep Foucault (Foucault, 2008).

Prinsip pertama Foucault ia menyebutkan heterotopia krisis, namun heterotopia krisis lambat-laun menghilang. Heterotopia krisis menurut Foucault terjadi pada masyarakat primitif meskipun dapat ditemukan sisa-sisanya. Menghilangnya heterotopia krisis dapat digantikan heterotopia penyimpangan (Foucault, 2008). Aktivitas di dalam Instagram awalnya membagikan foto dan video, di sisi lain terdapat wacana dibalik foto dan video yang dibagikan. Adanya foto-foto dan video menampilkan kehidupan mewah remaja sebagai bentuk menyimpang terhadap norma-norma dan nilai sosial di masyarakat. Kehidupan pribadi mewah ini dalam realitanya tidak perlu untuk ditampilkan secara luas.

Penyimpangan penggunaan pada aplikasi Instagram dapat dilihat melalui foto yang diunggah pada akun subjek. Unggahan pada sosial media bertujuan untuk menampilkan eksistensi individu di dunia nyata. Agar dapat diakui oleh lingkungannya, temasuk mengunggah kebiasaan-kebiasaan kemewahan dan perilaku sombong (Mahendra, 2017). Cara bergaul seperti ini biasanya terjadi pada pergaulan remaja di perkotaan. Biaya pergaulan yang mahal memaksa remaja melakukan apapun agar dapat diakui. Mereka biasanya mencirikan atau dicirikan sebagai sosialita. Sosialita dengan menggunakan barang-barang branded dan pergi ke tempat eksklusif (Pradhana, 2019). Selain ingin diakui lingkungannya, juga bertujuan menambah pengikut pada akunnya. Sebab bagi remaja semakin pengikut daripada yang diikuti memiliki makna bahwa dirinya merupakan famous daripada temannya. Semua itu dapat dilakukan secara sengaja atapun tidak disengaja oleh pengguna remaja Instagram kebanyakan.

Prinsip kedua Foucault menawarkan heterotopia tidak dihilangkan dan membuat fungsinya dengan cara lainnya. Fungsi awal Instagram merupakan hal liyan di tengah masyarakat awal kemunculannya. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan menampilkan eksistensi subjek Instagram mulai dibanjiri penggunanya. Selain menaruh foto dan video untuk kebutuhan eksistensi, Instagram kini menjelma sebagai ruang kegiatan ekonomi atau menyebarkan propaganda.

Pemanfaatan dan penempatan ruang yang terus semakin bergeser atau semakin dibutuhkan subjek, dalam kebudayaan modern instagram menjelma sebagai mesin pencari tren agar dapat dikonsumsi secara massal. Salah satu yang terjadi di Kuwait, meskipun memiliki budaya tradisional Instagram dapat mempengaruhi aktivitas keseharian. Gender laki-laki lebih cenderung mengunggah foto personal daripada perempuan, begitupula untuk urusan informasi pribadi (Alkandari, Al-Hunaiyyan, & Alhajri, 2016). Namun tidak dipungkiri juga perempuan dapat lebih terbuka dalam mengunggah foto dan membuka informasi pribadinya. Akibatnya timbul gejala fenomena influencer di Instagram. Influencer menjadi sasaran empuk melakukan promosi suatu produk. Tujuannya promosi produk barang atau jasa melalui influencer dengan cara endorsement, agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Hierarki tampak secara jelas melalui model ekonomi kapitalistik.

Prinsip ketiga tawaran untuk menganalisis heterotopia yaitu; heterotopia memiliki kekuatan yang menghubungkan berbagai ruang dan lokasi bertentangan di satu tempat nyata. Foucault mencontohkan taman, taman dijadikan sebagai bentuk penyatuan kota dari berbagai sisi (Foucault, 2008). Taman juga dapat dijadikan sebagai penggambaran simbol dunia dalam satu tempat. Instagram menyatukan realita dan dunia maya sehingga tidak tampak perbedaannya. Instagram dapat dilihat menjadi album kenangan subjek, ruang pameran foto, tempat portfolio pekerja lepas design grafis, dan berbagai hal lainnya dalam satu platform. Penyatuan segala bentuk aktivitas riil hari ini dapat dilakukan secara virtual melalui Instagram. Instagram lebih dari sekedar menaruh foto dan video di lamannya.

Sejak Instagram diluncurkan pada tahun 2010 pertumbuhan penggunanya terus meningkat jumlahnya. Meningkatnya jumlah pengguna sejalan dengan meningkatnya jumlah aktivitas di Instagram sebagai tempat dan ragam ruang. Salah satu ruang yang terbentuk adalah pameran foto. Berdasarkan bentuknya, pameran foto ini tidak sebaku pameran-pameran biasanya. Jika pameran foto biasanya butuh kritikus, di Instagram semua orang dapat mengkritik atau memuji hasil jepretan suatu akun. Begitupula soal waktu, Instagram dijadikan ruang pameran tak mengenal waktu selama pemilik akun tidak menghapus fotonya dan pengguna lain tidak memblokir akun tersebut. Jenis fotonya pun beragam, terdapat delapan kategori konten foto dari lima belas konten lainnya melalui pengelompokan konten. Kategori konten-konten tersebut yaitu; friends, food, captioned photo, pet, activity, selfie, and fashion (Hu, Manikonda, & Kambhampati, 2014).

Selanjutnya pada prinsip keempat heterotopia sebagian ditandai oleh potongan-potongan waktu. Instagram di dalamnya terdapat potongan-potongan waktu dan potongan-potongan profil subjek pengguna (Rymarczuk & Derksen, 2014). Hal itu menunjukkan ada waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Lini masa adalah kumpulan waktu yang tercampur dan menjadi akumulasi waktunya sendiri. Namun dalam melihat masa depan di Instagram tidak dapat dilihat melalui lini masa, ia bisa dilihat melalui foto-foto dan video agenda acara sesuatu. Dapat berbentuk pamflet-pamflet acara secara digital. Lini masa ini bentuk heterokronik yang tertata dan teratur secara kompleks. Sejarah subjek digital dapat dikumpulkan melalui platform aplikasi Instagram. Arsip ini hanya dapat dilihat melalui administrator aplikasi dan pemilik aplikasi tersebut.

Tampilan dan cara kerja pada Instagram kurang lebih mirip dengan Facebook, bedanya secara mendasar Facebook bagaikan imitasi dari sebuah masyarakat. Pasalnya Facebook telah membeli Instagram di tahun 2012 (Kompas;, 2012), secara fitur mirip meskipun kedauanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun secara prinsip perbedaan kedua aplikasi ini tidak terlalu mencolok sebagai kumpulan waktu secara nyata. Instagram secara detail mampu mengumpulkan waktu dan mengingatkan kembali kejadian-kejadian di dalam waktu tersebut. Sejalan dengan pemikiran Foucault dalam prinsip heterotopia yang keempat. Instagram selayaknya perpustaakaan dan museum, waktu tidak pernah berhenti diakumulasikan (Foucault, 2008). Instagram mengingatkan momen-momen itu sebagai bentuk perayaan semacam festival, bertujuan agar dapat dibagikan ulang. Instagram menjelma sebagai waktu, sesekali menjelma sebagai alarm ingatan pemilik akun. Hal ini disebabkan Instagram arsip global ingatan individu-individu dunia, menembus waktu, menembus zaman, semua bentuk, segala rasa, tempat waktu ditaruh secara sendirinya di luar waktu, tak dapat dirusak, kekal, dan tanpa batas (Foucault, 2008).  

Prinsip heterotopia kelima, ruang lain bersifat terbuka dan tertutup secara bersamaan. Semua sosial media bersifat seperti itu, begitupula Instagram salah satunya. Instagram membutuhkan setiap subjek untuk mendaftarkan dirinya agar dapat terlibat dalam aktivitas digital. Selain itu ada fitur pembayaran ketika akan menggunakan fitur promosi foto secara luas. Pendaftaran dan fitur pembayaran promosi merupakan portal pembatas antara yang boleh mengakses dengan larangan tidak boleh mengakses. Instagram juga memiliki domain antara publik dan private dengan cara mengatur di fitur pengaturan. Tujuannya membatasi orang lain untuk dapat mengetahui foto dan video yang ditaruh di lini masa profilnya. Pengaturan itu tetap saja dapat dilihat oleh administrator aplikasi Instagram dan pemiliknya. Aplikasi ini seolah-olah tampak terbuka yang namun sebenarnya bersifat eksklusi.

Sifat Instagram eksklusif dikarenakan butuh perangkat serta akses berbentuk kuota dengan cara membeli dari penyedia layanan. Melihat faktanya tidak semua orang mampu mengakses Instagram, meskipun Instagram seolah-olah membuka akses sepenuhnya. Masih adanya kesenjangan dalam akses ke dunia digital merupakan faktor utama tersendiri. Masyarakat pinggiran atau desa dan masyarakat kota di Indonesia menurut Indicators Communication Technology (ICT) rumah tangga yang mampu mengakses internet hanya 26,3% dan 48,5% (Hadi, 2018). Senyatannya sampai separuh dari total masyarakat di Indonesia tidak mampu mengakses internet. Faktor penyebab utamanya terjadi kesenjangan ini ketersediaan sarana komputer dan konektivitas sambungan internet (Warschauer, 2003). Minimnya akses tersebut juga karena disebabkan oleh upah murah, sehingga jumlah kapital yang dimiliki setiap rumah tangga tidak dapat menggapainya (Dijk, 2012b).

Selain masalah akses fisik, secara kebudayaan masyarakat Indonesia belum terbiasa atau membiasakan diri berinteraksi menggunakan sosial media. Berinteraksi dalam dunia digital bukan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Meskipun sebenarnya dunia digital hari ini merupakan bagian dari hidup masyarakat. Maksudnya melalui sosial media individu dapat mengatur hubungan sosial dan memberikan simbolik sebagai aktivitas interaksi sosialnya. Sosial media dapat sebagai jembatan individu hari ini untuk lebih mudah (Woodward, 2007). Keterbatasan-keterbatasan tersebut tidak dilihat masyarakat sebagai menjalankan fungsi sosialnya.

Pada prinsip terakhir tawaran prinsip keenam Foucault untuk melihat heterotopia dengan cara melihat fungsi heterotopia yang semakin ilusif dan terus-menerus disempurnakan. Ilusi-ilusi tampak seolah menampilkan kenyataan mampu menciptakan ruang nyata. Padahal suatu hal tampak nyata dari heterotopia tersebut suatu ketidaknyataan dari ruang nyata. Instagram dalam jangka waktu tertentu terus-menerus diperbarui aplikasinya, apapun itu bentuknya entah kelayakan performa dari aplikasi tersebut ataupun fitur-fitur di dalamnya. Hasilnya ilusi-ilusi representasi atas subjek dilihat oleh subjek lainnya begitu tampak nyata. Setiap foto dan video dapat dimaknai sebagai representasi pemilik akun, belum lagi fitur instastory membuat kita dapat melihat representasi sehari-hari dalam jangka waktu 24 jam. Fitur-fitur lainnya seperti centang biru pada profil menandakan orang-orang “istimewa” di masyarakat, seperti artis atau tokoh publik di masyarakat. Profil-profil bercentang biru itu dapat diakses dan dibuka kapanpun, utopianya jelas bahwa menandakan kita dapat berkomunikasi secara langsung dengan tokoh-tokoh publik tadi. Namun ternyata akun-akun tersebut tidak dikendalikan oleh tokoh publik tersebut, melainkan oleh administrator yang dipekerjakan tokoh publiknya.

Foucault mencontohkan rumah bordil, menurutnya ruang ilusi justru menampilkan diri di setiap ruang nyata pada kehidupan manusia yang dipartisi sebagai ilusi (Foucault, 2008). Bercampurnya ruang ini menampilkan ruang ilusi Instagram melalui profil pribadi, mengunggah foto atau video terbaru sebagai realitas individu. Namun setiap unggahan tidak akurat mempresentasikan sebuah realitas diri dari pengguna.  Keadaan seperti ini mirip keseharian individu yang diatur oleh jam, jam mengikat kegiatan individu sejak pagi hingga malam harinya. Padahal jam tidak mempresentasikan waktu sebenarnya, jam hanya memberikan merepresentasikan waktu dan penggunaan waktu merupakan kebebasan dari setiap individu.

Kesimpulan berdasarkan hasil analisis di atas, bahwa prinsip-prinsip heteropia pada Instagram memenuhi semuanya. Instagram dapat dianalisis menggunakan enam prinsip heterotopia Foucault. Sebuah tempat menghasilkan ruang-ruang lebih dari satu setelah digunakan oleh pengguna. Instagram tidak lagi hanya sebagai tempat untuk membagikan foto dan video semata. Namun juga dapat digunakan untuk aktivitas lainnya, yang di dalamnya memiliki wacana dan dapat dimaknai berdasarkan pergeseran aktivitas tersebut. Tempat berubah maknanya akibat dari kedinamisan suatu ruang yang saling bertumpuk. Instagram sebagai ruang nyata menjadi bias karena heterotopia di dalamnya. Individu memaknai lain Instagram sebagai tempat berbagi, justru sebaliknya saat kegiatan berbagi individu lainnya menggunakan lebih dari sekedar berbagi. Mulai menunjukkan eksistensi pada lingkungannya hingga menunjukkan ilusi-ilusi ketika berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Pada akhirnya menyebut Instagram berubah ruangnya akibat terjadi pergeseran penggunaan tempat.

========

*Sengon Karta adalah mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM)

========

Daftar Pustaka:

Akmal, H. A., & Coulton, P. (2018). Using Heterotopias to Characterise Interactions in Physical/Digital Spaces. Catalyst.

Tuan, Y.-F. (1977). Space and Place. Minnesota: University of Minnesota Press .

Damajani, D. R. (2008). Gejala Ruang Ketiga (Third Space) di Kota Bandung: Paradoks Dalam Ruang Publik Urban Kontemporer.

Monita, R. (2010). Heterotopia Pada Ruang Keseharian Studi Kasus: Plaza Indonesia.

Foucault, M. (2008). Of Other Space. In M. Dehaene, & L. D. Cauter, Heterotopia and the City Public Space in a Postcivil Society (p. 18). New York: Routledge.

Castro, D. V., Tvedebrink, T. O., & Albeniz, I. M. (2018). The Heterotopias of Food: Spaces and (Other) Places in Food Practices. Experiencing Food, Designing Dialogues, 132.

Mahendra, B. (2017). Eksistensi Sosial Remaja Dalam Instagram (Sebuah Perspektif Komunikasi). Jurnal Visi Komunikasi , 151.

Pradhana, T. A. (2019). Self Presenting Pada Media Sosial Instagram Dalam Tinjauan Teori Dramaturgi Erving Goffman (Studi Pada Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya).

Alkandari, A. J., Al-Hunaiyyan, A. A., & Alhajri, R. (2016). The Influence on Instagram Use. Advances in Information Technology , 54.

Hu, Y., Manikonda, L., & Kambhampati, S. (2014). What We Instagram: A First Analysis of Instagram Photo Content and User Types.

Rymarczuk, R., & Derksen, M. (2014). Different Spaces: Exploring Facebook as Heterotopia. First Monday.

Kompas;. (2012, 04 10). Untuk Apa Facebook Beli Instagram. Retrieved 12 05, 2019, from Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2012/04/10/10003437/Untuk.Apa.Facebook.Beli.Instagram?page=all

Hadi, A. (2018). Bridging Indonesia’s Digital Divide: Rural-Urban Linkages? Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , 17.

Warschauer, M. (2003). Technology and Social Inclusion: Rethinking The Digital Divide. Cambridge & Massachusett: MIT Press.

Woodward, I. (2007). Understanding Material Culture. Sage Publications.

Dijk, J. v. (2012b). Digital Enlightenment Yearbook 2012. In J. Bus, M. Crompton, & M. Hildebrandt, The Evolution of The Digital Divide: The Digital Divide Turns Into Inequality of Skills and Usage (pp. 57-75). Amsterdam: IOS Press.

Comment here