Analisis

Revolusi COVID-19

Revolusi COVID-19

Jual Perosotan Anak

Oleh: Bosman Batubara

Dalam tulisannya yang bertajuk “Anti-Capitalist Politics in the Time of Covid-19” yang dimuat di laman Jacobin, geografer David Harvey membayangkan pandemi Covid-19 bisa memicu “riot and revolution”. Dalam kesempatan ini, saya berusaha memahami detak jantung Planet ini secara lebih dekat tentang apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Saya sampai pada titik bahwa revolusi sudah bukan akan terjadi, tapi sedang berlangsung.

Dalam sebuah kesempatan, sosiolog Bruno Latour menyebutkan bahwa “Any thing that does modify a state of affairs by making a difference is an actor—or, if it has no figuration yet, an actant”. Hanya yang membuat perbedaan yang dapat dihitung sebagai aktor. Actant dalam tulisan-tulisan Latour kita kenal sebagai aktor non-manusia. Hari-hari ini adalah hari-hari yang sangat intents dimana kita berhadapan dengan actant yang bahkan tak bisa kita lihat dengan mata biasa. Dia bernama “severe acute respiratory syndrome coronavirus 2” (SARS-CoV-2) yang kemudian akrab disebut sebagai virus corona. Virus ini telah mengocok ulang kekukasaan di level dunia melalui penyakit yang ditimbulkan, yang akrab disebut dengan Coronavirus Diseases 2019 (COVID-19).

Saya melihat momen ini sebagai momen revolusi. Sebuah perubahan spontan-organik, radikal, dan cepat. Ini bukanlah sebuah revolusi Marxis dimana elan revolusioner yang dibayangkan adalah kaum buruh. Ini adalah sebuah revolusi ekologi/lingkungan abad XXI dimana elan revolusionernya adalah non-manusia. Dari beberapa tulisan kontemporer yang terbit sejak meledaknya pandemi bernama Covid-19 ini, saya sampai pada satu titik pemikiran bahwa pada dasarnya virus corona ini adalah buah dari relasi antara manusia dengan non-manusia. Saya tidak ingin menyebut yang terakhir sebagai “alam,” karena saya memahami manusia sebagai bagian yang integral dari apa yang disebut sebagai “alam” itu.

Pendek cerita, dalam salah satu versi pendapat, virus corona muncul karena ruang hidup atau habitatnya terdesak dan karena itu manusia menjadi sasaran berikutnya untuk dijadikan inang. Poin soal asal-usul virus corona ini belum konklusif. Sebuah penjelasan lain yang masuk lebih detil dan eksplisit dari tulisan yang pernah saya baca juga rasanya sangat masuk akal. Bahwa banyak patogen (bakteri, virus, atau mikroorganisme lain penyebab penyakit) yang tadinya berada dalam habitatnya di hutan, kini bergerak meninggalkan hutan karena hutannya sudah semakin habis. Patogen-patogen itu mencari inang-inang yang baru. Dan manusia, hanyalah satu spesies yang menjadi sasaran mereka di dalam universal yang disebut sebagai alam itu.

Revolusi non-manusia bukanlah barang baru. Contoh revolusi ekologi yang radikal misalnya, pernah terjadi di Danau Victoria, Afrika, ketika spesies ikan Kakap (Lates Niloticus) dari Sungai Nil dimasukkan oleh manusia ke dalam Danau Victoria dengan tujuan meningkatkan produktivitas daging ikan demi menutupi permintaan dari terutama pasar Eropa. Ternyata di sana ia menjadi spesies asing (alien species). Begitu dia masuk, maka rantai makanan segera diubah. Perubahan radikal terjadi pada rantai makanan karena ikan Kakap memangsa ikan pemangsa Alga. Alga kehilangan predator dan populasinya meledak. Kondisi populasi Alga yang semakin besar (Algae bloom) membuat Danau Victoria berubah menjadi danau beracun. Ia beracun karena Alga yang populasinya meledak memiliki kandungan microcystin yang beracun bagi hati manusia yang mengkonsumsinya. Microcystin ini bisa terbawa lewat air.

Revolusi Covid-19 berlangsung sangat spontan-organik. Bayangkan, dari sudut pandang virus corona semuanya ini adalah soal eksistensi spesies mereka: ini soal bagaimana mereka memperbanyak diri. Soal hidup atau mati. Suatu gerakan yang sangat progresif-revolusioner! Namanya spesies, harus hidup dan berbiak. Itu proses organik. Namun, dari sudut pandang inang seperti manusia, ini adalah penyakit. Begitu cerdik, virus ini memilih tempat yang sangat lunak untuk menjadi basis spasial pengorganisasiannya: di paru-paru inangnya. Mereka berdiam dan memperbanyak diri di sana.

Revolusi Covid-19 juga radikal dan cepat. Di bidang politik, ia sangat radikal kalau kita lihat bagaimana konjungtur geopolitik global dikocok ulang karena kehadirannya. Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa Barat yang sebelum pandemi adalah negara-negara kaya, negara dunia pertama yang sangat kuat di segala lini, tiba-tiba terlihat berubah menjadi pariah didera oleh wabah Covid-19. Tentu saja ada ketimpangan dalam bagaimana cara negara kaya macam negara-negara Eropa Barat menanggapi wabah Covid-19 dengan cara negara miskin seperti Indonesia. Tulisan ini tidak akan masuk membahas itu, karena sudah didiskusikan dalam tulisan bertajuk “Revolusi Permanen: Cari Alternatif terhadap Moda Produksi Kapitalisme”. 

Di sisi lain, kekuatan geopolitik lain seperti China dan Kuba menjadi terlihat begitu jagoan. Sampai saat ini, dunia melihat China berhasil menghadapi ledakan pandemi Covid-19. China seolah lulus menjalani ujian untuk menjadi pusat dari kapitalisme global berikutnya, setelah AS yang kini masih bertarung menyelematkan warganya dari ledakan populasi SARS-CoV-2. Kuba, negara kecil itu, menjadi jagoan karena media-media, terutama media sosial kita, memperlihatkan bagaimana negara itu mengirim dokter-dokternya untuk membantu negara-negara yang sedang kena serangan wabah. Selain itu, para ilmuwan Kuba juga diberitakan sudah memproduksi Interferon yang disebut-sebut dapat meningkatkan kekebalan tubuh untuk menghadapi serangan dari virus macam SAR-CoV-2.

Di tingkat nasional, kocok ulang kekuasaan politik belum terjadi hingga saat ini. Namun sudah terlihat bagaimana wibawa pemerintah pusat semakin berkurang. Pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi yang pada awalnya tidak begitu menghiraukan pandemi korona, harus membayar mahal untuk itu.

Pada sekitar akhir Februari 2020, terbaca di berita bahwa pemerintah menyampaikan akan memberikan insentif bagi pemengaruh (influencer) asing sebanyak 72 miliar Rupiah. Dana insentif itu ditujukan untuk satu hal: menggaet wisatawan, yang tentu saja ujungnya adalah meningkatkan pemasukan. Alih-alih menutup pintu masuk ke Indonesia seperti bandara untuk mencegah masuknya virus corona seperti yang dilakukan negara-negara lain, pemerintah malah mengundang wisatawan agar berbondong-bondong datang ke Indonesia.

Menteri-menteri Jokowi terlihat pada waktu-waktu itu masih menganggap enteng revolusi non-manusia ini. Berbagai pernyataan muncul tentang penangkal Covid-19, mulai dari do’a, empon-empon, rempah-rempah, hingga sayur lodeh. Terbukti tak ada yang secara meyakinkan dapat mencegah pertumbuhan populasi virus ini. Pada waktu itu ide mengenai re-alokasi APBN untuk penanganan Covid-19 terlihat tidak mungkin.

Pada akhir Maret 2020, situasi politik sudah berubah. Nyaris 180 derajat. Atau, kalau sebelumnya mengarah ke utara, kini menghadap ke selatan. Re-alokasi APBN sekarang adalah langkah yang disuarakan banyak elit dan tampaknya akan diambil pemerintah. Secara politik pemerintah pusat sudah semakin tergerus kewibawaannya. Media sosial penuh dengan berbagai jejak digital Jokowi dan menteri-menterinya yang sekitar satu bulan sebelumnya menganggap sepele virus corona. Bahkan kadang-kadang yang dibagikan warganet bukan hanya tautan, tapi tangkapan layar yang mengandung judul berita dimana terbaca pemerintah meremehkan virus corona. Dan bukan cuma 2 atau 3, kadang-kadang 6 tangkapan layar berita sekaligus, digabung menjadi satu.

Pemerintah daerah seperti Kota Tegal, sudah tidak peduli dengan pemerintah level di atasnya. Pada tanggal 23 Maret 2020, Pemerintah Kota Tegal menyatakan local lockdown terhadap Kota Tegal. Sehari setelahnya, pada 24 Maret 2020, terbaca di media Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menanggapi proses local lockdown ini dengan menyebutkan bahwa “belum ada cerita lockdown”. Namun, Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono terus melaju. Pada 26 Maret 2020, di media kembali terbaca dia mengadakan konferensi pers yang menyatakan bahwa di Tegal diberlakukan local lockdown.

Hal yang sama terjadi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua yang terlihat juga sudah tidak mempedulikan pemerintah pusat yang menginginkan adanya satu proses pengambilan kebijakan yang tersentral di Jakarta. Pemprov Papua menutup Bandara Sentani Jayapura untuk penerbangan penumpang terhitung sejak 26 Maret 2020. Tujuannya adalah mencegah aliran orang, yang tentu saja akan memperbesar peluang mengalirnya juga virus corona, ke Papua melalui bandara itu. Pemerintah pusat tidak setuju. Hal ini misalnya terlihat dari berita di media daring yang menyebutkan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, yang tidak menyetujuinya. Kasus Tegal dan Papua ini adalah material empiris yang memperlihatkan bagaimana pemerintah pusat sudah berkurang wibawa politiknya.

Di bidang ekonomi, perubahan tak kalah radikal. Pada minggu kedua Maret 2020, sebagai contoh, orang terkaya di Dunia, Jeff Bezos, pemilik laman toko on-line raksasa, Amazon, mengalami kehilangan kekayaan sebesar lebih dari 100 triliun Rupiah dalam semalam karena harga saham Amazon turun.

Di dalam negeri, hal yang sama juga terjadi. Pabrik-pabrik dengan bahan baku dari, dan yang memasarkan produknya ke, China, terbaca sudah terancam bangkrut pada awal Maret 2020. Yang lebih fenomenal sekaligus misterius barangkali adalah proyek pembangunan infrastruktur kereta cepat Jakarta-Bandung. Pembangunan infrastruktur adalah jantung dari pemerintahan Jokowi. Ia berfungsi memompakan kapital ke berbagai daerah. Fenomenal karena proyek ini juga dihentikan pada awal Maret 2020. Pada 1 Maret, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan bawah proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung itu menyebabkan banjir, misalnya, pada ruas jalan tol Jakarta-Cikampek. Namun, penting dicatat, pada tanggal 25 Februari, di media terlihat bahwa menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung terhalang oleh virus corona karena mobilitas pekerja dan pasokan bahan baku macet dari China yang pada saat itu sedang berjuang menghadapi virus corona. Jadi, bagi orang seperti saya penghentian ini tetaplah sebuah misteri. Apakah ia dihentikan karena pasokan pekerja dan barang yang terhambat dari China karena pandemi Covid-19, ataukah karena ia menyebabkan banjir?

Lebih detil, menjelang akhir Maret, di media terbaca bahwa sebagian besar toko di beberapa mall di Jabodetabek seperti, Summarcon Mall di Bekasi, Plaza Indonesia, Lippo Mall Puri, Senayan City, dan Central Park, tutup untuk meminimalisir penyebaran virus corona.

Di Semarang, kedai-kedai kopi pun mulai tutup. Kedai Kopi Kang Putu, misalnya, sudah tutup sejak pertengahan Maret 2020. Bagi yang tidak tutup, maka omzetnya menurun drastis. Pada akhir Maret 2020, seorang pekerja di Café di kawasan Tembalang menyatakan pada saya bahwa Café mereka mengalami penurunan omzet sampai 87% sejak beberapa hari terakhir.

Di ranah kebudayaan, perubahan radikal sudah sampai sangat personal. Mendengar orang batuk sedikit, kita atau kawan lain langsung menyeletuk: corona?! Atau kalau tidak, diam-diam masing-masing berfikir, wah jangan-jangan si anu kena corona, aku bisa tertular! Secara periodik, tiba-tiba kita menjadi rajin cuci tangan dengan sabun, ganti baju dan merendamnya dengan deterjen, dan mandi. Semuanya untuk membersihkan badan kita dari virus corona.

Persentuhan antar orang seperti bersalaman otomatis menjadi tak boleh. Kebiasaan berkumpul-kumpul seperti mengaji atau nongkrong di Cafe-cafe, ditiadakan dulu. Seorang kawan saya yang berencana menikah beberapa bulan ke depan, suatu ketika bercerita soal itu dan terlihat galau dengan berbagai ketidakpastian soal pernikahannya.

Pemerintah provinsi macam Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Tengah sudah menyarankan agar warga tidak pulang kampung, baik dari Jakarta maupun dari Semarang. Karena dikhawatirkan seseorang yang pulang ke kampung membawa serta virus corona dalam dirinya dan menularkannya pada orang lain, terutama orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti orang berusia lanjut. Kelompok aktivis masyarakat adat di media sosial bahkan sudah memutar ide me-lockdown komunitas-komunitas adat agar orang luar tidak masuk. Dari seorang kawan di hulu Waduk Sempor, Jawa Tengah, saya mendapatkan kabar bahwa Koramil setempat menganjurkan setiap orang yang baru datang dari rantau untuk memeriksakan kesehatannya. Dalam pesan melalui whatsapp yang beredar di group-group warga di Semarang, Gubernur Jawa Tengah juga memberikan perhatian pada angka pulang kampung perantau yang mengalir dari Jabodetabek ke berbagai daerah di Jawa Tengah.

Di tengah-tengah revolusi yang sedang berlangsung, spesies manusia dipaksa untuk memikirkan eksistensinya. Bagi negara dengan pelayanan kesehatan yang jelek seperti Indonesia, bobrok itu disingkap. Influencer tidak dikasih ruang untuk menuntupi kebobrokan itu. Mana sistem yang bagus dan bobrok, dengan telanjang terlihat.

Perbincangan hari-hari belakangan ini sudah semakin berkembang. Selain bagaimana caranya agar populasi dan persebaran virus corona ini tidak semakin naik dan meluas, tema juga sudah mulai menyentuh ketahanan pangan. Ini terutama terjadi, dugaan saya, karena rakyat melihat bahwa pemerintah cenderung tidak punya model/arah yang jelas dalam menghadapi Covid-19. Kelompok-kelompok rakyat miskin seperti di Jakarta sudah mulai memobilisir bantuan dari publik untuk membantu kebutuhan kaum miskin kota. Hal yang sama saya lihat terjadi di Yogayakarta. Berbagai kelompok sudah mengambil inisiatif memobilisir ketersediaan bahan makanan melalui dapur umum. Di group-group whatsapp sudah beredar langkah-langkah aplikatif bagi kelompok masyarakat sipil untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Idenya sangat beragam, mulai dari menghidupkan lumbung-lumbung makanan di kampung-kampung, hingga pertanian perkotaan gaya Havana, Kuba, ketika negara itu diembargo oleh negara-negara blok kapitalis macam AS.

Pertanyaan besar sekarang menantang eksistensi manusia—namun secara berbeda/timpang. Ke mana Revolusi Covid-19 ini akan membawa kita? Apakah sebagai individu kita akan mampu selamat melewati zaman pandemi ini? Berikutnya, apakah kelompok kapitalis yang berperan besar dalam memproduksi pandemi melalui aktivitasnya yang mendegradasi ekosistem seperti hutan-hutan yang sebelumnya menjadi rumah patogen akan mampu melakukan penyembuhan diri dan kembali mengisi dunia pasca-Covid-19 dengan aktivitas yang sama mengakumulasikan kapital? Apakah kelompok-kelompok miskin yang menderita paling besar dari kasus pandemi ini mampu melakukan agregasi aksi politik untuk membidik perubahan, misalnya kocok-ulang elit yang berkuasa atau perubahan yang lebih struktural di berbagai bidang, misalnya, peningkatan kualitas penjagaan kelestarian lingkungan ataupun peningkatan pelayanan kesehatan? Apakah negara sebagai kerangka kepengaturan masih bisa dipertahankan oleh elitnya, ataukah ia akan runtuh?

Dalam hemat saya, ini semua tergantung pada imajinasi politik seperti apa yang kita miliki dalam mengatur kehidupan bersama di Planet ini, wabilkhusus di pulau Jawa yang padat. Aktivitas-aktivitas solidaritas non-negara, tampaknya, adalah bibit-bibit suatu perubahan radikal yang akan terus berkembang, dan tak mungkin dilepaskan dari dinamika populasi dan persebaran virus corona. Semuanya bisa dilihat sebagai kaki-kaki dari kelompok-kelompok terkait dalam usahanya mempertahankan hal yang sangat mendasar: eksistensi diri dan kelompoknya. Saya melihat semuanya berada dalam satu derap langkah yang sama, menuju apa yang dalam kesempatan sebelumnya saya sebut sebagai Revolusi Permanen!

*Bosman Batubara: Geografer dan Peneliti.

 

Comment here