Mengapa Sejarah?

Menyaksikan situasi bangsa kita saat ini, barangkali tidak ada kata lain selain kata memprihatinkan. Persoalan-persoalan pelik yang melanda bangsa ini silih berganti datang. Belum usai persoalan yang satu sudah disusul oleh persoalan berikutnya yang tak kalah pelik, dan begitu seterusnya. Semua itu akan terakumulasi menjadi “timbunan lemak jahat” yang pelan tapi pasti menggerogoti kekuatan kita sebagai bangsa. Karenanya, persoalan-persoalan mengenai identitas kebangsaan yang sekarang sedang mengalami krisis kepemimpinan dan keteladanan selalu menjadi tema menarik dan penting juga sangat relevan untuk dibicarakan pada masa sekarang. Karena itu wacana tentang pembentukan identitas kebangsaan di atas pondasi pendidikan sejarah menjadi gagasan yang sangat penting dalam upaya mengembalikan jati diri bangsa atau kepribadian bangsa Indonesia yang sudah diukir dalam sejarah oleh para founding fathers kita dalam berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Pendidikan sejarah sangat penting untuk pembentukan identitas kebangsaan

Keprihatinan ini semakin mendalam ketika melihat kondisi Indonesia sekarang yang di landa berbagai krisis, mulai dari krisis kepemimpinan, krisis kebudayaan, krisis keteladanan, krisis moral, dan terutama krisis identitas kebangsaan yang sekarang lagi melanda para pemimpin bangsa ini. Lihat saja tingkah laku para pemimpin kita, para elit negara baik eksekutif maupun legislatif tidak membawakan aspirasi rakyat, namun para elit negara hanya sibuk berebut kekuasaan dengan wacana koalisi, oposisi, pemilukada, pansus, dan lain sebagainya, sehingga rakyat justru merasa tidak memiliki kedaulatan di era reformasi ini. Di tengah-tengah berbagai kesulitan hidup rakyat saat ini justru para wakil rakyat kita, bersemangat untuk membangun gedung DPR yang baru senilai 1,8 Trilliun, mobil baru untuk para menteri negara yang masing-masing senilai hampir ¾ milliar, wacana gaji presiden dan pejabat negara. Seorang anggota wakil rakyat atau para pejabat yang diproses dalam peradilan karena korupsi, di televisi masih tersenyum dan melambaikan tangan kepada penonton, sehingga terkesan seakan-akan pelanggaran itu biasa-biasa saja. Selain itu mimbar terhormat wakil-wakil rakyat kita, baik dalam rapat pansus, paripurna maupun rapat komisi bagaimana tingkah laku sebagaian wakil rakyat di hadapan seluruh rakyat Indonesia, mereka meluapkan ekspresi kekerasaan, debat kusir, berteriak seperti di arena layar tancap, bahkan saling memaki di forum yang sangat terhormat, nampaknya merupakan hal yang biasa. Bahkan pernah ketahuan seoarang wakil rakyat kita membuka situs porno tatkala rapat paripurna DPR dan mereka merasa seakan-akan tidak memiliki tanggung jawab moral (Suara Merdeka, 9 April 2011 ).

Namun demikian krisis identitas kebangsaan yang saat ini melanda para pemimpin kita tidak berlaku bagi para pemimpin Indonesia tempo dulu, bagaimana para pendiri bangsa mempunyai jiwa integritas yang tinggi, disiplin, sederhana, membawa aspirasi rakyat, berjuang dan mengabdi untuk negara, tegas tapi penuh wibawa. Bahkan Bung Karno ketika ada lawan bicara yang itu tidak suka dengan kebijakan maupun keputusannya, Bung Karno dengan bangga mengatakan lawan bicara itu bukan musuh, akan tetapi kawan berpikir. Inilah jati diri bangsa Indoensia yang pernah di miliki oleh para founding fathers kita, mereka menjadi pemimpin bukan karena ingin merebut atau menguasai kekuasaan, tapi mereka memimpin karena satu hal yaitu mengabdi dan memajukan bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. hal ini seperti terlihat dalam gambar koran Kedaulatan Rakyat tahun 1945.

Kedaulatan Rakjat, 26 November 1945
Kedaulatan Rakjat, 19 Oktober 1945

Beberapa uraian di atas setidaknya menggambarkan bahwa betapa pentingnya pengetahuan sejarah para pendiri bangsa ini yang sudah mengorbankan harta, tenaga dan jiwanya untuk memajukan bangsa menjadi bangsa yang bermartabat baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Penulis ingin melihat bagaimana identitas kebangsaan Indonesia itu tumbuh dengan didasarkan pada pondasi pendidikan sejarah. Dengan kata lain, bahwa pendidikan sejarah sangat penting untuk pembentukan identitas kebangsaan yang akhir-akhir ini mulai luntur bahkan hampir hilang di telan zaman.

Memaknai Identitas Kebangsaan di Indonesia

Sebelum berbicara lebih jauh tentang “ Pembentukan Identitas Kebangsaan, di atas Pondasi Pendidikan Sejarah”. Terlebih dahulu penulis ingin mencoba menjabarkan terminologi atau konsep identitas dan kebangsaan itu sendiri. Hal ini untuk mempermudah dalam memahami tulisan ini selanjutnya. Identitas ( identity ) berarti ciri-ciri, tanda khas, atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu. Seseorang atau sesuatu dapat dibedakan dengan yang lainnya melalui identitas ( A.Ubaedillah, 2006 ). Identitas adalah sifat khas yang menerangkan keadaan diri sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri. Identitas tidak terbatas pada individu tetapi berlaku juga bagi kelompok Contohnya, orang Indonesia dan bukan Indonesia dapat segera dibedakan berdasarkan identitasnya.

Sedangkan kebangsaan atau nasionalisme adalah paham modern tentang pengelolaan kehidupan bersama manusia yang semakin kompleks dan rumit. Seiring dengan perkembangan sosial dan peradaban manusia, maka berkembang pula relasi manusia dalam komunitas mereka. Bermula dari kesadaran manusia untuk mandiri dan menentukan nasib sendiri. Kesadaran ini telah mendorong negara-negara yang tertindas oleh penjajahan dan penguasaan bangsa-bangsa lain untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri, termasuk Indonesia ( Rustam E. Tamburaka, 1999 ). Momentum untuk merdeka semakin memotivasi kelompok-kelompok manusia di Indonesia untuk bersama-sama berjuang dalam sebuah kerjasama yang padu di antara mereka. Mereka diikat oleh perasaan bersama, senasib, seperjuangan. Ini yang kemudian di jadikan bibit sebagai sifat kebangsaan atau nasionalisme itu (Amir Hamzah Nasution, 1951 ).

Dari penjabaran dan pengertian di atas dapat di pahami bahwa identitas kebangsaan di Indonesia dapat ditelusuri dengan mempelajari sejarah perjuangan Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya. Dalam upaya pencapaian kemerdekaan inilah terjadi sinergi antar kelompok, baik suku-bangsa, etnis, maupun daerah yang kemudian bersama-sama menjadi bangsa Indonesia. Menurut Soekarno, dalam pidatonya pada sidang BPUPKI yang kemudian melahirkan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, bahwa kebangsaan adalah unsur dasar di mana di atasnya hidup secara bersama dan setara segenap orang Indonesia dengan wilayah tempat tinggalnya. Identitas kebangsaan yang dirumuskan Soekarno dalam Pancasila ( Sila pertama dalam Pancasila Soekarno adalah Kebangsaan ) mencirikan kesetaraan semua kelompok yang menjadi satu dalam status bangsa Indonesia. Identitas baru ini mendudukkan semua orang dari daerah dan kelompok sukunya yang bergabung menjadi Indonesia sebagai yang setara. Identitas baru ini sekaligus menganulir gagasan mayoritas-minoritas, kuat-lemah, berkuasa dan dikuasai. Semua adalah bangsa Indonesia ( Cahyo Budi Utomo, 1995 ).

Pembentukan Identitas Kebangsaan dalam Perspektif Historis

Secara historis pembentukan identitas kebangsaan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dengan perkembangan nasionalisme yang berkembang di Barat yang kemudian mengalir sebagai sebuah semangat baru bagi bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika. Kontribusi kaum terpelajar Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di Barat telah menambah energi bagi pergerakan nasional Indonesia yang berujung pada terbentuknya kesadaran bersama sebagai bangsa Indonesia. Sejarawan Sartono Kartodirjdo dalam bukunya “ Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasionalisme “ menjelaskanbahwa fase pertama gerakan nasionalis yang diawali olehBoedi Oetomo, Sarekat Islam, Jong Sumatera, Ambon, Java, dan lain-lain sebagainya, menunjukkan gejala penemuan identitas, yang wajar, masih terikat pada kebudayaan dan etnik masing-masing. Proses selanjutnya semakin memperjelas identitas baru itu. Baru generasi tahun dua puluhan berhasil merumuskan konsep nasionalisme Indonesia, yaitu pada tahun 1928 dengan Manifesto Politik yang dinyatakan oleh Perhimpunan Indonesia ( sumpah pemuda ). Di dalam pernyataan itu tercakup prinsip-prinsip nasionalisme, antara lain pertama, kebebasan (kemerdekaan). Kedua, kesatuan dan ketiga, kesamaan. Sudah barang tentu sifat kebangsaan itu anti kolonial sehingga dalam rangka program perjuangan nasional tercantum prinsip nonkooperasi terhadap penguasa kolonial.

Identitas kebangsaan pada hakekatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa, dengan ciri-ciri khas yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain dalam kehidupannya ( A.Ubaedillah, 2006 ). Berdasarkan pengertian yang demikian, maka setiap bangsa di dunia memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut.

Identitas kebangsaan sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut terbentuk secara historis. Identitas bangsa berhubungan dengan pengalaman sebuah bangsa di masa lalu. Pengalaman bangsa di masa lalu mengendap menjadi karakter, sifat, dan nilai-nilai hidup bersama. Berdasarkan hakikat pengertian identitas bangsa sebagaimana dijelaskan di atas maka identitas suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri bangsa atau lebih kepribadian suatu bangsa.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk dan memiliki unsur pembentuk identitas bangsa yang kompleks. Unsur pembentuk identitas bangsa Indonesia tesebut teranyam dalam perjalanan sejarah Indonesia ( Mohammad Ali, 2005 ). Lahirnya identitas kebangsaan memang tidak bisa lepas dari sejarah panjang perjuangan   bangsa   Indoensia,   mereka   para   pemimpin,    kaum   muda   dan   rakyat. Semuanya  bersatu,  bahu-membahu, berperang  melawan penjajah  sampai  titik darah penghabisan, yang semua itu mereka lakukan dengan visi dan misi yang sama yaitu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, perjuangan mereka yang pantang menyerah pun tergambarkan dalam penggalan-penggalan koran Kedaulatan Rakyat tahun 1945.

“ Djakarta, Semarang dan Soerabaja. Medan pertempoeran besar. Rakjat Indonesia berdjoang seperti “Banteng Ketaton” Moesoeh menghadapi kesoekaran2 ”.

(Sumber: Harian Kedaulatan Rakjat, 21 Nevember 1945 )

“Saat bertempoer soedah datang oentoek seloeroeh rakyat Indonesia, taktik berdiplomasi soedah tidak pada tempatnja lagi. Zaman gemilang tentoe datang “.

(Sumber: Harian Kedaulatan Rakjat, 24 Nevember 1945 )

“ Soerabaja tetap ditangan kita kemenangan boekan terletak pada keoeatan sendjata sadja.

Pada tg.23-11 kementerian penerangan di djakarta menerima kawat dari soerabaja jang menerangkan bahwa keadaan pertempuran di soerabaja pada tg.22-11 masih hebat. Garis pertempoeran antara moesoeh dan kita soekar ditentoekan: mata2 moesoeh masihh teroes meradjalela, pertempoeran terdjadi di huogendorpiaan dan goebeng, pesawat pengebom moesoeh sehari-harian menindjau diatas kota, di sepandjang dan sekitarnja kota soerabaja, masih tetap di pertahankan mati-matian”.

(Sumber: Harian Kedaulatan Rakjat, 26 Nevember 1945 )

Revolusi Rakjat seloeroeh Indonesia berkobar. Di jawa poesat pertempoeran ”

(Sumber: Harian Kedaulatan Rakjat, 1 Desember 1945)

Kedaulatan Rakjat, 24 November 1945
Kedaulatan Rakjat, 27 November 1945
Kedaulatan Rakjat, 15 Oktober 1945

Selain itu pula pembentuk identitas bangsa Indonesia juga berupa kebudayaan yang meliputi tiga unsur, yaitu: akal budi, peradaban, dan pengetahuan. Akal budi bangsa Indonesia seperti sikap ramah, toleran, dan hormat menghormati. Peradaban bangsa Indonesia berupa nilai-nilai hidup bersama seperti yang tertuang dalam Pancasila. Dan identitas pengetahuan seperti pengetahuan masyarakat dalam pembuatan kapal Pinisi, merupakan identitas pengetahuan bangsa Indonesia.

Suku bangsa yang secara natural terdapat 300 kelompok suku lebih, beragam bahasa, budaya, dan keyakinan yang mendiami pulau Nusantara, juga merupakan unsur pembentuk identitas bangsa Indonesia. Seperti yang dikatakan Ir. Soekarno, bahwa bangsa Indonesia bukanlah sekedar “le desir d’etre ensemble” kehendak untuk bersatu dan yang merasa dirinya bersatu oleh bangsa tertentu di Indonesia, akan tetapi seluruh bangsa yang tinggal dalam wilayah geopolitik Indonesia merasakan ” le desir d’etre ensemble” Indonesia.

Secara historis juga bahwa unsur pembentukan identitas kebangsaan Indonesia juga dipengaruhi oleh agama dan keyakinan yang dianut masyarakat Indonesia. Asas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila merupakan nilai-nilai bersama yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bertaqwa kepada Tuhan, bukan hanya bangsa Indonesia yang bertuhan akan tetapi masing-masing orang Indonesia bertuhan kepada Tuhannya sendiri. Bertaqwa kepada Tuhan dengan cara berkeadaban, yakni hormat-menghormati satu sama lain, serta berbudi pekerti luhur. Serta Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan Indonesia merupakan atribut identitas Nasional Indonesia. Demikianlah Identitas Bangsa Indonesia terbentuk oleh beberapa unsur di atas.

Lebih dari pada itu, identitas bangsa merupakan proses yang terus berlangsung. Identitas bangsa merupakan proses pembentukan terus menerus ( konstruksi-rekonstruksi ), karena identitas merupakan sesuatu yang berubah dan terbuka untuk makna baru dalam kontekstualisasi sejarah. Pada level makna filosofis, Identitas bangsa dapat hilang dan berubah. Baik identitas yang memiliki dimensi Pola sikap perilaku yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari, seperti adat istiadat, sikap ramah, toleran, dan gotong royong.

Demikian halnya identitas dalam dimensi Lambang-lambang negara, yakni suatu yang menggambarkan tujuan dan fungsi negara, lambang-lambang ini biasanya tercantum dalam undang-undang, misalnya: bendera, bahasa, dan lagu kebangsaan. Berikut identitas dalam dimensi alat-alat perlengkapan, yakni perangkat atau alat yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan kehidupan masyarakat berupa bangunan, peralatan dan tekhnologi. Misalnya: candi, tempat ibadah, peralatan berupa pakaian dan alat cocok tanam, teknologi seperti kapal laut, dan sebagainya.

Identitas bangsa memiliki dimensi tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai oleh sebuah bangsa, identitas yang bersumber dari cita-cita ini bersifat dinamis dan paling banyak didiskusikan ulang. Identitas bangsa Indonesia yang bersumber dari dimensi cita-cita ini sangat terkait dengan apa yang diungkapkan Ernes Renan sebagai “le desir d’etre ensemble”, yakni adanya kehendak untuk bersatu dan merasa bersatu, untuk mewujudkan cita-cita tersebut bangsa Indonesia selalu berpegang pada falsafah negara yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945.

Kontribusi Sejarah dalam Membentuk Identitas Kebangsaan Indonesia

Di dalam perjalanan kehidupan ini kita tidak akan pernah terlepas dari apa yang disebut dengan sejarah. Setiap individu pasti memiliki sejarah perjalanan hidupnya masing-masing yang tentunya akan berbeda dengan sejarah hidup individu lainnya. Oleh karena itu sudah seharusnya kita semua perlu mengetahui bahkan mempelajarinya sekalipun. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya, kita masih ingat perkataan Bung Karno dengan “Jas Merah” nya. Tentu ungkapan semacam ini adalah suatu keinginan agar jangan sampai kita melupakan sejarah terutama sejarah bangsa kita sendiri.

Oleh karena itu sudah saatnya pengetahuan akan sejarah terutama sejarah nasional diterapkan, diketahui, dipelajari dan kemudian direnungi untuk kepentingan kemajuan bangsa. Hal ini karena pendidikan sejarah bagi generasi bangsa adalah media efektif dalam menanamkan nilai dan jati diri bangsa. Pelajaran sejarah pada umumnya ialah suatu perkenalan dengan riwayat manusia di dunia, yaitu perjuangan mencapai kehidupan yang bahagia, adil dan makmur. Secara fungsional adalah untuk mencapai kesadaran dasar tentang hakekat tujuan hidup manusia. Dalam riwayat manusia tedapat beragam corak perjuangan yang meliputi seluruh kehidupan manusia; kebudayaan, politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Dengan demikian, pelajaran sejarah manusia adalah untuk mengetahui riwayat perjuangan manusia dalam mencapai kehidupan yang bahagia, merdeka, adil, makmur, dan sejahtera. ( Mommahad Ali, 2005 )Melalui pemaparan sejarah, generasi bangsa dapat memahami nilai dan spirit yang disarikan dari proses perjalanan historis bangsanya. Proses pembentukan Indonesia sebagai sebuah pranata dan komunitas geo-politik dapat diperoleh dari presentasi sejarah. Demikian juga visi kebangsaan di masa yang akan datang akan tumbuh setelah membaca sejarah masa lalu bangsanya. Namun demikian, lembaga pendidikan sebagai ruang transformasi wawasan kebangsaan justeru telah merubah orientasi kurikulumnya. Menurut orientasi kurikulum pendidikan yang aktual, membaca sejarah adalah bergerak mundur dan membuang waktu saat dimana orang bergerak maju mengembangkan tekhnologi.

Kondisi tidak berpihak ini, diperparah dengan pemaparan sejarah Indonesia yang hanya menyentuh level kronologi saja, melupakan aspek metafisik-analitik. Pelajaran Sejarah Indonesia diasosiasikan dengan kegiatan menghafal angka tahun, peristiwa, dan nama orang saja. Sejarah yang dipaparkan demikian tentu tidak memberi manfaat sedikitpun kepada generasi bangsa. Dengan demikian, analisis terhadap sejarah bangsa Indonesia penting dilakukan demi menemukan spirit dan cita-cita yang mengkristal menjadi jati diri bangsa. Pada level inilah sejarah menjadi tumpuan pencarian identitas kebangsaan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, pembelajaran sejarah sebenarnya memiliki makna yang strategis. Pembelajaran sejarah adalah suatu proses untuk membantu mengembangkan potensi dan kepribadian peserta didik melalui pesan-pesan sejarah agar menjadi warga bangsa yang arif dan bermartabat. Sejarah dalam hal ini merupakan totalitas dari aktivitas manusia di masa lampau (Walsh, 1967), dan sifatnya dinamis. Maksudnya, bahwa masa lampau itu bukan sesuatu final, tetapi bersifat terbuka dan terus berkesinambungan dengan masa kini dan yang akan datang. Karena itu sejarah dapat diartikan sebagai ilmu yang meneliti dan mengkaji secara sistematis dari keseluruhan perkembangan masyarakat dan kemanusiaan di masa lampau dengan segala aspek kejadiannya, untuk kemudian dapat memberikan penilaian sebagai pedoman penentuan keadaan sekarang, serta cermin untuk masa yang akan datang.

Dengan demikian. Kesimpulan yang dapat penulis ditarik dari statement diatas adalah bahwa bagi pembentukan dan pemantaban identitas serta kepribadian nasional, pengetahuan sejarah terutama sejarah nasional adalah suatu condition sine qua non ( syarat mutlak ). Oleh karena itu jelaas bahwa pengetahuan dan pelajaran akan sejarah mempunyai fungsi yang strategis dalam pembentukan identitas bangsa, pengetahuan sejarah terutama sejarah nasional telah membangkitkan kesadaran akan pengalaman kolektif bangsa Indonesia beserta suka dukanya, kemenangan serta kekalahan dalam perjuangan bersama itu menumbuhkan kembali spirit kebangsaan. Sehingga tidak dipungkiri   lagi   bahwasanya   jiwa   nasionalisme,   kesadaran   nasional   serta    identitas kebangsaan merupakan asset atau sumber daya yang ampuh dan strategis yang semua itu  muncul  dari  pemahaman  akan  sejarah  bangsa  ini  sendiri.  Yang  nantinya  dapat memberi inspirasi kepada generasi muda sehingga terciptalah aspirasi dan idealisme untuk menghadapi masa depan dengan penuh gairah serta kesediaan mengabdi pada Nusa dan Bangsa.

=========

Catatan: Juara 1 lomba esai sejarah tingkat perguruan tinggi se-jawa, Bali, Kalimantan yang diadakan Universitas Airlangga, Surabaya, pada tahun 2012.

=========

Daftar Pustaka

Buku

A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat

___________Madani, UIN Syarif Hidayatullah: Tim ICCE, 2006.

Amir Hamzah Nasution, Sejarah Kebangsaan, Jakarta: Pustaka Aida, 1951

Cahyo    Budi    Utomo,     Dinamika    Pergerakan    Kebangsaan    Indonesia:      Dari

__________Kebangkitan Hingga Kemerdekaan, Semarang: IKIP Semarang Press,

1995.

Mohammad Ali, Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, Yogyakarta: L-Kis, 2005. Rustam E. Tamburaka, Pengantar IImu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah

_________Filsafat dan Iptek, Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

Sartono  Kartodirdjo,   Pengantar  Sejarah  Indonesia  Baru  :  Sejarah  Pergerakan

________Nasional . Jakarta : Gramedia. 1993.

Taufik   Abdullah,   “Masalah   Sejarah   Daerah   dan  Kesadaran   Sejarah”,    Bulletin

________Yaperna No. 2 tahun I, Jakarta, 1974.

Walsh, W.H. Philosophy of History : An Introduction. New York: Harper and Row

_________Publisher. 1967.

Koran

Kedaulatan Rakyat, 15 Oktober 1945.

Kedaulatan Rakyat, 23 Oktober 1945.

Kedaulatan Rakyat, 21 November 1945.

Kedaulatan Rakyat, 24 November 1945.

Kedaulatan Rakyat, 26 November 1945.

Kedaulatan Rakyat, 1 Desember 1945.

Kedaulatan Rakyat, 20 Desember 1945.

Suara Merdeka, 9 April 2011

Lampiran-Lampiran Sumber Sejaman

lampiran 1

Kedaulatan Rakjat, 26 November 1945

Lampiran 2

Kedaulatan Rakjat, 27 November 1945

Lampiran 3

Kedaulatan Rakjat, 1 Desember 1945

Lampiran 4

Foto-foto sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut Kemerdekaan Dengan semangat Kebangsaan