Gagasan

Misteri Kasunyatan, Perjalanan Mencari “Rakyat” dan Lima Tahap Penalaran

Proses Kreatif Iman Budi Santosa

Pencatat: Dwi Cipta

 

Keterangan: Tulisan ini awalnya lahir sebagai rekaman pembicaraan di acara Bengkel Menulis GLI beberapa tahun lalu. Sebagai penyelanggara, saya, Muhammad Fajrin dan Tahdia Jawhar ‘Umaruzzaman mengundang sastrawan Iman Budhi Santosa sebagai narasumber di pertemuan ketiga Bengkel Menulis GLI. Sayangnya, kala itu, saya merasa naskah awal tulisan ini tidak cukup memuaskan untuk dimuat di website literasi.co. Alhasil naskah awal tulisan ini terbengkelai di brankas pribadi saya. Setelah tersimpan di brankas pribadi sekian lama, saya membukanya kembali, memperbaikisnya di sana-sini dengan berbagai keterangan yang dianggap perlu. Sayangnya literasi.co sudah mati. Dengan demikian saya tidak bisa menerbitkan tulisan ini di website yang sedari awal berniat mempublikasikannya.

Maka naskah ini kembali tersimpan di brankas pribadi. Saya pun tidak berpikir untuk mempublikasikannya sampai kemudian bertemu seorang kawan yang sedang mengelola sebuah website baru. Kembali naskah ini saya perbaiki di sana-sini agar lebih enak dibaca. Saya memutuskan untuk mempublikasikannya dengan satu pertimbangan utama, yaitu sebagai ikhtiar untuk mendokumentasikan proses kreatif salah satu sastrawan Yogya ini. Semoga bermanfaat.

 

Pendahuluan

Walaupun sudah ditulis di berbagai buku, jurnal maupun majalah, diajarkan di kelas puluhan kali dan dijadikan bahan diskusi di forum-forum penulisan, proses kreatif selalu menjadi sesuatu yang sulit untuk dipraktekkan daripada diteorikan. Kita bisa membaca banyak pengalaman proses kreatif dari berbagai macam penulis hebat, bisa pula menyimak uraian meyakinkan seseorang tentang tips dan trik menulis yang jitu. Namun apa yang kita baca dan kita simak itu tak bisa kita rebut menjadi milik kita. Dengan demikian, proses kreatif penulis hebat itu tetap menjadi milik si empunya, seberapa pun kuatnya kita berusaha. Seolah-olah ada jurang yang selalu memisahkan proses kreatif para pengarang tersebut dengan pengalaman menulis kita sendiri. Di sinilah kiranya problem sekaligus tantangan yang mesti dihadapi oleh orang yang ingin bisa menulis atau bahkan ingin menjadi penulis yang baik.

Apa yang akan saya sampaikan dalam forum ini sangat mungkin mengalami nasib mengenaskan seperti yang saya tuturkan di atas. Namun hal ini tidak mengurangi tekad untuk berbagi cerita tentang proses kreatif saya sejak awal sampai sekarang. Saya percaya tidak ada sesuatu yang sia-sia di dunia ini. Dengan satu atau lain cara, baik secara langsung atau lewat jalan memutar, rekaman proses kreatif seseorang akan bermanfaat bagi orang yang baru atau telah sekian waktu menjalani proses kreatif. Maka ijinkanlah saya bercerita tentang diri dan pengalaman kreatif saya. Sekali pun tidak memberi manfaat secara langsung, paling tidak apa yang saya tuturkan ini bisa menjadi suar awal untuk memandu penemuan jalan proses kreatif kalian sendiri yang khas, yang tidak bisa disamakan dengan proses kreatif saya atau proses kreatif penulis mana pun.

Barangkali proses kreatif bisa dimulai dari kepekaan terhadap segala hal yang ada di sekitar kita. Nanti sore, misalnya, kawan-kawan dari kelompok “Sanggar Tasik” akan berkunjung ke rumah untuk membicarakan karya-karya mereka. Kami akan bertukar pengalaman soal seni menulis, dengan kata lain, bertukar pengalaman soal proses transformasi ide di kepala kami menjadi sesuatu yang nyata: tulisan. Di sini saya bicara tentang suatu proses yang hanya bisa kita kira-kira maknanya. Sesuatu yang tidak begitu kita ketahui dengan pasti. Ini seperti seseorang yang harus bertamu ke rumah orang yang sangat kaya. Rumahnya berpagar tinggi. Rumahnya sepi. Hanya ada lampu yang menerangi bagian dalam rumah. Orangnya belum tentu ada. Kita harus memecahkan masalah kita: bagaimana bisa menemui tuan rumah yang tidak menampakkan batang hidungnya; bagaimana bisa masuk melewati pintu yang terkunci; dimana kita menemuan jalan masuknya; apa yang akan kita lakukan untuk masuk ke dalam.

Bagi saya, proses kreatif bukan hanya soal menulis saja, tapi juga mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak masuk akal yang kita hadapi saat itu. Ada hal-hal tidak terduga yang mesti kita hadapi saat proses penulisan. Misalnya, konsentrasi dalam menulis yang mendadak hilang karena seorang teman datang dan mengabarkan berita yang mengagetkan. Atau terjadinya perubahan mood karena menemukan kenyataan bahwa apa yang ingin kita tulis telah ditulis oleh orang lain dengan jauh lebih baik. Ada pula sesuatu yang kita duga-duga. Proses kreatif biasanya dimulai dengan adanya persoalan. Lalu kita mencoba menjawabnya dengan cara kita masing-masing, dengan pedoman entah dari mana, sekecil apa pun, agar sampai pada solusi masalah.

Seorang teman yang bekerja sebagai editor mapan dengan gaji dan pekerjaan yang bagus memutuskan keluar dari pekerjaannya. Ia mencari-cari jawaban pembenaran dari keputusannya. Saat ia menceritakan keputusannya untuk keluar dari pekerjaan, saya tidak memberikan solusi. Saya justru memberikan gambaran tentang pohon sawo dan pohon mangga. Coba perhatikan posisi buah sawo atau mangga di pohonnya. Kedua buah tersebut selalu berasal dari ranting yang kecil, bukan dari cabang atau dahan yang besar. Tamu tersebut akhirnya bisa menemukan jawaban bahwa buah itu berasal dari ranting yang kecil, bukan dahan yang besar. Itulah amsal untuk menjawab situasi-situasi tertentu berdasarkan kenyataan alamiah yang ada di sekitar kita dalam soal kepenulisan. Bisakah kalian menemukan persambungan antara amsal buah di ranting kecil itu dengan keputusan teman saya yang keluar dari pekerjaan sebagai editor di penerbitan dengan gaji dan pekerjaan yang bagus?

Masa Kanak-kanak sebagai Mata air penciptaan

Kalau dirunut dari apa yang pernah saya alami dalam kehidupan saya, sastra sebenarnya hanya menjadi cara ungkap atas segala yang saya saksikan atau segala yang saya alami. Secara pribadi, sejak kecil, saya menyukai filsafat, meskipun bukan filsafat dalam pengertian orang dewasa. Yang kedua justru antropologi, soal hubungan antar manusia. Yang ketiga, spiritualisme. Di awal hidup, saya justru tidak memiliki hubungan apa pun dengan sastra. Ketiga hal itu, filsafat, antropologi, dan spiritualitas, telah membentuk saya, terutama lewat orang-orang yang ada di lingkungan saya. Barangkali tiga hal tersebut yang membuat saya menjadi pemikir. Dan prasyarat awal menjadi seorang pemikir adalah kedisiplinan dalam belajar. Saya, misalnya,  tidak terkejut ketika pertama kali sampai di Yogya menemukan papan bertuliskan jam belajar masyarakat di berbagai sudut kota. Bagi saya itu bukan sesuatu yang baru, sebab di masa kanak-kanak saya sudah terbiasa dengan jam belajar semacam itu. Sejak kecil, dari jam delapan sampai jam sembilan malam, saya harus belajar. Saya bahkan tidak boleh makan malam sebelum jam belajar malam itu selesai.

Awalnya saya sering merespon ritme hidup dan aturan belajar yang keras tersebut dengan menangis. Bahkan sampai malam minggu pun saya harus belajar meskipun jam belajarnya bisa dikurangi. Ini sesuatu yang tidak bisa saya pahami tapi harus saya lakukan. Namun seiring berjalannya waktu, pendisiplinan dalam belajar itu menjadi sesuatu yang tidak lagi menyusahkan. Selain berdampak pada semakin luasnya cakrawala pengetahuan, proses belajar yang keras tersebut ternyata membuat jam tubuh saya ikut berubah. Salah satunya adalah hilangnya kebiasaan tidur sore. Apa yang ada di kepala saya dari pukul 20.00 hingga pukul 21.00 tersebut masih terbawa sampai jam 23.00 malam. Untunglah di masa kanak-kanak tidak tidur sampai jam 20.00 tidak apa-apa.

Yang ingin saya katakan adalah ini: dalam kaitannya dengan proses kreatif, kita mesti kembali pada apa yang kita miliki, bukan mencari apa yang tidak kita miliki. Pengalaman dan pengetahuan yang membentuk kita sebagai manusia adalah bahan-bahan yang secara alamiah kita miliki dan bisa kita manfaatkan dengan sangat baik dalam proses kreatif. Mereka yang baru memulai proses kreatif biasanya terpukau pada hal-hal yang tampaknya menarik di luar diri mereka tanpa menyadari kalau mereka tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentang hal-hal tersebut.

Lalu kenapa saya terhubung secara kuat dengan dunia tulis-menulis? Jawabannya kembali bisa ditemukan di masa kanak-kanak. Ada sebuah peristiwa yang sampai sekarang tidak terlupakan. Rumah kakek saya berada di sekitar alun-alun. Di kelas 6 SR—Sekolah Rakyat—saya punya kenangan dengan seorang gadis yang sedang kursus mengetik. Di kelas 6 itu pula saya ditugaskan untuk belajar kursus mengetik. Jam yang harus saya ambil adalah jam 16.00 atau 17.00. Kewajiban belajar mengetik membuat saya tidak bisa bermain sepakbola seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak seusia saya masa itu di alun-alun kota Magetan setiap sore. Selama setengah tahun lamanya saya harus belajar mengetik, sehingga di kelas 6 saya sudah bisa mengetik dengan lancar. Selain memiliki keterampilan mengetik, proses belajar tersebut menyebabkan saya bisa memeroleh ranking 2 di seluruh magetan saat kelulusan SR.

Kakek saya lewat garis ibu berasal dari tradisi Islam Jawa, masih trah Kasan Besari, yang tidak pernah kelihatan sholat. Sementara kakek dari garis ayah saya dari pondok pesantren Termas. Saya harus berhadapan dengan kasunyatan: apa yang terjadi dalam waktu yang sama di berbagai tempat. Ini lebih berkenaan dengan pandangan kosmologis dalam diri saya. Dua tradisi itu yang mengantarkan saya pada kesukaan terhadap filsafat. Hal-hal sederhana yang mestinya bukan sebuah persoalan penting di persoalkan oleh dua kakek saya. Misalnya, sewaktu kelas 3 SR, saya punya kucing. Waktu itu saya belum tahu kalau saya tidak punya ikatan batin yang kuat dengan binatang. Saya yang tidak begitu suka binatang tiba-tiba harus diikuti oleh kucing setiap hari. Hal ini membuat saya tidak nyaman. Supaya tidak menciptakan kejengkelan saya mengikat kucing itu. Naun kakek saya memberitahu kalau saya tidak boleh mengikat kucing. Ia kemudian menjelaskan bahwa kucing tidak boleh diikat. Kakek saya menjelaskan tabiat kucing dan anjing. Pesan beliau kemudian saya kenang: catatlah semua dan segala yang kamu alami dan kamu pikirkan. Namun karena masih kanak-kanak dan belum bisa menahan diri dari kejengkelan, akhirnya saya tidak tahan diikuti terus oleh kucing dan menendang binatang tersebut!

Suatu hari kucing itu tidak kelihatan. Sehari tidak kelihatan. Dua hari tidak kelihatan. Setelah beberapa hari tetap tidak kelihatan, kakek dan nenek saya bertanya dimana kucing tersebut. Karena saya juga tidak tahu kemana kucing itu pergi, mereka menyuruh saya mencarinya. Sayangnya pencarian tidak membuahkan hasil. Setelah berhari-hari tidak ketemu, muncul bau busuk dari dalam rumah, dengan intensitas yang makin keras setiap hari. Kami kemudian mencari sumber bau itu. Ternyata si kucing meninggal di bawah lumbung padi. Saya akhirnya disuruh mengubur kucing itu. Malamnya saya tidak bisa tidur. Kakek saya malam-malam masih mendaras Quran. Saya malam-malam keluar dan kebingungan. Dalam keadaan bingung seperti itu kakek menasehati saya supaya mendaras Quran juga.

Pukul 12 malam, saat saya masih juga tidak bisa tidur, kakek memunculkan pertanyaan yang sebenarnya merupakan awal proses kreatif: kenapa kucing itu meninggalnya di dalam lumbung? Kenapa tidak mati di dapur? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Beberapa hari kemudian, sekitar jam 4 sore, kakek saya mengulangi pertanyaan serupa. Saya kebingungan. Ia kemudian memberi pintu jawaban dengan pertanyaan lain: kenapa kucing itu meninggalnya tidak di dapur, mengapa tidak di beranda, tidak di ruang tamu? Sebelum jam 8 malam, akhirnya kakek saya berkata bahwa hewan kalau mati seperti itu merasa bahwa maut sedang mendekat ke dirinya.

Saya pikir itu sudah selesai. Tapi ternyata tidak. Kakek saya memberi persoalan baru kepada saya: di sawah yang banyak burung Emprit, itu kalau burungnya mati, apa kau tahu matinya dimana? Saya di suruh ke sawah dan mencari bangkai burung Emprit. Namun saya tidak bisa menemukannya. Baru pada tahun 1972 saya menemukan jawabannya. Saya menemukan bahwa di Medini, Kendal, ada sebuah jurang yang menjadi tempat kuburan burung Emprit. Di celah ini banyak sekali bangkai burung. Saya pernah menunggui proses burung sekarat sampai mau mati, namun tidak pernah berhasil. Baru tiga hari kemudian saya dikasih tahu bahwa burung itu sudah meninggal. Ini mengingatkan saya dengan ucapan Kakek di masa kanak-kanak. Ketika saya dikhitan, kakek saya memberikan wejangan lain: semua burung diberi firasat bahwa kalau mereka mau mati, ia mencari tempat sunyi, diam, dan mati.

Persoalan kematian burung di masa kanak-kanak dan penemuan jurang yang menjadi tempat burung-burung itu mengakhiri hidupnya menghadirkan sesuatu yang menghentak: kalau hewan saja bisa merasa maut sedang mendekat padanya, kenapa manusia tidak akan tahu kalau maut sedang mendekat padanya? Itulah mengapa di Jawa ada selamatan Seribu Hari meninggalnya seseorang. Selamatan itu sebenarnya bukan untuk si mati, namun penanda bagi yang masih hidup. Itulah cara agar manusia mencandra dengan baik seribu hari sebelum maut benar-benar mendekat dan mengambil nyawanya.

Itulah salah satu contoh proses kreatif di masa kecil, sesuatu yang tidak bisa saya lupakan sampai sekarang. Apa yang kita peroleh dan apa yang kita punya di masa kecil itulah yang menghidupkan dan dijadikan landasan hidup, untuk menggali apa yang terjadi, atau untuk menemukan jawaban dari rahasia di hari-hari ini.

Apa kaitannya dengan filsafat? Ada yang betul-betul membuat saya rusak. Setiap minggu kakek saya mengasah pisau atau senjata di rumahnya dengan tiga asahan. Saya bertanya apakah kebiasaannya mengasah tersebut agar pisau atau senjatanya jadi makin tajam? Ia menjawab tegas: Tidak! Ia berkeras bahwa mengasah itu bukan menajamkan, tapi membersihkan. Dalam dirinya sendiri pisau menyimpan ketajaman. Yang membuatnya tidak tajam adalah karena tidak pernah dibersihkan. Pisau juga tidak memiliki beban dengan ketajamannya atau kemajalannya sendiri. Di sinilah kecelakaan yang kesekian kalinya terjadi pada diri saya. Kalau kau pandai itu sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Apa bukti anak pandai? Ada dua ukuran yang dipakai. Pertama, kepandaian dan kecerdasan bukan jadi beban dari si pisau. Ukuran lainnya adalah kemauan untuk membersihkan kepandaian yang ada dalam diri kita lewat berbagai cara. Bertahun-tahun kemudian saya sadar bahwa kepandaian tidak perlu menjadi beban bagi orang yang memilikinya.

Ada pengalaman lain yang membentuk proses kreatif saya. Dulu Dosen saya, Professor Haryono Sumangun, kalau mengajar sering tidak datang, dan kalau mau ujian mahasiswanya selalu ditanya: Mana catatan kuliahmu? Syarat ikut ujian adalah memiliki catatan kuliah. Kalau tidak punya dan kita tetap mau ikut ujian syaratnya harus mencatat bahan punya teman.  Itu sebenarnya cara kuno warisan pendidikan Belanda. Untuk mencipta, paling tidak kita harus memiliki catatan-catatan. Orang bisa saja menulis tanpa referensi apa pun secara tertulis. Namun ia bisa tetap menulis karena otak mencatat kejadian-kejadian yang kita alami sehari-hari.

Secara antropologis, saya bisa katakan bahwa  saya dibesarkan dalam lingkungan priyayi, di rumah berpagar tembok dan terletak di pusat kota. Saya bukan berasal dari priyayi keraton, meski kakek saya berasal dari priyayi keraton, tapi dari kaum priyayi intelektual. Kakek buyut saya berasal dari kalangan mantri. Waktu kecil saya dipanggil “Gus” karena status kepriyayian intelektual ini. Di masa itu saya masuk SMP satu-satunya di kabupaten Magetan. Ada teman sekolah bernama Mardi yang suka berangkat ke sekolah dengan pakaian putih bersih meskipun ia berasal dari Magetan dan bukan berasal dari orang kaya. Saya mendatangi rumahnya dan kaget melihat tiadanya kesamaan antara Mardi di sekolah dan Mardi di rumah. Sejak saat itu saya punya obsesi untuk keluar dari ruang nyaman yang sejak kecil saya tempati. Di SMP itu saya punya teman Tionghoa bernama Yao Gu Liong. Sejak kecil Gu Liong tidak pernah tidur di rumahnya sendiri. Ia lebih suka tidur di rumah teman-temannya, termasuk di rumah saya. Potongan fisik dia benar-benar Tionghoa, namun hati, sikap, dan perilakunya betul-betul Jawa. Ia sekolah di TK Muhammadiyah. Bahkan dalam keadaan sakit pun ia lebih suka tidur di rumah temannya. Sejak masa kanak-kanak ia sudah menetapkan hati akan hidup dengan cara Islam.

Keberaniannya keluar batas etnis dan kultur itu membuat saya terheran-heran. Ia bergaul dengan orang-orang Jawa dan mereka yang beragama lain dengan dirinya. Bahkan dalam memilih pasangan pun ia lebih berharap menikah dengan orang Jawa daripada orang yang satu etnis dan satu latarbelakang kultural dengan dirinya. Akibat harapannya itu ia mengalami kesulitan menemukan pendamping hidup. Situasinya menjadi makin susah karena adiknya, Yao Hu, hanya mau menikah setelah kakaknya menikah. Gu Liong itu akhirnya menikah dengan perempuan anak seorang pemilik toko emas di Coyudan, meski pun istrinya tetap katolik, sedangkan ia menikah dengan cara Islam. Sekarang ia sudah haji. Pandangan antropologis saya banyak dipengaruhi oleh dia, terutama pada aspek pluralitas, dan kebutuhan saya terus menerus untuk turun ke bawah sebagai cerminan saya sebagai seorang priyayi. Yao Gu Liong inilah yang akhirnya menginspirasi saya untuk menulis novel. Di masa berikutnya saya menuliskan peribahasa-peribahasa Nusantara untuk memberikan posisi yang tepat atas peribahasa-peribahasa  nusantara tersebut dalam kehidupan kita yang seolah kehilangan jangkar nilai-nilai hidup agar tidak hilang arah di dunia yang makin tanpa kendali ini.

Pencarian kepriyayian saya itu pula yang justru membuat saya terus mencari apa itu rakyat. Itu yang membuat saya tidak mau ke Jakarta karena saya tidak melihat rakyat di sana. Saya selalu berpikir mereka yang di Jakarta, terutama yang termarginalkan dan hidup di bawah garis kemiskinan, dianggap rakyat saja tidak. Mereka, di Jakarta, dianggap di bawah rakyat. Rakyat, dalam falsafah hidup orang Jawa berlatar priyayi seperti saya, masih menemukan ruang nyaman untuk hidup. Dalam batas-batas tertentu mereka masih memiliki kebebasan untuk mengelola hidupnya sendiri. Setelah saya dewasa, pemikiran tentang latarbelakang diri saya sebagai seorang priyayi, refleksi saya tentang rakyat, dan dunia di luar diri saya yang luar biasa majemuk membuat saya merasa ada dunia di luar diri saya yang harus saya temui. Itu yang membuat pemberontakan saya setelah besar mencapai titik kulminasinya.

Usaha untuk keluar dari dunia yang semula saya akrabi itu muncul dalam hubungannya dengan Malioboro. Ada orang yang bertanya apakah saya menulis secara berturut-turut puisi yang ada di dalam kumpulan Puisi “Orang-orang Malioboro 1969-2009.” Tidak, saya tidak menulisnya secara berturut-turut. Namun puisi itu semua ada di kepala saya dan sudah jadi. Saya mengalami tahun 1969 dan 2009. Saya bertemu dengan orang-orang yang menjadikan Malioboro sebagai tempat hidupnya. Padahal manusia harus bergerak. Saya pribadi merasa Malioboro adalah bagian hidup saya, sekali pun saya bepergian jauh dari Malioboro. Bagi orang-orang yang menganggap Malioboro sebagai tempat hidupnya, mereka gagal melihat Malioboro, karena kita terlalu dekat dengan Malioboro itu sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan kanak-kanak (pertanyaan innocencia) itulah mungkin yang membuat atau menciptakan takdir saya sebagai seorang penulis. Pertanyaan  polos itu bisa menjadi pertanyaan kreatif dan bisa melahirkan kreativitas.  Pertanyaan-pertanyaan kreatif itu membikin hal-hal sederhana menjadi menarik dan menampakkan sisi luar biasa dan rumitnya. Dalam hal proses kreatif, karenanya, tidak ada persoalan benar salah. Yang ada adalah bagaimana sang penulis menjabarkan apa yang ia anggap sebagai yang benar dengan kisah atau paparannya.

Aturan dalam menulis dan Hantu para penulis

Lalu bagaimana para penulis menyikapi aturan-aturan? Penulis berada pada posisi antara menerima dan tidak menerima aturan. Penulis atau seniman atau insan yang kreatif harus liar, tapi pada saat yang sama juga harus terkontrol. Orang-orang yang konservatif tidak bisa menjadi kreator. Kasus-kasus di masa kecil saya sudah dipenuhi dengan hal-hal yang menjadi koridor proses kreatif. Misalnya segala kenakalan boleh saya lakukan, kecuali mabuk, karena dalam pandangan kakek dan nenek saya mabuk itu bisa menghancurkan saraf-saraf kepala. Dalam menulis berlaku kata-kata bijak berikut ini: Siapa yang membuat jalan untuk pertamakali dialah yang akan paling bisa memakai jalan itu. Misalnya, pemanjat kelapa adalah orang yang paling ahli memanjat kelapa karena dialah yang membuat takik-takik di pohon kelapa untuk keperluan dirinya sendiri. Norma-norma sosial yang dipengaruhi oleh individualisme itu sebenarnya dipengaruhi oleh orang-orang seperti pemanjat kelapa. Karakter khas sebuah karya sastra bisa mengambil amsal para pemanjat kelapa tersebut.

Itulah yang sebenarnya ingin saya utarakan: berangkatlah dari apa yang ada dalam diri kita, jangan berangkat dari teori-teori yang sudah ada sebelumnya, karena kisah atau tulisan menjadi otentik lewat hal-hal yang kita peroleh atau kita alami daripada mengambil sesuatu dari luar. Bahkan, di masa pertengahan proses kreatif saya, saya memutuskan untuk tidak membaca buku karena buku-buku itu membuat saya memilih apa yang saya sukai, bukan apa yang tidak saya sukai. Kreativitas, dalam teori-teori Barat, itu hanya memperluas atau memperlebar. Kreativitas manusia ini makin dipersulit oleh kesadaran bahwa kehidupan bergerak makin cepat. Tidak ada ruang yang cukup luas untuk melakukan refleksi dan peneraan yang presisif ata segala sesuatu yang kita alami.

Hambatan terbesar kalau seseorang sudah bisa menulis dengan standar kepenulisan yang sesuai harapannya adalah situasi yang membuatnya mengalami kesulitan dalam menulis. Kemacetan dalam menulis ini menjadi momok tersendiri bagi seorang penulis. Dalam kasus saya, problem ini harus dicari dulu akarnya. Kita harus percaya pada diri kita sendiri, berlatih jujur kenapa kita sedang tidak bisa menulis. Apa yang paling kita rasakan dalam batin kita harus diakui. Ada salah satu tanaman yang masa stagnasinya paling lama, yaitu pohon manggis. Pohon manggis mengalami masa stagnasi satu tahun. Hanya setiap tahun ia menambah sepasang daunnya di masa pertumbuhan. Mungkin itu yang menjadi amsal lama: tebak-tebak buah manggis.

Di samping persoalan macet dalam menulis, persoalan lain yang sering menghadang seseorang dalam menulis adalah karena ia kehabisan ide-ide menarik. Ide itu sebenarnya sudah ada, hanya saja kita sering menolak ide yang ada dalam diri kita namun mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kesalahan kita dalam menemukan kekasih adalah karena kita gagal menemukan orang yang sebenarnya mencintai kita. Makanya jauh lebih baik menemukan orang yang mencintai kita, bukan kita yang mencintai orang yang belum tentu mencintai diri kita.

Bahasa tulisan dan lima tahap penalaran

Dalam menulis, orang sering mengalami kebingungan dalam penggunaan bahasa dan logika atau tahap-tahap penalarannya. Apakah aku harus menggunakan bahasa yang filosofis? Apakah harus menggunaan bahasa sastrawi? Apakah harus menggunakan bahasa jurnalistik? Tentang bahasa ini, saya membedakannya menjadi tiga macam, yaitu bahasa filsafat, bahasa ilmu pengetahuan, dan bahasa sastra. Bahasa filsafat memiliki ciri mempertanyakan, bahasa ilmu pengetahuan memiliki ciri menjelaskan, sedangkan bahasa sastra memiliki ciri menggambarkan. Kita harus membedakan ragam bahasa ini sebelum menggunakan atau memanfaatkannya dalam tulisan.

Problem lain yang sering kali menjadi pemikiran saya adalah ‘problem menghadap.’ Rumah Natya menghadap ke timur. Dalam proses itu masih bisa dipertanyakan: apa sebabnya dikatakan rumah itu menghadap ke timur? Karena pintu masuknya di sebelah timur. Konstruksi rumah yang menempatkan pintu masuk di sebelah timur. Tapi masjid menghadap kemana? Masjid menghadap ke qiblat, meski pun pintu masuknya di sebelah timur.

Maka dalam pandangan saya, ada lima tahap penalaran yang penting sebagai basis penciptaan sebuah tulisan. Kelima tahap penalaran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Teori konstruksi: rumah Natya menghadap ke timur karena pintu masuknya di timur.
  2. Teori fungsi: masjid itu predikat, karena subyeknya bangunan. Bangunan disebut masjid kalau dipakai untuk beribadah.
  3. Teori tujuan: Lokomotif menghadap bukan ke barat atau ke timur atau untuk fungsi, namun ditentukan arahnya oleh tujuan.
  4. Orang bisa menentukan sesuatu menghadap kemana berdasarkan simbol-simbol yang ada pada sebuah benda. Simbol itu tidak menjelaskan dirinya sendiri, namun menjelaskan dirinya sendiri
  5. Teori tabula rasa: terserah mau dikatakan menghadap seperti apa sebuah kertas putih yang tergeletak di atas lantai sepanjang kita bisa menjelaskan alasannya yang tertib, kritis, analitis, logis, dan dialektis.

Comment here