Analisis

Sanaman Mantikei: Nasionalis yang Kalah

sanaman-mantikei

Sebagai anak laki-laki Dayak Ngaju yang dibesarkan oleh hutan dan sungai, Sanaman Mantikei—nama lain dari Tjilik Riwut—tentu saja memiliki pengetahuan dan intuisi yang tinggi terhadap sungai dan hutan Kasongan, Kalimantan Tengah. Sungai mengajarinya bagaimana cara menghitung kapan arus mengalir deras dari hulu ke hilir dan kapan buaya akan menunjukkan dirinya ke permukaan atau bertelur di tepian. Hutan mengajarinya untuk menghormati semua 360 rolet yang hidup, membaca arah angin ketika tersesat, mengobat diri ketika terluka, dan meredam lapar dalam fase kolonialisme Belanda, hingga ada tahun 1930, Sanaman Mantikei menyelesaikan studinya di Sekolah Rakyat Kasongan. Sebagai anak laki-laki yang “berbeda”, Sanaman Mantikei pun memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya, menyeberangi Laut Jawa demi menjadi seorang terpelajar perawat di Sekolah Perawat di Purwakarta pada tahun 1933-1936 with this article.

Empat tahun kemudian (1940), Sanaman Mantikei bekerja sebagai jurnalis dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya menjadi seorang Pimpinan Redaksi Majalah Suara Pakat. Dari pekerjaan inilah sikap nasionalis yang ada di dalam pikiran Sanaman Mantikei menjadi semakin kuat dan berkobar. Ia, Sanaman Mantikei, menuangkan semua gagasan dan ide-ide revousionernya tentang pergerakan nasional di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Akan tetapi, pada tahun 1942, Sanaman Mantikei berhenti menjadi Pimpinan Redaksi Majalah Suara Pakat. Hal tersebut disebabkan oleh invasi Jepang di Balikpapan pada tahun 1942. Untuk tetap menyelamatkan diri dan gagasan serta ide-ide revolusionernya, Sanaman Mantikei berkamuflase sebagai intelijen militer Jepang yang bertugas untuk mengumpulkan data-data tentang keadaan Kalimantan—catat: di sini Sanaman Mantikei hanya berkamuflase, bukan menjadi pengkhianat tanah air. Dan posisi politis tersebut ia manfaatkan untuk menyambung komunikasi dan koordinasi dengan suku bangsa di Kalimantan agar tetap yakin dengan perjuangan kemerdekaan dan pembebasan Indonesia.

Perjuangan Sanaman Mantikei sebagai intelektual revolusioner dari Kalimantan menemui titik terang. Pada tahun 1947—setahun setelah Ibu kota pemerintahan Indonesia pindah ke Yogyakarta, yang terhormat presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menyuruh Sanaman Mantikei untuk menghadap kepadanya. Sesampainya di Gedung Agung Yogyakarta, Sanaman Mantikei menyampaikan sumpah setia suku bangsa Dayak di Kalimantan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai pemembuktian kesetiaan tersebut, Sanaman Mantikei menerima mandat dari yang terhormat Ir. Soekarno untuk bergerilya ke seantero Pulau Kalimantan demi menyebarkan kemerdekaan Indonesia. Pada fase inilah, pengetahuan dan intuisi tentang sungai dan hutan yang didapatkannya sejak kanak-kanak berguna dan menyebabkannya tidak pernah tertangkap. Dan tiga tahun kemudian (1950), Sanaman Mantikei berhasil membangun pemerintahan Indonesia di Kalimantan—kini Kalimantan Tengah.

Pada tahun 1958, Sanaman Mantikei ditetapkan menjadi Gubernur Kalimantan Tengah—dalam fase ini tujuan utama Sanaman Mantikei ialah membangun Kalimantan Tengah. Sanaman Mantikei, pasca dilengserkannya yang terhormat Ir. Soekarno oleh Orde Baru, Soeharto dan Amerika Serikat, mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu target “pembersihan” atau pembantaian komunis, simpantisan komunis, dan Soekarnois. Dan pada tahun 1967, Sanaman Mantikei diberhentikan secara tidak terhormat oleh Orde Baru karena merupakan seorang Soekarnois. Akan tetapi, gagasan dan ide-ide revolusionernya terus ia jaga dalam buku-bukunya (a) Kalimantan Memanggil (1958), (b) Kalimantan Membangun (1979), dan, Manaser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur.[]

Comment here