Please follow and like us:

Seorang pertapa dengan penampakan yang begitu menjijikkan telah keluar dari gua dan duduk dengan setengah hati di antara keramaian orang-orang yang menghadiri acara sunatan di satu desa di Blora. Pertapa itu memang tidak terlalu menarik. Dia tidak nampak bijaksana. Badannya kurus, pakainnya lusuh, hanya selembar cawat penutup kemaluan dan lalat berseliweran di sekitarnya. Orang-orang malah memanggilnya sebagai kere. Tapi, siapakah dia sebenarnya? Pertapakah dia? Hal itu tidak seluruhnya otentik, sebab, dialah Raden Hardo. Seorang pelarian yang menghindari perburuan karena kegagalannya memimpin pemberontakan terhadap Jepang.  Tokoh yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Perburuan yang terbit tanggal 17 Agustus 1994.

Begini ceritanya, satu hari, seorang anak lelaki bernama Ramli, putra dari Lurah Kaliwangan disunat pagi-pagi betul, setelah ritus gamelan selesai bertabuh sepanjang malam. Warga Dusun Kaliwangan begitu riuhnya memadati rumah itu. Pertunjukkan wayang digelar di pendopo dengan dekorasi yang semarak. Orang-orang menonton dengan antusias dan terhibur betul. Tapi, masa-masa itu adalah masanya kekuasaan Jepang di mana rakyat Blora penuh kemelaratan. Maka, jangan bayangkan orang-orang yang hadir adalah masyarakat yang penuh kejayaan. Di sana pengemis lelaki dan perempuan berkerumun tidak habis-habisnya. Mereka, orang-orang malang itu duduk kesusahan mengulur-ulurkan tangan pada orang yang tak acuh setelah menyaksikan pertunjukan dan satu-persatu mulai meninggalkan tempat itu. Tinggallah Ramli duduk terpaku sendiri di kursi kuno, sambil mengibaskan cemara pada luka hasil sunatannya. Anak itu tidak kehilangan keceriaannya, layaknya anak “sekolahan rakyat” usia dua belas tahun habis lulus ujian.

Tapi, keriangannya kemudian sedikit terusik dengan tatapan yang dalam dan akrab dari seorang pengemis muda di sekitaran pendopo. Kere yang kurus kering dan hanya bercawat itu, hanya terpaku pada penampakan Ramli. Pandangannya menyiratkan satu perenungan. Ramli yang masih lemah mencoba keluar menghampiri orang itu. Tapi, ibunya datang dan mencegahnya untuk berdiri.

Ramli begitu terkesan dengan pandangan itu, dia hanya ingin pergi menemui kere itu dan tidak memperhatikan umpatan ibunya yang risih melihat pengemis-pengemis yang bergelimpangan di rumahnya. Kere itu lewat pandangannya seolah-olah menghidupakan kembali ingatan Ramli akan orang yang dia rindukan sejak kepergiannya tiga tahun lalu. Perasaannya begitu kuat terhadap orang itu. Tapi benarkah Si Kere jelata itu adalah orang yang disayanginya. Langkahnya setapak demi setapak menghampiri ibunya yang tengah mengusiri pengemis-pengemis itu. Semakin dia mendekat semakin yakin pula hatinya. Dipanggilnya ibunya dengan lugu. “Bu, dia (Si Kere muda itu) seperti Den Hardo“. Ibunya setengah terkejut, dan menimbang-nimbang laku pengemis muda itu dan kemudian menyusul teriakannya “Den Hardo!”.

Kere itu, yang sejak tadi diam seperti paku dan lusuh, sontak bergeming dan pergi dengan segera sabagaimana kerumunan kere lainnya.

Hari sudah hampir gelap. Kere itu terus juga berjalan dengan amat lesuh, telah sepuluh sampai lima belas rumah didatanginya. Seharian ia selalu menggerutu, memanggil tunanganya Ningsih, kakak dari Ramli, dan Shodanco Karmin, sahabatnya yang telah berhianat di tengah-tengah pemberontakan terhadap Jepang dan menyebabkan pula kegagalan dan pelariannya ke dalam gua sempur yang pekat tiga tahun lamanya. Sepanjang jalan dia mengumpat pada diri sendiri.

Di satu sisi Ramli benar-benar berduka dengan kondisi Den Hardo. Dia menginginkan Den Hardo kembali padanya. Anak itu mengiba dengan manja pada ibunya, meminta agar Den Hardo dicari dan dipanggil kembali. Ibunya tidak tega dan dipintainyalah pada suaminya (Lurah Kaliwangan) untuk mencari Den Hardo yang telah jadi kere itu. Maka, Pergilah Lurah Kaliwangan sambil menggerutu-gerutu setengah ikhlas. Lurah ini memang sangat materialistik. Dulu, kala ayah Hardo menjadi Wedana Karangjati, dia menerima Hardo dengan bangga hati. Tapi, kini Wedana itu tidak sebaik nasibnya yang dahulu. Dia telah dipecat dan Hardo pula? Dia kini sudah jadi kere, dia kini pengemis yang menjijikkan. Masuk di akalkah dibiarkannya putrinya Ningsih jadi milik kere itu? Betapa lurah itu sekali-kali benar-benar tidak menghendaki kemelaratan.

Maka, bertemulah dua orang yang sama-sama menggerutu itu di satu jalan di sudut desa yang sudah mulai rembang ditinggalkan sinar matahari yang mulai redup. Lurah Kaliwangan mulai merayu Den hardo untuk kembali lagi bersamanya atas permintaan putranya, Ramli. Dia menngambil hati kere itu dengan bercerita tentang masa-masa yang menyenangkan dahulu waktu mereka masih bersama-sama. Diceritainya pula tentang putrinya Ningsih yang menjadi guru di kota dengan penuh kasih sayang. Teruslah lurah itu mengajak Hardo untuk ikut bersamanya. Katanya, orang-orang sudah lagi lupa perihal pemberontakan “Peta” itu, Nippon tidak terkecuali. Dikabarinya bahwa Shodanco Karmin kerap kali datang ke rumahnya dan memuji-muji keberanian Den Hardo. Kere itupun mulai merenung. Dia mulai sadar akan apa yang terjadi dahulu.

Shodanco Karmin, penghianat itu, akhirnya baru disadari oleh Hardo bahwa dia sedang sakit dahulu itu. Kekasihnya menghianatinya dan kecewalah Karmin. Sehingga penghianatannya adalah hanya karena Karmin tidak lagi punya cara melepaskan sakit hatinya. Lurah itu masih meminta pohon dan menunggu-nunggu Den Hardo. Tapi, pedulikah Hardo pada Lurah itu? Tidakah yang dicari-carinya sejak tadi adalah Ningsih kekasihnya? Hendakkah ia kembali ke rumah tadi, sedang telah diketahuinya Ningsih di kota? Maka, Hardo mulai beranjak dari sudut jalan itu. Cepat-cepat ia bergegas hendak menemui kekasihnya. Lurah Kaliwangan berusaha mencegah dengan menawari uang agar kere itu ikut bersamanya. Hardo menolaknya dan berjanji akan kembali lagi apabila Nippon telah jatuh dan menyerah. Lurah Kaliwangan menanggapi dengan lesuh. “Nippon kalah? Nippon anak, dapatkah Nippon itu kalah?”. “Tapi, Bapak,” kata Hardo. “Manusia tak selamanya menang. Manusia hidup untuk menang dan selanjutnya manusia hidup untuk kalah atau sebaliknya”.

Lurah kaliwanganpun kecewa. Dia kembali ke rumahnya. Dia melihat putranya sungguh-sungguh terpukul akan usahanya yang nihil mencari Hardo. Masalah baru apa lagikah ini? Putrinya Ningsih itu, putri kesanyangannya harus kembali pada Hardo yang hanya bercawat itu. Padahal, telah disusunnya rencana agar Shodanco Karmin dapat menggantikan posisi Si Kere Hardo di sisi Ningsih. Tapi, dia telah datang kembali lagi dan memporak-porandakan maksudnya. Dia benar-benar tidak bisa menerima keadaan. Hardo harus disingkirkan. Hardo harus ditangkap, lalu dipenggal tengkuknya oleh Nippon. Maka, dibuatnya surat laporan kepada Nippon bahwa Raden Hardo telah kembali ke Blora.

Nippon dengan cepat merespons surat itu. Inilah saatnya meringkus pelarian itu. Bergeraklah pasukan Nippon malam itu juga mencari Den Hardo. Seluruh Blora mulai kembali genting. Nippon mulai tidak terkendali. Tiap-tiap rumah mulai digeledah mencari keberadaan Hardo dan prajurit-prajuritnya yang ikut memberontak beberapa tahun lalu. Hardo yang belum tahu-menahu tentang pengeproyokan terhadap dirinya, terus juga berjalan di dalam kegelapan malam. Dia dengan tenangnya menikmati langkah kaki yang bersamaan dengan bunyi gamelan yang begitu menggugah. Sampai pada saatnya dia mulai merasakan satu kegetiran. Dalam posisi yang tidak beberapa jauh, mulai didengarnya hura-hara. Teriakan-teriakan yang gaduh dan hentakan sepatu silih berganti menembus-nembus perasaanya yang was-was. Dia akhirnya semakin gelisah dan masuk tanpa permisi lagi dalam satu gubuk untuk bersembunyi.

Di gubuk yang gelap itu bertemu ia dengan seorang tua bernama Muhamad Kasim. Dialah tidak lain dan tidak bukan adalah bekas Wedana Karangjati, ayahnya sendiri. Betapa kegirangan Si Tua itu bertemu kembali dengan putranya. Mulai ia bercerita betapa sunyi dan dekadennya hidupnya setelah pemberontakan itu. Istrinya mati dengan malang karena sakit keras, namun dipaksa untuk meringkus Hardo (putranya sendiri) bersama-sama dengan dirinya tiga tahun lalu. Dia tidak kuasa melawan karena dia pegawai. Apapula yang diingini pegawai kecuali naik pangkat dan naik gaji. Maka, biarpun itu anaknya. Biarpun itu bangsanya sendiri. Dilakukannya juga perintah Jepang itu. Tapi, nasib berkata lain, anaknya tidak berhasil ditangkap dan dirinya dipecat sebagai Wedana. Teruslah ia berkasih-kasihan menyesali dan mengenangkan perbuatanya di masa itu.

Semalaman mereka bercerita, hingga di subuh hari Nippon memasuki gubuk itu. Hardo yang menyadari hal itu telah melarikan diri lebih dulu menyusuri sungai menuju ke bawah kolong jembatan tempat kawan-kawannya yang lain bersembunyi. Ayahnya kemudian diseret ke penjara oleh Nippon karena dituduh berbohong dan menyembunyikanya.

Sidokan (Komandan Kesatuan Militer jepang) mulai naik pitam, sebab, pemberontak-pemberontak itu tak kunjung tertangkap. Barulah dua hari kemudian orang-orang buruan itu didapati  di tengah semak-semak yang lebat di dekat jembatan tidak jauh dari rumah Ningsih. Sidokan Jepang yang  tengah menggeledah rumah Ningsihpun keluar dengan segera ke depan rumah.

Prajurit Nippon mulai membawa mereka satu-persatu ke hadapan Sidokan itu. Dia tertawa puas dan mulai mengumpat-umpat Hardo dan kawan-kawannya. Mereka akan dibawa ke Jakarta untuk dipenggal tengkuknya, katanya. Tapi, nampaknya hari itu berjalan tidak seperti biasa. Cuaca hari itu nampak begitu berbeda. Di sana-sini orang-orang berparade dan meneriakkan merdeka! Barulah diketahui bahwa satu hari yang lalu Nippon telah menyerah terhadap sekutu. Nippon kalah! kalah sejadi-jadinya di daratan, dan Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya.

Parade itu mulai melewati rumah Ningsih dan menunjuk-nunjuk Sidokan yang mulai kaku kehilangan wibawanya. Telah berusaha disembunyikan berita itu pada rakyat, namun semua sia-sia. Indonesia telah merdeka! Muka Sidokan itu mulai memerah. Dia tidak mampu lagi berkata apa-apa. Dia mulai jatuh ke dalam perasaan terluka. Maka, dicobanya untuk melawan perasaan itu. Dia mengangkat pistol dan dengan teriakan menembak ke segala arah. Hardo yang masih bertekuk lutut sontak melompat dan memeluki Sidokan itu. Terjadilah pergulatan. Mereka saling guling-mengguling, sampai Dipo, kawan dari Hardo merampas samurai dari salah satu prajurit Nippon dan menebas kepala Sidokan itu. Sidokan tersungkur lesuh, dahinya telah tidak berbentuk. Yang nampak hanyalah warna putih dan sebentar kemudian darah mulai mengalir dari otaknya yang terpenggal.

Suasana saat itu menjadi hening. Ningsih sejak tadi terbaring di pangkuan ayahnya, lemas. Dia terkena peluru dari tembakan liar Sidokan tadi. Hardo, Si Kere yang masih juga hanya bercawat itupun datang menghampiri dan ganti memangku tunangannya itu. Dia menyapa dengan irama yang malang: “Dik Sih, … dik Sih!” Tapi gadis itu menjawab dengan sauara yang hampir habis: “Siapa kau?”. Hardo terpukul, Ningsih pergi dari pangkuanya tanpa mengenali dirinya. Dia lalu mengingat kembali kata Lurah Kaliwangan. Ayah dari Ningsih yang hampir saja mencelakakannya. “Den Hardo? Perempuan… sangat tergantung pada mata orang lain dan matanya sendiri. Mata! mereka lebih mengutamakan mata daripada otak dan hatinya”.

Dari tema besarnya, kita bisa melihat bahwa karya ini merupakan sebuah roman aksi pergulatan yang mendebarkan dengan beberapa cek-cok di sana-sini, yang sudah seharusnya ada dalam sebuah cerita berlatarkan hal-hal aksioner. A. Teeuw justru menilai roman ini bukan dengan melihat tema besarnya secara kasat mata. Lebih dari itu, secara tendensius, ternyata novel Perburuan ini mengandung sebuah perenungan diri dalam tokoh-tokohnya. Dimana mereka mengerjakan sebuah pekerjaan yang amatlah luhur. Berikhtiar, bertapa, dan akhirnya sampai pada perenungan dan penemuan diri secara ritualis khas Jawa.

Saya, belakangan malah melihat hal yang tidak kalah menarik dari ekslusifitas yang ada pada cerita Pramoedya ini. Di luar dari segala bentuk-bentuk aksi pergulatan dan pandangan A. Teeuw di atas. Kita bisa menilik lebih dalam lagi, bagaimana si narator dalam kisah ini melihat seorang wanita. Ningsih digambarkan dalam cerita ini dengan deskripsi yang menarik. Kita bisa menemukan itu dalam perkataan tokoh Lurah Kaliwangan: “Den Hardo? Perempuan… sangat tergantung pada mata orang lain dan matanya sendiri. Mata! mereka lebih mengutamakan mata daripada otak dan hatinya”.

Kutipan ini berada pada urutan awal-awal cerita. Pun, semula Hardo sesungguhnya tidak begitu meyakini hal ini. Tetapi, kemudian mafhumlah ia akan pembuktian perkataan Lurah Kaliwangan itu ketika menemui Ningsih. Di masa-masa terakhir kehidupan gadis yang dicintainya itu, ia justru tidak dikenali sama sekali oleh Ningsih, karena perawakannya yang sangat buruk setelah menjadi pelarian. Barang tentu pandangan ini menyisakan sebuah pertanyaan. Apakah tafsiran dari tabiat wanita ini merupakan satu hal yang insidental saja, karena merupakan satu gagasan plot yang telah direncanakan? Atau, barangkali hal ini benar-benar terjadi secara riil dan juga justru berlaku secara universal?

Entahlah, namun dari narasi tabiat wanita ini pulalah, saya jadi teringat akan satu penulis wanita Indonesia kenamaan bernama Ayu Utami.  Dalam satu pengantarnya di dalam sebuah buku kumpulan cerpen Kompas. Dia pernah mengemukakan bahwa karya yang berdasarkan realitas bukanlah sesuatu yang permanen dan berarti pula realisme sebagai nafas dari karya sastra, sudah tak cukup lagi.

Apakah yang kemudian bisa terbayang dari pendapat ini? Jawabannya tentu saja akan beragam. Namun, saya sendiri tidak sepakat dengan pernyataan non-sens itu. Sebab, kalau kita bisa membayangkan bahwa kemanusiaan juga merupakan bagian penting dari sebuah realitas. Saya kira realitas itu tidak mungkin bisa dikesampingkan, apalagi sampai mengatakannya “tak cukup lagi”. Untuk hal ini pula, sepertinya Sitor Situmorang punya gagasan yang lebih manusiawi untuk menjawab prinsip Ayu Utami itu:

“Tidak ada Karya abadi, tetapi karya besar yang memenuhi atau lebih baik dikatakan besar karena dipandang memenuhi kemanusiaan menurut ukuran zamannya, memang dapat disebut abadi sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan tertinggi”.  

Sastra, sesungguhnya dan seharusnya bisa menimbulkan satu kesadaran terhadap masyarakat akan realitasnya. Maka, Sebuah karya yang secara holistik tidak memenuhi ukuran kemanusiaan di zamannya dapat dikatakan sebagai karya sastra yang dekaden dan justru tergolong dalam satu struktur penindas kemanusiaan itu sendiri. Ayu Utami sebagai representasi dari pandangan formalis ini, sepertinya tidak mampu mengenali sejarah kesusastraan secara terperinci.

Foulkes dengan terang-terangan mengemukakan bahwa dengan meniadakan potensi sastra sebagai kekuatan sosial, khususnya kekuatan yang dapat memberi sumbangan pada perombakan struktur sosial dan establishment yang berkuasa, dapat melemahkan semangat manusia yang ketularan ide bahwa sastra rekaan menggantikan kenyataan dan bahwa kenikmatan estetik lebih penting dari pada keterlibatan dalam proses sosial. Menurutnya, di Amerika Serikat, pendekatan formalis justru dimanfaatkan dengan sengaja oleh kekuasaan yang ada pada golongan elit, untuk menindas revolusi sosial, orang hitam dan lain-lain.

Sulit juga rasanya, membayangkan bagaimana kita harus menulis dengan tidak mengedepankan realitas di masa-masa sekarang ini. Ketika perampasan ruang hidup dan kelaparan tidak habis-habisnya, mana mungkin kita menuliskan sesuatu yang utopis dan tidak menyentuh hal-hal itu. Toh, kalau jenis sastra yang masa bodoh semacam ini terus juga berlangsung. Kita lama-kelamaan malah akan menjadi tidak lebih dari jaringan tulang-tulang yang dibaluti daging yang berjalan di muka bumi ini dengan prinsip yang sangat tidak manusiawi.

Saya akhirnya mulai merenung-renungkan, mengapakah Ayu Utami menolak realitas dalam karya sastra? Bodohkah dia? Barangkali saja tidak. Sebab, dia perempuan dan lebih mengutamkan mata dari pada hati dan otaknya. Seperti kata Pak Lurah kaliwangan kepada Den Hardo dalam novel Perburuan yang di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

Tafsiran Lurah Kaliwangan di atas, meskipun telah menonjolkan buktinya pada dua orang wanita di dua dimensi yang berbeda secara wujudiah, tentu saja belum bisa dikatakan sebagai kemutlakan dan belum pula menjawab apakah tafsiran itu merupakan hal yang bersifat segmentatif ataupun universal. Lagipula masih membutuhkan perenungan dan pengkajian yang lebih dalam lagi tentang hal itu, terutama dalam perspektif feminis.

Kecuali itu, ada juga terlintas dalam bayangan—meskipun tidak begitu jelas—relasi intertekstualitas yang cukup menarik antara Perburuan dengan Kazak dan Penyerbuan karya Tolstoy. Dua novel ini sama-sama menggambarkan entitas yang sangat taktis dan penuh pertempuran mendebarkan yang dibaluti dengan perenungan-perenungan yang dalam dari masing-masing tokohnya. Hal itu bisa terlihat pada pribadi Den Hardo dalam novel Perburuan dan Olenin dalam novel Kazak dan Penyerbuan. Sialnya lagi, dalam pergolakan zaman yang serba tak pasti dan mendebarkan itu, kedua tokoh ini sama-sama terjebak dalam kegamangan perasaan karena rasa cinta yang mendalam pada wanita-wanitanya. Dari sini saya melihat ada beberapa dosir-dosir yang menjadi persoalan utama bagi kedua novel tersebut, yaitu “perang” dan “cinta”.

Dalam hal “perang”. Sepertinya Tolstoy punya gambaran yang cukup baik untuk menjelaskan secara komprehensif bagaimana sesungguhnya bangunan nuansa dari hal yang identik dengan kemiliteran itu dibandingkan Pramoedya dalam novel Perburuannya. Alasannya, barangkali karena Tolstoy juga pernah merasakan secara langsung dunia kemiliteran. Ia pernah menjadi anggota Resimen Artileri dan ikut tergabung dalam operasi militer di Kaukasus. Hal ini tentu saja berbeda  dengan latar belakang yang dimilki oleh Pramoedya Ananta Toer meskipun sepotong hidupnya pernah juga habis sebagai seorang prajurit.

Dalam hal “cinta”, sesungguhnya kisah percintaan yang gambarkan kedua novel ini sama-sama memilki akhir yang mengecewakan bagi tokoh lelakinya. Akan tetapi, saya sangatlah terkesan dengan gambaran percintaan yang dibangun Pramoedya Ananta Toer dalam kisah Perburuan. Kesan yang tidak begitu saya rasakan ketika membaca kisah cinta segitiga antara Olenin, Maryanka dan Lukashka dalam novel Kazak dan Penyerbuan. Mungkin juga hal ini terjadi karena latar belakang kultural saya yang lebih dekat dengan karya Pramoedya dibandingkan Tolstoy.

Kesan percintaan yang saya dapatkan dalam kisah Perburuan itu pula yang membuat saya justru memiliki sudut pandang yang lain perihal kisah yang dibuat oleh Pramoedya ini. Alih-alih berharap mendapatkan kesan dari beberapa peristiwanya yang sarat akan aksi-aksi peperangan dan pemberontakan di masa-masa revolusi Indonesia. Saya ternyata malah menilai cerita Perburuan ini bukanlah merupakan roman pemberontakan. Tetapi, sebuah roman percintaan, di mana tokohnya merasakan patah hati yang sangat menyakitkan dan dari sini pula saya teringat akan perkataan Spongebob, satu tokoh kartun yang sangat fenomenal bagi masih kecil saya: “Semua adil dalam cinta dan perang, di dalam keduanya kita harus berjuang”. Meskipun saya harus menambahkan lagi kalimat itu dengan kalimat: dalam dua hal itu, kadang-kadang, kita sering kecewa.

Please follow and like us: