Sosial

Siaran Press V Koalisi Rakyat Bantu Rakyat (KOBAR)

Periode 8-10 April 2020

Dampak COVID-19 Terhadap Perempuan, Lansia dan Anak-Anak

Hingga kini, wabah virus corona baru masih terjadi di Indonesia. Menurut data terbaru per Jumat (10/4/2020), kasus-kasus infeksi SARS-CoV-2, virus penyebab Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), telah dikonfirmasi terjadi di seluruh Provinsi di Indonesia. Adapun jumlah kasus yang telah dikonfirmasi dan diumumkan oleh pemerintah Indonesia mencapai 3.512 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 219 kasus baru dari hari sebelumnya. Sementara jumlah pasien meninggal menjadi 306 orang. Kemudian, untuk pasien yang telah dinyatakan sembuh kini berjumlah 282 orang. Dari 34 Provinsi yang telah terkonfirmasi terinfeksi Covid-19, Jawa Tengah masuk ke dalam 6 besar Provinsi dengan pasien positif terkonfirmasi ada 144 kasus, pasien sembuh ada 18 orang, dan pasien meninggal 22 orang.

Jokowi sudah mengeluarkan Keppres No. 11 tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease (Covid-19), PP No. 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial berskala Besar dalam rangka percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Di Jawa Tengah, Ganjar juga sudah mengeluarkan keputusan gubernur nomor 360/3/ taahun 2020 tentang penetapan status tanggap darurat bencana Corona Virus Disease (Covid-19) di Provinsi Jawa Tengah.

Situasi ini jelas sangat berdampak pada sosial ekonomi dan perekonomian masyarakat. Salah satu kelompok yang sangat rentan terdampak adalah kelompok perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia. Sebagian kaum perempuan, baik mereka yang melakukan kerja domestic maupun kerja-kerja di luar rumah, langsung terdampak secara sosial, ekonomi, sampai psikologis. Dalam situasi pandemik Covid-19 ini, misalnya, tenaga medis perempuan yang sedang bekerja di rumah sakit sementara ia punya anak yang harus dirawat tidak terpantau bagaimana proses pendidikan anak-anaknya selama hampir satu bulan terakhir. Kaum lanjut usia atau lansia, terutama yang bekerja di sektor informal seperti pasar tradisional, menjadi salah satu kelompok  masyarakat yang sangat rentan terpapar Covid-19.

Dampak yang langsung diterima perempuan adalah dampak ekonomi. Berdasarkan hasil diskusi LRC-KJHAM bersama kelompok perempuan survivor korban kekerasan, kelompok perempuan miskin di perkotaan dan komunitas buruh migran di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, hampir semua perempuan mengeluhkan situasi ekonomi rumah tangganya karena adanya Covid-19. Pemasukan rumah tangga berkurang drastis, bahkan ada yang tidak memiliki pemasukan. Para perempuan yang bekerja sebagai tukang pijat (go massage) dan guru les tidak bisa bekerja seiring dengan semakin gentingnya situasi yang diakibatkan oleh Covid-19. Usaha-usaha ekonomi kecil yang menjadi sumber pencahariaan utama bagi sebagian besar kaum perempuan juga sepi pemasukkan. Yang termasuk dalam usaha ekonomi kecil tersebut di atas adalah pedagang sayur, pedagang buah, penjual makanan di kantin sekolah, jasa laundry, jual pulsa, jual sandal, jual mainan, dan sebagainya.  Bersamaan dengan keadaan yang sulit tersebut, harga kebutuhan pokok semakin mahal. Di samping itu muncul kebutuhan baru bagi ibu-ibu rumah tangga berupa kuota internet yang digunakan oleh anaknya yang harus menjalani proses belajar dari rumah secara online. Persoalan bagi ibu-ibu rumah tangga yang menyediakan kebutuhan kuota untuk belajar ini kemudian melahirkan masalah baru berupa kecanduan pada gawai di antara anak-anak.

Dalam situasi ini perempuan dituntut harus mampu mengatur dan mengelola keuangan rumah tangga. Mereka juga harus bisa mengatur anak-anaknya agar tidak sampai kecanduan gawai selama berada di rumah dan memiliki kesempatan berinteraksi dengan gawainya. Berbagai tuntutan-tuntutan baru yang lahir sebagai dampak Covid-19 ini bukan hanya menciptakan kesulitan bagi perempuan dalam mengelola perekonomian domestik, namun juga dampak sosial-psikologis.

Covid-19 juga membuat perempuan rentan terdampak secara psikologis. Kebijakan yang berkaitan dengan pembatasan sosial mengharuskan pembelajaran sekolah dilakukan di rumah dan pekerjaan dikerjakan dari rumah atau work from home (WfH). Kebutuhan kuota internet semakin besar bagi keluarga yang memiliki anak dengan sistem pembelajaran online dari rumah. Anak-anak rentan stress, ibu-ibu rumah tangga pun juga merasakan stress serupa. “Änak stress, orang tua ikut stress” tutur salah seorang anggota komunitas di Kota Semarang.  Dalam situasi ini perempuan mengalami multiple burden atau beban yang berlapis-lapis. Kaum perempuan harus bekerja, bertanggungjawab dalam hal pengasuhan anak dan mendampingi proses belajar anak, dan tanggungjawab untuk urusan rumah tangga yang lain seperti memasak, membersihkan rumah, dan sebagainya.

Situasi ekonomi yang sulit, meningkatnya beban perempuan dalam rumah tangga, terbatasnya ruang gerak, dan situasi sulit lain sebagai dampak dari pandemi ini membuat perempuan rentan mengalami kekerasan. Sepanjang masa pandemi Covid-19  atau sejak bulan Maret hingga saat ini, LRC-KJHAM menerima pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 7 kasus. Laporan yang diterima LRC-KJHAM ini belum merepresentasikan reasiko kekerasan dalam rumah tangga yang diterima oleh perempuan di masa Covid. Kami menduga laporan tersebut hanya puncak dari gunung es kekerasan terhadap perempuan di masa pandemic Covid-19. Salah satu persoalan dari tidak tampaknya gunungan persoalan perempuan di zaman Covid-19 ini adalah karena proses untuk mengakses keadilan perempuan semakin terbatas.

Keadaan yang menyulitkan bagi kaum perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia ini harus ditemukan dan dipikirkan solusinya bersama-sama. Pada situasi yang tidak memungkinkan mobilitas sosial dan fisikal yang tinggi, misalnya, LRC-KJHAM melakukan penanganan secara online. Korban mengadukan permasalahannya lewat WA dan konseling dilakukan lewat WA dan telpon. LRC-KJHAM berkoordinasi dengan rumah sakit dan kepolisian. Hanya dalam keadaan mendesak LRC-KJHAM bisa melakukan pendampingan secara langsung. Di sisi lain, dalam menghadapi situasi sulit ini kelompok perempuan survivor saling membantu dan saling menguatkan dan saling berbagi strategi menghadapi situasi sulit ini. Dari diskusi melalui WA group, ada survivor yang memiliki keahlian membuat mainan mengajari ibu-ibu lain untuk membuat mainan untuk dijual. Ada juga yang banting stir ke usaha buat masker dan jualan jamu.

Menanggapi bencana yang menimpa kaum perempuan ini, Kementerian PPPA telah melakukan refocusing kegiatan dan realokasi anggaran sebesar Rp. 3,6 M untuk materi komunikasi, informasi dan edukasi tentang pencegahan dan penanganan Covid-19. Kementerian PPPA juga menyediakan kebutuhan spesifik perempuan dan anak yang terdampak Covid-19, juga bekerja sama dengan kementerian/lembaga, dunia usaha, lembaga masyarakat, dan organisasi perempuan, khususnya terkait dengan perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi perempuan di saat pandemi Covid-19.[1] Komitmen ini tentu perlu dikawal agar bisa tepat sasaran dan mampu merespon kerentanan perempuan yang terdampak pandemi Covid-19.

Di Jawa Tengah, Berkaitan dengan kebijakan, Pemerintah Kota Semarang mengalokasikan bantuan perempuan korban kekerasan yang terdampak ekonomi oleh Covid-19. Sayangnya, sampai dikeluarkannya rilis ini, Dinas Sosial belum memberi konfirmasi siapa yang punya hak menerima bantuan sosial. Institusi pemerintah ini juga belum mengeluarkan rilis berkaitan dengan Instrumen-instrumen apa yang perlu ditambahkan agar korban penerima bantuan sosial di luar data dinas sosial ini tercover.Yang menjadi catatan KOBAR, banyak kaum perempuan yang memiliki kesulitan dalam hal kartu identitas untuk mengakses bantuan tersebut. Misalnya para perempuan di wilayah pinggiran dan buruh migran yang ketika dalam proses keberangkatan tidak memiliki identitas atau kevalidan identitas. Pemerintah harus membuka diri terhadap berbagai masukan informasi tentang data penerima bantuan sosial dari berbagai lapisan masyarakat agar bantuan yang telah dialokasikan tersebut lebih tepat sasaran dan tidak berpijak dari basis data kependudukan saja.

Di sektor orang lanjut usia atau lansia, pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah yang harus dilakukan agar bisa memastikan para lansia tersebut tidak terpapar Covid-19. Pemerintah bisa memikirkan pembuatan protokol antisipasi keterpaparan lansia dari Covid-19. Sementara di sektor anak-anak, Pemerintah perlu menyiapkan protokol tentang proses belajar di rumah bagi anak-anak. Sampai sejauh ini, misalnya, Pemerintah mulai memanfaatkan badan penyiaran yang seperti TVRI untuk memperlancar proses belajar di rumah bagi anak-anak. Gubernur di Jawa Tengah sendiri sudah mengeluarkan himbauan untuk tidak menambah beban proses pembelajaran bagi anak-anak selama di rumah.

Anggota Koalisi Rakyat Bantu Rakyat

  1. YLBH-LBH Semarang
  2. Pelita
  3. Gusdurian Semarang
  4. BEM FIK UNNES
  5. Muda Bersuara
  6. Pattiro
  7. LRC-KJHAM Semarang
  8. Serikat Pekerja dan Mahasiswa
  9. Eja Post
  10. Anak Robot Management
  11. BEM FE UNNES
  12. FNKSDA Semarang
  13. Mahasiswa Bergerak
  14. Kristen Hijau
  15. Aksi Kamisan Semarang
  16. Lingkar Diskusi Mahasiswa
  17. KASBI
  18. BEM Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES
  19. BEM Fakultas Hukum UNNES
  20. Indonesia Feminis
  21. Fitra Jawa Tengah
  22. BEM FIS UNNES
  23. Yayasan Kalal Rembang
  24. Yayasan Kembang Gula (Surakarta)
  25. KP2KKN Semarang
  26. Aliansi Masyarakat Taman Timur (Pemalang)
  27. YPK eLSA
  28. PPSW Surokonto
  29. Kawulo Alit Mandiri Dayunan
  30. BEM UNDIP
  31. BEM FH UNDIP
  32. Kooperasi Moeda Kerdja (Semarang)
  33. GERAM (Gerakan Rakyat Menggugat) Blora
  34. Forum KUB Mina Agung Sejahtera
  35. JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng)
  36. FPPKS (Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan)
  37. Komunitas Kajian Keterbukaan Informasi dan Kebijakan Publik (K3IKP)
  38. Paguyuban Batas Kota Tegal
  39. Selaras, Magelang
  40. Kelompok Tani Zamrud Khatulistiwa, Wonosobo
  41. DAS Pengamanan Air Brebes Selatan
  42. FSPMI Jepara
  43. TEGAL MEMBACA
  44. KOPRI UIN WS
  45. PPNI (Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia)
  46. PC PMII Kota Semarang
  47. Urutsewu Bersatu (USB)
  48. Pemuda Jendi bersatu (PJB)
  49. KOBUMI (Komunitas Buruh Migran)
  50. HMI Kom. Unnes Raya
  51. Federasi Buruh Lintas Pabrik ( FBLP)
  52. KPMH (Komunitas Petani Milenial Holtikultura)
  53. PC IMM Kab. Kudus
  54. Kolektif Spektrum
  55. Yayasan Pengembangan Akhlaq Mulia (YPAM) Boyolali
  56. PC PMII Purworejo
  57. Anima Mundi: Perkumpulan untuk Pendidikan Riset dan Literasi, Kudus
  58. YASANTI
  59. LBH APIK Semarang
  60. Kutu Buku (literacyaccessonline.com)
  61. Bumiayu Membaca

Narahubung: Cornel Gea (+6285727005445)

 

[1] https://mediaindonesia.com/read/detail/302678-perempuan-dan-anak-kelompok-rentan-covid-19

Comment here