Opini

Perjalanan: Bagian I

Surabaya-Keraksaan (pesisir Probolinggo) kuda besi-kuda besi melaju di jalanan yang berjarak puluhan kaki dari laut. Langit yang mendung, hembus angin laut bercampur semerbak amis ikan, dan kepulan asap dari lapak-lapak pedagang ikan asap seakan mengajak kuda besi-kuda besi itu untuk rehat sejenak, namun semacam ada getir dan cemas di wajah para penunggang kuda besi-kuda besi itu sehingga mereka enggan untuk singgah dan terus melaju. Ke mana mereka? Kenapa mereka tampak getir dan cemas? Apakah karena hujan akan turun segera? Kalau memang demikian, berjayalah para pedagang mantel plastik yang mengisi bahu jalan yang rusak itu.

Di pertengahan jalan, kuda besi yang saya tunggangi saya hentikan persis di hadapan sebuah makam terbesar kedua di dunia setelah Anyer-Panarukan, kemudian kuburan massal di pulau sebrang nun jauh. Aneh! Tak ada satu batu nisan pun tertancap di makam itu, kecuali sebuah papan pengumuan yang berbunyi begini bila saya tuliskan: Wisata Lumpur Lapindo, dan pos-pos penjaga.

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di sini—sebelumnya saya hanya melintasinya. Saya beranjak dari kuda besi dan berjalan di sebuah jalan setapak. Tak sampai dua puluh lima kaki dari kuda besi saya, angin menghembuskan bau busuk yang menyengat hidung dan menghentikan langkah saya. “Sebuah maha karya Abu Rizal Bakrie!” Saya bergumam. Tak jauh dari tempat saya berdiri tampak orang-orang berdatangan, entah dari mana asal mereka. Sejak itu saya menyadari bahwasanya kemajuan teknologi yang disimbolkan sebagai “kemajuan bangsa” dan peradaban manusia telah menghapus sosio-historis bagaimana makam ini tercipta dan telah membuatnya menjadi populer di kalangan masyarakat transitif-naif. Saya pun kembali memperhatikan orang-orang yang berdatangan itu.

Apa yang mereka cari? Kesenangan macam apa yang ada di sini? Bukankah ini makam bagi peradaban manusia? Tidak. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan saya sendiri ini. Saya pun kemudian mengalihkan pandang mata ke lain sisi. Dan imajinasi saya mulai meliar: ada seorang anak perempuan berdiri tak begitu jauh dari tempat saya berdiri. Rambutnya ikal, kulitnya kuning langsat bercampur lumpur yang mengering, tak ada senyuman. Anak perempuan itu berjalan perlahan menghampiri saya, kemudian memegang tangan saya dan menuntun saya berjalan menyusuri jalan setapak itu. Tak ada takut sedikit pun yang saya rasakan. Saya hanya berjalan mengikuti anak perempuan itu.

Saya dan anak perempuan itu berdiri sepuluh kaki dari halaman sebuah rumah—sisa rumah, tepatnya. Anak perempuan itu menuntun saya mendekat ke rumah itu. Sungguh, saya tidak merasakan apa-apa ketika mengikuti anak perempuan itu, hingga sampailah kami persis di hadapan pintu rumah itu. Tak berapa lama, terdengar derap kaki dari dalam rumah itu. Dan, seorang lelaki tua membuka pintu rumah itu dengan perlahan dan hati-hati. Kami tak sekata pun bicara. Ketika hendak melangkahkan kaki selanjutnya, saya teringat kuda besi yang saya tinggalkan. Saya mundur sekaki. Anak perempuan dan lelaki tua itu mendelik saya—di sinilah rasa takut itu mulai muncul.

Ketika hendak berlari, saya rasakan seseorang menarik kaki saya. “Apa yang hendak kau lakukan?!” Maki seorang perempuan baya. Saya bangkit, orang-orang yang berkerumun itu saling berbisik, dan saya lihat lengan kiri saya bersimbah lumpur yang berbau busuk. Tanpa banyak omong, saya bergegas menuju kuda besi kemudian melaju sembari terus dibayang-bayangi anak perempuan dan lelaki tua di maka terbesar kedua di dunia maha karya Abu Rizal Bakrie itu.[]

Comment here