Ulasan Buku

Waktu dan Mimpi-Mimpi Einstein

Judul       : Mimpi-Mimpi Einstein
Penulis     : Alan Lightman
Penerbit   : Kepustakaan Populer Gramedia, 1999
Tebal       : 154 hlm (cetakan kedua)

https://literacyaccessonline.com/wp-content/uploads/2020/02/mimpi-mimpi-einstein.jpg

Tiap waktu adalah benar tetapi kebenaran itu tidak selalu sama.

Apakah kalian pernah mendengar bahwa waktu bersifat kontinyu, tak terbatas, tak berujung? Atau pernyataan bahwa waktu seperti lorong-lorong dua buah bayangan cermin yang dihadapkan. Bersifat relative sekaligus pasti, Bergerak lambat sekaligus cepat, dan pada suatu saat tiba-tiba berhenti. Pernahkan mendengar dua atau lebih peristiwa yang bisa terjadi dalam satu waktu? Atau pernah mendengar waktu seperti burung Bulbul? Semuanya terangkum secara lengkap dalam novel fiksi ini!

Melalui novel ini, saya mulai terbuka tentang pemahaman mengenai relativitas. Sebuah misteri yang saya tidak paham bertahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun yang saya habiskan dalam menjalani kuliah di jurusan fisika. Hanya satu novel ini yang membuat saya paham apa itu waktu, relativitas dan banyak hal lainnya.

Dengan novel fiksi pertamanya yang ditulis oleh fisikawan Amerika, Alan Lightman mampu menjelaskan secara sederhana mengenai waktu yang sebegitu detailnya melalui beberapa rentetan peristiwa-peristiwa yang seolah terpisah satu dengan lainnya namun pada saat yang bersamaan sebenarnya kejadian itu terjadi dalam banyak pilihan pada satu waktu. Waktu akhirnya ikut mempengaruhi kejadian-kejadian alam maupun karakter dan pilihan manusia.

Kritik sosial Lightman terhadap kita yang tidak mengerti tentang waktu. Kepada mereka yang terlalu memihak waktu. Kepada siapa saja yang mengabaikan waktu. Semua kehidupan dan perjalanan hidup manusia ada keterkaitannya dengan waktu.

Banyak yang meyakini bahwa orang yang tinggal di pegunungan, umurnya akan lebih panjang daripada orang yang tinggal di dataran atau lembah-lembah. Orang yang tinggal di ketinggian lebih awet muda daripada mereka yang tinggal di kota-kota. Semuanya adalah pengaruh waktu. Manusia lupa bahwa waktu akan berjalan lebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi. Efeknya memang sangat kecil, namun bisa diukur dengan alat-alat yang sangat sensitif

Sadar atau tidak, pilihan dan ketetapan ada dalam pengaruh waktu. Ketika dua waktu bertemu maka yang terjadi adalah keputusasaan, dilema, dan, kebingungan. Ketika dua waktu berjalan menuju arah berbeda yang terjadi adalah kebahagiaan atau kesedihan.

Perlu diingat bahwa waktu adalah salah satu hal penting dalam ilmu alam fisika. Tiga unsur penting yang menjadi landasan fisika adalah materi, waktu dan ruang. Demikianlah, fisikawan modern jenius Albert Einstein ingin memahami waktu. Karena Einstein ingin mendekati Tuhan. Dari pengamatan dan penelitiannya tentang waktu, Einstein membawa kita keluar dari periode fisika klasik, memasuki periode fisika modern. Yang akhirnya melahirkan teori relativitas umum dan teori relativitas khusus. Mendasari rumusannya tentang kecepatan cahaya bahwa cahaya bergerak dengan kecepatan E=MC2.

Tidak heran orang-orang religius memandang waktu sebagai bukti adanya Tuhan. Tak ada yang tercipta sempurna tanpa adanya Sang Pencipta. Tak ada yang universal yang bersifat ketuhanan. Semua yang mutlak adalah bagian dari yang Maha Mutlak. Dan di mana ada kemutlakan disitulah waktu berada. Karena itulah banyak ilmuwan menempatkan waktu sebagai pusat keyakinannya. Waktu menjadi pedoman untuk menilai semua tindakan. Waktu menjadi kejernihan untuk menilai semua yang salah atau benar. Begitu juga para hakim memutuskan perkara sesuai waktu kejadian.

Satu lagi yang lebih penting bahwa memahami fisika sebenarnya tidak terlalu sulit, yang tersulit adalah proses dan kerangka berpikir manusia saja. Pelajaran fisika selalu mengajak manusia untuk berfikir, oleh karenanya banyak hal dalam ilmu fisika yang selalu berupa bayang-bayang atau kemungkinan-kemungkinan. Dengan adanya titik pengamat dan titik acuan untuk pengamatan. Pengamat membayangkan kemungkinan kemungkinan dengan melihat materi atau sesuatu sebagai titik acuan.

Oleh karena itu, aku jadi ingat kata-kata Bung Karno “orang yang belajar namun tidak berfikir maka akan sia-sia, dan orang yang berfikir tanpa belajar adalah berbahaya”. Apalagi orang yang tidak belajar maupun berfikir. Kehidupannya akan tanpa makna.

Lightman membuat fiksinya hidup dengan perbandingan beberapa peristiwa berbeda, di daerah yang berbeda-beda pula. Pada suatu waktu secara bersamaan, kejadian itu saling berbeda satu dengan yang lainnya. Namun terkadang ada yang berulang atau hampir sama dalam keadaan yang stagnan. Pada saat itu alam di luar bumi kita. Planet-planet terjerat angkasa, samudera, dan keheningan.

Lightman memulainya dengan mengajak pembaca untuk berpikir tentang waktu dengan membandingkan waktu dalam beberapa keadaan. Bayangkan dunia tanpa waktu, hanya bayang-bayang. Kalau orang-orang tidak mengakui kemutlakan waktu, kenapa mereka harus belajar, sekolah, hingga kuliah demi masa depan yang tak berumur panjang?

***

Andaikan waktu adalah sebuah lingkaran yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, dan selama-lamanya. Maka dengan tidak sadar, kita akan menjalani kehidupan kita kembali. Seorang buruh tidak sadar bahwa besok ia akan kembali bekerja lagi dan lagi. Politikus tidak tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar ke mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Mahasiswa lupa bahwa setiap kegiatannya akan diulang lagi dan lagi terus menerus. Bagaimana mereka tidak tahu bahwa tiap ujian, setiap tes, setiap proses belajar, akan terulang lagi tanpa henti, seperti sebelum-sebelumnya. Pagi kita berangkat kuliah, sore balik ke kos, malam mampir ke kedai kopi, besok berangkat lagi. Kita melakukan sesuatu kegiatan secara berulang-ulang dan terus menerus. Layaknya seekor semut yang memutari ulir lampu kristal, tahu bahwa ia akan kembali ke keadaan semula.

Dalam dunia seperti ini, di mana waktu adalah sebuah lingkaran, setiap jabat tangan, setiap ciuman, setiap kata akan berulang persis. Dan karena segala sesuatu akan terulang di masa depan, maka yang terjadi saat ini telah terjadi pula jutaan kali sebelumnya. Orang-orang yang mengalaminya adalah mereka yang hidupnya tak bahagia. Mereka merasa bahwa semua penilaian yang keliru, perbuatan yang salah serta ketidakberuntungan telah mengambil tempat dalam putaran waktu sebelumnya. Orang-orang ini akan dibenturkan pada pengetahuan bahwa mereka tak mampu mengubah satu tindakan pun, bahkan satu gerak tubuh.

Maka yang terjadi dalam kehidupan orang-orang adalah pasrah dan merintih dengan penyesalan bahwa mereka adalah gas yang tak berdaya, hantu, atau alas tilam. Mereka telah kehilangan kehidupan pribadinya. Manusia seolah dibuang oleh sang waktu masa depan ke masa silam.

***

Di dunia ini, waktu terbagi menjadi dua jenis. Waktu mekanis dan waktu tubuh. Waktu mekanis laksana pendulum raksasa yang berayun-ayun maju mundur tanpa henti. Sedangkan waktu tubuh bergeliat seperti ikan yang hanya hidup dalam air danau.

Mereka yang tidak yakin dengan waktu mekanis akan hidup dalam keadan yang seolah tuli dan buta pada keadaan. Mereka hanya mengenakan jam di pergelangan tangan sebagai ornamen, atau sebagai sopan santun penghargaan atas seseorang yang telah memberikannya hadiah. Sebagai ganti atas ketidak-percayaannya terhadap waktu, mereka mendengarkan detak jantung. Hanya merasakan irama suasana hati dan nafsu birahi mereka. Mereka makan saat lapar, dan pergi ke mana saja sesuka hatinya. Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.

Lalu ada sejumlah orang yang hidup dengan waktu mekanis. Mereka bangun pada pukul enam pagi, sarapan pada jam tujuh pagi, makan siang tepat tengah hari, dan makan malam tepat jam tujuh malam. Mereka memenuhi janji tepat seperti waktu yang ditunjuk oleh jam. Tidur delapan jam sehari, Menjalani kuliah dan kerja lima hari seminggu, serta berlibur di hari sabtu. Hari minggu mereka berdiam diri di rumah, mempersiapkan dirinya pada kehidupan kerja esok hari. Dan begitu seterusnya dalam putaran waktu, lalu mati.

Mereka sadar bahwa tubuh bukan suatu keajaiban melainkan suatu kumpulan bahan kimia, jaringan dan impuls saraf. Pikiran tak lebih dari gelombang listrik dalam otak. Rangsangan seksual tak lebih dari aliran kimia pada ujung saraf tertentu. Kesedihan tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil. Pendeknya mereka menjadikan tubuh mereka adalah mesin, tunduk pada hukum listrik dan mekanika sebagaimana electron dan jam. Mereka yang tunduk pada waktu mekanis adalah mereka yang menjadikan tubuhnya sebagai mesin untuk diperintah bukan dipatuhi.

Di dunia seperti ini, waktu benar-benar berlalu tetapi sedikit sekali yang berubah. Demikianlah yang terjadi dari tahun ke tahun, bulan ke bulan, minggu ke minggu, hari ke hari, jam ke jam, detik ke detik. Bila waktu dan perjalanan peristiwa sama, waktu seakan bergerak lamban sekali. Bila tidak demikian maka orang-oranglah yang nyaris stagnan atau dalam keadaan stasioner.

***

Pembaca diajak untuk membayangkan dunia di mana dunia sebab akibat tidak menentu. Terkadang yang pertama mendahului yang kedua. Terkadang yang kedua menjadi yang pertama. Atau sebab selamanya berada di masa silam, sementara akibat berada di masa depan. Namun masa depan dan masa silam saling bejalinan.

Dalam dunia yang tanpa sebab akibat inilah orang-orang akan mengalami putus asa. Harapan dan ramalan mereka berubah menjadi pascadiksi. Orang-orang yang awalnya penyayang tiba-tiba berubah menjadi kasar sekali. Mereka adalah badut-badut, topeng-topeng dalam dirinya. Dalam dunia seperti ini, orang-orang akan bertindak tanpa penjelasan, mereka seolah hidup pada masa kini tanpa melihat masa lalu. Jika masa silam tak berakibat pada kehidupan masa kini, tak usah terlalu merenungi masa lalu. Dan jika masa kini hanya berakibat kecil saja pada masa depan, tak perlu terlalu membebani tindakan saat ini. Setiap tindakan adalah satu pilihan dalam satu waktu, yang harus dinilai terpisah. Seorang petani tergusur dari sawahnya, bukan karena keputusan dzolim politik penguasa, tetapi karena kesalahan petani. Kebijakan UKT yang mahal hanya mampu diterima mahasiswa, tanpa takut pada akibat masa depan. Inilah dunia impuls. Orang-orang dengan kesungguhan hati. Dunia dimana setiap pilihan yang meluncur hanya untuk saat itu. Setiap kebijakan seolah tidak mempunyai efek masa depan. Setiap omongan presiden adalah omongan yang spontan. Seakan setiap presiden selalu berkata begitu. Dalam keadan kedua ini, orang tidak lagi memikirkan masa depan, seolah hidup mereka hanya untuk masa kini. Pembangunan hotel, penggusuran sawah, perampasan tanah seolah tidak ada efek lagi bagi hilangnya kehidupan, kehabisan sumber air, kekurang lahan pertanian. Mereka hanya memikirkan hidup mereka tanpa memikirkan bahwa ada anak cucu di masa depan.

***

Dalam satu waktu, seorang kiyai sedang meneriakkan perang melawan sistem ekonomi oligarki.  Di tempat yang lain, ada seorang anak muda sedang membongkar sejarah kepicikan  di masa lalu. Di tempat seberangnya lagi, para pelaku sejarah masa lalu sedang kebakaran jenggot dalam  ketakutan. Jauh di tempat yang lain ada beberapa orang-orang yang kehilangan penghidupannya, tanahnya dirampas, rumahnya digusur, dan pemiliknya dipukuli. Di sebuah istana mewah para pejabat sedang berpesta pora merayakan kebijakan yang telah disepakati. Di tempat lain lagi, di luar gedung mewah, si bodoh dan si miskin sedang menonton percikan-percikan petasan sebelum mereka kembali pada kesedihannya. Orang-orang kaya sedang sibuk membakar uangnya. Di ujung negeri yang jauh di selatan, beberapa orang sedang meraba-raba kegelapan malam tanpa penerangan apa pun.

Sebelum fajar menyinsing menyinari jendela kamar kos. Seorang perempuan lulusan terbaik dengan nilai cumlaude dari universitas ternama, tahun kemarin sedang merasa bahagia setelah berpamitan dengan kekasihnya, mendadak murung menaruh kedua tangannya di atas kepala, menjerit girang sambil melemparkan tubuhnya ke dinding, akibat kegagalannya menjadi PNS.

Inilah dunia dengan rencana yang selalu berubah-ubah. Kesempatan dadakan, visi yang tak terduga. Dalam dunia yang seperti ini, waktu tidak mengalir utuh, datang bagai kepingan- kepingan masa depan yang penuh harap sedang melintas sekilas.

***

Dunia di mana orang dapat melihat masa depan. Ketika seorang ibu secara mendadak beroleh penglihatan di mana anak pertamanya kelak akan tinggal, ia memutuskan pindah rumah di dekatnya. Ketika seorang mahasiswa menerima penglihatan dirinya menjadi seorang yang sukses, ia bertekad untuk mendapat nilai terbaik di universitas. Ketika seorang presiden menangkap bayangan negaranya dalam selimut kemajuan pembangunan di Eropa, ia segera membuat kebijakan agraria untuk merampas tanah rakyatnya. Lantas untuk apa melanjutkan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan?

Bagi mereka yang telah melihat masa depan, inilah dunia dengan jaminan keberhasilan. Akibatnya, beberapa proyek dimulai tanpa berharap memperoleh kesejahteraan. Beberapa perjalanan dilakukan tanpa kota tujuan. Investasi tidak harus dilanggengkan. Karena sejumlah gairah menjadi sia-sia.

Sedangkan bagi mereka yang belum memperoleh penglihatan, inilah dunia yang tertunduk lesu. Bagi mereka dunia ini tertinggal dan Parsi. Bagaimana orang bersedia kuliah bila tak ada jaminan mendapat pekerjaan di kemudian hari? Untuk apa orang membangun gedung, bila lebih baik menanam padi? Untuk apa bercinta bila lelaki yang dicintai tak setia? Merekalah orang-orang yang menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap bayangan masa depan muncul dalam impian.

Karena itulah, dalam dunia dengan pemandangan masa depan yang sekilas ini, sangat rentan sekali terdapat risiko.

Mereka yang melihat masa depan tak perlu mengambil risiko, sementara yang belum melihat masa depan, menunggu pemandangan itu datang tanpa mengambil risiko.

Segala sesuatu yang orang-orang kerjakan di dunia ini dimulai dengan ingatan dan pikiran demi mempertimbangkan dan menghitung sesuatu. Tanpa ingatan, maka setiap pagi adalah pagi yang pertama. Setiap malam adalah malam pertama. Setiap ciuman dan sentuhan adalah yang pertama. Setiap kejadian adalah kejadian pertama.

Bila dunia tanpa ingatan maka dunia adalah saat ini. Masa silam hanya ada dalam buku-buku dan dokumen-dokumen. Bahkan untuk mengenali diri sendiri setiap orang selalu membawa buku riwayat hidupnya masing-masing. Dengan membaca buku itu tiap hari, ia mencari dirinya.

***

Kita diajak untuk membayangkan, bagaimana jika sebuah dunia tanpa waktu. Dunia hanya bayang-bayang. Manusia akan hidup dalam penuh keterpesonaan pada apa yang dilihatnya. Ketidakteraturan pada pikiran dunia seperti ini. orang-orang membayangkan mendapat kekasih yang ideal. Mereka mengharapkan yang terbaik.

Dalam dunia seperti ini, orang-orang menangis dalam kebahagiaan. Tertawa dalam penderitaannya. Pohon-pohon telah habis ditebang, tapi orang terus membayangkan penghijauan. Lahan-lahan telah habis ditanami semen dan orang terus mengharapkan oksigen.

Dalam dunia tanpa waktu, orang hidup dalam kebodohan, mereka tidak lagi bertanya. Kenapa hujan tidak turun di musim hujan. Mereka tidak memikirkan kenapa kemarau terus saja berkepanjangan. Apa yang membuat ubi berganti menjadi beras. Tidak ada lagi sagu yang berdiri di ujung timur. Mata mereka digunakan untuk melihat tapi tidak ada lagi pertanyaan dan pencarian. Kaya atau miskin, hidup atau mati tak perlu lagi ada pertanyaan, semua hanya dapat disaksikan oleh mata.

***

Bayangkan satu dunia dengan orang-orang yang hanya hidup dalam kurun waktu satu hari. Maka detak jantung dan aliran napas sangat kencang, karena seluruh waktu untuk hidup hanya didapatkan dalam satu putaran rotasi bumi sedemikian pelan sehingga satu putaran revolusi bumi (bumi mengitari matahari dalam 360 derajat) membutuhkan seluruh hidup manusia. Setiap tafsiran atas kehidupan adalah sahih. Dengan demikian, setiap orang baik laki-laki atau perempuan akan melihat satu matahari yang terbit dan satu matahari yang terbenam.

Dampak yang terjadi pada kehidupan seperti ini adalah orang akan memperlakukan waktu sebagai kucing yang tegang karena mendengar suara di loteng karena tidak boleh ada waktu yang terbuang. Setiap tempat, setiap lokasi maupun penampakan benda-benda, sungai-sungai, pohon-pohon, gedung-gedung, maupun orang-orang semuanya terlihat biasa saja. Tetapi jika dilihat dari mata orang-orang itu, setiap pemandangan berbeda-beda. Perbedaan tafsir ini selalu berulang di mana saja. Dan hal serupa terjadi pada setiap kejadian, karena dalam dunia seperti ini, waktu adalah indera manusia.

***

Buku ini terus saja mengajak pembaca untuk mengerti tentang waktu. Misalnya bagaimana mereka yang hidup dengan waktu selamanya. Maka dunia akan terbagi menjadi dua. Menjadi kelompok terbelakang dan yang sekarang. Kelompok yang modern dan kelompok yang parsi.

Bagian selanjutnya juga mengajak untuk membayangkan bagaimana jika waktu adalah kualitas bukan kuantitas. Atau bagaimana jika waktu berjalan terus mundur.

Novel ini diakhiri dengan penjelasan waktu yang ikut mempengaruhi setiap peristiwa dalam hidup ini.  waktu ikut mempengaruhi setiap pilihan atau kehidupan sosial manusia. Semua penjelasan mengenai landasan keilmuan fisika dan pengaruh waktu terhadap keadaan lokal. Waktu yang juga mempengaruhi keadaan alam dan juga keadaan karakter setiap manusia. Fisika, sastra dan sosial semuanya disajikan dalam bentuk fiksi.

Untuk kalian yang penasaran dengan waktu, silahkan membaca bukunya langsung. Atau agak sabar menunggu, insyaallah ada review lanjutan dari saya. Tenang saja tidak ada persamaan matematis di dalam buku itu.
Terimakasih.

Maksis Al-Khatthab (Kader Front Nadliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam).
Salam dari Pulau Rote, Nusa Daehena.

Comment here