EseiGagasan

Pengetahuan Lokal dalam Semesta Pengetahuan Global

Pengetahuan Lokal dalam Semesta Pengetahuan Global

Oleh: Andrew Robinson

Ketika memikirkan teori, biasanya kita cenderung mengacu pada beberapa nama besar seperti Deleuze, Marcuse dan Negri, beberapa nama yang sudah saya bahas dalam beberapa kolom sebelum ini. Namun, harus diingat bahwa kita, dalam kadarnya masing-masing, adalah teoritisi. Kita semua membangun cara pandang tertentu dari berbagai konsep dan perspektif yang ada atau yang mampu kita ciptakan serta menggunakan perspektif-perspektif itu untuk memaknai sekaligus sebagai panduan hidup kita. Karena kita semua adalah teoritisi, tidak ada alasan mengapa studi teori harus terpaku pada beberapa sosok penulis besar. Teori-teori yang imanen dalam kehidupan sehari-hari juga dapat memberikan wawasan dan pengetahuan. Hal ini khususnya berlaku pada kasus ketika kita berurusan dengan apa yang disebut sebagai pengetahuan lokal atau indigenous, jenis-jenis pengetahuan yang khas dan kompleks yang lahir dimana manusia memiliki hubungan yang erat (menubuh) dengan wilayah dan ekosistem tertentu.

Di sini saya akan merangkum beberapa karakteristik dari bentuk-bentuk pengetahuan tersebut. Tentu saja mustahil untuk membahas secara menyeluruh ruang lingkup dari sebuah perspektif perspektif yang khas dalam satu tulisan (artikel). Akan tetapi kita dapat menyajikan sebuah gambaran umum tentang bagaimana cara pandang pengetahuan lokal/indigenous berbeda dari pengetahuan global, berikut potensi dan tantangannya untuk mengakar dalam masyarakat global.

Pengetahuan Lokal dan Global

Hubungan antara kemanusiaan dan berbagai fenomena seperti alam, ruang dan kekuasaan dikonstruksi secara berbeda dalam berbagai perspektif dan cara pandang. Persoalannya adalah berbagai cara pandang ini dibentuk dalam hubungan hierarkis yang timpang dimana cara pandang dunia utara yang kaya mendominasi cara pandang lokal yang beragam.

Pengetahuan lokal atau indigenous (juga sering disebut sains lokal) biasanya dikonstruksi untuk ditentangkan dengan pengetahuan global atau sains global yang sejatinya merupakan ekspresi dari kuasa cara pandang dunia utara. Pengetahuan global seringkali sesungguhnya adalah pengetahuan “global-lokal” yaitu salah satu bentuk pengetahuan yang secara serampangan (semena-mena) diproklamasikan sebagai berlaku bagi siapa pun dan dimana pun.

Sebagai contoh, psikologi kognitif Anglo-Amerika secara eksklusif didasarkan pada kajian eksperimental yang dilakukan dalam kondisi-kondisi yang tertentu (terkontrol) dimana subjek-subjek yang dikaji adalah para mahasiswa psikologi. Hasil dari kajian kelompok-kelompok tersebut kemudian menjadi dasar dari klaim atas natur proses kognitif manusia, proses yang diberlakukan (absah) pada semua manusia dimana pun.

Pengetahuan global sering dikritik oleh kajian-kajian pengetahuan lokal/indigenous karena keterlibatannya dalam pengucilan kolonial, penitik-beratannya pada representasi, alih-alih pada hubungan yang imanen, klaim-klaimnya yang totaliter, pengabaiannya terhadap perspektif-perspektif lain, objektifikasinya atas realitas sebagai sesuatu yang eksternal alih-alih relasional, pemisahan antara kemanusiaan dan alam sebagai bidang kajian, ditutup-tutupinya fakta bahwa pengetahuan yang diklaim global itu sejatinya diproduksi oleh konfigurasi-konfigurasi lokal tertentu.

Seringkali dikatakan bahwa pengetahuan global berjalin erat dengan kuasa hierarkis karena kesamaan cara pandangnya yang top-down dengan proses pembentukan kuasa negara dan kuasa hirarkis lainnya.

Proposisi-proposisi yang didasarkan pada sains biasanya lahir dari tata kepengaturan laboratorium dimana variabel-variabel kompleks sudah ditiadakan (diabaikan) dan seringkali tidak cocok untuk kondisi-kondisi yang jauh lebih kompleks. Mereka juga seringkali terkoneksi dengan praktik-praktik pemetaan hirarkis yang menjadikan sebuah wilayah kajian (bidang studi) dapat dimengerti dengan cara menyederhanakannya.

Situasi menjadi bertambah pelik karena ketimpangan kekuasaan antara saintis dan komunitas lokal. Pengetahuan global cenderung mengeksploitasi ekosistem secara berlebihan dengan melakukan oversimplifikasi pandangannya atas atas proses-proses yang berlangsung. Pengetahuan lokal sebaliknya cenderung berjejaring, membangun pengetahuan yang menyatu (menubuh) sejalan dengan meleburnya kekuasaan.

Sebagai contoh, larangan-larangan yang timbul dari pengetahuan-pengetahuan lokal jarang sekali didasarkan pada aturan-aturan formal tetapi leih pada tabu dan tekanan (kontrol) sosial. Oleh karena itu, meskipun terdapat larangan-larangan kuasa sosial menyatu (melebur) di dalam kelompok.

Pengetahuan lokal atau indigenous semakin mendapatkan pengakuan ketika efek sosial dan ekologis dari projek global semakin nyata; perhutanan komersial “saintifik” telah menghancurkan hutan-hutan yang dirawat selama berabad-abad, penyingkiran penggembala dari suaka alam telah megakibatkan kerusakan ekosistem dan mengancam keanekaragaman hayati, obat-obatan tradisional yang masih menjadi basis dari sebagian besar proporsi obat-obatan dan sebagainya.

Hal ini, pada taraf tertentu bahkan di internal dunia utara sendiri, menggiring kita untuk mempertanyakan privilese dari pengetahuan global. Saat ini, sudah lazim diterima bahwa pengetahuan global tidak selalu tepat dalam seting lokal dan bahwa seringkali pengetahuan lokal justru lebih baik. Kembalinya penghargaan terhadap pengetahuan lokal, di antaranya, adalah efek dari gerakan sosial masyarakat indigenous dan lebih lanjut pernah dibahas dalam tulisan-tulisan Foucault dan Deleuze.

Faktor lainnya adalah tumbuhnya pengakuan atas kompleksitas, terutama, ekologi. Jika sistem sosial dan ekologi itu kompleks, maka konstruk pengetahuan lokal yang berjejaring dan relasional adalah lebih tepat daripada penekanan pada representasi yang top-down.

Pengakuan ini, bagaimana pun, masih terbatas, sebagian besar terdiri atas usaha-usaha kodifikasi dan memanfaatkan item-item tertentu dari pengetahuan lokal seperti ilmu pengobatan yang menggunakan tanamaan dan tumbuhan, mengupayakannya agar naik derajat dan masuk ke dalam jajaran pengetahuan global. Usaha penggalian pengetahuan yang mendekontekstualisasi semacam ini bertentangan dengan maksud yang sebenarnya (ruh) dari pengetahuan indigenous. Agrawal* berpendapat bahwa hal ini merupakan penggambaran yang keliru atas pengetahuan indigenous untuk orang luar (external gaze) merupakan bentuk “telikungan” (capture) sistem pengetahuan yang dominan.

Ada kecenderungan untuk membawa pengetahuan lokal dan global untuk berdialog, tapi dalam rangka untuk mengunggul-unggulkan keutamaan pengetahuan global, misalnya dengan menggunakan bahasa dan struktur-struktur formalnya. Sebaliknya, perpindahan horizontal yang terjadi di antara pengetahuan lokal seringkali harus melintasi batas ikatan yang mengungkung. Relasi kuasa menjadi sangat penting di sini dan konflik antara pengetahuan lokal dan global tidak dapat dipisahkan dari konflik antara komunitas lokal dengan para ahli dari luar. Lebih-lebih, seringkali pengetahuan lokal hanya diakui ketika ia dapat diterjemahkan dan diverifikasi dalam kerangka saintifik global.

Proses pereduksian pengetahuan menjadi pengujian dan kodifikasi mengakibatkan tercerabutnya pengetahuan itu dari akar lokalnya. Kompatibilitas antara pengetahuan lokal dan global seringkali dipaksakan dan dibuat-buat dengan cara mereduksi pengetahuan lokal memakai perspektif global, mengandung konten lokal dengan wujud global. Para sarjana seperti Arthuro Escobar telah memperlihatkan bahwa pengembangan proyek-proyek yang berakar pada pengetahuan global telah memerosotkan and menaklukan pengetahuan lokal, mereproduksi relasi kuasa kolonial.

Karakteristik Pengetahuan Lokal

Meskipun keragaman pengetahuan lokal berbeda antara satu dengan yang lainnya, ia cenderung memiliki karakteristik formal tertentu yang membedakannya dari pengetahuan global. Ketika pengetahuan global sibuk membuat klaim umum tentang tipe-tipe benda-benda pada ranah abstrak, pengetahuan lokal berurusan dengan hal-hal rinci, berkaitan erat dengan wilayah tertentu dan seperangkat hubungan yang meliputinya.

Pengetahuan lokal biasanya menunjukan kesadaran yang kompleks dan kaya nuansa akan hubungan khusus yang terjalin dalam situasi-situasi lokal. Bandingkan dengan sains global yang mengurusi hal-hal seperti apakah perubahan iklim tertentu diakibatkan oleh ulah manusia.

Perbedaan antara pengetahuan lokal dan indigenous dapat ditilik melalui berbagai teori yang menekankan bagaimana kapitalisme “mereifikasi” (reify) kehidupan sosial, menggambarkan hubungan sosial layaknya sebuah objek, menggantikan kesadaran atas proses dengan mengalihkan fokus pada produk-produk yang dihasilkan. Sebuah kesadaran akan kompleksitas, relasionalitas dan pentingnya “melakukan” telah hadir di dalam pengetahuan lokal dan dalam banyak aspek, banyak hal yang sedang berusaha keras dipelajari kembali oleh teori-teori kritis dari utara sudah diketahuinya.

Pengetahuan lokal bukanlah sebuah lembaga informasi sebagaimana sebuah proses sosial yang melaluinya pengetahuan dipelajari dan tersebar, sebuah proses yang unik di setiap kelompok yang menggunakannya. Ia mengonstruksi sebentuk pengetahuan yang “dihidupi” atau berada di tengah-tengah cara hidup dan berhubungan tertentu, bukan pengetahuan yang mengabstraksikan cara hidup. Ia cenderung diekspresikan melalui laku berbeda dengan pengetahuan global yang sebagian besar ditulis di buku-buku.

Ia seringklai berhubungan dengan bentuk-bentuk pembelajaran dan laku sosial yang menekankan pada proses belajar dengan melakukan atau pendekatan eksperimental yang menumbuhkan rasa ingin tahu pada dunia. Sehingga ia dipelajari dan direproduksi dengan cara yang berbeda dari proses persebaran pengetahuan global.

Signifikansi ekologis dari pengetahuan lokal sangat kuat. Sistem yang berakar pada pengetahuan lokal cenderung lebih berkelanjutan ketimbang sistem pengetahuan global dan pengetahuan lokal dapat meciptakan kesadaran ekologi lokal yang sangat terperinci. Ada perdebatan soal apakah keberlanjutan dan pelestarian keragaman hayati merupakah sesuatu yang intensional dalam pengetahuan lokal, tapi yang jelas hal tersebut dapat kita lihat secara nyata.

Dikatakan bahwa pengetahuan lokal bukanlah sebuah jaminan mutlak atas kehancuran ekologis, terutama jika orang-orang pindah ke tempat yang baru, jika kondisi-kondisi lokal berubah, atau jika faktor luar memiliki dampak yang besar. Ia memang bukan solusi mujarab bagi masalah ekologis, dan hanya dapat diandalkan sebagai sebuah hasil kalkulasi (perhitungan) yang bersumber dari pengalaman-pengalaman khas di wilayah tertentu dimana ia berada. Dikatakan lagi, ia menghadirkan rangkaian pengalaman-pengalaman khas yang lebih luas dan beragam dari pada yang mampu dilakukan oleh pengetahuan global dan oleh karena itu lebih baik dipakai untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan ekologi.

Pengetahuan lokal biasanya juga melibatkan kemawasan akan tempat dan lokalitas yang intens, dan dengan sendirinya bersifat lokal dan khas. Konstruk kemawasan akan tempat dalam pengetahuan lokal ini sangat berbeda dari pemetaan laku yang hirarkis (top-down). Ia melibatkan pembentukan relasi khusus yang menghubungkan orang dengan wilayah tertentu, menciptakan apa yang sering disebut sebagai “wilayah eksistensial”. Cara-cara yang digunakan oleh komunitas lokal dalam memetakan ruang sering memiliki banyak dimensi dan fokus pada manfaat-manfaat, struktur-struktur dan makna-makna dari wilayah-wilayah bukan pada karakteristik yang diamati secara abstrak. Ia berbicara mengenai relasi, bukan benda-benda. Kecenderungan ini sering dibangun dalam struktur bahasa indigenous, dengan kosa kata yang merujuk, utamanya, pada relasi, bukan benda-benda. Dalam beberapa kasus, kecakapan untuk bertindak dan mengetahui dengan layak dipercayai bergantung pada posisi tertentu dalam rangkaian jejaring relasi. Ia juga cenderung menyeluruh, bertolak belakang dengan pendekatan sains global yang membagi-bagi dunia dalam kategori dan disiplin-disiplin, serta menolak penyederhanaan.

Oleh karena itu, alam, kebudayaan, dan dunia supranatural tidak selalu dilihat sebagai terpisah tetapi dapat dilihat sebagai sebuah bidang tunggal atau sebuah satu kesatuan (rangkaian). Keseluruhan konteks lokal terkadang terhubung bersama dalam narasi kompleks mengenai asal muasal dan esensi yang melintasi tiga latar (bidang).

Dihadapkan pada sebuah pilihan, pengetahuan global cenderung memilih ketegasan, sedangkan pengetahuan lokal memilih penyertaan (inclusion). Pengetahuan lokal merayakan keinklusifitasan dan keragaman di dalam dirinya, menyikapi secara lebih santai persoalan koherensi dan ketegasan ketimbang sain global (kuasa global).

Hal ini ditunjukan, misalnya, dalam proses dialog yang berlangsung lama yang menyertai pengambilan keputusan dalam masyarakat indigenous. Ketika pengetahuan global berusaha untuk merentangkan dirinya untuk menjangkau lintas wilayah, pengetahuan lokal lebih cenderung merentang melintasi waktu. Ia juga sering menekankan pada nilai-nilai kualitatif di atas nilai-nilai kuantitaif. Sebagai contoh, pendekatan masyarakat Melanesia dalam perhitungan fokus pada nilai dari benda-benda yang tidak dapat dihitung dan banyak pendekatan indigenous tidak sepakat dengan ide bahwa kekayaan dapat dihitung.

Kekayaan, lebih diukur dari seberapa kaya dan solid relasi sosial dan ekologis yang dikandungnya. Gaya ungkap dari pengetahuan lokal biasanya cenderung lebih ekspresif ketimbang instrumental. Dengan kata lain, pada dasarnya pengetahuan lokal adalah sebuah cara menyuarakan perspektif, perasaan, dan pengalaman tertentu alih-alih cara untuk merekayasa objek-objek.

Ini bertolak belakang dengan bahasa modernitas yang semakin terjebak pada rasionalitas instrumental.

Sebagai sebuah cara membangun dunia yang hidup (life-worlds), pengetahuan lokal terhubung dengan suatu orientasi pengulangan ketimbang efisiensi. Pengetahuan lokal sering melibatkan pemeliharaan pengulangan tingkat tinggi dalam sistem sosialnya. Dengan kata lain, alih-alih secara masif memproduksi atau menggali sumber daya yang sangat spesifik, mereka memelihara beragam strategi subsistensi yang saling berhubungan dengan beragam sarana-sarana pertahanan hidup. Pendekatan semacam itu bertolak belakang dengan ide-ide efisiensi yang dominan dalam sistem ekonomi kapitalisme. Namun, ia memberikan kemampuan daya bertahan yang lentur di saat krisis dan peristiwa tak terduga lainnya.

Sebagai contoh, sebuah masyarakat yang membudidayakan beragam tanaman pangan boleh jadi mereka menghasilkan lebih sedikit dalam pasar komoditas, tapi risiko kelaparan karena gagal panen lebih kecil (karena memiliki alternatif). Manajemen risiko yang dilakukan melalui daya tahan yang lentur ketimbang melalui aksi penutupan ruang atau yang lazim disebut “keamanan” juga membuat pengetahuan indigenous berseberangan dengan perspektif negara.

Sistem pertahanan diri yang lentur juga cenderung merawat keragamana hayati. Setidaknya secara prinsip, masyarakat indigenous menolak pereduksian alam dan entitas non-manusia lainnya sebagai (semata-mata) sumberdaya yang dapat dipakai dan diperalat. Sebaliknya, mereka diperlakukan sebagai bagian khusus dan sarat dengan karakateristik yang terkait dengan wilayah setempat.

Sejalan dengan orientasinya pada kelenturan daya tahan, pengetahuan indigenous sering terlibat dalam sinkretisme, memasukkan unsur-unsur sistem kepercayaan baru sebagai tambahan, berdampingan dengan sistem kepercayaan lama. Ini dilihat sebagai memperkaya pengetahuan indigenous dengan memperbanyak perspektif yang dikandungnya. Agen dari luar sering menemukan prinsip inklusif serupa kecuali mereka pernah disakiti dalam kontak sebelumnya. Selain meneguhkan kelenturan daya tahan, pendekatan ini menyajikan pandangan dunia khas yang berlainan sekali dengan ide-ide dari Utara soal kemurnian dan identitas.

Tak ada keraguan bahwa pengetahuan lokal mengandung bahaya pemulihan tapi juga memiliki potensi perlawanan dari dalam. Dalam kisah Zapatista, “Questions and Swords”, kekuatan luar digambarkan sebagai pedang dan kekuatan lokal sebagai air. Kekuasaan berpikir bahwa ia telah berhasil menaklukkan dengan menebas air dan menembusnya tapi sebenarnya lama kelamaan air akan membuat pedang berkarat.

Ini adalah metafora bagaimana pengetahuan lokal dapat menyerap dan menggerogoti kekuatan dari luar, membuatnya jadi keropos dan mempertahankan kedaulatan lokal. Kita dapat katakan bahwa perlawanan yang ajeg di bawah permukaan dalam banyak konteks peminggiran antara dua kekuatan: pedang dan air.

Terjadi perdebatan di kalangan sarjana mengenai fakta bahwa pengetahuan lokal dapat menjadi sangat pragmatis dan instrumental dan teoritis, relijius dan kosmologis (seperti ide-ide tentang ekosistem sebagai ruh kehidupan yang dapat merasakan sakit), kadang di waktu yang sama, misalnya larangan-larangan perusakan hutan tertentu dapat juga berfungsi melindungi sumber makanan dan pengobatan tertentu yang penting. Para Komentator dari Utara melihat hal ini sebagai problem. Mereka terbelah menjadi dua kubu, beberapa menilai pengetahuan lokal sebagai sepenuhnya pragmatis dan sebagian yang lain membaca ini sebagai sepenuhnya kosmologikal.

Kelompok yang pertama menuduh kelompok yang kedua terlau romantik, salah kaprah menganggap masyarakat indigenous sebagai murni dan polos. Sebaliknya, kelompok yang kedua menuduh kelompok yang pertama mengarang-ngarang dan menciptakan konsep global-lokal versi mereka sendiri dan membungkam cara pandang lokal. Meskipun pengetahuan lokal sering melibatkan klaim-klaim praktikal yang luas, hal ini kurang dapat dimengerti di luar konteks kosmologinya. Penceraian konteks ini sama dengan pencerabutan kelokalitasannya.

Untuk membuat persoalan semakin pelik, relasionalitas dan kekhasan dari pengetahuan indigenous sepertinya berlaku seturut dengan cara-cara yang disajikan pada pihak luar: masyarakat lokal akan memainkan atau bahkan membuat-buat cara pandang pragmatis atau pandangan dunia ekologis untuk menarik kelompok berkuasa di Utara. Pengetahuan lokal juga tampak berbeda pada posisi internalnya masing-masing, yang terkadang dipengaruhi oleh perbedaaan kekuasaan dan perspektif. Dan banyak kelompok telah mengambil sikap ekstraktif yang muncul dari konteks kapitalis yang lebih luas. Dalam banyak kasus, pengetahuan lokal hidup berdampingan dalam hubungan yang rentan dengan kekuatan global.

Subsistensi dan Pengetahuan Lokal

Ada tingkatan kelokalitasan pengetahuan dan keterhubungan, bukan dikotomi sederhana antara lokal dan global. Pengetahuan lokal lahir dalam banyak kejadian-kejadian besar, termasuk kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang terkomodifikasi akut yang tinggal di sebuah ceruk ekosistem tertentu melalui kerja-kerja mereka, contohnya nelayan komersial skala kecil, penghuni wilayah pinggiran yang berorientasi komersil, dan bahkan buruh-buruh industri (fenomena pengetahuan implisit; tacit knowledge).

Mereka memperlihatkan bentuknya yang paling gamblang di dalam masyarakat dengan sistem ekonomi subsisten seperti masyarakat berburu dan meramu, penggembala berpindah, dan petani skala kecil. Hal ini disebabkan oleh terciptanya ikatan yang kuat antara kelompok-kelompok ini dengan ekosistem dan wilayah setempat beserta ilmu peralatan yang berlaku di dalam ekonomi dan keberlanjutan kebudayaan mereka.

Inilah alasan mengapa pengetahuan lokal terancam. Ekonomi subsistem dimana-mana terancam oleh ekonomi komoditas. Projek negara, seperti pembangunan bendungan raksasa dan pengalihfungsian lahan pertanian menjadi kawasan industri, biasanya berujung pada redistribusi kekayaan dari rakyat miskin ke pada golongan kaya. Namun, ongkos yang harus dibayar oleh si miskin yang bergantung pada sistem ekonomi subsisten, hampir mustahil dihitung. Dengan demikian, projek-projek tadi adalah jala penangguk kekayaan.

Kemerosotan sistem subsisten berdampak pada pemiskinan dan ketergantungan pada kapitalisme. Itu juga meluluhlantakkan konteks dimana pengetahuan baru indigenous lahir dan pengetahuan lama dipelihara. Oleh karena itu, ada kekhawatiran atas hilangnya pengetahuan indigenous, dalam kasus kematian bahasa, penurunan jumlah bahasa global dan dengan demikian hilangnya cara pandang lokal dan ancaman terhadap keberlangsungan hidup masyarakat indigenous.

Ada beragam cara dimana kelompok-kelompok lokal bertahan dari ancaman tersebut. Seringkali, sistem ekonomi subsisten terjaga karena eksodus ke wilayah-wilayah yang jauh dari sistem komodifikasi dan kontrol negara, seperti rimba, gurun dan perbukitan. Ini sudah berlangsung lama. Apa yang hari ini dikenal sebagai masyarakat indigenous sesungguhanya adalah produk dari perpecahan politik masa lalu, dimana kelompok-kelompok ini menarik diri dan melarikan diri dari kekuasaan negara yang semena-mena dan rakus.

Hari ini, strategi eksodus ini terancam oleh semakin masifnya ekspansi kapitalisme global dan infrastruktur kekuasaan negara. Namun, mereka juga diuntungkan oleh melemahnya kuasa negara di wilayah pinggiran, dengan munculnya apa yang disebut sebgai “lubang hitam” sebagai akibat dari neoliberalisme, kekuasaan yang terpusat telah runtuh. Namun demikian, secara paradoks lokalitas semakin terancam hari ini sekaligus semakin kuat dan dapat muncul kembali dalam bentuk-bentuk baru.

Kepentingan Teoritikal Pengetahuan Lokal

Beberapa penulis telah berusaha menyematkan kepentingan teoretikal pada fenomena subsisteni. Persepsi subsistensi diusulkan oleh beberapa penulis di antaranya Maria Mies dan Veronika Bennholdt-Thomson. Menurut mereka Subsistensi harus diterjemahkan sebagai cara pandang dunia yang sama sekali terpisah dari komodifikasi kapitalisme. Subsisten di sini tidak sama dengan kemiskinan.

Subsisten berarti memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja dengan dan membudidayakan alam, bukan menaklukan dan mengeksploitasinya.

Dalam perspektif ini, tujuan utama dari aktifitas sosial bukanlah pasar tapi pemenuhan kebutuhan. Reorientasi ini berarti menolak sebagian besar cara-cara yang telah diajarkan oleh kapitalisme dalam memandang dunia ini.

Bukan hal aneh lagi manakala pengetahuan lokal didesak masuk ke dalam salah satu cabang bidang studi akademik tertentu, dianggap relevan dalam ranah lokal dan tidak relevan untuk negara-negara maju. Proses ini mencerminkan proses politik dimana masyarakat lokal dan indigenous hidup menyendiri (enclaved) mendiami wilayah tertentu, terpisah satu sama lain dan tidak tersentuh oleh pengaruh dari luar. Pengetahuan lokal sesungguhnya memiliki relevansi dengan semua pertanyaan-pertanyaan besar teori.

Sebagai contoh, penulis seperti Valentin Mudimbe telah berusaha untuk menghidupkan kembali ide bahwa pengetahuan lokal relevan dengan filsafat, mempertanyakan narasi dominan bahwa filsafat ditemukan di Utara. Persoalan utama dalam merumuskan dan menilai pengetahuan lokal adalah efek “pengasingan” atau pengisolasian pengetahuan tersebut. Ini akan berujung pada kebutuhan membangun jejaring untuk dapat mempertahankan kelokalan konteks-konteks tapi sekaligus mempu berkomunikasi lintas konteks lewat “ikatan longgar”.

Pada jalur ini, berbagai penulis seperti Glissant, Mignolo, dan Khatibi mengajukan pandangan soal “pengetahuan-pengetahuan batas (borders knowledge)” yang menjalin jejaring horisontal antar ruang-ruang lokal yang berbeda, menyusun ulang dunia atau alam semesta sebagai jejaring perspektif bukan sesuatu yang dilihat dari atas (top-down).

Pengetahuan lokal bukanlah pengetahuan esoterik yang asing dan hilang, bukan juga sekumpulan informasi yang dapat dikerangkai oleh bingkai yang dominatif. Ia berdasarkan cara pandang dan berhubungan yang melahirkan bentuk-bentuk pengetahuan khas yang berkorespondensi dengan bentuk-bentuk kekuasaan yang berbeda-beda, baik di antara sesama manusia maupun antara manusia dan alam (ekosistem). Di antara banyak hal yang dapat dipelajari dunia yang kapitalistik ini dari pengetahuan lokal adalah praktik-praktik pembentukan alternatif-alternatif dalam cara melihat dan berhubungan. Pengetahuan lokal menyediakan basis bagi membangun dunia baru lewat celah dan lubang dalam jejaring dominatif. Tantangannya adalah bukan hanya bagaimana mempertahankan ruang-ruang subsistensi yang ada, tapi juga mengembangkan dan memperluasnya serta menciptakan ulang relasi sosial melalui celah-celah yang tersedia.

==========

*Judul Asli: Think different: Think local

**Artikel ini dialihbahasakan oleh Angga Palsewa Putra

 

Comment here