Opini

Menulis Tidak Semudah Mencuci Tangan

menulis-tak-semudah-mencuci-tangan

 Apakah standar “menjadi” seorang penulis Sastra mesti terlebih dahulu mendapatkan label sebagai mahasiswa Sastra, dosen Sastra, profesor Sastra, atau doktor Sastra? Bagaimana jika yang ingin “menjadi” seorang penulis Sastra itu adalah anak dari keluarga yang dimiskinkan; nelayan yang selalu murung, petani yang kehilangan sawahnya, dan anak seorang pemulung, misalnya? Apakah standar itu “harus” dilaluinya bekerja untuk gamer terlebih dahulu? Jawabannya adalah tidak. Jika tidak, hal-hal apa yang harus dilakukan? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini saya mengajak anda sekalian untuk memikirkan secara kritis ungkapan Ernest Hammingway ini: “Banyak orang ingin bisa menulis tapi sangat sedikit orang ingin jadi penulis.”

Pertama, kita harus terbebas dari ungkapan klise orang kebanyakan ini: “Jika kau ingin menulis, tulislah!” Bagaimana mungkin kita bisa menulis mampu menjawab secara kritis dan bertanggung-jawab dua pertanyaan ini: kenapa kita ingin “menjadi” penulis Sastra? Dan apa yang akan kita tulis? Saya pikir, kita mesti mampu menjawab dua pertanyaan itu terlebih dahulu, kemudian kita mesti memahami (lagi) “fungsi” seorang penulis Sastra dalam hingar-bingar realitas. Tujuan memahami “fungsi” seorang penulis Sastra dalam hingar-bingar realitas, seperti yang ditulis Sastrawan Saut Situmorang bahwasanya “Sastra Tidak Menghibur, Sastra Mengajak Kita Berpikir!” Saya menginterpretasikan tulis Sastrawan Saut Situmorang ini sebagai komitmen yang harus dimiliki seorang penulis Sastra sebelum mulai menulis dan akan “menjadi” penulis Sastra.

Kedua, setelah menjawab dua pertanyaan di atas dan memahami “fungsi” seorang penulis Sastra dalam hingar-bingar realitas, kita mesti melakukan pembebasan diri dari (lagi-lagi) ungkapan klise dari orang kebanyakan ini: “Carilah inspirasi!” Bagaimana cara mencari inspirasi? Bukankah inspirasi ada dalam diri (ingatan tentang masa lalu), sosio-historis, dan realitas di hadapan mata kita? Inspirasi itu telah lama bersemayam di ingatan dan mata kita hanya kita saja terlalu menggawat-gawatkan dan ikut-ikutan semangat zaman kapitalistik ini. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengolah inspirasi itu secara jujur dan apa adanya? Sebagai studi kasus, coba kita tulis tentang “Ketika Sawah Meninggalkan Petani”. Bagaimana menurut anda? Hal apa yang mesti kita lakukan? Untuk mengolah studi kasus di atas diperlukan pemetaan pikiran dan masalah yang tujuannya untuk mengetahui (a) bagaimana “Sawah” hari ini, (b) bagaimana konflik-konflik didesain dan menyebabkan “Sawah” meninggalkan “Petani”, dan (c) bagaimana nasib “Petani” itu kemudian. Jika sudah melakukan pemetaan pikiran dan masalah ini, sekarang terserah kepada kita bagimana akan membuka tulisan.

Apakah cukup sampai dua metode di atas? Tentu saja tidak. Anda sekalian pikir ini soal menangkap ikan di dalam ember atau seperti dokter yang memvonis hidup kita? Kemudian apa? Kita mesti melakukan verifikasi dengan membuat forum yang diisi oleh orang-orang yang (juga) ingin “menjadi” penulis Sastra. Dan proses inilah yang dikatakan Sastrawan Saut Situmorang sebagai “memacing ikan di kolam tanpa mata kail selama sejam!”[]

Comment here