AnalisisSosial

Pasca Gejayan….

seruan-aksi-damai-gejayan

Oleh: Sengon Karta 

Ketidakadilan menjadi isu utama pecahnya gerakan mahasiswa di penghujung periode pemerintahan Jokowi tahun 2014-2019. Entah siapa yang mengawali atau memantik serta mengorganisir mereka. Serentak mahasiswa dari berbagai daerah turun ke jalan, mulai dari Sumatera hingga belahan timur Indonesia. Di pusat pemerintahan yaitu Jakarta juga tak kalah ramai. Bentrok antar aparat dengan mahasiswa menjadi pemandangan di depang Gedung DPR RI. Penyebabnya belum jelas, namun secara pasti mahasiswa demonstran adalah individu-individu yang memiliki solidaritas di dalam dirinya.

Mahasiswa merupakan bagian irisan dari masyarakat luas ini, tentu memiliki solidaritas. Menurut Durkheim fakta sosial menjadi aturan awal setiap individu bersosial, di dalamnya terdapat aturan yang tertulis ataupun tidak tertulis (Durkheim, 1960). Melalui fakta sosial individu diajarkan tata cara bermasyarakat sehingga hasilnya dalam sebuah masyarakat tercipta solidaritas. Solidaritas secara tidak langsung merupakan sesuatu nilai yang diyakini di dalam sebuah kelompok masyarakat. Durkheim membuat analisis sebelum terjadinya revolusi industri masyarakat bercorak solidaritas mekanik, kemudian pasca revolusi industri solidaritas itu berubah menjadi organik namun tidak mengubah corak sebelumnya (Durkheim, 1960). Perbedaan secara fundamental di antara kedua solidaritas tersebut yaitu; solidaritas mekanik bersifat kepercayaan dan sanksi represif, sedangkan solidaritas organic menekankan pada rasional individu serta pemberian sanksi restitutif.

Solidaritas sosial mekanik menurut Durkheim bergantung pada kesadaran kolektif dan individu yang inheren, intensitas dan kondisi masyarakat membentuk kesadaran kolektif (Durkheim, 1960). Artinya kesadaran antara kolektif dengan individu di dalamnya tidak mengalami perbedaan signifikan. Misalnya saja di dalam masyarakat dapat dikategorikan melalui kesadaran bersama dan terpisah yang mereka pegang. Lalu setelah itu antar individu di dalamnya saling berinteraksi secara intens, dikarenakan satu sama lain saling bergantung. Penyebabnya belum memiliki pembagian kerja secara jelas, satu kelompok mengerjakan pekerjaan secara bersama-sama. Namun hal paling penting dalam solidaritas mekanik, kelompok yang membentuk kesadaran individu di dalamnya. Individu terikat pada sistem sosial yang berlaku. Apabila individu melanggar akan mendapatkan sanksi secara represif melalui kesepakatan kelompok tersebut.

Lain halnya dengan solidaritas sosial organik, solidaritas ini tercipta pasca terjadinya revolusi industri di Eropa. Pasca revolusi industri tersebut Durkheim meilhat adanya sebuah transformasi solidaritas dalam masyarakat. Revolusi Industri menciptakan adanya pembagian kerja secara spesifik atau spesialisasi kerja. Efeknya individu bertindak berdasarkan kesadaran dirinya sendiri. Tindakan-tindakan individu ini yang kemudian diserap ke dalam kesadaran kolektif (Durkheim, 1960). Namun ketika individu dianggap melanggar kesadaran kolektifnya, secara langsung hukum yang diterapkan bertujuan untuk memulihkan sistem sosial. Agar sistem sosial dapat pulih dan tidak terjadi kekacauan.

Bagaimanapun masyarakat setiap harinya mengalami transformasi, salah satunya melalui teknologi. Teknologi menghasilkan berbagai inovasi yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Salah satunya internet menciptakan anak emasnya bernama sosial media. Sosial media dalam perspektif Durkheimian menyebutkan sebagai sosial, karena keberadaan manusia di dalam masyarakat membentuk sebuah hubungan sosial yang membentuk kesadaran. Individu ini saling bertukar simbol dalam berkomunikasi, sehingga individu eksis di dalam masyarakatnya (Fuchs, 2017). Masyarakat di dalam sosial media disebut sebagai masyarakat digital. Masyarakat digital pada umumnya hanya diartikan secara mendasar merupakan masyarakat yang memahami teknologi sebagai sarana berinteraksi atau bertukar simbol (VSNU, 2016).

Lebih lanjut mengenai masyarakat digital memiliki beberapa karakteristik apabila disebut sebagai fakta sosial. Masyarakat digital direpresentasikan dengan sosial media, individu yang terkoneksi dengan jaringan internet, dan data asli (Levin, 2014). Tiga hal tersebut mengakibatkan manusia membuat sebuah kebudayaan baru. Kebudayaan ini ditentukan melalui interaksi individu dalam ruang virtualnya. Produk kebudayaan itu bernama hashtag, hashtag merupakan cara individu berkomunikasi secara luas di sosial media. Menggunakan hashtag mempermudah individu menjangkau orang lain lebih luas daripada antar akun. Di sosial media untuk menyebarluaskan sebuah wacana dapat lebih efektif menggunakan hashtag. Fungsi komunikatif hashtag ini dapat diidentifikasi menjadi sepuluh, yaitu; penandaan sebuah topik, agregasi, bersosialisasi, alasan, ironi, penyediaan metadata, mengekspresikan sikap, memulai gerakan, propaganda, dan pemasaran merk (Laucuka, 2018).

Memulai gerakan sosial di era digital hari ini dapat melalui sosial media. Kasus Prita dengan delik pencemaran nama baik salah satu rumah sakit di Tangerang menjadi pemicu awal gerakan sosial berbasis sosial media. Orang-orang menggunakan hashtag #koinuntukprita sebagai percakapan luas. Koin tersebut bertujuan untuk membayar denda agar tidak dipenjarakan, tren tersebut kemudian meluas hingga hari ini. Salah satu contohnya adalah gerakan 212 yang menggerakkan massa luas secara rill, agar terpenuhinya status Ahok sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama.

Belum lama di tanggal 23 September dan 30 September 2019 di Yogyakarta terjadi mobilisasi massa besar-besaran merespon terkait adanya isu nasional bernama Gejayan Memanggil. Gerakan ini bukan hanya di Yogyakarta, namun juga terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Gerakan Gejayan Memanggil ini sempat berada pada posisi pertama selama 22-23 September 2019 di Twitter, dengan hashtag #gejayanmemanggil. Artinya banyak dari masyarakat menggunakan akunnya mencuit dengan tagar tersebut. Hal ini berdampak pada realitanya, ribuan orang melakukan demonstrasi di pertigaan Gejayan. Ini suatu bukti gerakan sosial dapat dimulai melalui ruang virtual.

Tujuan dari artikel ini untuk menjelaskan fenomena sosial sebuah gerakan sosial yang berawal dari sosial media. Meminjam teori solidaritas mekanik dan solidaritas organik untuk dijadikan sebagai pisau analisis. Sebab dalam fenomena gerakan sosial yang berasal dari tagar di sosial media tidak menggunakan cara-cara pengorganisiran secara, maksudnya tidak melakukan edukasi politik secara riil. Sosial media sebagai penentu gerakan sosial ini dipantik, serta mengaktifkan pelawanan pada masyarakat digital khususnya di Yogyakarta dalam bentuk aksi massa.

***

Gerakan Gejayan Memanggil 1 dan 2 memiliki semangat membangkitkan ingatan aktivis khususnya mahasiswa pada protes besar-besaran guna menggulingkan rezim Soeharto. Gejayan merupakan sentrum protes mahasiswa kala itu di Yogyakarta. Berbeda sekali dengan gerakan mahasiswa era sebelum reformasi. Gejayan Memanggil melakukan mobilisasi melalui sosial media. Dampaknya tentu secara meluas dan tergantung pada algoritma mesin. Algoritma merupakan suatu cara dari mesin sosial media dengan tujuan mengendalikan konten secara personal dari kebiasaan penggunanya (Stalder, 2013). Hal itu tampak berdasarkan pada kesukaan postingan dari akun sendiri serta akun-akun yang diikuti.

Algoritma ini membentuk sebuah jaringan digital yang mengoneksikan antar akun. Artinya akun-akun ini dapat dikumpulkan dalam satu klasifikasi, salah satunya Gejayan Memanggil. Sejauh apa topik ini dibicarakan serta dibagikan, seberapa besar pengaruhnya. Gejayan Memanggil punya pengaruh besar membuat kesadaran kolektif secara nyata. Tilly berpendapat keadaan sosial  dapat dilihat dari kesadaran sosial berlawanan dengan kondisi ketegangan (Tilly, 1981). Namun kenyataannya hal itu berubah drastis di era hari ini. Gerakan sosial di era digital menggerakkan massa melalui atas nurani kolektif yang melihat sebuah realita.

Nurani kolektif atau kesadaran kolektif yang berhasil dipantik oleh Gerakan Gejayan Memanggil ini menimbulkan respon turun ke jalan. Gejayan Memanggil memainkan naraasi-narasinya di dalam sosial media. Narasi-narasi ini adalah isu utama yang ingin disampaikan kepada publik, sebab ketika aksi massa terjadi nyatanya tidak ada simbol kekuasaan sebagai lawannya. Aksi ini dilakukan di pertigaan pertemuan jalan kolombo dan gejayan. Isu-isu yang diangkat di dalam pers rilisnya bertujuan untuk mengajukan klaim atas ruang publik . Tidak ada desakan begitu berarti karena tidak mengarah atau berhadap-hadapan dengan simbol kekuasaan. Namun makna pemilihan Gejayan bukan tanpa sebab, sebagai bentuk bahwa demokrasi di kantor-kantor pemerintahan mengalami pengerasan. Oleh karenanya Gejayan menjadi simbol bahwa demokrasi perlu dikembalikan maknanya, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Sosial media sebagai salah satu instrument hasil teknologi dapat digunakan untuk membuat wacana di tengah-tengah masyarakat. Isu RKUHP dan RUU KPK yang diangkat oleh Gejayan Memanggil dapat membuat kesadaran kolektif aktif, dan memiliki kesadaran menjadi satu dan yakin bahwa negara sedang tidak baik-baik saja. Cara-cara merupakan cara-cara untuk melawan sebuah otoritas tunggal, menjadikan sosial media sebagai piranti propaganda isu (Bradshaw & Howard, 2019). Kesadaran kolektif masyarakat terbentuk dari akun Gejayan Memanggil yang mengunggah mengenai perjuangan mahasiswa 98, bahaya RKUHP, dan lemahnya KPK setelah pengesahan RUU KPK.

Bila dibandingkan dengan gerakan Islam 212, gerakan Gejayan Memanggil memiliki kemiripan dalam metode menggunakan sosial media. Gerakan Islam 212 juga menggunakan sosial media dalam penyebaran kesadaran agar lebih luas sasarannya (Pamungkas & Octaviani, 2017). Sosial media lebih efektif membuat dan mengaktifkan rasa solidaritas mekanik, selama makna dibalik isu yang disebarluaskan turut dirasakan dan mengikat dan menjadi keyakinan masyarakat melihat realita. Sosial media membantu satu sama lain individu untuk terkoneksi secara efektif dan efisien.

***

Gerakan Gejayan Memanggil mengalami penambahan isu yang menjadi tuntutan daripada sebelumnya. Bukan hanya menitikberatkan pada kasus RKUHP dan RUU KPK, namun meluas dengan menambahkan isu agraria dan perburuhan. Gejayan Memanggil memperluas isu supaya dapat menjamah kelompok masyarakat lainnya. Karena isu RKUHP dan RUU KPK mayoritas mahasiswa sebagai partisipannya. Maka dari itu muncul Gerakan Gejayan 2 sebagai gerakan lanjutannya.

Gerakan sosial tidak selalu mengalami keberhasilan, namun juga pastinya menelan kegagalan-kegagalan. Keberhasilan dari gerakan Gejayan Memanggil mampu menarik kesadaran di ruang virtual menjadi gerakan konkret di masyarakat. Sosial media secara eksplisit mampu mengajak partisipasi individu yang sepakat dengan isu-isu terkait dari dunia digital ke bentuk konkret (Villi & Matikainen, 2016). Karenanya ketika melancarkan aksi, banyak partisipasi khususnya dari mahasiswa untuk mengambil bagian. Belum adanya partisipasi secara luas dianggap menjadi salah satu bentuk kegagalan gerakan Gejayan Memanggil, sehingga di Gejayan Memanggil 2 isu pun lebih diperluas.

Kegagalan yang dimaksud adalah tidak terjadinya sebuah keinginan atau cita-cita bersama dalam tuntutan gerakan. Problem ini dapat dilihat dari tidak adanya respon balik dari negara dalam melihat gerakan Gejayan Memanggil penting. Dalam perspektif gerakan sosial Durkhemian, gerakan sosial dianggap gagal dalam mentransformasikan masyarakat. Alasannya tidak ada gerakan sosial jika pesertanya tidak memiliki makna dengan individu lain dan sub-kelompok (Segre, 2016). Artinya individu di dalam kelompok bila tidak memiliki kesadaran merata, tentu hanya sebagai ajang aksi dadakan. Aksi yang secara implisit dapat disebut sebagai tidak memiliki pengaruh signifikan.

Bukan berarti teori Durkhemian tidak memberikan ide mengenai keberhasilan sebuah gerakan sosial dalam perspektif mereka. Gerakan sosial bukan hanya berdampak langsung atau tidak langsung terhadap regulasi negara, namun juga berimbas pada kelompok atau masyarakat yang terkena dampak (Lukes, 1975). Gerakan Gejayan Memanggil jauh dari itu, untuk dapat berdampak dengan regulasi negara saja belum, apalagi mengenai dampak kepada masyarakat ketika berbicara isu RKUHP dan RUU KPK. Pun ketika hanya mengambil ruang publik masyarakat dari negara saja masih belum mampu, oleh sebab itu gerakan Gejayan Memamnggil perku memiliki formulasi bila akan mengadakan aksi-aksi lagi. Maupun menjadi masukan kepada gerakan dari inisiasi masyarakat.

Jika merujuk pada teori Durkheimian keberhasilan gerakan diukur melalui dua unsur. Pertama gerakan sosial dapat mengeksplorasi kaitan dengan jaringan lainnya baik itu individu atau kelompok (Snow & McAdam, 2000), kedua menjadi jembatan dalam transformasi serta membentuk atribut identitas kolektif kepada siapapun baik yang mendukung atau bahkan sebagai lawan (Hunt, Benford, & Snow, 1994). Gerakan Gejayan Memanggil 1 gagal dalam urusan mengeksplorasi gerakan dengan jaringannya, disebabkan lebih menekankan isu dari keresahan mahasiswa atau akademisi. Berbeda dengan Gejayan Memanggil 2, memasukkan isu-isu yang lebih kompleks. Serta Gejayan Memanggil dalam menentukan identitas kelompok masih terlalu umum, sehingga menimbulkan isu untuk ditunggang sebagai lawan isu yang dimainkan negara.

***

Gejayan Memanggil 1 dan 2 merupakan gerakan yang dibangun melalui sosial media, gunanya merespon adanya isu ketidakadilan di masyarakat. Gejayan Memanggil 1 memiliki kekhususan dalam membuat kesadaran kolektif masyarakat dengan mengingatkan akan aktivisme di tahun 98 waktu itu. Menyoroti Gejayan Memanggil 1 menitikberatkan pemberitahuan kepada masyarakat untuk segera menyikapi hal tersebut. Namun kegagalannya dari gerakan pertama ini tidak memiliki kejelasan agar memenangkan tuntutan. Gejayan Memanggil 1 memantik gerakan-gerakan khususnya mahasiswa di berbagai belahan daerah di Indonesia. Gejayan Memanggil 1 sukses membawa wacana di ranah virtual menjadi sebuah kegiatan aksi massa konkret di jalan.

Pasca itu tidak berselang lama kurang lebih dalam waktu satu minggu Gejayan Memanggil 2 kembali hadir ke jalan. Kali ini lebih kompleks dengan menambah isu di luar isu sebelumnya. Artinya Gejayan Memanggil 2 secara tidak langsung menyadari akan kegagalannya, sehingga perlu mengajak kelompok masyarakat lainnya di luar mahasiswa agar tegabung dalam gerakan ini. Gejayan Memanggil 2 juga belum mendapatkan hasil secara konkret, yaitu mempengaruhi atau menentukan regulasi negara. Namun tetap menghasilkan sebuah kesadaran baru, bahwa konteksnya secara umum Indonesia dalam keadaan tidak baik-baik saja sehingga perlu merespon kondisi tersebut. Ajakan atau penyadaran melalui sosial media masih menjadi cara efektif dan efisien, dapat mengumpulkan massa yang kurang lebih tidak jauh berbeda dari sebelumnya secara kuantitas.

Kedua gerakan ini masih mengalami serangan wacana yang sama, mengenai isu penunggangan gerakan. Penyebabnya Indonesia pasca pemilu 2019 di bulan April mengalami polarisasi politik secara tajam. Gerakan Gejayan Memanggil 1 dan 2 perlu memberikan keterangan secara jelas identitas kelompok maupun individu partisipannya. Agar dapat meminimalisir potensi wacana-wacana tandingan kontra produksi tersebut. Meskipun kemudian ketika di jalan meleburkan identitas kelompok dan individu menjadi nama aliansi yang telah ditentukan.

Perlu sekiranya untuk membuat gerakan Gejayan Memanggil 3 melihat kondisi yang belum berubah pada negara. Sebab dua gerakan sebelumnya masih nihil hasil terkait mengubah regulasi dan kondisi. Tidak dapat dipungkiri perlu mengoreksi mengenai kegagalan-kegagalan dua gerakan sebelumnya, serta mampu membetulkan secara jelas. Membuat serangkaian produksi kesadaran-kesadaran dalam menyikapi kegamangan negara meskipun telah terjadi aksi dimana-mana, jatuhnya korban dan tidak terjadinya perubahan di masyarakat. Oleh sebab itu satu-satunya saran membuat Gejayan Memanggil 3 dan seterusnya hingga negara tidak lagi sewenang-wenang.

 

 

 

Daftar Pustaka

Durkheim, E. (1960). The Division of Labor In Society. (G. Simpson, Trans.) America: Noble Offset Printers, Inc.

Fuchs, C. (2017). Social media. Sage Publications Ltd .

VSNU. (2016). Digital Society. VSNU .

Levin, I. (2014). Cultural Trends In Digital Society. TMCE .

Laucuka, A. (2018). Communicative Functions Of Hashtags. Sciendo .

Stalder, F. (2013). Digital Solidarity. London: Mute, Post-Media Lab.

Tilly, C. (1981). As Sociology Meets History. New York: Academic Press.

Bradshaw, S., & Howard, P. N. (2019). The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation. Oxford: Oxford Internet Institute.

Pamungkas, A. S., & Octaviani, G. (2017). Aksi Bela Islam dan Ruang Publik Muslim: Dari Representasi Daring ke Komunitas Luring. Jurnal Pemikiran Sosiologi .

Villi, M., & Matikainen, J. (2016). Participation in Social Media: Studying Explicit and Implicit Forms of Participation in Communicative Social Networks. Cogitatio .

Segre, S. (2016). A Durkheimian Theory of Social Movements. International Journal of Social Science Studies .

Lukes, S. (1975). Emile Durkheim. His Life and Work . New York: Penguin Books.

Snow, D. A., & McAdam, D. (2000). In S. Stryker, T. J. Owens, & R. W. White, Self, Identity, and Social Movements. Minneapolis: University of Minnesota Press .

Hunt, S. A., Benford, R. D., & Snow, D. A. (1994). Identity Fields: Framing Processes and the Social Construction of Movement Identities. In E. Larana, H. Johnston, & J. R. Gusfield, New Social Movements: From Ideology to Identity. Philadelphia: Temple University Press.

Comment here