Please follow and like us:

Ratusan kaki dari Kraksaan terdapat sebuah pantai yang membentang tanpa pernah menggerutu. Nyaris setiap sore menjelang malam, orang-orang dari berbagai kelas sosial berkunjung ke pantai itu sekadar membuang-buang uang mereka, “menikmati senja” kemudian berfoto, atau “mencari inspirasi bagi puisi”. Angin laut menyerbak amis ikan dan daki para nelayan menerpa pepohonan cemara yang ditanam oleh kaum derma sebagai amal. Puluhan kaki dari kursi-kursi duduk dan dangau, sebuah rumah baja berdiri dan tak pernah berhenti bekerja. Rumah baja itu lengkap dengan empat cerobong pembuangan asap hitam yang jahat ke langit. Puluhan kaki ke laut, tongkang-tongkang pembawa tulang-belulang Ibumi tanah Borneo tambat sembari gelisah menunggu pembongkaran selanjutnya, dan begitu selanjutnya selama bertahun-tahun tanpa pernah seorang pun datang membawa parang kemudian membunuh pemilik rumah baja itu.

Oleh kengerian ini, saya melamun. Dalam lamunan itu saya melihat bagaimana hutan dibabat dan tanah dikeruk kemudian tulang-belulang yang tertanam di dalamnya diangkat dan dipotong menjadi bagian-bagian kecil, sehingga memenuhi bak truk-truk besar yang sabar menunggu sebelum melaju menuju tongkang-tongkang di pelabuhan. Saya juga melihat orang-orang bangsa saya hanya berdiri mengisi bahu jalan merah yang panjang tanpa bicara, tanpa mengacungkan mandau, mereka hanya menatap tajam dengan sepasang mata mereka yang merah terkena debu. Dan yang paling menyedihkan dan membuat saya merasa tak ada gunanya ialah ketika saya melihat di antara mereka ada adik perempuan saya berdiri tanpa Mamak! Saya pun segera menghentikan lamunan itu dan beranjak dari kursi kemudian menyuruh orang-orang baik yang mengajak saya ke pantai itu untuk segera pulang. Orang-orang baik itu tidak bertanya kenapa seakan mereka mengerti apa yang saya rasakan di pantai itu. Sesampainya di rumah salah seorang baik itu, kami segera menyantap ikan asap yang baru saja diangkat dari pemanggangan sembari menenggak beberapa sloki Anggur, kemudian saya bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang anak perempuan—kira-kira tujuh tahun umurnya—yang membuat saya ngeri.

Pulangnya saya ke kampung halaman bukan lantaran bahwa saya telah menjadi orang beradab, melainkan buku yang saya tulis akan dibicarakan di sana. Hari itu hari Kamis yang panas—saya masih ingat betul. Saya pergi ke tepi danau untuk sekadar duduk dan menghayati suasana yang saya rindukan selama berada di kota. Dua puluh kaki dari tempat saya duduk, tiga orang anak perempuan asyik bermain-main. Saya memperhatikan mereka, meskipun mereka tak memperhatikan saya. Saya duduk, menyulut rokok kedua sembari terus memperhatikan mereka. Jujur saja, saya teringat masa kanak-kanak yang telah lalu. Ketika saya hendak menyulut rokok keempat, tiga orang anak perempuan itu naik ke tepi dan berpakaian. Saya pun menghampiri mereka. Salah seorang anak semringah malu-malu. Saya bertanya kepadanya tentang apa cita-citanya kelak setelah dewasa. Dengan jujur dan polos anak itu menjawab bahwa dia ingin menjadi seorang mandor di perkebunan kelapa sawit agar bisa membeli motor dan playstation. Saya terdiam dan mereka berlalu pergi sembari berbicara dengan bahasa mereka.

Jawaban anak perempuan itu, bagi saya, merupakan sebuah tamparan telak dan dampak riil dari perusakan alam yang terjadi di tanah kelahiran saya. Orang-orang baik itu tertegun ketika saya menghela nafas sedalam mungkin kemudian menghembuskannya ke udara. Tidak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mereka, pun saya. Kami melanjutkan putaran berikutnya dan ketika sloki berada di tangan saya, saya berkata: “Lalu bagaimana fungsi saya sebagai bagian dari mereka dan penyebab kerusakan itu? Menuliskannya secara jujur dan apa adanya!” Demikian, malam itu berlalu begitu saja.[]

Please follow and like us: