Cerpen

Rasimin

Oleh: Ilham Gabriall*

Jari tangan seorang pegawai itu terlihat sangat lincah dalam menghitung keping demi keping uang pecahan seratus ribu, lima puluh ribu, dan dua puluh ribu rupiah yang sudah berada di atas meja. Sementara di sudut ruangan, di dekat dinding kaca, di bawah mesin pendingin, seorang laki-laki terlihat hanya duduk membeku seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu. Adakah uang yang lelaki itu letakkan di atas meja, sudah cukup untuk memiliki mobil?

Jika dilihat dari cara berpakaiannya, atau harga barang yang kini sedang ia pakai, laki-laki itu tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang berbeda. Ia hanyalah lelaki yang bertubuh agak kurus, tidak tinggi, berwajah sedikit cekung dihiasi bekas jerawat, serta beberapa helai jenggot yang menggantung di dagu. Memakai sandal jepit berwarna ungu gelap, dan di atasnya celana jeans yang sudah berjamur, dengan kaos polos berwarna coklat kehitaman, membuat tak seorangpun di luar sana akan menebak, bahwa sebentar lagi, Rasimin akan kembali ke kampungnya dengan mobil pick up berwarna biru gelap yang kini akan ia lunasi uang mukanya.

Ada banyak barang mahal yang dibuat oleh manusia di bumi ini. Tetapi, bagi Rasimin hanya barang itulah yang bisa membuat dirinya merasa paling kaya sejagat raya. Ia telah bekerja keras dari pagi hingga malam, menabung uang selama puluhan tahun, agar ia bisa meletakkan mesin bergerak itu terparkir di depan rumahnya. Rasimin sendiri tak mengerti, apa penyebab dirinya begitu menyukai mesin kendaraan buatan Jepang, yang bentuknya seperti pluit hansip jika diletakkan dengan terlentang itu. Barangkali, laki-laki bernama Jamal lah yang menjadi penyebabnya.

Enam belas tahun yang lalu, seorang laki-laki bernama Jamal pernah datang dan tinggal di kampung Rasimin. Bersama seorang perempuan cantik yang diketahui adalah istrinya, dan dua orang anak perempuan yang berusia masih sangat muda. Mereka datang ke kampung Rasimin dengan mobil pick up berwarna biru gelap, yang setiap hari akhirnya diparkirkan Jamal di depan rumahnya. Rumah Rasimin tak begitu jauh dari rumah Jamal, barangkali itulah sebabnya Rasimin memiliki mimpi kelak akan membeli barang seperti kendaraan Jamal. Mimpi itu tak hanya dirasakan oleh Rasimin, namun terpendam dalam hati siapapun yang pernah melihat Jamal.

Kedatangan Jamal seketika menjadi ramai diperbincangkan. Nama Jamal kemudian terdengar hampir di setiap obrolan warga yang berkumpul sebelum yasinan, muncul dalam kerumunan warga yang melayat kematian, bahkan nama itu masuk di dalam masjid beberapa menit sebelum adzan sholat Jumat dikumandangkan. Entahlah, selain karena Jamal adalah pendatang baru, juga karena kecantikan istrinya yang membuat para lelaki di kampung itu berandai menjadi sepertinya. Nama Jamal akhirnya disebut sebagai orang terkaya di kampung itu, Jelas saja karena Jamal orang pertama yang memiliki mobil.

Jika di masa lalu orang-orang akan beramai-ramai menyebut-nyebut nama orang kaya, dan bertaruh siapa saja yang akan mempunyai mobil setelah Jamal? Kini, hal semacam itu sudah tak lagi terjadi. Masa telah berganti. Rasa keanehan terhadap sesuatu perlahan memudar dari waktu ke waktu. Sudah tak ada yang merasa asing melihat mobil terparkir di depan rumah seseorang. Nama Jamal pun sudah lama mereka lupakan. Sejak Jamal dan keluarganya pindah entah kemana. Ada yang mengatakan Jamal kini hidup di kota. Ada juga yang memberitakan bahwa Jamal telah mendekam di penjara, atas kasus penggelapan uang saat duduk di bangku DPR. Namun, sampai sekarang tak ada yang tahu di mana keluarga itu berada. Apakah masih hidup, ataukah sudah mati? Di penjara, atau sedang membuka bisnis di luar negeri? Tak ada yang peduli.

Rasimin, baru akan menikmati mimpinya setelah bertahun-tahun lamanya ia menanti. Mobil miliknya sedang diantarkan seseorang menuju rumahnya.

***

Zaman memang bergerak sangat cepat. Jika dulu orang-orang begitu sering melihat kunang-kunang berkeliaran setiap datang malam yang gelap, kini cahaya lampu ciptaan manusia telah datang mengusirnya. Jika sejak dulu kampung itu dilukiskan sebagai lambang kesederhanaan dan ketenangan, kini telah berubah menjadi tempat yang penuh debu dan tanah rusak oleh masifnya pembangunan tambang. Jika dulu banyak yang menyukai saat di mana warga bergotong royong membangun rumah panggung yang terbukti kuat menahan bencana, kini itu tak lagi terjadi, karena rumah beton yang tak kuat menahan gempa, dan yang begitu mudah terendam banjir telah dianggap sebagai kemajuan baru. Orang-orang sudah berhenti bertaruh tentang siapa di antara mereka yang akan menjadi kaya berikutnya. Semua telah berubah, mereka kini bersaing membeli mobil-mobil mewah keluaran terbaru, yang sebenarnya tidak begitu berguna kecuali untuk hiasan rumah, dan pembuktikan pada tetangga, bahwa mereka sudah kaya. Akan tetapi, kebiasaan baru yang muncul di kampung itu, tidak sedikitpun mempengaruhi jiwa Rasimin. Kegetiran yang bertubi-tubi telah membuat Rasimin begitu acuh terhadap semua yang di luar dirinya. Rasimin tak mau peduli apa yang sedang ramai orang-orang bicarakan, dan apa yang sedang mereka pikirkan untuk menyelamatkan alam ini di masa depan. Rasimin hanya akan terus bekerja, menyambung hidup, sebagai pemikul pasir yang diselam dari sungai menuju tebing, kemudian pasir itu diangkutnya ke dalam mobil sebelum dibawa ke rumah siapapun yang membutuhkan.

“Aku memang terlambat, tapi aku senang, karena bisa membeli mobil ini dengan uang hasil kerjaku sendiri, daripada orang-orang itu, mereka kaya dengan menjual lahan tani warisan orang tua mereka pada perusahaan tambang.”

***

Udara menjadi begitu dingin sebelum pagi datang. Matahari masih belum terlihat oleh mata telanjang, meski cahayanya telah sampai ke segala arah. Rasimin memang selalu bangun sebelum matahari itu muncul. Seperti biasanya, Rasimin pasti akan langsung menggosok mobil kesayangannya dengan kain basah yang lembut sisa baju lamanya.

Kabar angin tentang Rasimin yang telah memiliki mobil, ternyata telah menjadi bumbu sedap dalam setiap obrolan warga di kampung itu. Tak ada yang menyangka, bahwa pertaruhan tentang siapa yang akan membeli mobil di masa lalu kini terasa muncul kembali. Meskipun pertaruhan itu telah berubah menjadi penghinaan. Banyak yang berkata, orang miskin seperti Rasimin seharusnya tak mampu membeli mobil. Terasa ganjil di hati mereka bila seorang pemikul pasir, yang gajinya lebih sedikit dibandingkan mereka yang bekerja di perusahaan tambang, telah mampu membeli mobil. Banyak pula yang mengejek Rasimin karena membeli mobil jadul yang mereka sebut telah berhenti diproduksi.

Semua orang tiba-tiba menjadi tak bisa menahan diri untuk tidak menyebut nama Rasimin. Nama itu menyebar dengan sangat cepat, seperti cepatnya lari harimau saat mengejar mangsanya. Namanya muncul di kerumunan warga kampung tengah, meluas ke dalam obrolan warga kampung ujung, lalu melesat sampai ke telinga warga sekabupaten, provinsi, dan mungkin saja cerita itu benar-benar menyebar hingga ke pelosok negeri.

”Menyetir mobil itu, kuncinya adalah tenang. Pikiranmu harus terus fokus supaya tidak keliru mana kaki yang menginjak pedal gas, dan mana kaki yang menginjak rem! Jika sudah begitu, lama kelamaan tubuhmu lah yang akan reflek menggerakkannya.” begitulah bunyi nasihat bang Dahri, seorang supir senior yang telah mengajarinya. Tidak sampai satu bulan, Rasimin terbukti bisa cepat mengikuti ajaran bang Dahri, dan Rasimin pun telah dianggap sudah mahir dalam mengendarai mobilnya.

Di lain kesempatan, Rasimin tetap bekerja setiap hari, dari pagi hingga petang, sebelum dirinya pergi bersantai mengelilingi kampung, mencari tempat di mana banyak orang biasa berkumpul, di bawah pohon jambu air, di kursi kayu bulian yang tebal, di tepi jalan lintas utama, maka selalu menuju ke sanalah arah perginya.

Rasimin menganggap bahwa warga kampung itu sebenarnya segan kepadanya. Lain pikiran Rasimin, lain pula yang ada di pikiran warga kampung. Orang-orang menjadi semakin membenci Rasimin, dan menyebut Rasimin tak tahu diri. Kesuksesan yang sedang ia rasakan telah membuatnya makin pongah. Orang-orang sudah sangat enggan untuk jadi teman Rasimin. Begitu pula Rasimin, ia selalu menghindar untuk berteman dengan mereka. Rasimin begitu menikmati rasanya menjadi terkenal layaknya nama Jamal yang pernah terkenal saat ia masih remaja. Di saat dua orang sedang berkumpul, maka satu di antara mereka akan menyebut nama Rasimin. Jika orang itu bertiga, nama Rasimin muncul menjadi yang keempat, begitu juga saat berempat, berlima dan seterusnya, pasti selalu ada nama Rasimin yang hadir sabagai paragraf baru di dalam cerita.

“Percuma dia punya mobil, tingkah lakunya masih norak! Begitulah kalau orang miskin, duduk di atas mobil sekalipun, tetap saja kelihatan miskin!” Ejek Supar, teman sekelas Rasimin di masa SD, yang kini menjadi mandor di perusahaan tambang batu bara.

“Kita tunggu saja, paling nanti mobilnya ditarik dialer, mana mungkin buruh angkut pasir seperti dia bisa membayar cicilan mobil!” Sambung yang lain.

“Iya, kredit mobil itu tiga tahun. Pamanku yang punya toko saja, tak mampu membayar selama itu!”

Di perkumpulan yang lain, di dalam masjid paling besar di kampungnya, seorang penceramah terdengar begitu tegas menyampaikan, “rasa iri tidak akan berguna selama seseorang itu tidak mau bekerja keras! Karena tanpa kerja keras, seseorang tidak mendapatkan apa-apa.”

Beberapa dahi warga berkerut mendengar ucapan itu. Mereka tahu penceramah itu pasti sedang menyindir mereka. Ada pula yang tak peduli. Bahkan ada yang justru sedang tidur dalam keadaan duduk saat pengkhotbah itu menyampaikan risalahnya.

Di wilayah kampung paling ujung, seseorang dengan yakin menyebut Rasimin telah bersekutu dengan jin, “Tak mungkin Rasimin bisa membeli mobil itu kalau bukan dengan pesugihan!”

Ucapan itu sampai ke telinga Rasimin. Namun ia memilih diam saja, seolah telinganya sudah tak bisa mendengar apa-apa. Pikirannya sudah tak mampu berpikir selain tentang bagaimana ia mampu membayarkan cicilan mobilnya.

Esok harinya, di saat matahari tampak sedang berada persis di atas kepala, sepupu Rasimin datang ke rumahnya. Namun Rasimin selalu tidak ada. Di siang hari rumahnya sepi, sebab sudah tak pernah ada tamu yang datang menjumpainya kecuali sepupunya itu. Itu terjadi, setelah beberapa tahun yang lalu dua orang manusia pernah nekat menggantungkan diri menggunakan kain panjang yang diikatkan ke para-para rumah, melilitkan sendiri leher mereka di kain itu, lalu mencekik hingga mati. Itu lah kedua orang tua Rasimin. Dan kematian itu seakan telah menggoncang semua kebahagiaan milik Rasimin ketika remaja. Tak ada yang tahu pasti penyebab orang tuanya memilih mati dengan cara mengenaskan seperti itu, namun mereka sepakat bahwa hal itu pasti disebabkan kurangnya ekonomi. Rasimin diam saja. Sepupunya tampak sedang merayunya, agar Rasimin mau mengangkut pasir ke rumahnya menggunakan mobil kesayangan milik Rasimin. Rasimin pun akhirnya bersuara, ia menolak! Ia tak mau pasir-pasir itu merusak cat mobil kesayangannya. “Sejak dulu aku mengangkat pasir menggunakan ototku ini, biarlah terus begitu! Lebih baik aku kerja dengan otot, daripada harus merusak mobil kesayanganku, tidak murah ini harganya.” Tegas Rasimin pada sepupunya.

***

Pagi hari. Daun-daun masih terus bergerak oleh tetesan air hujan yang jatuh sejak subuh. Tanah yang beberapa waktu lalu masih kering, kini menjadi sangat basah. Beberapa binatang kecil merayap mencari tempat berteduh di tepi lantai rumah Rasimin. Binatang-binatang kecil itu telah menjadi sahabat yang mampu menghilangkan kesepian di hati Rasimin. Rasimin kini termenung di teras rumahnya. Dengan kedua kaki yang menjulur ke depan, sambil matanya menatap nanar. Ia sandarkan tubuhnya yang tinggal tulang itu ke dinding beton yang sudah tak begitu kokoh itu. Jika saja ia tidak sedang merasa pusing, barangkali kepalanya tak akan kuat bersandar lebih lama di dinding itu. Selain kotor, tekstur semen yang terasa agak tajam pasti akan membuat kepalanya terasa sakit.

Rasimin memandangi kedua telapak tangannya. Ia perhatikan satu persatu dan tampak kulit itu telah mengelupas sedikit demi sedikit. Ia amati setiap kuku di jarinya. Kuku itu pun telah berubah warna menjadi coklat kehitam-hitaman. Ia pandangi mobil yang sedang ia parkirkan di dekat pohon rambutan di samping rumah, bibirnya tersenyum. Mungkin saja karena sedang bersyukur, empat bulan cicilan barang itu telah mampu ia bayarkan.

Minggu telah berganti. Rasimin menjadi jarang terlihat keluar rumah. Ia sudah tak lagi sering pergi ke sungai, karena hujan telah merubah keadaannya. Rasimin seringkali murung, menyendiri di dalam rumah. Ia hanya terlihat berjalan keluar rumah, apabila ada sesuatu yang harus ia beli di toko milik tetangga.

Orang-orang sudah semakin jarang menyebut namanya. Kini mereka sedang merasa geram atas kematian seorang warga kampung yang tertabrak mobil pejabat, yang entah mengapa selalu kencang melintasi kampung itu. Kemarahan itu telah menutupi berita tentang Rasimin. Rasimin mengecam kecerobohan itu, namun ia tetap tampak tak peduli. Barangkali Rasimin sudah menjadi gila, karena sudah tak mau peduli terhadap apapun kecuali tentang dirinya!

Di pagi hari, siang, hingga tengah malam, hujan masih terus mengguyuri tanah di kampung itu. Terdengar kabar bahwa di kampung tetangga air sudah meluap sampai ke jalan. Maka, anak-anak pun pastinya melompat kegirangan. Mereka seperti menunggu sejak lama kedatangan air besar itu, supaya bisa bermain tanpa harus bisa berenang untuk mengarunginya.

Rasimin masih terbaring berselimut kain yang pernah mencekik mati kedua orang tuanya. Setiap kali ia mendengar hujan jatuh menimpa atap rumahnya, seketika itu pula air matanya jatuh dengan rasa pedih. Memang, air mata yang menetes dari seorang lelaki seperti Rasimin tidak akan berarti apa-apa. Tetapi, air yang selalu turun ke bumi, telah membuat lelaki sepertinya merasa kehilangan pekerjaan. Begitulah, karena pasir tak akan bisa diselam ketika air sedang pasang. Dan Rasimin pasti merasa tak kuat bila harus bekerja di tengah guyuran hujan.

Roda masih terus berputar. Tak peduli siapa yang kini berjaya, atau siapa yang telah berubah menjadi miskin. Di tengah sisa-sisa hutan di kampung itu, burung-burung berkeliaran mencari makan. Matahari muncul. Dingin pagi hari seketika berubah hangat di saat matahari perlahan meninggi. Sungai telah surut, namun Rasimin tetap tak bisa untuk bekerja. Mesin penyedot pasir milik tetangga telah menyerobot tempat yang biasa ditempatinya. Timbunan pasir di dalam air yang dulu ada, kini telah hilang secara perlahan. Mesin penyedot telah begitu rakus merusak timbunan pasir langganan Rasimin. Alat raksasa itu telah mengusirnya dari wilayahnya sendiri. Mesin pasti dengan sangat mudah mendapatkan pasir dibandingkan tangan kurus seperti tangannya. Rasimin diam terpaku melihat raksasa itu bekerja. Hatinya berkecamuk! namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Semua orang tak akan ada yang membelanya!

Rasimin menyerah. Ia tak mampu membayar cicilan mobil yang sedang ia pakai. Rasimin mengantarkan harta kesayangannya itu ke tempat yang dulu pernah ia pinjamkan.

“Rasakan kau Rasimin! Tak ada satu pun yang mau membantumu!” gumam seseorang, yang dulu pernah memfitnahnya. Semua membenci Rasimin. Jangankan manusia, binatang melata pun kini seperti mengejeknya.

Minggu, tanggal 30 januari di tahun berikut. Tak ada yang berbeda. Di sungai, mesin raksasa semakin bertambah untuk menggerus pasir. Di daratan, pertambangan batu bara semakin banyak berdiri. Investor asing semakin senang mencari keuntungan walau harus merusak perkampungan kecil itu. Sementara Rasimin, ia seperti tak tahu kemana arah bisa mengadu. Jalan terasa semakin jadi buntu. Kepahitan yang pernah ia telan telah ia anggap sebagai obat penawar atas rasa sakitnya di masa mendatang. Pengalaman membuatnya lebih kuat. Rasimin tak lagi mudah tersinggung jika ada yang menghinanya miskin. Rasimin seperti menemukan dirinya yang telah lama hilang. Kekejaman membuatnya jadi sadar, apa yang sebenarnya ia cari selama tinggal di dunia ini?

Lelaki kurus itu, kini sedang duduk dengan sikap penuh ketenangan, di atas sopa kecil milik almarhum ayahnya, diselimuti kain panjang pembunuh ibunya. Ia kemudian tertidur, sementara bibirnya terlihat bergerak kecil menyebut-nama Tuhannya.

*Ilham Gabriall: Seniman dan Teaterawan, sekarang menetap di Jakarta

Comment here