Please follow and like us:

Menjelang malam, tetes hujan membasahi aspal jalanan dan bunga-bunga taman di Kota Kraksaan—kota kecil di pesisir Probolinggo yang menyedihkan. Lampu lalu lintas sesekali berbunyi. Gedung megah yang merupakan peternakan pemerintah terkunci rapat-rapat seakan tak seorang pun boleh mengetahui apa yang sedang dilakukan binatang-binatang di dalamnya. Anak-anak muda di kejauhan tampak sibuk menyelamatkan telepon genggam mereka dan yang lain ngebut kuda besi mereka demi mengantar sang kekasih. Angin laut yang berhembus kencang membawa suara-suara kecil dari rumah-rumah nelayan yang tak jadi melaut lantaran “hujan pertama”. Para pedagang kaki lima yang nyaris tiap malam berjudi nasib di torotoar taman kota itu tak jua datang. Saya melihat daun-daun berserakan di jalanan seperti hasil penelitian para sarjana yang memenuhi tong-tong sampah. Beberapa orang baik menyambut kedatangan saya dan sekaligus itu kali pertama kami berkenalan. Seperti biasa, selalu ada alkohol yang memabukan menjadi karib bercerita, hingga malam berlalu dengan dingin.

Saya membenci dingin. Bukan tanpa sebab. Pada suatu waktu ketika pembakaran hutan marak terjadi, dingin tidak mampu membekukan api-api itu, sehingga hutan dan seisinya menjadi arang dan tunggul jerami. Di sungai-sungai, saya melihat batang-batang bekas pondok para peladang hanyut. Di sungai-sungai yang lain, orangutan-orangutan hanyut ke Pantai Laut China Selatan. Di sini, dingin membuat para nelayan dan para penjaga terlelap, sehingga orang-orang kaya bisa membuat tambak-tambak udang di mana pun mereka inginkan. Dan, dingin pula membuat paramuda kehilangan semangat untuk mempertahankan hak hidup dan melawan para pemilik tambak-tambak udang. Sementara itu, dunia Sastra dan dunia keseniannya dikontrol seorang anak mafia penguasa tanah yang mendinasti tanpa mengalami gangguan. Namun, kekacauan yang terjadi ini, bukan semata karena dingin dan kehidupan yang dingin semata! Lihatlah anak-anak yang bermain layang-layang di jalan yang rusak itu! Apa cita-cita mereka? Seperti semerbak amis ikan terhembus angin, tak seorang pun tahu apa maknanya.

Di sebuah kedai kopi, orang-orang baik yang lain menyelenggarakan sebuah acara kejutan. Ada belasan orang yang datang. Salah seorang dari mereka menyuruh saya untuk berbicara (kata mereka, berbagi ilmu) tentang Sastra dan proses kreatif. Saya pun berbicara tentang Sastra sesuai kemampuan saya selama “menjadi” mahasiswa Sastra di sebuah perguruan tinggi yang, jujur saja, kualitas pengajarnya tidak sesuai dengan biaya yang saya bayar ke birokrat perguruan tinggi itu. (Apa yang saya bicarakan dalam acara itu akan saya tulis dalam tulisan berikutnya).

Keesokan hari—sesuai kesepakatan bersama—kami menyelenggarakan Kelas Menulis Cerpen. Mengejutkan! Betapa tidak, ini untuk kali pertama Kelas Menulis Cerita Pendek diikuti oleh empat belas orang peserta dengan tema yang berbeda. Empat belas orang tersebut merupakan orang-orang dari tanah kelahiran Darsam, Madura. Seperti tradisi Kelas Menulis Cerita Pendek, setiap orang diharuskan memahami dan menggunakan metode Pulau Buru—sebuah metode untuk membedah tema yang akan dijadikan karya; metode ini diciptakan oleh Bengkel Menulis sayap pendidikan alternatif Gerakkan Literasi Indonesia (GLI) di Yogyakarta. Alhasil, semua peserta menjadi sadar bahwa menulis atau “menjadi” penulis Sastra bukanlah suatu hal yang remeh-temeh.[]

Please follow and like us: