Opini

Mental “Kecendrungan” Dalam Sastra Indonesia

Tulisan ini telah saya pertimbangkan secara matang—silakan dikritik atau dibantah dengan bertanggung jawab—karena (a) saya seorang pelajar Sastra Indonesia, (b) saya menulis karya Sastra; puisi dan cerita pendek, dan (c) saya merasa “aneh” ketika berada dalam lingkaran individu atau kelompok yang mengklaim dirinya sebagai “Penikmat Sastra”, “Pemerhati Sastra”, dan “Pencinta Sastra”. Jika kita seorang yang tertarik dengan kesastraan Indonesia, kita bisa menemukan klaim-klaim tersebut berterbangan di dalamnya seperti burung-burung pipit di ladang-ladang menunggu musim panen. Bagaimana dan dari mana klaim-klaim ini lahir? Kenapa klaim-klaim tersebut diamini, seakan-akan klaim tersebut mutlak dan suci? Dan bagaimana pun klaim-klaim ini tidak bisa kita amini dan akui begitu saja seperti air mengalir dari hulu ke hilir.

Untuk menyelamatkan ladangnya dari serangan burung-burung pipit, seorang peladang harus menyiapkan tali memanjang yang telah diikat kaleng-kaleng kemudian ditarik sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Akan tetapi, burung-burung pipit memiliki otak meski tidak sebesar milik manusia, tentu mainan terbaik saja otak kecil tersebut menggerakkan mereka untuk mengintai ladang sembari menunggu sang peladang lengah atau ngantuk. Kita sadari atau tidak, realitas menunjukan kepada kita bahwa “Penikmat Sastra”, “Pemerhati Sastra”, dan “Pencinta Sastra” nyaris menguasai permukaan Sastra Indonesia hanya bermodalkan kecendrungan membaca lima atau sepuluh buku karya Sastra tanpa kita mampu mengkritiknya. Pada titik ini, jadilah kita seperti peladang yang lengah dan tidak mampu menahan ngantuk mata.

“Walaupun ada Fakultas sastra dan banyak Sarjana Sastra bertebaran di negeri ini tapi Sastra masih belum dianggap sebagai Ilmu Pengetahuan/Sains seperti Kedokteran, Ekonomi, Hukum, dan lainnya oleh masyarakat umum Indonesia! Bahkan tragisnya yang menganggap diri meraka sastrawan! Setiap orang apalagi yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi walaupun non-Sastra akan merasa dirinya mampu bicara tentang Sastra, mengerti apa itu Sastra!” (red. Saut Situmorang: Sastraku Sayang, Sastraku Malang).
Dalam diskusi-diskusi tentang Sastra, karya Sastra, proses karir Sastra(wan) kita dapat melihat kerja-kerja mental kecendrungan tersebut menghasut hadirin yang Sarjana Sastra atau non-Sastra yang datang sembari berharap medapatkan pencerahan atau inspirasi setelahnya, tanpa mampu mengkritiknya; mereka terlena dalam arus atau kanal klaim-klaim narsistik tersebut dan merasa nyaman di sana. Perasaan nyaman inilah yang membuat mental kecendrungan tersebut merasa terlegitimasi dan bekerja massif di kepala-kepala para hadirin. Bagaimana kita bisa bebas dari kerja-kerja mental kecendrungan ini?

“Hanya seekor binatang yang beradaptasi dengan lingkungannya, sementara seorang manusia harus bekerja untuk mengubah lingkungannya menjadi “yang lebih baik”. Akan tetapi, yang harus dilakukan seorang manusia transisi untuk pertama kalinya adalah mengubah pola hidupnya dari “manusia transitif-naif” ke “manusia transitif-kritis”.” (red. Paulo Freire: Pendidikan yang Membebaskan).

Mental kecendrungan tersebut secara massif hidup di kepala-kepala hadirin yang Sarjana Sastra dan non-Sastra. Ia mengontrol dan menggerakkan pikiran mereka ke arah kenaifan terhadap Sastra sebagai Ilmu Pengetahuan/Sains, kepasifitasnya kritik, dan kaim-narsistik. Untuk itu, perlu kiranya membicarakan masalah ini secara serius dengan menghadirkan Sarjana Sastra, Dosen Sastra, Profesor Sastra, dan pembaca Sastra yang kritis, agar tercipta penghormatan terhadap Sastra dan pengetahuan terhadap Sastra yang konkret.[]

Comment here